Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 24
Morgan terlihat arogant. Ia memainkan dagunya, otaknya memulai memikirkan, hal apa yang harus ia ambil sekarang. Mungkin inilah kesempatan dirinya akan membalaskan kematian sang ayah pada saat 15 tahun yang lalu.
Ayahnya bekerja sebagai sopir di rumah itu, pada 15 tahun lalu. Ia masih mengingat atas kekejaman Rohan Xendrick, yang menyiksa ayahnya sampai meninggal dunia. Hanya karena sang ayah tidak sengaja memecahkan kaca jendela mobil sport pria itu.
Penghaniayaan Rohan terhadap ayahnya, masih tergiang di otaknya. Ia masih mengingat memori itu sebagai kenangan untuk membalaskan dendamnya kepada Rohan. Di sini, begitu banyak korban atas keserakaan Rohan Xendrick, ia harus segera membalaskan dendamnya kepada Rohan.
Pria tua itu sama sekali tidak mengingat kematian. Ia selalu ingin mendapatkan apa yang ia inginkan, walaupun harus menyingkirkan orang lain. Pada kala itu, Morgan telah melaporkan kasus kematian sang ayah kepada pihak berwajib. Namun, kasusnya dianggap tidak valid. Ia merasa emosi, saat Rohan menutup mulut polisi dengan sejumlah uang dengan skala besar.
Hukum bisa dibeli dengan uang, pikir Morgan.
“Bisakah kau diajak bekerja sama?” Morgan menatap dengan serius. Ia berharap, bahwa pria itu akan mau bekerja sama dengannya.
“Tentu, bisa. Katakan, kerja sama apa?” Nathan menyetujui hal itu, karena mungkin pria ini akan dapat membantunya untuk menemukan Boss-nya, Rivaldo.
“Aku akan menceritakan sejujurnya padamu, tapi ini adalah sebuah rahasia. Sebelum itu, kau berjanji padaku agar tidak membocorkan ke siapapun selain aku, Max dan kau,” ujarnya dengan serius. Kedua netra miliknya menatap wajah pria itu dengan tatapan tidak biasa.
“Tentu, aku berharap bahwa dirimu juga akan membantuku,” kata Nathan dengan senyuman tipisnya.
Morgan menarik nafasnya dengan panjang, lalu ia mengembuskan nafasnya perlahan, “Aku memiliki dendam dengan keluarga Xendrick, bantu aku untuk membalaskan dendamku pada Rohan.”
“De ... Dendam? Dendam apa? Apakah aku, akan menjadi musuhmu juga? Dan Bossku—Rivaldo, akan menjadi musuhmu juga?” Nathan terkejut mendapati pernyataan dari pria yang ada di hadapannya ini.
“Bukankah nyawa harus dibalas dengan nyawa? Aku ingin, Rohan mengalami kematian dengan cara yang sadis. Aku masih mengingat dengan jelas, bagaimana pria itu membunuh ayahku,” Morgan menjelaskan dengan santai. Namun, raut wajahnya terlihat jelas akan emosi yang membara di tubuhnya.
“Really? Kenapa aku tidak tahu tentang kejadian itu?” Nathan kaget, ia tidak bisa menahan rasa terkejutnya itu. Ia memegangi perutnya yang kini tengah terasa perih, karena ia terlalu banyak bergerak.
“Jangan banyak bergerak, setelah dirimu sembuh, kita akan mencari di mana keberadaan Rivaldo Xendrick, dan membawanya ke Pulau terpencil ini. Menjalankan sebuah misi yang hebat. Aku ingin, dendam kita akan sama-sama terbalaskan kepada Rohan. Dendam yang tertanam ini, begitu besar sehingga membuatku ingin segera membalaskannya kepada Rohan.” Morgan mengeraskan rahangnya, tatapannya kini bagaikan busur panah yang mematikan.
Nathan juga sama merasakan apa yang dirasakan Morgan, ia disiksa dan dibuang di sini hanya karena ia ingin mencari tahu di mana keberadaan Rivaldo yang kini entah ke mana. Tetapi selama nafasnya masih berembus, Nathan telah berjanji akan selalu setia sampai maut yang akan memisahkan mereka.
***
Rivaldo merasa bosan ketika ia hanya duduk di ruang tamu. Sedangkan Denisa, wanita itu tampak sedang membuatkannya bubur sup ayam, kesukaan wanita itu. Tapi yang jelas, Rivaldo ingin mencobanya.
Pria itu pun berjalan menuju dapur, menyusul di mana Denisa berada.
“Sudah masak buburnya?” tanyanya sambil tersenyum, membuat Nisa terkejut.
“Eh, Mas! Kirain tadi siapa, ada apa?” tanya Nisa dengan heran, sambil mengaduk bubur di dalam sebuah wadah di atas kompor gas.
“Tidak apa-apa, aku kemari karena mencium wangi bubur masakanmu, sepertinya enak,” kekeh Rivaldo tertawa kecil, membuat Denisa merasa kagum.
“Tunggu sebentar, yah, Mas. Sebentar lagi akan matang.” Nisa tersenyum sambil mengaduk bubur itu.
Rivaldo mendudukan dirinya di atas meja makan yang terbuat dari plastik itu. Ia selalu menatap Denisa tanpa henti, entah mengapa setiap berdekatan jantungnya selalu berdebar, saat berada di dekat Denisa.
Nisa, adalah sebuah nama yang indah, anggun, dan cantik, sama seperti sang pemilik nama tersebut. Rivaldo menarik nafasnya panjang, dan mengembuskannya perlahan.
Tidak lama kemudian, bubur itu telah matang. Rivaldo menatap wajah Nisa yang kini tengah sibuk mengambilkan bubur itu untuknya.
Jika wanita ini menjadi istrinya, mungkin ia akan sangat bahagia. Mendapati seorang wanita yang tidak manja, dan penyayang seperti Denisa.
“Ini buburnya, Mas. Ayo dimakan, semoga suka dengan bubur sup ayam buatanku,” ujar Nisa seraya memberikan satu mangkok bubur ayam kepada Rivaldo.
“Terima kasih.” Kata Rivaldo sambil meraih satu buah mangkok yang kini tengah berisi bubur.
Rivaldo mencicipi dengan pelan bubur itu, karena masih sedikit panas. Ia meniup pelan, lalu ia mulai memakan bubur itu. Rasanya sangat enak, membuat Rivaldo segera memakannya dengan banyak.
“Eh, Mas. Jangan terburu-buru gitu makannya, entar kesedak loh!” seru Nisa memperingati pria itu, agar tidak makan terburu-buru.
“Maaf, habisnya, sih, terlalu enak.” kekeh Rivaldo sambil meletakkan mangkok itu di hadapannya.
Nisa tertawa kecil mendapati Rivaldo yang makannya masih berantakan di sudut bibir. Sisa-sisa bubur itu ada di sudut bibir pria itu. Denisa pun membersihkan bibir pria itu menggunakan jari—jemari tangannya.
Rivaldo bisa merasakan betapa lembutnya kulit wanita itu, saat berada di ujung bibirnya. Pria itu hanya bisa memejamkan bola matanya, detakan jantungnya seakan memompa dua kali lipat dari biasanya. Mungkin bisa jadi, wanita itu dapat mendengarnya.
Denisa merasakan hal yang sama, detak jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Ada apa ini? Pikirnya.
Pria itu merasa, semakin lama, detakan jantung itu semakin cepat. Ia harus cepat-cepat mencari tahu ada apa dengan jantungnya. Akankah ia terkena serangan jantung? Pikirnya menebak.
“Mas, makannya jangan terburu-buru gitu, kalau masih mau nambuh, masih ada di sana buburnya.” Ujar Nisa sambil menunjuk sebuah wadah di atas kompor itu.
Rivaldo hanya bisa tersenyum, entah mengapa, semua ingatannya kepada wanita yang mengkhianatinya, lenyap bagaikan abu yang hilang ditiup oleh angin yang berembus.
“Kamu buat bubur itu, tahu dari mana?” tanya Rivaldo penasaran.
“Ya, aku belajar dari Ibuku, Mas. Memangnya kenapa?” Denisa kembali melontarkan pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya ini.
“Tidak apa-apa, kalau boleh tahu, di mana orang tuamu? Kenapa mereka tidak ada di sini?” Rivaldo mengangkat suaranya, membuat raut wajah wanita itu menjadi berubah seketika.
Pria itu menatap Denisa yang kini tengah termenung, wanita itu tampak terdiam, tak menjawab apa yang ia tanyakan, ada apa?
Akankah orang tuanya telah tiada? Pikir Rivaldo menebak saja.
“Kedua orang tuaku telah tiada, aku tinggal sendirian dan bertahan hidup dari kerasnya hidup di sini.” Denisa menjawab dengan lirih, nada suaranya seperti tidak baik-baik saja.
Rivaldo pun merasa tidak enak hati, ia telah mengungkit kisah yang telah dikubur oleh wanita itu.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...