NovelToon NovelToon
Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Romansa / Tamat
Popularitas:401.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: LaQuin

Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.

Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?

Baca kisahnya yuk readers...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Di Kira Kunti

Bab 13. Dikira Kunti

(POV Author)

"Guh, Umi dan Abi serta Abang dan Kakakmu sudah di bandara. Ingat loh ya, syukuran nanti kamu harus datang."

"Iya Umi, iya...."

Duh Umi solehut sayong, cantiknya bikin melehot, pagi-pagi dah bikin gemes aja. Mana lagi buru-buru nyiapin data klien. Bisa telat nih Gue. Batin pria yang bernama Teguh.

"Ingat loh Guh!"

" Iya Umi sayong, iya..."

"Ya sudah Umi mau cek in dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... Akhirnya. Duh kerjaan Gue, mana waktu dah mepet lagi." Ujar Teguh sambil meletakkan handphonenya setelah panggilan berakhir.

Berkas-berkas yang berada di meja Teguh kumpulkan satu persatu. Kemudian memasukannya ke dalam tas kerjanya, lalu mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju kantornya.

Jalanan mulai macet. Teguh terus melirik ke arah arloji di tangan kirinya.

"Duh, kualat keknya Gue sama Umi sampe ke jebak macet gini." Gumam Teguh lirih.

Mau tidak mau ia bersabar sambil mencari celah untuk keluar dari jebakan macet. Begitu menemukan jalan gang di sisi kirinya, Teguh segera berbelok. Lalu mengambil jalan pintas yang cukup lenggang menuju kantornya.

Sebuah bangunan berlantai tiga dengan luas 20x30 meter itu menjadi tempat dimana Teguh mengais rejeki dengan pekerjaan sebagai pengacara.

Kantor firma yang ia bangun bersama kedua sahabatnya lima tahun silam kini mulai menuaikan hasil. Teguh yang seorang pekerja keras, dan smart mampu menjadikannya sebagai seorang pengacara yang handal dan banyak di minati klien untuk menangani permasalahan mereka. Jadi tidak heran ia memiliki jadwal yang padat bersama timnya.

Satu hal yang selalu Teguh tanamkan dalam dirinya adalah kejujuran. Berkat sifat dasar ini, Teguh banyak mendapat kepercayaan dari beberapa pejabat serta petinggi lainnya yang menjunjung nilai yang sama.

"Telat lagi?"

"Biasalah salah milih jalan Gue. Mas Bimo dah dateng belum?"

"Noh lagi nungguin Lo di ruangannya."

"Yok dah, kita rapat."

Teguh dan seorang timnya segera memasuki ruangan pria yang di sebut Bimo tadi.

"Assalamualaikum Mas, sorry Mas rada telat."

"Waalaikumsalam, masih cukup waktu Guh. Ayo kita mulai."

"Farhan, data yang tadi pagi Gue kirim ke e-mail Lo dah masukkan?"

"Ini Gue lagi buka."

"Coba Lo paparkan dulu, biar Mas Bimo paham." Ujar Teguh.

Farhan yang paling muda di antara mereka memaparkan bukti-bukti serta beberapa kendala yang menyangkut dalam permasalahan klien mereka kali ini.

Rapat pun dimulai. Ketiganya tampak fokus dan serius menangani kasus klien mereka untuk kesekian kalinya.

Bimo yang merupakan senior mereka di kampus dulu menjadi kepala di firma yang mereka bangun bersama. Mereka memiliki beberapa staf penunjang kerja, serta karyawan kecil lainnya seperti OB dan petugas keamanan.

Begitu rapat selesai mereka menuju ke tugas selanjutnya. Teguh dan Bimo menghadiri persidangan klien mereka. Sedangkan Farhan menemui klien baru yang telah menyepakati janji temu di hari itu.

Perdebatan dalam persidangan sudah biasa Teguh alami. Lelaki itu tampak tenang dengan bukti-bukti yang ada di tangannya. Ia percaya persidangan kali ini pun akan di menangkan oleh timnya.

Setelah 3 jam proses persidangan, akhirnya terdakwa di jatuhi hukuman atas bukti-bukti yang Teguh berikan. Klien Teguh merasa puas dan sangat berterima kasih atas kerja keras pengacara yang telah membantu memenangkan kasusnya.

"Harusnya kamu yang jadi kepala firma Guh." Ujar Bimo kepada adik tingkat yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.

"Duh, jangan nambahin kerjaan saya Mas. Mas aja duduk tenang di situ, sudah pas itu."

"Heleh kamu. Nanti bonus aku tambahin aja untuk kerja keras kalian, terutama kamu."

"Nah, kalau itu boleh Mas. Hehehe..ikhlas yo Mas."

"Ikhlas dong..."

Mereka kembali ke kantor firma dengan senyum lebar menghiasi wajah.

Begitu tiba di kantor, Teguh segera menuju kantin karyawan untuk mengisi perutnya yang masing kosong sejak pagi tadi.

"Cerah bener itu senyum. Menang lagi Bang?" Sapa pengurus kantin.

"Yo'i. Alhamdulillah...Nasi dah mateng Yud?"

"Abang mau makan siang pake nasi?"

"Rapel Yud, Gue nggak sempet sarapan pagi tadi."

"Nasib jomblo memang begitu Bang. Kalau dah ada istri Abang pasti ke urus."

"Kan ada Elo, Yud."

"Dih, jadi Bini Abang? Apa yang mau di tusuk Bang, pedang lawan pedang?"

"Dah ah, siapin aja ini Gue dah laper banget."

"Seperti biasa ini Bang?"

Teguh mengangkat jempolnya tanda mengiyakan pertanyaan Yudi.

Memiliki waktu luang sambil menunggu makannya siap tidak Teguh buang percuma. Ia membuka smartphone-nya dan membalas pesan dari beberapa klien yang meminta bertemu untuk konsultasi permasalahan mereka.

Pengurus kantin bernama Yudi itu kemudian meminta bawahannya untuk segera menyiapkan nasi dengan sup iga serta tumisan brokoli dan wortel. Tidak lupa kentang goreng dan jus mangga untuk penutupnya.

Kantin di lantai paling atas bangunan itu adalah milik Teguh. Kantin itu sengaja di bangun untuk karyawan agar tidak jauh mencari makan bagi mereka yang sangat sibuk. Apalagi terkadang bila mereka banyak menangani kasus klien, sudah pasti mereka tidak memiliki waktu bebas untuk mencari makanan di luar sana karena harus di kejar deadline.

Kantin itu dipercayakan Teguh kepada adik tingkatnya waktu di kampus untuk mengelolanya. Dengan pelaporan tiap bulannya yang di kirim ke e-mail Teguh.

Bertepatan dengan habisnya makanya Teguh, Farhan pun datang.

"Yud, kopi item ya." Pinta Farhan sembari duduk tidak jauh dari Teguh.

"Oke Bang." Jawab Yudi.

"Laper banget keknya." Ujar Farhan melihat beberapa wadah sudah habis isinya.

"Kata Yudi nasib jomblo ya begini." Ujar Teguh sambil menikmati sisa-sisa terakhir makanannya.

"Lo sih bukan jomblo sebenarnya. Banyak yang mau, Lo aja yang nggak mau."

"Ngeri Gue sama mereka-mereka."

"Lo pengacara kok ngeri. Tinggal di kasuskan aja kalau bermasalah."

"Lawan betina males Gue. Jam 2 ini siap-siap kita ke Bogor. Ada klien besar minta ketemu disana."

"Wah, kurang jauh."

"Besok kita ke Sumatra, ketemu klien lagi disana."

"Buset, beneran Lo ya, nerima yang jauh-jauh."

"Tadi kata Lo kurang jauh."

Farhan tidak memprotes lagi. Bisa-bisa Teguh akan menerima ajakan bertemu klien yang lebih jauh lagi.

***

Waktu terasa singkat setelah di lewati dengan seabrek kegiatan padat tanpa celah. Berhasil meyakinkan klien dan memilih mereka untuk menangani kasusnya, kini Teguh dan Farhan sedang dalam perjalanan pulang menuju Apartemen Teguh.

Hujan mengguyur mobil yang mereka tumpangi dari Bogor sampai ke Jakarta. Jalanan tampak lenggang dan sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat melintasi mereka.

"Mobil Lo gimana?" Tanya Farhan ketika mereka mulai memasuki jalan menuju Apartemen Teguh.

"Ini Gue lagi kirim pesan ke Pak Benu buat jemput Gue besok pakai mobil Gue."

"Ya udah kalau gitu."

Keduanya diam sesaat, sampai akhirnya Teguh mulai buka bicara saat melihat sesuatu yang berbaju putih di depan mereka.

"Bu*se*t! ini jam berapa Kunti dah mangkal aja." Ujar Teguh panik.

"Beneran Kunti?!" Tanya Farhan.

Farhan menepikan mobilnya. Menyoroti wanita berambut panjang dan berbaju putih itu.

"Ayat Kursi, ayat Kursi... Buruan baca!" Ujar Farhan panik.

"Allahuma bariklana...."

"Kenapa jadi doa makan? Lo mau ngusir apa makan de*de*mit?!

"Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim..." Teguh berseru, ber-istighfar.

Keduanya tampak panik di dalam mobil. Setelah berkali-kali ber-istighfar, barulah Teguh merasa sedikit tenang.

Teguh mempertajam penglihatannya. Wanita berambut panjang dan berbaju putih itu tampak lemah berjalan kaki di bawah guyuran hujan.

"Kayaknya itu bukan Kunti deh. Coba Lo perhatiin kakinya, napak di jalan kan?" Ujar Teguh.

Farhan mengikuti arahan Teguh untuk mengamati kaki wanita yang mereka duga Kunti itu.

"Eh, iya. Jejak."

"Itu wanita beneran keknya. Mau kemana dia? Duh mana di depan sana ada gerombolan laki-laki lagi. Ikutin Far, pelan-pelan aja." Ujar Teguh.

Teguh jadi teringat sosok sang Umi yang sangat ia sayangi. Melihat wanita itu berjalan sendiri dalam keadaan cuaca seperti itu, Teguh merasa kasihan.

"Bujug! Kaget Gue!" Seru Farhan ketika wanita itu menoleh ke arah mobil mereka.

"Lo tunggu disini!" Ujar Teguh dan langsung keluar dari dalam mobil.

Duh bajunya transparan rupanya, bahaya kalau dia terus berjalan sampai ke depan sana. Batin Teguh setelah melihat wanita itu dari dekat.

Akibat tersorot lampu mobil yang dekat, sangat terlihat jelas bentuk tubuh sang wanita apalagi bajunya dalam keadaan basah kuyub.

"Tunggu! Jangan terus melangkah, bahaya!" Sergah Teguh menyarankan.

"Jangan dekat-dekat! Lo mau apa ngikutin Gue dari tadi?!" Ancam wanita itu meski tubuhnya gemetar antara kedinginan dan ketakutan.

Teguh diam sesaat memandangi wanita itu, kemudian ia membuka jaket yang sedang ia gunakan.

Harus Gue tutup nih, bahaya. Mana cakep pula. Batin Teguh.

"Jangan ke arah sana, bahaya! Ada kumpulan lelaki di depan sana." Kembali Teguh menyarankan.

Wanita menajamkan penglihatannya ke arah yang di maksud. Kira-kira 50an meter ke depan, memang terlihat gerombolan lelaki disana.

"Lo mau kemana sih, hujan-hujan gini mana sendirian lagi?" Tanya Teguh sambil memasangkan jaketnya ke tubuh wanita itu, menutupi bagian bahu ke bawah.

Awalnya wanita itu menolak, namun sesaat mungkin ia sadar melihat bajunya bagian depan. Tampak jelas ada sedikit kemerahan di wajahnya yang pucat. Sudah pasti ia sedang merasakan malu atas baju putih berbahan tipis transparan yang tertutup oleh rambutnya yang panjang.

"Terus Lo nggak bahaya?!" Kata wanita itu menatap waspada ke arah Teguh.

"Menurut Lo, Gue bahaya nggak?" Teguh balik bertanya.

Ditanya kok malah diem. Batin Teguh.

"Gue antar ya? Lo mau kemana?"

Wanita itu masih tidak menjawab. Ia masih mengamati dalam diam.

Pasti muka Gue lecek banget kegiatan seharian ini. Duh, jadi nggak pede Gue. Batin Teguh.

"Kita bicara kedalam mobil aja ya, disini basah Gue hujan-hujanan." Kata Teguh lagi.

"Lo mau memperkaos Gue?!" Sarkas wanita itu dengan sikap siap menyelamatkan diri.

"Astagfirullah, Umii... anak Umi yang ganteng ini di kira penjahat Mi..." Gumam Teguh yang masih bisa di dengar oleh si wanita.

"Sumpah, niat Gue cuma mau nolongin Elo. Nih kartu nama Gue, Gue pengacara. Lo bisa laporin Gue kalau Gue macem-macem." Ujar Teguh sambil menyodorkan kartu namanya.

Wanita itu meraih kartu nama itu, membacanya dengan seksama, lalu dengan cepat menarik tangan Teguh berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam sana.

"Eh... Eh... Eh...!"

Kini giliran Teguh yang panik.

Bersambung...

1
Ulfayanty Syamsu Rajalia
tolol nangis aj trus sampai kiamat bego banget si knp gk manggil warga bego
Deuis Hilmatussa'dah
Kecewa
Deuis Hilmatussa'dah
Buruk
74 Jameela
manusia berhati iblis tuuh andi😠
74 Jameela
lyra...cemungut yooooo..
hempaskn para bunga bangkai itu
74 Jameela
kyok jallang dech jd ny si clara..
maksain diri amiiiittttt
74 Jameela
waduh..gaswat..
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
74 Jameela
Luar biasa
74 Jameela
kaget aq
Vindy swecut
uuwwooowww/Gosh//Gosh//Gosh/
Vindy swecut
sumpah ngakak banget...lucu banget si onta timur ini...gemes deh/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ristieriswanharti
terbangun haus air minum lewat depan kamar mamah dapur suara desahan miling 😂
Sivia
/Facepalm/
Akbar Razaq
Rasain di culik bener bener ya gak bs di bilangin di cemasin orang gak bs jaga diri juga tapi ngeyel sukurin.
Akbar Razaq
mendadak minta di kawinin gatal ya...urusan aja lo gak bs apa apa klo gak ada temem sama teguh.duh lemot amat ya Si Lyra gemes deh
Akbar Razaq
untung ketemu orang baik klo enggak habis lo.agak kesal sih sama Lyra yg agak.bodoh juga.
Akbar Razaq
Nah kenapa gak sekalian.lo undang orang orang buat lihat secara life kelakuan mereka.li bodoh juga sih
Akbar Razaq
Bodoh.mereka jadi hati hatikan??
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄
Akbar Razaq
Beneran Lyra mmg terlalu polos harusnya di selidiki mana ada maling yg ngaku.dodol?
Akbar Razaq
Ya ampun ternyata othor belum kasih jalan smua ini blum terkuak.😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!