Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Panggilan
..."Ada panggilan yang terdengar oleh telinga. Ada pula panggilan yang hanya dapat didengar oleh hati yang telah siap meninggalkan dirinya sendiri."...
Sejak Sidang Agung Banua Ginjang berakhir, Deak tidak lagi mampu menjalani hari-harinya seperti dahulu.
Ia masih belajar bersama para tetua. Masih membantu Nai Tonun menenun Ulos Cahaya. Masih sesekali mendengarkan kisah yang diceritakan sang Burung Erung. Masih tertawa bersama Jonggi dan para Sitabeak Bintang.
Namun setiap kali matahari mulai condong ke barat, langkahnya selalu menuju tempat yang sama. Tebing Pamatang Langit.
Seolah ada benang halus yang tak terlihat yang terus menariknya ke sana, memanggil dengan kerinduan yang mendalam.
Burung Erung tidak lagi bertanya mengapa. Ia hanya terbang di sisi Deak. Kadang mereka hanya duduk bersama berjam-jam. Dalam keheningan, tanpa kata. Karena ada keheningan yang lebih jujur daripada percakapan.
Hariara Bolon menjatuhkan sehelai daun emas. Daun itu melayang perlahan di hadapan Deak. Lalu terbawa angin, menuju Banua Tonga.
Deak mengikutinya dengan pandangan yang tak berkedip, "Aku merasa... sebagian dari diriku berada di sana."
Burung Erung memejamkan mata sejenak dan menjawab: "Bisa jadi. Karena tidak semua perjalanan dimulai oleh langkah. Sebagian dimulai oleh kerinduan."
...****************...
Hari demi hari, suara panggilan itu semakin sering kembali. Bukan suara yang memanggil namanya. Bukan pula bisikan yang dapat ditangkap telinga.
Ia lebih menyerupai lagu. Lagu yang tidak memiliki kata-kata. Namun setiap nadanya membuat dada Deak dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan.
Ia tidak merasa sedih, namun ia juga tidak merasakan kegembiraan. Yang ia rasakan hanyalah, kerinduan kepada sesuatu yang belum pernah ia kenal.
...****************...
Pada suatu senja musim ketujuh setelah Sidang Agung terselenggara, kabut yang selama ribuan musim menyelimuti Banua Tonga perlahan membuka diri.
Untuk pertama kalinya, Deak dapat melihat samudra purba tanpa penghalang. Airnya tampak bening. Begitu bening hingga langit dan air seolah menjadi satu.
Di kedalamannya berputar jutaan titik cahaya. Bukan bintang. Melainkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang belum dilahirkan.
Jonggi tiba-tiba mengepakkan sayapnya gelisah, "Putri... Jangan terlalu dekat ke pinggir."
Deak mengangguk. Namun kakinya terus melangkah. Bukan karena ingin membangkang, melainkan karena ada sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut.
Semakin dekat ia melangkah, semakin sunyi seluruh semesta.
Parmanurung Rambu menghentikan tariannya. Parhobas Rambu menurunkan tongkat kristalnya. Siboru Rintik memandang dari kejauhan dengan wajah cemas.
Bahkan angin, tidak lagi berembus.
Semesta seakan menunggu.
Di hadapan Deak terbentang tepian samudra purba. Airnya nyaris tak beriak. Ia berlutut perlahan. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tetapi karena ia tahu, sekali saja ia menyentuh air itu, tidak akan ada lagi jalan untuk berpura-pura tidak mendengar panggilannya.
Ia memejamkan mata. Lalu... ujung jemarinya menyentuh permukaan samudra.
Tidak ada petir. Tidak ada juga gemuruh yang terdengar. Tidak pula ada cahaya yang meledak. Yang terjadi justru, keheningan. Keheningan yang begitu dalam... hingga Deak dapat mendengar detak jantungnya sendiri.
Riak-riak kecil menyebar membentuk lingkaran yang terus meluas. Lalu permukaan air berubah. Ia tidak lagi memantulkan wajah Deak. Ia memperlihatkan sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun.
Deak melihat hutan-hutan yang belum tumbuh. Gunung-gunung yang belum menjulang. Sungai-sungai yang belum mengalir. Laut yang belum dihuni ikan. Burung aneka jenis yang belum belajar terbang. Anak-anak manusia dan hewan yang belum dilahirkan.
Tawa. Tangis. Doa. Perpisahan. Pertemuan.
Kasih seorang ibu yang memeluk anaknya. Ayah yang bekerja tanpa mengeluh. Sahabat yang saling menopang. Manusia yang saling mengampuni.
Ia melihat kehidupan, dalam seluruh keindahannya. Dan juga seluruh luka yang akan menyertainya.
Air mata perlahan mengalir di pipi Deak. Bukan karena sedih. Melainkan karena ia menyadari... betapa berharganya kehidupan yang belum ada itu.
Kemudian, semua gambaran menghilang. Yang tersisa hanya sepasang tangan. Tangan itu terbuka. Tidak menggenggam apa pun. Tidak meminta apa pun.
Ia hanya memberi. Memberi tanpa menghitung. Memberi tanpa menunggu balasan. Memberi hingga dirinya sendiri habis.
Dari kedalaman samudra, terdengar suara yang begitu lembut, "Kasih... bukanlah tentang memiliki. Kasih... adalah kerelaan memberikan seluruh dirimu, agar kehidupan dapat lahir."*
Tubuh Deak bergetar. Tiba-tiba ia melihat benang-benang emas. Benang-benang yang sama seperti ketika ia dilahirkan.
Namun kini benang-benang itu tidak hanya mengelilinginya. Benang-benang itu menjulur dari Hariara Bolon, menembus langit, lalu turun menuju Banua Tonga.
Saat itulah Deak memahami sesuatu, bahwa sejak awal, ia tidak pernah diciptakan hanya untuk tinggal di Banua Ginjang.
Ia ditenun, untuk menjadi penghubung dua dunia.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya semakin deras dan bergumam: "Kalau aku kembali... aku akan dihukum."
Keheningan menjawab. Namun keheningan itu terasa seperti pelukan.
Deak kembali berbisik, "Kalau aku tetap tinggal... siapa yang akan menemani dunia yang belum lahir?"
Burung Erung yang sedari tadi hanya menyaksikan, perlahan mendekat. Ia tidak mencoba menarik Deak. Ia hanya berkata lirih, "Takdir tidak pernah memaksa. Ia hanya mengetuk. Engkaulah yang memutuskan apakah akan membuka pintu itu atau tidak."
Deak menatap samudra sekali lagi. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya mengapa suara itu memanggilnya. Ia telah mengetahui jawabannya.
Dengan perlahan, Deak menarik kembali tangannya. Di telapak jemarinya tertinggal setetes air yang sangat jernih dan bening. Namun di dalamnya berdenyut cahaya keemasan.
Setetes air itu perlahan meresap ke dalam kulitnya. Menghilang. Tanpa luka. Tanpa bekas. Kecuali sebuah lambang kecil berbentuk daun Hariara yang bersinar sesaat, lalu lenyap.
Deak memandang telapak tangannya. Ia lalu tersenyum. Bukan berupa senyuman seorang anak yang menemukan jawaban. Melainkan senyum seseorang dewasa yang pada akhirnya iklas menerima panggilannya.
...****************...
Saat ia melangkah meninggalkan tepian samudra, langit Banua Ginjang mendadak dipenuhi ribuan kupu-kupu cahaya.
Mereka terbang mengitari Hariara Bolon. Tidak ada yang tahu dari mana datangnya.
Namun Burung Erung memahami pertandanya. Ia memandang langit dengan mata berkaca-kaca dan bergumam, "Jadi... musim itu akhirnya tiba."
Di bawah naungan Hariara Bolon, Jam Pasir Bintang milik Ompu Tiktik tiba-tiba berdetak lebih cepat untuk sesaat.
Nai Tonun tanpa sadar menjatuhkan benang emas dari alat tenunnya.
Ompu Sada Uluan menghentikan doa sore yang sedang dipanjatkannya.
Mereka belum mengetahui apa yang telah dilakukan Deak. Namun hati mereka merasakan sesuatu yang sama.
Ada satu helai benang takdir, yang baru saja mulai ditenun. Dan tidak seorang pun, bahkan para tetua, akan mampu menghentikan tenunan itu hingga selesai.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 15. Pengadilan Semesta.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/