"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 10
BRAKK !!!
Aku membuka pintu setengah membantingnya, bisa kulihat wajah terkejut mereka karena kamarku memang dekat dari ruang tamu. Apalagi rumah ini terlalu kecil untuk meredam sebuah obrolan.
"Kalian benar-benar menj*jik-kan, mau menjadikan diriku tameng dari hubungan terlarang kalian, heh? Mimpi sana." Aku menyeringai.
Enak saja, amit-amit aku dapat jodoh tukang celup kaya Mas Harsa. Apalagi yang dicelupin Mbak-ku sendiri.
"Lalu? Kamu mau berlindung di balik Mas Firman? ah, bukankah itu sama saja, Hanin? Dia suami orang lho, kamu mau jadi pelakor!"
"Eh tunggu? Siapa yang mau jadi pelakor hehehe... Kenapa Mbak Naura dan Mas Harsa selalu menuduhku dengan kalimat itu?" Aku pura-pura mengernyit.
"Karena kamu selalu bersama Firman!" suara datar Mas Harsa membuatku tersenyum masam. Baguslah, kalau dia mulai bersikap gentle, mungkin karena sudah terlanjur basah eh tertangkap basah.
"Selalu, ya? Tapi aku bukan pelakor, Mas. Atau kamu bilang seperti itu untuk menutup dirimu sendiri yang sebenarnya adalah perebut bini orang?"
"Hanin!" Mas Harsa berdiri, ia mendekat membuatku mundur beberapa langkah.
"Jangan macam-macam, Hanin. Sebenarnya, kamu hanya perlu setuju menikah denganku dan kita hidup bahagia bertiga."
"Maksudmu?" Aku tahu maksudnya, tunggu apa bertiga itu dengan Mbak Naura? Ih najisss sekali, lebih baik aku menjadi perawan seumur hidupku.
"Maksudku ya kita menikah, asal kamu tetap membiarkanku bersama Naura, aku tidak akan pernah menyakitimu!"
"NAJISSSSS..."
Mbak Naura bersedekap, lalu menyusul Mas Harsa berdiri dan memintanya duduk kembali dengan lembut.
Mereka sungguh menj*jikkan, membuatku muak sekaligus mual di waktu bersamaan. Aku melirik pintu yang terbuka, "aku akan pergi, silahkan kalian nikmati waktu berdua disini mumpung Ibu belum datang, lumayan satu ronde!" sinisku kemudian melangkah ke pintu keluar.
"Kamu nggak mau gabung?" tawar Mas Harsa.
Gila, benar-benar gila sampai aku berfikir dia manusia atau bukan?
Oh, mungkin dia manusia tapi gak punya otak dan hati.
"Gabung? Aku malah takut ada yang sakit hati karena kamu keenakan main sama perawan, Mas! Pas kamu sama Mbak Naura kan dia sudah,--"
"Hanin!" Ibu sudah datang, suaranya membentak memutus ucapanku.
"Ibu dari mana? Aku mau pergi sebentar tolong di rumah, takut tiba-tiba digrebek warga karena ada pasangan zinah!"
"Astaga Hanin mulutmu!"
Mengabaikan Ibu, aku bergegas pergi. Entah, ingin rasanya aku kembali saja ke kota dan mencari kerja disana.
Apalagi, Pak Divine berjanji akan menerimaku kembali jika sewaktu-waktu aku tak betah di kampung.
"Apa aku kabur saja?"
***
Menaiki ojek online, aku menyambangi rumah Om-ku yang berjarak cukup jauh karena membutuhkan waktu hampir satu jam.
"Hanin? Astaga, masuk sini. Sudah lama kamu nggak main kesini," sambut Om Ben, adik dari bapak.
"Tante mana, Om?" tanyaku basa-basi.
"Keluar sama Alana, jalan-jalan paling ke komplek sebelah. Disana ada lapangan kan, banyak anak-anak sekolah olah raga jam segini."
Aku melihat jam, masih jam sembilan lebih sedikit mengingat sedari tadi pagi aku berdebat dengan Mbak Naura. Sampai melupakan Haikal yang sedari pagi tak terlihat hidungnya.
"Boleh aku nyusul, Om?"
"Boleh, Alana pasti seneng kamu datang kesini."
Aku mengangguk, setelah meletakkan tas di kamar yang sudah Om Ben tunjukkan, segera aku menyusul Tante Lia dan Alana ke lapangan.
Hanya butuh waktu sebentar untuk sampai di tempat dimana Tante Lia berada.
"Lho Hanin..." senyum hangat itu menyambutku, aku semakin mendekat lalu memeluk Tante Lia, kemudian berjongkok menyapa Alana.
"Baru datang, ayo duduk sana!" ajak Tante Lia.
Aku mengangguk, "ayo, Tan. Kangen aku sama Alana.
"Kak Hanin, cius kangen aku?"
"Kangen dong, punya adik gemoy cantik gini masa gak kangen," seruku mengusap lembut pucuk rambut Alana.
"Kak Hanin, aku sekarang sudah kelas empat lho," pamernya.
"Wah, keren. Sudah besar dong berarti!"
"Walau besar, dia masih sangat manja, Nin!" Tante Lia menimpali. Kami duduk di kursi panjang di bawah pohon kersen. Di depan sana, ada lapangan dimana kakak kelas Alana sedang olah raga.
"Kamu nggak sekolah?" menyadari bahwa Alana malah bersama Tante Lia.
Alana menggeleng, "libur, Tante!"
"Lebih tepatnya melibur, Nin. Hahaha biasa lah, Alana kadang pagi suka ngeluh pilek giliran matahari lumayan tinggi eh dia sembuh. Meler dia!"
"Ya gak apa-apa, Tan. Udah kebiasaan begitu."
Kami banyak mengobrol, ditemani es teh dan cilok goreng. Saat matahari sudah meninggi, kami pun berjalan kaki pulang.
***
"Ada apa Hanin? Kamu kelihatan gusar, kalau kamu sampai sini artinya kamu sedang nggak baik-baik saja kan?" tanya Om Ben.
Aku mengangguk, Alana sudah tidur siang jadi kami bertiga mengobrol di belakang rumah. Ada taman kecil disana, membuat aku sering kali lebih betah menginap di rumah Om Ben dan Tante Lia.
"Mbak Naura,--" Entah, rasanya sulit sekali bercerita, apalagi ini soal hal yang menurutku sangat memalukan.
"Om satu-satunya keluargaku dan Ibu yang tersisa, jadi semisal aku nggak sama Ibu boleh kan aku pulang kesini?" entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari bibirku, terlalu kelu untuk mengatakan hal sebenarnya.
"Nin, kita ini kan keluarga. Sejak Bapakmu nggak ada, Om berkewajiban menjagamu dan Ibumu. Jadi jangan pernah berkata seperti itu, karena kapanpun kamu datang Om dan Tante akan dengan senang hati menyambutmu."
"Memang Mbakyu kenapa, Nin?" tanya Tante Lia.
Deg...
"Akhir-akhir ini aku dan Mbak Nau tak sependapat, tapi Ibu selalu berada di pihak Mbak Nau dan malah memarahiku. Aku jadi berfikir buat hidup di tanah rantau lagi, Tante."
"Mbakmu masih begitu?" Tanya Om Ben seperti mengerutkan kening, "soalnya beberapa waktu lalu pas Om lagi di Mall, Mbakmu lagi shoping sama laki-laki."
Pasti laki-laki itu Mas Harsa, siapa lagi yang mau jadi atm berjalannya Mbak Naura?
"Mbak Nau sebenarnya waras, Om!"
"Jadi?" tanya Tante Lia.
Aku mengangguk, "selama ini Mbak Naura pura-pura depresi." Dan bisa kulihat wajah terkejut Om Ben dan Tante Lia.
"Benar-benar mirip Ibunya," desis Om Ben.
Ibunya? Memangnya kenapa dengan istri pertama Bapak?
"Maksudnya, Om?"
Tante Lia berpindah di sampingku, ia mengusap-usap bahuku lembut. Dan aku mendengarkan Om Ben dengan seksama.
"Bapakmu dan Ibumu dijodohkan sama kakek, mereka menikah karena Bapakmu setuju saja. Namun, saat usia pernikahan orang tuamu menginjak satu tahun. Ibunya Naura datang, membawa seorang bayi perempuan yang katanya anak bapakmu. Menyerahkan Naura dengan pura-pura depresi. Sekarang dia malah hidup sama laki-laki kaya, entah dimana. Tapi dulu, Om dan Tantemu sempat tahu kabar pernikahannya."
"Astaga!" Aku menutup mulutku dengan telapak tangan.
"Jadi? Gimana ceritanya Ibu bisa terima dan nggak marah, Om?"
"Karena hubungan Bapakmu dan Ibunya Nau terjadi saat Bapak dan Ibumu belum menikah."
Sekarang aku mengerti kenapa keluarga Bapak dulu tak terlalu suka dengan Mbak Naura, tapi jika teringat tingkah Mbak Naura yang menyebalkan itu rasa kasianku seketika menguap.