Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.
Sebutir telur menghantam bahu Maura dengan keras, pecah mengeluarkan aroma tak sedap, membasahi baju seragamnya.
Pletuk!
Tomat busuk menyusul menghantam dadanya, memercikkan cairan berbau asam ke wajahnya.
Tak sempat gadis remaja itu melindungi diri, rentetan serangan datang bertubi-tubi tanpa ampun. Telur, kulit buah, dan caci maki melayang ke arahnya bagaikan hujan badai.
"Dasar munafik, pura-pura baik nggak tahunya penjahat!" teriak seseorang dengan suara lantang.
"Nggak tahu malu, sekolah ini tercoreng gara-gara ulahmu!" sahut suara lain yang menyusul.
"Kamu nggak pantas ada di sini! Tempatmu di penjara sana!" bentak seorang siswi dari kerumunan.
Suara-suara sumbang penuh hujatan bercampur sorak-sorai mengejek memenuhi udara, menyesakkan dada. Sebagian murid-murid hanya berdiri terpaku menonton, sedangkan yang lain sibuk mengangkat ponsel. Merekam setiap detik penderitaannya seolah mendapat tontonan hiburan gratis.
Maura terpaku diam di tempat, tak mampu bergerak sedikit pun. Seragam putihnya kini penuh noda, kotor dan berbau anyir. Cairan telur dan sisa buah mengalir turun dari kepalanya yang berbalut hijab, membasahi wajah, menetes mengenai sepatunya. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Seluruh tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit yang menggerogoti jiwa. Sementara airmata perlahan luruh bercampur dengan cairan yang menghujani wajahnya.
"Aku... aku nggak sejahat itu..." Maura mencoba bersuara, tetapi tak seorang pun yang mendengarnya -- seolah tenggelam sepenuhnya di tengah lautan caci maki yang terus bergemuruh tanpa henti.
"Aaargh...!!!" jeritnya histeris lalu menjatuhkan dirinya, duduk bersimpuh di lantai paving konblok sambil menunduk dan menutup kedua telinganya.
Namun, bukannya berhenti suara-suara itu justru makin menjadi seiring beberapa murid yang mulai ramai berdatangan memasuki area sekolah. Mereka yang paham situasi dan akar permasalahan langsung ikut bergabung.
Dari balik pilar koridor yang agak jauh, Jenna berdiri diam memegang ponselnya. Bibirnya terukir senyum miring yang penuh kepuasan, matanya berbinar melihat pemandangan di hadapannya.
"Rasakan itu, Maura..." gumamnya pelan, nada suaranya dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kamu pikir dengan pulang ke rumah dan mendapat jaminan ayahmu, semuanya akan selesai? Kamu salah besar. Aibmu nggak akan hilang begitu saja. Ini baru permulaan dari semua rasa sakit yang pantas kamu terima."
Jenna menekan layar ponselnya, mengirimkan rekaman video yang baru saja diambilnya kepada seseorang di balik layar. Tak butuh waktu lama, balasan muncul. Gadis itu tersenyum lebih lebar, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku seragam. Ia tetap berdiri tenang seolah tak ada hubungannya dengan keributan tersebut.
"Menyingkir...! Semuanya menyingkir!"
Suara lantang seorang guru memecah keributan. Bu Ratna, guru Bimbingan Konseling yang tegas, berjalan tergesa-gesa mendekat diiringi dua orang petugas keamanan sekolah. Ia segera menyeruak di antara murid-murid yang berkerumun, membuka jalan menuju Maura.
"Cukup! Apa yang kalian lakukan ini!" bentaknya keras, membuat keributan perlahan mereda.
"Dengar...! Kalian tidak boleh main hakim sendiri. Sekarang kalian semua berkumpul di aula. Mengerti!"
"Huuu...!"
Murid -murid bersorak membubarkan diri, lalu berbondong-bondong menuju aula.
"Menurutmu apa kita akan dihukum karena sudah membuat Maura seperti itu?" bisik seorang siswi pada temannya.
"Entahlah," jawab temannya sambil mengangkat bahunya acuh. "Kita lihat saja nanti."
Setelah semua murid-murid pergi, Bu Ratna segera berlutut di samping Maura yang masih bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu.
"Maura... bangunlah," ucapnya lembut, tetapi terdengar tegas.
Ia kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku roknya, mengulurkannya pada gadis yang terus tertunduk itu.
"Bersihkan wajahmu, dulu," ucapnya sambil menatap Maura dengan pandangan penuh keprihatinan.
Perlahan Maura mengangkat kepalanya menatap ke arah Bu Ratna, menerima saputangan tersebut. Lalu membersihkan wajahnya dari sisa cairan berlendir itu dari wajahnya. Beralih pada bajunya, meski tak semudah itu nodanya menghilang.
Setelah selesai, Bu Ratna merangkul bahu Maura yang masih gemetar, membantunya berdiri perlahan. Petugas keamanan segera mengawal mereka berjalan menuju aula.
Dari kejauhan, Jenna menatap punggung mereka dengan senyum tipis yang tak berubah sedikit pun. Permainan ini belum selesai.
...
Desa Sekar
Pagi ini tidak ada kegiatan bersama dengan warga desa. Daniel dan Zeya berencana untuk membersihkan sekitar tempat tinggal mereka. Saat baru saja selesai sarapan tiba-tiba ponsel Zeya berdenting.
"Dari siapa?" tanya Daniel seraya mencondongkan sedikit badannya agar bisa melihat pesan yang masuk.
Zeya yang sedang membuka ponselnya langsung mengarahkan layar kepada Daniel. "Kiriman video dari Jenna."
"Cepat buka," kata Daniel tak sabar.
Zeya segera menekan tombol play dan seketika wajahnya berubah. "Hahhh....!" Ia menutup mulutnya yang ternganga, netranya membelalak sempurna tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pun demikian halnya dengan Daniel. Pemuda itu begitu serius menonton sampai akhir tanpa komentar sepatah katapun.
Setelah selesai menonton, barulah keduanya mengembuskan napas yang tadi sempat tertahan, lalu saling beradu pandang. Wajah mereka terlihat heran sekaligus bingung.
"Kok, Maura bisa nggak ditahan? Bukankah Ayah sudah melaporkannya ke pihak berwajib?" gumam Zeya pelan.
Daniel menggeleng, dahinya berkerut tajam. "Aku juga berpikir seperti itu."
Zeya terdiam sesaat sambil mengetuk-ketuk dagunya, seolah memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya membuka daftar kontak di ponselnya.
"Aku mau tanya Ibu. Pasti beliau tahu alasannya kenapa."
Tanpa menunggu lama, ia segera menghubungi Bu Safira.
"Halo, assalamualaikum, Bu," sapa Zeya sopan.
"Waalaikumsalam, ada apa, Sayang?" jawab Bu Safira setenang mungkin.
"Bu... tadi teman Ze kirim video. Maura sudah masuk sekolah lagi," kata Zeya.
"Bukannya Ayah sudah melaporkan Maura? Seharusnya dia ditahan, tapi kenapa bisa pulang?"
Bu Safira mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum tipis, meski senyum itu tak terlihat oleh Zeya.
"Papa Rangga mengajukan penangguhan penahanan, dan penyidik mengabulkannya. Selama proses hukum masih berjalan, status Maura sebagai tahanan kota."
"Jadi... kasusnya masih belum selesai?" tanya Zeya dengan rasa penasaran.
"Belum, Sayang." Jawaban singkat itu membuat Zeya mengangguk pelan.
"Makasih, Bu. Ze cuma ingin memastikan aja. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...Baiklah. Jaga dirimu baik-baik di sana ya, Sayang. Jika ada waktu ibu akan mengunjungimu." Panggilan pun berakhir.
"Apa kata Ibu?" tanya Daniel penasaran.
"Om Rangga mengajukan penangguhan penahanan terhadap Maura dan dikabulkan," jawab Zeya.
"Apa Ayah sudah tahu?" tanya Daniel lagi.
Zeya menggeleng. "Entahlah..." Ia menatap Daniel lekat seolah sedang memikirkan sesuatu.
...
Di sisi lain, setelah panggilan berakhir, Bu Safira menurunkan ponselnya perlahan.Tatapannya lurus ke depan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat. Bayangan Maura yang dihujani telur dan caci maki memenuhi benaknya.
Namun, entah mengapa, pemandangan itu sama sekali tidak membangkitkan rasa iba dalam dirinya.
'Jika Zeya pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi sasaran hujatan jutaan pasang mata dan dihakimi oleh orang-orang yang tidak mengetahui kebenarannya. Maka....'
'Biarlah Maura merasakan hal yang sama. Penjara hanya membatasi kebebasan seseorang. Namun, hukuman sosial jauh lebih kejam yang mampu menghancurkan jiwa secara perlahan.'
Dan bagi Bu Safira...
Itulah hukuman yang paling pantas diterima Maura.
.emaknya datang😁