Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.
Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.
Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.
Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar Kevin
Rania nekat keluar rumah demi untuk menemui Kevin yang keberadaannya sebenarnya masih fiktif-fiktif. Rania berjalan mengendap-endap takut orang tuanya melihat. Beruntung, saat Rania menyusuri rumahnya menuju pintu utama, orang tuanya tak terlihat. Begitu pula dengan Bi Arum, Rania pun tak melihat keberadaan Art nya itu.
Setelah berada diluar rumah, Rania menghela nafas lega. Tapi setelahnya, Rania kebingungan dengan apa dia pergi. Rasanya tak mungkin memakai mobil orang tuanya. Apalagi kunci-kunci nya ada pada mereka. Rania tak ingin mencari perkara, dan akhirnya Rania memilih berjalan kaki.
Saat Rania berjalan ke arah pintu gerbang, Rania melihat ada sebuah moge sedang nangkring gantle di luar pos satpam. Rania tahu kalau motor itu milik pak Yanto, salah satu satpam dirumahnya. Mungkin giliran malam ini yang jaga adalah pak Yanto. Rania tersenyum saat terbesit dipikiran nya untuk meminjam moge pak Yanto saja.
"Pak Yanto!"
Pria yang bernama Yanto terperanjat saat Rania menyembulkan tubuhnya di pintu post satpam.
"Non Raniaaaa..." ucap Yanto mengayun sambil mengucek matanya 'apa iya wanita dihadapannya adalah Rania majikan nya?' Karena tumben sekali anak majikan nya itu menemuinya di post satpam.
"Iya, ini aku Rania, bukan hantu," kata Rania sedikit sewot karena Rania menganggap respon satpam nya itu terlalu berlebihan. Apalagi Rania saat ini tidak sedang ingin bertele-tele.
"Ah ya, non Rania, maaf. Lagi pula mana ada hantu secantik non Rania." Yanto terkekeh, membuat Rania semakin kesal saja melihatnya.
"Aku lagi tidak pengen becanda, pak. Aku ke sini mau pinjam moge pak Yanto. Apa boleh?" ujar Rania to the point.
"Mau pinjem moge?"
Rania mengangguk. Dan tentu saja Yanto membolehkan. Meskipun sebenarnya moge itu moge kesayangan yang tak boleh dipinjam orang. Tapi kalau untuk Rania Yanto rela. Soalnya kalau tidak dibolehkan ancaman nya adalah dipecat.
Rania mengendarai mogenya menyusuri jalanan kota. Dalam hatinya Rania merasa bersyukur dan tidak sia-sia Kevin mengajarinya mengendarai moge. Karena pada akhirnya, ilmunya itu Rania gunakan untuk mencari si pengajar Moge nya itu sendiri.
Tiba di lokasi yang sudah diberi tahu oleh orang misterius, Rania memarkirkan mogenya diantara jejeran kendaraan lainnya, tapi rata-rata kendaraan yang berjejer itu berjenis kendaraan mobil.
Rania turun, lalu memasuki sebuah cafe. Cafe nya nampak menarik, karena tempatnya outdoor. Di cafe ini, pengunjung disuguhkan dengan pemandangan alam secara langsung. Dan kalau malam, pengunjung bisa menikmati pemandangan taburan bintang diatas langit. Seperti malam ini yang nampak indah sekali. Rania sendiri baru kali ini mengunjugi cafe tersebut.
"Apa iya Kevin berada di cafe seromantis ini dengan wanita lain? sementara, aku sendiri baru tahu ada cafe semenarik ini. Kenapa Kevin tak pernah membawa aku ke tempat ini ."
"Permisi, kak. Mau pesan makanan dan minuman apa ya?"
Pertanyaan waiters itu menyadarkan Rania dari rasa penasaran sekaligus kekagumannya pada tempat yang Rania kunjungi saat ini. Kemudian Rania membuka buku menu yang tersedia diatas meja.
"Saya pesan mocktail sama red velvet yang ini," kata Rania sambil menunjuk dua buah gambar yang tertera di buku menu itu.
"Oh baik, kak. Ditunggu sebentar ya!"
Rania mengangguk, dan waiters itu langsung pergi.
Sambil menunggu makanan, pandangan Rania mengedar mencari sosok yang dia cari, tapi sama sekali Rania tidak melihat keberadaan yang dia cari.
"Apa orang misterius itu membohongiku?" Ucap bathin Rania yang mulai ragu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Rania langsung merogoh ponselnya lalu menghubungi nomer misterius yang telah memberitahu keberadaan Kevin tadi. Namun sayangnya, nomer itu sudah tidak aktif.
"Kenapa nomernya tidak aktif? apa orang itu memang sengaja mengerjai ku?"
Disaat Rania menggerutu kesal, tanpa sengaja pandangan Rania tertuju ke suatu arah meja paling pojok. Di sana, Rania melihat sosok laki-laki memakai baju yang sama dengan baju Kevin yang ada di foto sedang duduk sendirian.
"Apa itu Kevin?" Rania mulai menerka-nerka. Karena cafe itu remang-remang jadi Rania tak dapat melihatnya dengan jelas. Di tambah lagi pria itu duduk membelakanginya.
Tepat saat Rania memperhatikan nya, tiba-tiba pria itu beranjak. Rania terperangah. Rania pikir dia harus menemui pria itu. Rania segera bangkit, tapi saat kedua kakinya hendak digerak kan. Waiters yang membawakan pesanan pun datang. Akhirnya Rania harus menyelesaikan transaksinya terlebih dahulu. Setelah selesai Rania langsung mengejar pria itu yang sudah menjauhi cafe.
Rania terus mengejar pria yang Rania yakini adalah Kevin. Meskipun wajahnya tidak nampak jelas, tapi dari segi postur tubuhnya, Rania meyakini kalau dirinya tidak salah orang.
"Kemana perginya Kevin?" Rania mulai panik, karena kehilangan jejaknya.
Huh
Hah
Sejenak Rania menghentikan gerak larinya, menetralisir nafasnya yang tersengal-sengal. Setelah nafasnya kembali normal, Rania mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok Kevin. Jujur, bulu roman Rania seketika bergidik merinding melihat ke sekitar. Yang mana tempat yang saat inj dimana dirinya berada, merupakan sebuah tempat yang begitu sepi dan juga cukup gelap.
"Kenapa Kevin ketempat seperti ini? Mau apa dia?" Gumam Rania, sambil memeluk tubuhnya yang mulai menggigil.
"Kamu dimana Kevin, kenapa jalannya cepat sekali? Kamu dimana? aku harus mencari mu kemana?"
Pada saat Rania berbicara sendiri serta mengedarkan pandangannya, tak sengaja sorot mata Rania melihat ke arah sekelebat bayangan yang mirip dengan Kevin berjalan ke arah sebuah bangunan mirip gudang.
"Kevin, Kevin...!" Rania berteriak memanggil-manggil nama yang diyakini Kevin. Tapi, pria itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan nya.
Rania kembali berlari ke arah orang yang dengan santainya berjalan ke arah sebuah gudang, yang nampak tua dan juga remang oleh pencahayaan lampu yang tak lebih dari lima Watt.
Sejenak Rania menghentikan larinya saat merasa kelelahan. Tapi tatapan nya tak berpaling dari pria itu yang sudah memasuki gudang tua tersebut.
"Apa yang Kevin lakukan di gudang tua itu?" ucap batin Rania. Kemudian, Rania kembali bergerak melangkah mendekati gudang horor tersebut.
Setelah berada di depan gudang itu, Rania mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Setelah nafasnya kembali normal, Rania melihat kearah pintu yang nampak bercelah.
"Apa aku masuk saja!" bathin Rania dengan ragu. Tapi karena rasa penasaran atas apa yang sedang Kevin lakukan didalam, akhirnya Rania membuang keraguannya dan memutuskan untuk memasukinya saja.
Rania membuka pintu itu dengan pelan. Ternyata, dugaan Rania benar kalau bangunan itu adalah gudang, karena didalamnya terdapat barang-barang bekas yang sudah tak terpakai.
Saat Rania mengedarkan pandangannya ke ruangan yang nampak remang itu, sorot mata Rania tertuju pada seorang pria yang Rania yakini adalah Kevin sedang berdiri dipojokan dengan posisi memunggunginya.
Rania bergerak maju perlahan, menatap nanar pada punggung pria itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini, Kevin? Kenapa kamu pergi dihari pernikahan kita? Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?"
Hening
Pria itu sama sekali tak merespon pertanyaan -pertanyaan Rania. Melihat sikap pria itu yang hanya diam saja, Rania menjadi berang.
"Kevin, jawab!" teriak Rania.
Pria itu perlahan berbalik badan. Setelah berhadapan langsung dengan Rania, bola mata Rania nyaris keluar ketika melihatnya dengan jelas. Bagaimana tidak terkejut. Wajah pria itu ternyata bukan wajah Kevin melainkan orang lain. Tapi, tak hanya wajahnya saja yang membuat Rania lebih terkejut, melainkan celana pria itu yang terbuka di area sensitifnya sehingga anunya menyembul keluar.
ayo up lagi, kak