Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Vincent dan Sayembara Membuka Brankas
"Audit lagi?" Vincent Wijaya melempar map ke meja. "Dewan komisaris itu kerjaannya cuma mencari salah saya?"
Vania berdiri di samping jendela kantor. "Mereka mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkanmu."
"Aku yang menjaga Grup Wijaya lima tahun ini."
"Kamu menjaga kursi Ko Reihan."
Vincent menatapnya tajam.
Vania tidak mundur. "Kalau kamu mau marah, marahlah. Tapi kenyataannya, selama brankas itu belum terbuka, semua orang merasa Ko Reihan masih mengunci lehermu dari kubur."
Vincent menggertakkan gigi. "Jangan sebut dia begitu."
"Mendiang Reihan Wijaya?" Vania tersenyum tipis. "Atau kakak yang bahkan setelah mati masih membuatmu terlihat seperti pengganti?"
"Vania."
"Aku di pihakmu. Karena itu aku bicara."
Di ruang rapat, beberapa komisaris menunggu. Salah satunya mengetuk meja.
"Pak Vincent, audit internal harus berjalan. Proyek Nirwana Bay terlalu besar untuk dikelola dengan dokumen yang tidak lengkap."
"Dokumen itu ada di brankas."
"Lima tahun tidak terbuka."
"Karena sistemnya dibuat berlebihan oleh Ko Reihan."
"Atau karena Anda tidak punya akses."
Ruangan hening.
Vincent berdiri. "Saya memimpin grup ini atas mandat keluarga."
"Mandat sementara," koreksi seorang komisaris tua.
Vania melihat rahang Vincent menegang. Ia tahu kalimat itu menusuk tepat di luka lama.
Sementara. Pengganti. Anak kedua. Anak yang baru diakui setelah Yohana tiada.
Vincent menahan amarah sampai rapat selesai. Begitu pintu kantor tertutup, ia menyapu gelas dari meja.
"Mereka pikir aku siapa?"
Vania mengambil pecahan kaca dengan tisu. "Mereka pikir kamu belum membuktikan diri."
"Aku butuh kontrak Nirwana Bay."
"Maka buka brankas itu."
"Sudah kucoba! Ahli Singapura, teknisi Jerman, mantan militer. Semua gagal. Begitu salah prosedur, sistem hampir mengunci permanen."
"Kalau diam-diam gagal, kamu terlihat lemah. Kalau publik yang gagal, masalahnya terlihat pada brankas, bukan padamu."
Vincent menoleh. "Apa maksudmu?"
Vania mendekat. "Buat sayembara. Undang ahli keamanan, media, infotainment. Katakan Grup Wijaya terbuka mencari solusi. Kalau ada yang berhasil, kamu dapat kontrak. Kalau semua gagal, publik melihat brankas itu memang mustahil."
"Dan kalau berhasil?"
"Kamu berdiri di depan kamera sebagai orang yang berhasil membuka peninggalan Ko Reihan."
Vincent diam. Matanya mulai menyala.
"Hadiah besar," lanjut Vania. "Biar orang datang. Biar dewan komisaris melihat kamu berani."
"Berapa?"
"Cukup untuk membuat semua media datang."
Vincent tersenyum untuk pertama kalinya hari itu. "Kamu tahu apa yang paling kubenci?"
"Apa?"
"Semua orang selalu bilang Ko Reihan sempurna. Bahkan brankasnya diperlakukan seperti kuil."
Vania merapikan dasinya. "Maka jadikan kuil itu panggungmu."
Beberapa jam kemudian, pengumuman itu naik ke semua kanal resmi Grup Wijaya.
Sayembara Membuka Brankas Peninggalan Reihan Wijaya.
Hadiah fantastis.
Disaksikan media.
Vincent berdiri di depan kamera dengan senyum terkendali.
"Ini bukan sekadar membuka kotak besi," katanya. "Ini langkah transparansi Grup Wijaya untuk memastikan proyek Nirwana Bay berjalan sesuai kepentingan publik dan pemegang saham."
Seorang reporter bertanya, "Apakah benar kontrak asli Nirwana Bay ada di dalam brankas itu?"
Vincent menjawab tanpa ragu, "Benar."
Vania menatapnya dari samping kamera.
Reporter lain bertanya, "Bagaimana jika brankas itu tetap tidak bisa dibuka?"
Vincent tertawa pendek. "Tidak ada sistem yang tidak bisa dibuka oleh manusia yang cukup pintar."
Di kantor kecil Astera, Denny menonton berita itu bersama Nathania lewat layar ponsel.
"Bu, ini akan ramai," kata Denny.
"Grup Wijaya sedang krisis?"
"Kalau sampai buka brankas dijadikan tontonan, berarti tekanan dewan komisaris besar."
Nathania menatap wajah Vincent di layar. "Kenapa rasanya Han tidak suka pria ini?"
"Han?"
"Dia bilang Vincent bohong."
Denny mengangkat alis. "Han bilang begitu?"
"Dengan cara Han."
"Bu, saya boleh jujur?"
"Selalu."
"Pria itu terlalu sering tahu hal yang seharusnya tidak dia tahu."
Nathania mematikan layar. "Aku tahu."
Di tempat lain, Vincent menatap ulang siaran dirinya. Vania berdiri di belakang kursinya.
"Besok semua orang akan membicarakanmu," kata Vania.
"Bagus."
"Kalau ada yang berhasil membuka?"
Vincent tersenyum dingin. "Maka aku akan mengambil isi brankas itu di depan semua orang."
Ia belum tahu, jauh dari kantor mewah itu, pria yang ia anggap sudah mati sedang menonton panggung yang baru ia bangun.
Dan pria itu tidak perlu ahli keamanan untuk membuka apa pun.
Malamnya, Vincent dipanggil kembali oleh Bernard melalui panggilan video singkat.
"Kamu membuat keributan publik," kata Bernard.
Vincent menegakkan punggung. "Saya membuat solusi."
"Kalau gagal?"
"Tidak akan."
"Reihan tidak pernah mempertaruhkan nama keluarga di depan kamera."
Nama itu lagi.
Vincent tersenyum kaku. "Ko Reihan juga tidak ada di sini untuk membereskan apa pun, Pa."
Bernard terdiam. Wajah tuanya mengeras.
"Jangan terlalu percaya diri."
"Papa lebih suka saya diam dan menunggu kursi ini diambil dewan?"
"Saya lebih suka kamu tidak mempermalukan Wijaya."
Panggilan berakhir.
Vincent melempar ponsel ke sofa.
Vania menuang air. "Dia masih membandingkanmu."
"Semua orang begitu."
"Maka jangan cuma buka brankas. Buat acara itu menjadi pernyataan."
"Pernyataan apa?"
Vania mendekat. "Bahwa era Reihan selesai. Bahwa kamu bukan penjaga kursi. Kamu pemilik panggung."
Vincent menatap pengumuman sayembara di layar. "Kalau kontrak itu keluar, Om Winata harus datang. Dewan komisaris harus melihat. Media harus merekam."
"Aku atur."
"Dan kalau ada orang mencoba mempermalukanku?"
Vania tersenyum. "Di panggungmu sendiri? Mereka akan terlihat seperti badut."
Vincent menyukai kalimat itu.
Ia tidak tahu bahwa panggung paling terang kadang membuat jebakan terlihat seperti karpet merah.
Esoknya, tim komunikasi Grup Wijaya mempresentasikan rencana acara.
"Media nasional, infotainment, tiga pakar keamanan, dan perwakilan dewan komisaris," lapor staf.
Vincent mengangguk. "Undang Om Winata."
Staf itu ragu. "Pak Hendra Winata belum tentu hadir."
"Katakan kontrak Nirwana Bay akan dibuka."
Vania menambahkan, "Dan pastikan kamera menangkap saat Pak Vincent berdiri di samping brankas. Jangan sampai para ahli terlihat lebih dominan."
Staf mencatat cepat.
Seorang manajer bertanya, "Bagaimana kalau ada pihak luar membuat kekacauan?"
Vincent tersenyum dingin. "Keamanan hotel di bawah kendali kita."
Vania menatapnya. "Jangan terlalu yakin. Panggung publik tidak pernah sepenuhnya milik siapa pun."
"Kamu yang menyarankan panggung ini."
"Aku menyarankan panggung. Bukan kesombongan."
Vincent mendekat. "Besok semua orang akan lihat siapa yang memegang kendali Grup Wijaya."
Vania menunduk patuh. Namun di balik senyumnya, ia juga tahu satu hal: jika Vincent gagal di depan kamera, ia tidak akan ikut tenggelam tanpa rencana keluar.
"Vania."
"Ya?"
"Besok kamu berdiri di sisiku."
Ia tersenyum. "Selalu."
Vincent percaya pada jawaban itu karena ia ingin percaya.
Vania percaya pada dirinya sendiri lebih dari siapa pun.
Besok, kamera akan memilih siapa yang paling pandai berbohong.