NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. (Pria Mesum)

Andrea menatap takjub deretan gedung percakar langit yang ada di hadapannya. Mulutnya ternganga. "Bagaimana cara mereka mendirikan bangunan setinggi itu? Orang-orang kota memang luar biasa. Hebat!"

Andrea Goh, gadis 22 tahun yang baru seminggu datang ke kota guna menemui sang nenek, tak henti berdecak kagum dan memuji setiap bangunan megah yang dilihatnya. Tinggal di sebuah pedalaman di mana kehidupan di sana serba sederhana dan jauh dari kecanggihan teknologi modern, membuatnya seperti berpindah ke dimensi lain. Dan hari ini dia berencana mencari pekerjaan.

"Permisi, Nyonya. Aku baru saja datang ke kota ini, jadi masih belum tahu jalan menuju pasar. Bisakah kau membantuku menunjukkan arah?" tanya Andrea sopan pada seorang wanita yang melintas. Tak lupa dia menyunggingkan senyum manis.

"Oh, orang kampung ternyata. Pantas bau."

Sebelah alis Andrea sontak terangkat ke atas begitu mendengar jawaban dari wanita yang disapanya. Bau?

"Hei Nona, lebih baik kau kembali saja ke kampung halamanmu. Orang sepertimu tak pantas berada di kota dan mencari pekerjaan. Tahu?"

"Pantas atau tidaknya bukan kau yang menentukan. Dan apa katamu tadi? Aku bau?"

Andrea maju ke depan. Ditatapnya dengan bengis wanita yang lancang menghinanya. "Kurasa sikat gigi di rumahmu terbuat dari tulang domba. Makanya kalimat yang keluar dari mulutmu begitu busuk dan kotor. Puihhh!"

"A-APA?"

"Oh, ternyata kau juga tuli. Ckck, tak ku sangka orang yang tinggal di kota begitu minim sopan santun. Sikapmu kalah jauh dengan kami yang tinggal di pedalaman. Seenaknya saja kau mengataiku bau. Kau pikir dirimu tak bau? Perutku bahkan sampai mual gara-gara mendengar suaramu. Menyesal aku bertanya dengan nada sopan tadi!" hardik Andrea tanpa rasa takut. Jangan dikira dia baru datang di kota lantas membiarkan orang-orang menghinanya. Akan Andrea lawan sampai titik darah penghabisan. "Dengar ya! Kalau ucapanmu hanya bertujuan untuk menyakiti hati orang lain, sebaiknya kau diam saja atau pura-pura bisu. Bau-bau! Mulutmu itu yang penuh kotoran. Dasar tak punya sopan santun!"

Dimaki brutal oleh seorang gadis pedesaan, membuat wanita tersebut syok setengah mati. Mulutnya hanya bisa ternganga lebar tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Dia benar-benar tak menyangka akan dipermalukan sedemikian rupa di depan umum. Oleh gadis desa pula.

"Kenapa diam? Sadar kalau dirimulah yang bau? Iya?!" bentak Andre lagi. Raut wajahnya saat ini benar-benar bengis dengan kedua mata yang melotot besar. Ingin menindasnya? MIMPI.

"K-kau ... kau ....

"Kau apa hah? Masih mau menghinaku? Ayo cepat katakan! Dengan senang hati aku akan membalas!"

Orang-orang yang melihat pertengkaran tersebut mulai tertarik memperhatikan. Mereka berkerumun sambil berbisik lirih, menebak-nebak akan apa yang terjadi.

"Dasar gadis kampung. Huh!"

"Heh, mau kabur ke mana kau? Kemari! Urusan kita belum selesai!" teriak Andrea tak terima ditinggal begitu saja. Kesal, dia segera mengejar wanita yang telah meninggalkannya sambil berlari cukup kencang. Namun ....

Brukkk

Tepat di tikungan sebuah gedung, tiba-tiba saja Andre bertabrakan dengan seseorang. Kejadian tersebut membuat tubuhnya limbung. Takut jatuh, tangannya asal meraih benda apapun untuk berpegangan. Di detik berikutnya, biji mata Andrea hampir melompat keluar saat menyadari kalau tangan orang yang telah menabraknya bertengger di tempat yang sangat sensitif.

"JAUHKAN TANGANMU DARI DADAKU, ORANG MESUM! BRENGSEK!!"

Teriakan Andrea sukses membuat orang tersebut membeku di tempat. Untuk seperkian detik tak ada reaksi apapun yang muncul hingga satu kejadian membuat kepalanya terdongak ke atas.

"Arghhhh! Kenapa kau menjambak rambutku!" teriak Lucien kesakitan.

"Masih bertanya kenapa?"

Wajah Andrea merah padam. Belum juga selesai urusannya dengan wanita yang mengatainya bau, muncul lagi orang kota yang berani berbuat mesum padanya. Sungguh, mereka yang tinggal di kota besar tak ada yang memiliki sopan santun.

"Biar ku patahkan tanganmu supaya gadis lain tak menjadi korban. Dasar sialan!" umpat Andrea kemudian bersiap hendak mematahkan tangan si pelaku. Amarah begitu menggebu membakar tubuh.

"Wait wait wait! Mematahkan tanganku?"

Lucien syok. Niat hati ingin mencari udara segar di luar kantor, malah harus berakhir dengan bertemu orang gila yang ingin mematahkan tangannya.

"Ya. Orang mesum sepertimu sudah seharusnya diberi pelajaran supaya tidak ada korban lain. Jika dibiarkan, tanganmu yang kurang ajar itu pasti akan sembarang bertengger di dada para gadis. Kurang ajar! Kenapa kota seindah ini harus dipenuhi orang-orang tak bermoral seperti kalian?"

Jika tadi orang-orang berkerumun karena melihat Andrea mengamuk karena dikatai bau, kali ini kerumunan jauh lebih banyak lagi setelah mendengar teriakannya yang menyebut orang mesum. Kejadian ini tentu saja membuat Lucien bingung harus melakukan apa. Atas saran beberapa orang, Lucien akhirnya ditarik paksa menuju kantor polisi.

"Permisi, aku ingin melaporkan tindak kriminal yang dilakukan oleh seorang pria cabul. Di tempat umum dia berani melakukan hal mesum kepada seorang gadis. Lekas proses perbuatannya dan jebloskan dia ke dalam penjara!" lapor Andrea dengan penuh semangat. Posisi tangannya saat ini tengah menarik dasi milik si pria mesum tersebut.

Hening. Wajah para polisi langsung pucat setelah mengetahui siapa orang yang dituduh sebagai pria cabul.

"Permisi. Hellow?"

Masih tak ada respon. Kening Andrea mengernyit, tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

(Aneh. Ada apa dengan para polisi di sini? Kenapa mereka malah terlihat seperti orang yang sedang ketakutan?)

Lucien menghela nafas. Dia menatap datar pada semua polisi yang ada di sana. Adakah diantara mereka yang berani menerima laporan tak masuk akal dari gadis gila yang menuduhnya sebagai pria mesum? Jika ada, detik itu juga dia akan memutasi mereka ke perbatasan yang rawan perang. Sungguh, hari ini sangat menjengkelkan.

"Em N-Nona, sebaiknya lepaskan Tuan ini dulu. K-kau salah orang," ucap salah seorang polisi akhirnya merespon. Tangannya nampak gemetar saat menyeka keringat di kening. Kentara sekali kalau dia sedang ketakutan.

"Lepaskan? Yang benar saja!" sahut Andrea tak terima. Dia lalu menoleh, menatap bengis ke arah pria yang hanya diam saja sejak tadi. "Orang mesum seperti dia ini sangat berbahaya kalau dilepas-liarkan. Keselamatan para gadis diluar sana jadi terancam nanti!"

"Nona, kami mohon tolong lepaskan. Be-beliau bukan orang seperti itu."

"Pak polisi, tugas kalian itukan menangkap orang jahat. Kenapa malah memintaku melepaskannya? Tahu tidak, tadi dia dengan sengaja menyentuh dadaku. Bukankah ini adalah pelecehan? Harus ditangkap dan diberi hukuman. Bagaimana sih!"

"Tapi Nona, beliau ....

"Sudah selesai meracaunya?"

Lucien jengah. Dengan kasar dia menghempaskan tangan gadis gila tersebut. Setelah itu Lucien menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.

"Nona, entah apa tujuanmu sebenarnya. Tapi yang jelas, dari ujung rambut hingga ujung kakimu tak ada satupun yang membuatku bernafsu untuk menyentuh. Jadi berhentilah bertindak tak masuk akal dan menuduhku sebagai orang mesum!" ucap Lucien dingin.

"Apa kau bilang? Hei, kau hilang ingatan apa bagaimana? Aku ingat dengan jelas bagaimana tangan kirimu menyentuh dadaku dan mer*masnya pelan. Masih ingin mengelak? Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus dihukum. Titik!"

Andrea kekeuh dengan tuduhannya, sedangkan Lucien tampak mengepalkan tangan menahan diri agar tidak terpancing emosi. Para polisi? Mungkin jika ada yang menyayat tubuh mereka, tidak akan ada darah yang mengalir keluar saking tubuh mereka membeku menahan rasa panik sekaligus takut.

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!