Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.
Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.
Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.
Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Rahasia
Seharusnya Adeline kembali ke rumah karena ia butuh baju untuk acara nanti malam, sesuai request Argan bahwa ia harus tampil cantik spektakuler, sepantasnya sebagai pendamping dari seorang Pria Muda Atmorajasa.
Adeline sebenarnya tidak ingin melakukan permintaan Argan, karena ia mendapatkan firasat buruk mengenai hal ini. Ditambah di sana mungkin sangat banyak rekan bisnis Atmorajasa yang berseliweran, bisa jadi ada satu dua orang yang mengenalinya di club mamih Donita.
Namun yang paling membuat Adeline cemas adalah ia tidak ingin menjadi bahan perhatian dan masuk ke media sosial.
Itu akan menghambat pekerjaannya.
Orang pasti akan mencari tahu mengenai dirinya. Penyamarannya sebagai Ade Putri akan terbongkar.
Dan kalau sampai Argan dan Dewa tahu, ia bisa diusir, dipenjarakan sebelum aksinya terlaksana.
Jadi sore ini, sebelum ia tampil di depan publik, Adeline akan menelusuri rumah ini dengan seksama.
Bagian yang waktu itu ditunjukkan Bu Siti, sebuah lorong yang merupakan jalan pintas bagi bodyguard. Adeline merasa hal itu sangat aneh.
Kalau ada jalan pintas yang tidak semua ART tahu, dengan kondisi lorong itu bersih dan terawat namun tanpa perabotan apa pun, jadi biasanya menyimpan banyak ruang rahasia di sepanjang bagiannya.
Banyak kelokan, Adeline mengandalkan ingatannya.
Lamar Argan di lantai 1, kamar Rinjani di lantai 2. Kenapa tidak semuanya satu lantai? Mungkin karena alasan kesehatan Argan di kakinya yang tidak memungkinkan dia naik tangga? Tapi kan ada lift. Dan beberapa kali Argan mondar-mandir di lantai 2. Jadi tentunya tak ada kesulitan baginya untuk ke atas.
Di rumah ini banyak kamar namun tidak berpenghuni. Adeline ke lantai 1 mengitari kamar Argan.
Di seberang kamar Argan ada lorong, tusuk sate dengan kamar Argan. Di ujung lorong itu ada ruangan besar Mess para Bodyguard.
Sengaja diletakkan di sana agar jika terjadi sesuatu dengan Argan, para bodyguard mudah menghampirinya. Ruang kesehatan dan Gym juga diletakkan di area Bodyguard yang luasnya setengah dari rumah ini, dengan tampilan yang lebih modern dibandingkan tampilan rumah utama yang cenderung klasik.
Waktu itu ada lorong di samping kamar mandi Bodyguard, Adelin epun menuju ke arah sana. Ia mengitari ruangan, dan sampailah di lorong saat ia dan Bu Siti tersesat.
Dinding beton tanpa cat. Setiap satu meter seakan ada pemisah.
Ada yang benar-benar pemisah, ada yang tampaknya sebuah ruangan rahasia.
Adeline mendorong pintu rahasia pertama.
Di dalamnya gudang. Penuh furniture.
Kemungkinan barang-barang yang sudah lama di saat pemilik rumah bosan, diletakkan di sini. Jumlahnya cukup banyak seperti toko furniture.
Adeline melihat-lihat sekelilingnya. Ada beberapa model ranjang.
Ia kitari tiang ranjang, ia naik, dan menahan beban tubuhnya dengan sikut. Lalu berputar sedikit.
Mendarat di lantai dengan lembut. Teknik pole dance untuk memikat kliennya.
Beberapa kabinet mewah dengan model klasik, ia buka laci-lacinya. Beberapa barang masih ada di dalamnya.
Foto keluarga...
Ayah, ibu, dua anak.
Yang mana Argan? Ini kah?
Kok rasanya tidak mirip? Anak laki-laki di foto itu malah lebih mirip Dewa. Alisnya tebal dan senyumnya bagai malaikat tanpa dosa.
Tapi foto itu sudah buram dan kekuningan.
Inikah Hartadi Atmorajasa? Dimana dia sekarang?
Adeline memfoto lembaran klise usang itu dengan ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke dalam laci.
Wanita itu keluar dari gudang furniture dan kembali menelusuri lorong. Tangannya menekan-nekan dinding, siapa tahu ada pintu rahasia lagi.
Dan ternyata ada.
Kali ini penuh pajangan, lukisan, patung-patung klasik dan berbagai benda mewah. Ada beberapa lemari dengan batu mulia terpajang di sana. Indah sekali.
Juga ada koleksi lukisan di lantai, semua diletakkan berjejeran.
“Wooow...” desis Adeline.
Di sana ada beberapa tiang stainless. Tampaknya karya seni.
Lagi-lagi Adeline menari di sana.
Sudah lama ia tidak berputar sebebas ini.
Sambil bersenandung ia melakukan gerakan pole dance, mengenggam tiang itu lalu sambil berpegangan dengan satu tangan ia jungkir balik, dan mengaitkan kakinya kuat-kuat ke atas tiang.
Adeline menari sambil mengamati sekelilingnya.
Mungkin ruangan itu akan jadi ruang favoritnya beberapa hari ke depan, banyak yang bisa dijelajahi di sini. Mungkin mengantongi beberapa benda pusaka, tapi lain kali ia akan datang dengan tas ransel.
Adeline pun puas menari, ia keluar dari ruangan itu.
Dan kembali menelusuri lorong.
Kali ini... ruang penuh baju, tas, dan sepatu. Semua ditata bagaikan toko barang antik.
Adeline membuka lemari kaca raksasa, mulai memilih pakaian yang pas untuknya.
**
“Mbak Ade, Mbak Ade,” supir pribadi Argan melambaikan tangan ke arah Adeline saat wanita itu menyelinap masuk sesuai dengan pintu yang disepakati Argan. “Mobilnya di sini Mbak!” lewat pintu samping.
Adeline masuk ke dalam mobil dan ternyata Argan sudah di dalam.
“Lama amat dandannya Dek Kunti, saya sudah membersihkan kamar saya dari sudut ke sudut, sampai jungkir balik kayang, masih harus tunggu lagi di mobil.” Sindir Argan.
Adeline gengsi bilang dia lama karena memilih-milih baju dari lemari klasik di dalam gudang, nanti akan ketahuan kalau dia ngoprek-ngoprek.
Tapi sesaat setelah dia masuk ke mobil dia merasa kalau ia salah memakai baju model klasik, karena siapa tahu Argan mengenali bajunya. Kan bisa jadi itu lemari bekas ibunya atau salah satu keluarga Argan.
Tapi sepertinya Argan cuek saja dengan laptopnya.
Adeline pun memutuskan untuk tidak menarik perhatian dengan bermain game di ponselnya.
Mobil di belakang mereka menyalakan lampu sorot dua kali, pertanda semua sudah siap. Tiga orang Anak buah Dewa menaiki motor Sport, berjalan lebih dulu, diikuti mobil Argan, dan mobil bodyguard paling belakang.
Dari ketatnya penjagaan di sini, Adeline bisa mengira-ngira seberapa penting acara ini.
“Sini kamu rebahin kepala di sini.” Argan menepuk-nepuk pahanya.
“Harus di situ Pak?” tanya Adeline sambil mencibir.
“Mau ketahuan Dewa?”
“Ya nggak sih. Tapi kan nggak harus di paha situ.”
“Memang spacenya muat kalau kamu rebahan di tempat lain? Pindah ke belakang sekarang malah menarik perhatian.”
“Ya kalau saya tiduran di situ malah jadi bahan gosip Pak Supir!” seru Adeline.
Terdengar kekehan Pak Supir di depan.
“Nggak usah sok cantik Dek Kunti, saya tidak tertarik sama kamu. Sebagus-bagusnya tampang kamu, semakin cantik semakin saya nggak suka. Nurut aja nggak usah banyak bicara.” Gerutu Argan.
Kalimat itu malah membuat Adeline mengernyit.
Sebenci itu Argan terhadap wanita?
Semakin cantik semakin tidak suka?
Memangnya siapa yang mengkhianatinya di masa lalu sampai-sampai dia anti sama bidadari?
Ya jadi karena Argan sudah bicara begitu, ya Adeline akhirnya nurut meletakkan kepalanya di paha Argan.
Dan dengan kurang ajarnya Argan malah menjadikan kepala Adeline sebagai tumpuan sikutnya karena bahunya masih terasa nyeri, sambil main ponsel.
“Berat Boss Go Blok...” gerutu Adeline pelan.
“Duh, lagi nyaman nih...” balas Argan enteng.
Tangan Adeline terulur ke atas memencet hidung Argan.
**
gasss🔥🔥🔥🔥👌