Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Modus Beruang Kutub
Di dalam mobil operasional mansion yang melaju kencang, Adit mengembuskan napas lega yang terdengar sangat mendesah lembut—efek dari pita suaranya yang kini berubah menjadi feminin. Ia baru saja berhasil menekan tombol kirim pada ponsel pintarnya menggunakan jari-jarinya yang mendadak terlihat lentik, halus, dan putih bersih tanpa daki kuli yang biasa ia miliki.
Adit: "Maaf Oma, tadi Adit tidak pamit dulu sama Oma. Soalnya Adit buru-buru, mau nyusul Reno ke rumah sakit."
Oma Karin yang masih berdiri di ruang makan mansion mewah segera membaca pesan tersebut. Kerutan di dahinya yang sedalam jurang perlahan berkurang, berganti dengan rasa maklum keibuan. Ia segera mengetik balasan dengan cepat.
Oma Karin: "Ya sudah tidak apa-apa, Oma cuma khawatir sama kamu. Memangnya teman kamu itu sakit apa, Dit? Sampai harus dibawa ke rumah sakit segala?"
Adit menatap layar ponselnya dengan ngeri. Ia sempat melirik ke arah kaca jendela mobil, melihat pantulan wajah cantiknya yang asing, berhidung mancung, dan berbibir ranum alami.
Adit langsung membuang muka ke arah jok depan karena masih trauma mendalam melihat hilangnya identitas ketampanannya. Ia memutar otak secepat jet tempur, memikirkan alasan yang masuk akal agar Omanya tidak bertanya lebih jauh atau berniat menyusul ke rumah sakit.
Adit: "Dia mencret-mencret Oma, gara-gara makan seblak level 100. Kayaknya lambungnya menyerah."
Oma Karin menggeleng-gelengkan kepalanya di ruang makan, membayangkan betapa pedasnya makanan jelata tersebut. Sambil berjalan perlahan menuju kursi makan kayu jati yang sudah disiapkan oleh Bi Susi, ia kembali mengetik balasan dengan senyum geli.
Oma Karin: "Duh, anak muda zaman sekarang... ya sudah, mudah-mudahan dia baik-baik saja ya. Oma mau makan siang dulu. Kamu jangan lupa makan juga, pasti kamu belum sempat makan tadi karena sibuk nyariin Reno."
Membaca pesan terakhir dari Omanya, Adit mendadak merinding disko dari ujung rambut hingga ujung kaki panjang barunya. Ia teringat kembali pada ubi rebus di meja makan tadi yang menjadi tersangka utama sekaligus dalang pemusnahan massal hormon maskulinnya.
Perutnya memang sudah tidak terlalu mulas setelah menuntaskan "hajat mawar" di toilet tadi, tetapi yang lebih menyakitkan hati dan batinnya adalah kenyataan bahwa "burung pusaka" miliknya telah terbang entah ke mana, hilang tak berbekas seperti ditelan black hole.
Adit: "Baik, Oma."
Adit memasukkan ponselnya kembali ke saku celana jeans dengan gerakan yang sangat kikuk karena saku celananya mendadak terasa longgar akibat lingkar pinggulnya yang mengecil seksi. Ia mencoba duduk dengan sopan di kursi belakang mobil, meskipun dadanya yang kini "berisi" dan menonjol bulat terasa sangat berat, ganjil, dan membebani hidupnya yang biasanya hanya berkaus oblong longgar tanpa pelindung apa pun.
"Sabar, Dit... lo harus tenang. Jangan nangis, lo itu cowok... eh, mantan cowok maksudnya. Sampai apartemen, lo harus cari cara gimana balikin barang pusaka lo yang ilang itu," gumam Adit pelan dengan suara yang terdengar seperti kicauan burung murai yang sangat merdu dan lembut—sangat kontras dengan kata-kata kasar dan makian kebun binatang yang sebenarnya ingin ia teriakkan saat itu juga.
****
Sementara Adit sedang meratapi nasib gendernya di dalam mobil, suasana studio pemotretan di butik Oma Karin di belahan kota lain masih terasa sibuk. Alin baru saja mengembuskan napas lega yang amat sangat panjang setelah menyelesaikan sesi foto terakhir.
Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, ia mendadak bertransformasi jadi model dadakan untuk koleksi pakaian haute couture di butik mewah milik Oma Karin berkat sihir ubi rebus.
"Akhirnya selesai juga! Capek banget... ternyata jadi model itu nggak segampang yang aku lihat di TV. Aku kira cuma gaya-gaya monyong dikit terus langsung jepret, tahunya encok semua ini pinggang!" keluh Alin sambil menyeka butiran keringat di pelipisnya yang berkilau alami tanpa cela.
"Dasar lemah! Baru sesi foto begitu aja udah bilang capek kayak abis bajak sawah se-kecamatan. Gue aja yang udah bertahun-tahun kerja di sini nggak pernah tuh ngeluh encok," sahut Rakha yang berdiri tak jauh dari sana dengan gaya melipat tangan, sok kuat, dan sok paling profesional sedunia.
"Wajar dong, kan aku baru pertama kali kerja di bidang beginian. Bukan kayak kamu yang emang mukanya udah kelihatan muka-muka komersial," ucap Alin sewot sambil meraih sebotol air mineral dingin dari meja, memutar tutupnya dengan kasar hingga terbuka.
Glek! Glek! Glek!
Alin meminum air mineral itu dengan rakus sampai habis setengah botol demi memadamkan kebakaran di tenggorokannya. Saking haus dan terburu-burunya, sisa air sedikit meluber keluar dari sudut bibir, menetes melewati dagu runcingnya, dan membuat bibirnya yang berwarna pink alami itu tampak basah, lembap, dan berkilau seksi terkena pantulan cahaya lampu studio ratusan watt.
Rakha yang tanpa sengaja melirik ke arah Alin mendadak membeku di tempat, matanya mendadak mogok kerja. Pandangannya terkunci mati pada bibir Alin yang tampak sangat basah dan menggoda iman.
Jakun Rakha naik-turun dengan kecepatan luar biasa saat ia bersusah payah menelan salivanya sendiri yang mendadak terasa kering kerontang seperti Gurun Sahara.
Sialan... kok cewek gila ini kalau dilihat dari dekat malah bikin jantungan gini? Gue pengen banget nyicipin bibirnya yang—Eh, nggak, nggak! Otak gue kenapa jadi ngeres gini?! Gue nggak boleh kayak gini! Jangan sampai gue tergoda sama remah-remah rempeyek warung buah naga ini! Lama-lama gue bisa beneran sakit jiwa masuk RSJ kalau kelamaan dekat-dekat dia! batin Rakha berkecamuk hebat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir setan-setan visual yang menari di otaknya.
"Kamu kenapa geleng-geleng kayak gitu? Kepalamu kemasukan undur-undur? Atau kamu mau minum juga?" tanya Alin yang kebingungan melihat tingkah absurd nan konyol dari partner modelnya itu.
"Tapi ini bekas minum aku. Kamu ambil aja minum sendiri yang baru, tuh di pojokan ada kardus isinya banyak botol baru!" tunjuk Alin polos ke arah kotak logistik studio.
"Gak mau! Gue maunya yang lo pegang itu. Bekas lo juga gak apa-apa, gue nggak bakal ketularan gila," jawab Rakha ketus, menyembunyikan kegugupannya dengan cara merampas paksa botol air mineral dari genggaman tangan Alin.
"Ih, Rakha! Kamu jorok banget sih! Itu kan bekas bibir aku, berarti kalau kamu minum di situ, kamu sama aja ciuman sama aku secara tidak langsung tahu!" protes Alin dengan wajah yang mendadak memerah padam sampai ke telinga.
"Terus masalah buat lo kalau gue minum dari botol bekas bibir lo? Hak prerogatif gue," tantang Rakha sengit, langsung menenggak air bekas Alin tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Tapi kan tetap aja itu bekas aku! Apa kamu nggak jijik apa? Itu ada air liur aku dikit di pinggirannya!"
"Gak! Gue minum dari botol bekas bibir lo ini, bukan dari bibir lo langsung, kan? Apa... lo mau cobain yang versi langsung dari bibir ke bibir?" ucap Rakha sengaja memajukan wajah tampannya, menaik-turunkan alisnya dengan seringai jahil yang super greget.
"Aku nggak mau! Dasar Tuan Muda mesum!" seru Alin cepat dengan wajah horor, langsung mundur dua langkah ke belakang untuk menyelamatkan kesuciannya.
"Kalau gitu sini cepetan kasih gue botolnya, jangan banyak bacot! Lama-lama mulut lo yang bawel itu gue makan nih biar diem!"