Kisah asmara antara Yusuf seorang pemuda yang sedang dalam pencarian jati dirinya dengan Sari sang bunga desa. Lika-liku perjuangan kehidupan dan jalan yang telah digariskan mempertemukan mereka. Novel ini bercerita tentang cinta, persahabatan, kondisi sosial dan semangat pantang menyerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR YANG TERTUNDA
Transportasi lewat jalur laut sementara ini ditangguhkan dikarenakan cuaca yang ekstrim. Itu artinya bulan-bulan ini sampai cuaca membaik tidak ada pekerja yang dari luar pulau bisa mudik untuk menikmati masa cuti libur mereka untuk berjumpa dengan keluarga.
Itulah nasib yang kurang baik yang dialami Pak Imran ketika harus mengurungkan niatnya untuk bisa bertemu dengan anak dan istrinya. Karena tak bisa pulang Pak Imran pun menunda cuti liburnya dan memilih untuk tetap bekerja.
Tidak hanya menimpa para pekerja luar pulau yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya hujan lebat yang hampir setiap hari dan arus laut yang selalu menari tak berirama juga punya dampak buatku.
Orang-orang yang mengandalkan surat-menyurat untuk memberi kabar kepada kerabat mereka yang jauh harus rela percakapan mereka ditunda karena tidak adanya kapal yang berlayar untuk membawa kabar-kabar yang telah mereka tuliskan.
Bukan cuma orang-orang saja yang dirugikan atas terputusnya transportasi laut tapi juga perusahaan yang harus menunda untuk kirim dan terima barang.
Dan itu pun cukup berdampak di bagian proses pengolahan atau produksi karena adanya stok yang menumpuk ataupun kehabisan barang-barang keperluan yang mesti didatangkan dari kantor pusat di Jakarta.
Orang-orang yang sudah bekerja di perkebunan ini selama bertahun-tahun sudah paham dengan situasi yang seperti ini.
Meski setiap harinya harus berbasah-basahan mereka menyebutnya ini musim kering untuk keadaan kesejahteraan mereka.
Musim hujan yang ekstrim seperti in memang tidak datang di setiap tahunnya, tapi sekalinya terjadi benar-benar menguji fisik dan mental kami dalam menjalani profesi kami ini.
Tentunya juga bagi keseluruhan tim di perusahaan baik itu di bagian produksi yang bekerja di pabrik, orang-orang yang ada di balik meja, apalagi para buruh seperti kami ini yang terjun langsung di perkebunan. Dan tentunya itu semua juga berdampak pada pendapatan perusahan.
*
Akhirnya setelah lebih dari dua bulan alam kembali berbaik hati. Perlahan hujan dan angin tidak lagi mengamuk, matahari mulai sering muncul kembali. Rutinitas di perkebunan pun berangsur-angsur pulih seperti seharusnya.
Cuaca yang sudah kembali normal tidak secara serta merta meringankan pekerjaan kami. Pekerjaan yang sebelumnya tertunda yang tidak bisa dilakukan pada musim hujan harus segera kami selesaikan terlebih dahulu.
Pak Imran yang kepulangannya sempat tertunda dan juga para karyawan yang lainnya yang mendapat jatah libur bisa segera menemui keluarga mereka di kampung halaman.
Demikian halnya dengan surat-suratku yang sudah aku tulis beberapa bulan lalu semoga saja bisa segera tersampaikan dan mendapatkan balasan.
Hanya beberapa minggu setelah cuaca kembali bersahabat dengan tanaman dan juga para pekerja di kebun perusahaan memberikan sebuah pengumuman yang cukup mengejutkan.
Lahan baru yang sudah selesai digarap akan segera dilakukan proses penanaman, tanaman yang siap tanam pun sudah siap untuk ditanam di lahan baru tersebut.
Belum adanya tenaga kerja baru mengharuskan kelompok-kelompok yang sudah ada untuk mengirimkan sebagian personilnya.
Karena ini adalah menanam anak pohon yang sudah siap tanam bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dikerjakan, tapi perlu dilakukan dengan benar sesuai dengan ilmunya.
Dari tim kami mas Bayu menunjukku dan Joni untuk dikirim untuk bergabung ke lahan baru tersebut. Kata mas Bayu ini hal bagus buatku karena aku memang belum pernah melakukannya dan akan menjadi bekalku di suatu hari nanti.
Lahan baru yang bisa dibilang menjadi lahan terluas di perkebunan ini membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan penanaman secara menyeluruh.
Selain berkenalan dengan para pekerja-pekerja dari kelompok lain senang juga rasanya bisa mengenal lebih dekat kawan baruku si Joni yang ternyata orangnya benar-benar menyenangkan.
Sebagai pekerja yang terhitung masih baru belum ada satu tahun apa lagi asalku dari luar daerah kepulanganku menjadi tidaklah menentu. Apalagi dengan peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak terduga dan juga musim hujan yang cukup ekstrim yang menghambat proses berkebun, aku yang semula dijanjikan bisa mengambil cuti pulang setelah enam bulan kerja semuanya itu menjadi isapan jempol belaka.
Sudah berjalan delapan bulan aku hanya bisa membayangkan bagaimana wujud dari Tunggal dan orang-orang yang kukenal di sana.
Tapi untuk apa aku mengeluh terus-terusan jika hal yang akau alami ini juga dirasakan oleh teman-temanku yang juga bekerja di sini.
Memang inilah resiko bekerja sebagi buruh, bekerja ikut orang lain, ada aturan-aturan yang harus kita jalani meskipun itu terkadang bertentangan dengan perasaan dan keinginan pribadi.
Aku memutuskan untuk menerima tawaran dari mas Bayu. Aku akan dipindahkan ke tim baru yaitu menjadi bagian dari kelompok baru yang akan bekerja di perkebunan lahan baru yang beberapa hari lalu aku dikirim ke sana.
Kata mas Bayu dalam waktu dekat perkebunan akan kedatangan para pekerja-pekerja yang masih baru yang akan ditempatkan di dalam kelompok-kelompok yang sudah ada sama seperti aku waktu dulu pertama kali masuk kemari.
Sementara itu untuk perkebunan baru alangkah lebih baik jika didominasi oleh pekerja-pekerja kebun yang sudah cukup punya pengalaman meskipun tidaklah banyak.
Tidak hanya itu mas Bayu juga menyampaikan kepadaku bahwasanya atas rekomendasinya yang selama ini menjadi mandorku dan juga hasil rapor akan kinerjaku yang membuat mereka puas aku akan diberi kepercayaan lebih, tentunya dengan bimbingan teman-teman yang lain.
Ini akan menjadi awal yang baik karena aku akan memulai merawat pohon-pohon sawit ini dari mulai aku menanamnya.
Aku tidak hanya sendiri, ada Idris yang turut akan dipindahkan ke tim baru itu bersamaku dan kami juga tidak perlu khawatir dengan kelompok yang lama karena mereka akan ketambahan lima tenaga kerja baru.
Tentu saja pilihan ini harus dibayar dengan penundaan kepulanganku. Menurut perhitungan setidaknya empat bulan lagi waktu yang harus ku habiskan di perkebunan ini sebelum akhirnya aku benar-benar bisa pulang. Tapi paling tidak aku akan mendapatkan jatah libur selama satu bulan penuh sebagai gantinya.
Dengan rutinitas yang baru dan juga orang-orang baru kami semua harus bisa menyesuaikan diri.
Melihat orang-orang yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki mereka di perkebunan mengingatkanku waktu aku baru pertama kali sampai di sini beberapa bulan yang lalu.
Terlihat masih kaku dan juga sungkan dalam bersosialisasi. Untuk itulah dibutuhkan peran para orang-orang lama tidak terkecuali aku untuk bisa membawa suasana kerja menjadi lingkungan yang hangat dan menyenangkan baik untuk bekerja atau pun ketika mereka beristirahat di petang harinya sama seperti orang-orang yang pernah ku kenal dulu ketika mereka membangun hubungan sebagai sesama pekerja, sebagai teman, dan menjadi layaknya sebuah keluarga.
Bagiku terkadang merasa perih ketika harus mengingat masa-masa di tim yang dulu meskipun di waktu yang bersamaan aku juga bisa tertawa karena banyaknya kenangan indah bersama mereka.
Tidak terasa sudah melewati tiga bulan aku berada di kelompok ini. Pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati bersama orang-orang yang menyenangkan meskipun berbayar dengan rasa letih yang terkadang terasa begitu sangat melelahkan bisa berlalu begitu saja.
Saking asyiknya dengan peran baruku ini ada sesuatu yang terlewatkan olehku.
Sudah aku niatkan untuk setiap dua bulan sekali untuk menulis surat ke Tunggal, tapi kali ini akibat kelupaan ku sendiri waktu beberapa minggu yang begitu berarti jadi terlewatkan begitu saja.
Ketika jadwalku libur aku pagi-pagi sekali sudah bersiap untuk berangkat ke kantor dengan membawa surat yang sudah aku persiapkan. Aku juga begitu penasaran karena belum ada balasan surat untukku. Pikirku apa lagi kini yang menghambat surat balasan datang kepadaku.
Memang beda orang sudah berbeda lagi ceritanya. Jika dulu aku dan yang lainnya bisa menitip surat kepada mas Bayu kali ini dengan Pak Bowo ketua di tim yang sekarang ini bisa dikatakan tidak mungkin.
Pak Bowo perawakannya tegas dan dia cenderung berbicara jika ada yang perlu dibicarakan saja.
Meskipun begitu banyak orang-orang lama yang mengatakan kalau dia ini sebetulnya baik tapi memang karakternya saja yang begitu. Orang-orang juga sering membicarakan kumisnya yang dinobatkan sebagai kumis tergarang di perusahaan ini. Mungkin jika kumisnya dicukur habis dia akan terlihat lebih kalem.
Pagi itu aku menunggu siapa tahu ada mobil perusahaan yang akan turun ke bawah sehingga aku bisa ikut serta tidak perlu jalan kaki meskipun sebenarnya tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan jarak antara mesku yang lama dengan kantor.
Mungkin karena terlalu lelah dan dalam kondisi libur aku jadi agak malas untuk berjalan.
“Mas Yusuf”, seseorang memanggilku.
“Ramli. Ada apa?”, seorang anak baru menghampiriku.
“Di suruh menghadap Pak Bowo mas di ruangannya.”
Berbeda dengan mas Bayu yang jadi satu dengan timnya ketika di mes, Pak Bowo punya bangunan sendiri yang dijadikannya sebagai rumah tidurnya dan juga ruangan pribadinya.
Sementara itu karena memang lahan yang luas dan juga banyaknya pekerja, rumah bagi anak-anak pun dibuat terpisah.
Tidak ingin mendapatkan masalah aku pun langsung menghadap Pak Bowo di ruangannya.
Ternyata tidak beberapa lama setelah aku bertemu Pak Bowo aku pun sudah keluar lagi karena dia ada pekerjaan lain.
Memang orangnya tidak suka basa-basi. Aku keluar dari ruangan Pak Bowo tidak dengan tangan kosong.
Ada sebuah surat yang dialamatkan padaku. Aku bahkan tidak sempat membaca siapa yang mengirimkan surat ini ketika di dalam sana.
Aku terdiam sejenak ketika ternyata yang mengirimkan surat ini adalah Sapto tapi dengan alamat Jakarta yang tertera di alamat pengirimnya.
Sedang apa Sapto di Jakarta pikirku?
Aku duduk di sebuah bangku yang terletak di belakang rumah para pekerja yang biasanya di halaman belakang ini digunakan untuk tempat bersantai, berkumpul ketika jam istirahat atau pun di sore dan malam harinya.
Aku mulai membuka amplop itu. Amplop yang sama yang mengingatkanku akan surat balasan pertama untukku.
Tidak ada surat balasan dari Sari. Dan Sapto memintaku untuk datang ke alamat yang ada di dalam surat ini dimana alamat itu adalah alamat yang sama digunakan Sapto untuk mengirimkan surat ini.
Itu adalah dua inti penting yang terus saja aku pikirkan selain ratusan kata yang lain yang ku baca dari surat itu.
Kenapa Sari tidak menulis surat balasan untukku?
Kenapa Sapto menganjurkan aku untuk terlebih dulu datang ke alamatnya di Jakarta?
Kurang dari satu bulan lagi waktuku di sini sebelum aku pulang.
Aku akhirnya mengurungkan niatku untuk mengirim surat yang sudah aku persiapkan.
Perhitunganku mungkin bisa saja keliru, tapi satu bulan lagi aku akan pulang. Jika aku mengirimkan surat sekarang siapakah yang akan sampai terlebih dahulu?
Bukan itu maksudku. Tapi karena isi surat yang ingin ku sampaikan ini sudah tidak ada lagi korelasinya ketika aku membaca surat yang dikirimkan oleh Sapto.