Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nakula Zefario Dewangga
Nakula Zefario Dewangga, anak tunggal kaya raya dari pasangan Dewangga Jagat Bumi dan Rosa Amelia. Ya, bisa dikatakan seperti itu. Karena pada kenyataannya dialah satu-satunya pewaris dari keluarga Dewangga.
Semenjak meninggalnya sang ayah lima tahun yang lalu, Zef sudah menjadi pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan game. Zef adalah CEO perusahaan ZSoft, ia memiliki IQ tinggi dan mampu dengan cepat menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan cepat. Kini ia telah memimpin perusahaan peninggalan sang ayah.
Zef sudah lama kenal dengan Reksa, sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah atas. Zef juga tahu kemampuan bela diri Reksa dan kemampuan IQ Reksa yang hampir setara dengannya. Maka dari itu Reksa diminta Zef untuk menjadi asistennya. Baik Zef maupun Reksa sama-sama memiliki kemampuan di bidang olahraga. Keduanya memiliki kemampuan taekwondo, dan juga muangthai. Bahkan keduanya juga sudah mendapatkan izin resmi untuk memiliki senjata api.
Zef sangat mencintai Irene, sudah sangat lama pria itu menyimpan perasaannya terhadap gadis itu. Yang tak lain adalah adik tiri dari sahabatnya sendiri. Mungkin inilah yang Zef rasakan saat pertama kali melihat sosok Irene. Dari pandangan pertama sudah langsung jatuh cinta.
Awalnya Zef mengira perasaannya itu hanya sesaat dan hanya obsesinya saja. Namun, setiap hari pria itu terus saja terbayang dan memimpikan sosok Irene. Semenjak saat itu diam-diam Zef mengikuti dan mengawasi Irene. Sampai akhirnya Reksa mengetahuinya. Saat itu juga Zef berkata jujur pada Reksa bahwa ia mencintai Irene.
Reksa yang melihat sahabatnya begitu tulus pun akhirnya menawarkan diri untuk sama-sama menjaga Irene. Reksa juga yang meminta Zef untuk menahan perasaannya itu sampai Irene lulus sekolah.
Kembali disaat ini, Zef melangkah menuju pintu pagar rumah Reksa. Baru saja ia menghubungi Reksa dan mengatakan kalau dirinya sudah di depan rumah. Sementara di dalam rumah, Reksa meminta tolong pada Irene untuk membukakan pintu karena ada temannya yang datang.
Irene tak menolak, ia pun segera berjalan menuju pintu rumah dan benar saja disana sudah ada Zef yang sedang berdiri menunggu Reksa keluar.
Zef terkejut saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. Namun keterkejutannya itu segera dikondisikan. Berbeda dengan Irene yang memasang wajah biasa saja.
“Silakan masuk, Kak!” ujar Irene pada Zef.
Zef mengangguk kikuk. “T-terimakasih,” jawabnya.
Zef dan Irene pun masuk kedalam. Sesekali Zef melirik ke arah Irene yang semakin hari semakin terlihat cantik baginya. Tambah lagi penampilan polos gadis itu yang tidak pernah menggunakan make up dan sangat terlihat natural.
“Cantik,” gumam Zef dengan sangat pelan.
Irene menoleh dan langsung membuat Zef melipat bibirnya kedalam.
“Kak Reksa sedang ada di taman belakang,” ucap Irene.
Zef mengerjapkan matanya. “Ah, i-iya. Ka-kalau begitu aku ke taman belakang saja,” jawab Zef yang sangat gugup di hadapan Irene.
“Terimakasih cantik,” gumam Zef dan masih dapat didengar oleh Irene.
Irene pun mengernyitkan kedua alisnya, sementara Zef yang menyadari bibirnya keceplosan pun segera pergi dari hadapan gadis itu. Irene hanya memutar bola matanya malas, dan mengabaikan apa yang baru saja didengar olehnya dari bibir Zef.
“Aneh,” gerutu Irene yang langsung menuju kamarnya.
Setibanya di taman belakang, Zef disambut hangat oleh Reksa dan kedua orang tuanya. Bahkan Opa Rian pun terlihat sangat senang dengan kedatangan Zef.
“Oh, cucu menantu Opah sudah datang. Sini, Nak!” opah Rian mengajak Zef untuk duduk di sebelahnya bersama dengan Cala.
Zef pun tersenyum. “Iya, Opah. Halo, Cala!” Zef dengan lembut mengusap kepala adik sahabatnya itu.
“Kak, Cala punya nih!” Cala menunjukkan mainan barunya.
“Wah, bagus sekali. Siapa yang belikan?” tanya Zef.
“Opah,” jawab Cala tanpa menoleh melihat Zef. Karena bocah itu sibuk dengan mainan barunya.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya opah Rian.
“Alhamdulillah, baik Opah. Opah sendiri bagaimana? Oh, ya dimana Omah?” tanya Zef kembali.
Opah Rian tersenyum. “Alhamdulillah, kami pun sehat semuanya. Oma kamu sedang ke kamar mandi,” jawab opah Rian.
Zef pun hanya manggut-manggut. Lalu Reksa menghampirinya dan memberikannya segelas es sirup pada sahabat sekaligus atasannya itu.
“Thanks, Bro.”
“Sama-sama,” Reksa pun di kut duduk bersama Zef, opah Rian dan juga Cala.
Menjelang Maghrib Irene turun dari kamar, karena tadi Reksa sudah memberitahukannya kalau mereka akan melaksanakan sholat berjamaah di taman belakang.
Irene mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah karpet sudah terbentang luas di sana. Irene pun melangkah menghampiri Anita yang sudah duduk bersama Omah Sari dan juga Cala.
“Sini sayang!” ajak Anita saat ia melihat Irene sedang menuju ke arahnya.
Irene hanya tersenyum tipis, dan menggelar sajadahnya disebelah Anita. Lalu ia pun memakai mukenanya. Tanpa Irene sadari Zef sejak tadi terus memperhatikan gadis itu. Pria itu tersenyum simpul mendapati gadis pujaannya mengenakan mukena.
Reksa menyikut lengan Zef saat ia tahu kalau sahabatnya itu sedang memperhatikan adik tirinya. Zef pun terhentak dan menyadari kesalahannya.
“Wudhu sana. Jangan malahan bengong terus, lagian juga Irene nggak akan kemana-mana!” goda Reksa seraya meninggalkan Zef sendirian.
Zef berdecak kesal, lalu ia segera mengambil air wudhu mengingat sebentar lagi akan berkumandang suara azan.
Malam pun tiba, semuanya mulai berkumpul untuk melakukan pesta kecil-kecilan yang diadakan untuk menyambut kelulusan Irene. Sehabis sholat Isya tadi, ketiga sahabat Irene datang bersamaan. Mereka bertiga juga berencana akan menginap di rumah Irene, berhubung besok adalah hari Minggu.
Zef sedikit merasa risih saat teman-teman Irene bersemangat berkenalan dengannya. Sementara Reksa hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
“Ah, sial. Kenapa aku harus melayani mereka sih?” kesal Zef yang mengadu pada Reksa.
Reksa tak kuasa lagi menahan tawanya, ia pun akhirnya terbahak-bahak di hadapan Zef. Membuat pria itu menatap kesal pada Reksa.
“Menyebalkan!” keluh Zef pada Reksa.
Reksa menepuk pundak sahabatnya itu. “Sabar, Bro. Sudah jangan kesal lagi, sebaiknya kamu bantu Irene di dapur. Tadi aku memintanya untuk membuatkan jus buah,” ujar Reksa seraya mengedipkan satu matanya.
Zef seakan mendapatkan angin segar, inilah momen yang ditunggu-tunggu olehnya. Yaitu momen dimana dirinya akan berdekatan dengan Irene, gadis pujaannya. Dengan langkah cepat, Zef segera meninggalkan Reksa yang sedang berhadapan dengan tungku untuk membakar beberapa daging.
Setibanya di dapur, Zef segera mendekat ke arah Irene. Namun gadis itu masih belum menyadari kehadiran Zef di dapur.
“Perlu bantuan?” tanya Zef dengan lembut pada Irene.
Irene pun menoleh sekilas dan kembali fokus membelah beberapa buah.
“Tidak perlu,” jawabnya tanpa menoleh.
Zef yang pantang menyerah dan tidak habis ode pun berinisiatif untuk tetap membantu gadis itu.
“Buah itu mau dibuat jus kan?” tanya Zef lagi.
“Hmm,”
Zef tersenyum tipis. “Kalau begitu biar aku yang membuatnya,” ucap Zef yang segera mengambil mesin blender.
Irene ingin protes namun bibirnya terasa kelu saat melihat betapa telatennya Zef memasukkan buah-buahan tersebut ke dalam mesin blender.
“Kamu mau aku buatkan jus spesial?” tanya Zef seraya memperhatikan wajah cantik Irene.
Kedua alis Irene bertautan. “Mana ada jus spesial,” celetuknya.
Zef tersenyum. “Ada, nanti akan aku buatkan untukmu.” Jawab Zef.
“Iya, hanya untukmu. Karena aku membuatnya dengan penuh cinta,” gumam Zef dalam hatinya.
Irene mengedikkan kedua bahunya. “Aku akan menunggunya,” jawab gadis itu yang tanpa sadar telah membuat hati Zef berbunga-bunga.
“Aku harap kamu bisa menunggunya dengan sabar. Karena aku harus membuatkan beberapa jus untuk mereka yang ada di luar terlebih dahulu,” ucap Zef.
Irene tak menjawab, gadis itu lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Irene terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Zef selama pria itu membuatkan jus untuk mereka.
“Kakak sudah lama berteman dengan Kak Reksa?” tanya Irene pada Zef.
Dalam hati Zef sangat senang bisa berkomunikasi seperti ini bersama Irene. Dimana yang Zef ketahui, kalau Irene sangat sulit untuk berinteraksi pada orang baru. Namun berbeda saat ini, menurut Zef ada kemajuan dari Irene. Entah itu sadar atau tidak disadari Irene kalau mereka sudah sama-sama nyaman saat berbincang berdua.
Zef tersenyum menatap Irene. “Aku dan Reksa bersahabat sejak kami sama-sama duduk dibangku sekolah menengah kejuruan,” jawab Zef yang masih begitu lembut.
Irene hanya ber 'oh' ria saja, dan terus memperhatikan Zef membuatkan jus buah untuk semuanya. Sepertinya Irene merasa sangat nyaman saat duduk sambil melihat Zef sibuk dengan potongan buah yang sudah diiris oleh Irene.