NovelToon NovelToon
Pewaris Itu Suamiku

Pewaris Itu Suamiku

Status: tamat
Genre:Istri ideal / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Percintaan Konglomerat / Suami ideal / Tamat
Popularitas:35.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hernn Khrnsa

2 tahun merajut pernikahan, Nadira merasa pernikahan mereka tak memiliki arti apa-apa selain hubungan timbal balik. Semuanya berawal dari kesedihan yang tak kunjung usai, pasca orang tercinta mereka meninggal dunia.

Tak ingin terkungkung dalam kesedihan yang sama terus-menerus, Nadira hanya bisa menyibukkan diri dengan penelitian disertasinya sambil mengurusi perusahaan yang baru dirintisnya. Hal yang sama juga dilakukan Arsen, pria itu terus sibuk bekerja dan mengurusi bisnisnya yang kian banyak.

Mereka selalu merasa kosong satu sama lain. Hingga suatu kali, seseorang datang dan mencoba mengisi kekosongan itu. Menyadari bahwa hubungan pernikahannya mulai renggang, Nadira mencoba memperbaiki segalanya.

Tetapi, bagaimana cara keduanya menemukan titik temu dan kembali memupuk cinta pada pernikahan mereka yang mulai rapuh itu? Akankah Nadira mampu merengkuh kembali seorang Arsenio Sang Pewaris?

Baca kisahnya hanya di Pewaris Itu Suamiku
[Sequel Cinta Sejati Sang Pewaris]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PIS 24 — Perfect Life

"Jangan banyak beraktifitas dulu, ingat kata dokter, oke? Lukamu ini jangan sampai terbuka lagi, jangan terkena air. Harus istirahat yang cukup, jaga pikiran, jangan banyak beban. Dengar tidak?" celoteh Arsen sesaat merebahkan tubuh Nadira di kasur.

Nadira merungut tapi kemudian mengangguk. "Iya, Mas. Aku dengar, kok."

Arsen tersenyum seraya mengusap pucuk kepala istrinya yang masih terbalut hijab. "Bagus. Aku ambilkan air dulu, ya. Tubuhmu pasti terasa lengket, kan?" tanyanya seraya memilin lengan kemejanya.

Nadira terkesiap. "M-Maksud Mas?"

Arsen yang semula hendak melangkah ke kamar mandi kembali berbalik. "Apalagi? Aku mau lap tubuh istri sendiri," katanya enteng.

"Mas? Aku bisa sendiri," kata Nadira, wajahnya sedikit memerah karena malu.

"Kamu gak bisa, biar aku bantu. Diam di tempat, oke?"

Sebelum sempat Nadira menjawab, Arsen sudah melenggang masuk ke kamar mandi lalu tak lama, kembali lagi dengan sebaskom air hangat dan handuk bersih.

Dengan cekatan, Arsen membantu Nadira melepas pakaiannya. Selama Arsen membantunya membersihkan diri, Nadira membisu. Tak tahu harus mengatakan apa pada kesediaan Arsen.

Netranya tak beranjak dari memandangi Arsen barang sejenak, memeriksa dengan seksama wajah yang telah menemaninya sejauh ini. Yang selalu ada untuknya, kapanpun ia membutuhkannya.

"Kenapa?" tanya Arsen heran sebab Nadira tak lepas memandangnya. Nadira tersenyum dan menggeleng pelan.

"Gak ada apa-apa, Mas. Aku cuma lagi kagum-kagumnya sama kamu," katanya kemudian.

Arsen telah selesai membantu Nadira melap tubuhnya. Kini ia beranjak untuk mengganti perban di kaki Nadira. "Kenapa begitu?" tanya Arsen lagi. Mata dan tangannya fokus pada kaki Nadira.

"Memangnya gak boleh ya kalau istri mengagumi suaminya sendiri?" Nadira mencebik.

Arsen sejenak menghentikan gerakannya kemudian menengadah, menatap Nadira. Rambutnya tergerai indah, wajahnya tampak memesona walau tanpa riasan.

Aku jauh lebih mengagumi daripada yang bisa kamu tahu, Sayang.

Arsen mengurai senyumnya. "Siapa yang bilang tak boleh? Tapi, Sayang. Seharusnya kamu jangan mengagumiku saja," kata Arsen lalu beranjak dari duduknya.

"Kamu seharusnya mencintaiku," lanjut Arsen lagi sambil memberi kerlingan menggoda.

"Aku mencintaimu tapi juga sekaligus mengagumimu. Sebab ... " Nadira menggantung ucapannya.

"Sebab apa?" tanya Arsen gemas sebab Nadira tak kunjung melanjutkan ucapannya.

"Karena aku rasa, mencintaimu saja tak cukup, Mas."

"Kenapa?"

"Entahlah. Tapi aku merasa, rasa cintaku padamu tumbuh dari rasa kagumku terhadapmu."

Arsen terdiam selama beberapa saat, kembali menyelesaikan kegiatannya membebat kaki Nadira dengan perban. Pun Nadira, perempuan itu tengah mencari kalimat yang tepat untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya agar dapat dipahami dengan baik oleh suaminya itu.

"Hubungan kita pada awalnya tak tercipta dari rasa cinta, Mas. Aku yakin kamu tahu betul." Arsen menggumam, mencoba mencerna dengan baik kalimat yang hendak dilontarkan istrinya.

"Sulit bagiku untuk jatuh cinta sedangkan aku tahu benar bahwa mencintai seseorang yang kunikahi adalah suatu keharusan."

"Lalu?" Arsen menyela tak sabar.

"Selama kita tinggal, jujur saja, aku lebih banyak mengagumimu. Pada bagaimana caramu memimpin perusahaan, melindungiku, mewujudkan semua keinginanku, memanjakanku." Nadira berhenti sesaat, ia menatap Arsen sejenak dan tersenyum lembut.

Sedangkan Arsen masih setia mendengarkan dengan hati yang berdebar. "Dan seiring waktu, aku tahu dan menyadarinya, bahwa aku mencintaimu. Sepenuhnya. Seutuhnya."

Jujur saja, Arsen tak sepenuhnya paham dengan arah pembicaraan mereka. Tapi mendengar penjelasan Nadira, hatinya bersorak bahagia. Ia amat bahagia mendengar ujaran cinta secara tak langsung itu.

"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu," ungkap Arsen seraya memeluk Nadira erat. "Terimakasih karena sudah membuka hatimu," kata Arsen lagi.

"Aku yang seharusnya berterimakasih, Mas. Menikah denganmu tak pernah ada dalam bayanganku, tapi menjadi istrimu adalah kehormatanku. You are perfect husband to me," kata Nadira balik menatap Arsen.

Satu kecupan mendarat sempurna di pipi kanan pria itu. "Terimakasih banyak karena sudah mencintaiku dengan begitu tulus dan tak pernah menyerah padaku. Dicintai dengan sangat olehmu adalah kebahagiaan yang paling aku syukuri. Maaf jika aku tidak terlalu baik, aku—"

"Ssst, jangan katakan itu. Di mataku, kamu yang paling sempurna. Yang paling sabar menghadapiku hanya kamu dan hanya kamu yang paling pantas untukku," kata Arsen memotong ucapan Nadira dengan menyentuh bibirnya.

Untuk sesaat, kedua netra mereka saling beradu, seolah mencari kesejatian pada masing-masing jiwa dalam tatap itu. Degup jantung Nadira berdetak dua kali lebih cepat tatkala Arsen mengikis pandangan mereka. Namun ...

Tok ... tok ... tok ... tok

Pintu diketuk. Keduanya menoleh seketika. Luna berdiri di ambang pintu. "Eh kayaknya Gue ganggu, ya?" tanyanya polos, sepolos tisu toilet

Arsen berdeham guna membuang canggungnya. Bagaimana bisa di saat-saat seperti ini ada orang yang mengganggu mereka.

Nadira tersenyum kaku dan mempersilahkan Luna untuk masuk. Kemudian berbalik menatap Arsen yang tampak kesal.

"Aku akan ke bawah, kalian mengobrol saja," katanya sambil menatap Luna dengan pandangan sebal. "Jangan terlalu lama berbincang," bisiknya pada Nadira sebelum berjalan ke luar kamar.

Luna masih sempat tersenyum saat Arsen menatapnya. Tapi, alih-alih tersenyum, Arsen justru melayangkan pandangan tak senang, membuat Luna bingung.

"Kenapa si Presdir? Kok kayaknya ketus banget ke Gue, ya, Nad?" tanyanya setelah duduk di tepi ranjang.

Nadira menggeleng tak habis pikir. "Hadeuh, Lun. Gimana Mas Arsen gak bad mood, Lo datang pas dia mau begini." Nadira memberi Luna isyarat yang langsung dipahami Luna.

Perempuan itu menepuk-nepuk jidatnya. "Aduh, astaga. Pantesan aja, sorry Nad. Duh pasti kesal banget dah itu Pak Suami lo," ujarnya menyadari.

Nadira terkekeh. "Yah mau gimana lagi."

Luna terlihat bersalah namun tak tahu harus apa. "Udah, jangan dipikirin. Nanti juga baik sendiri," kata Nadira menghibur sahabatnya itu.

"Lo ke sini sendiri?" tanya Nadira lagi. Luna mengangguk. Kemudian meletakkan tas yang di bawanya ke meja. Beserta goodie bag yang di bawanya.

"Sendiri, suami sibuk kerja di luar kota, ada urusan penting, katanya." Nadira mengangguk-angguk, matanya fokus pada goodie bag yang dibawa Luna.

"Apa itu yang Lo bawa?" tanya Nadira pada akhirnya. Luna tersenyum dan meraih bungkusan itu.

"Ah, ini oleh-oleh dari Paris," jawabnya seraya membuka bingkisan itu. Sebuah parfum dari brand ternama.

"Parfum?"

Luna mengangguk mantap. "Iya! Pakai kalau malam, aromanya bisa menenangkan, lho," ujarnya tersenyum bangga.

Nadira mengangguk lalu meletakkan parfum itu di atas meja. Ia berniat memakainya nanti malam, sesuai anjuran dari Luna. Kebetulan akhir-akhir ini ia kesulitan tidur.

Kemudian, mereka berbincang lama. Melepas rindu yang lama tak bersua. Membicarakan hal-hal selayaknya wanita saat kumpul arisan. Di saat kedua perempuan itu asyik bertukar kata. Arsen tengah meradang di ruang kerja.

•••

Selamat Membaca ❤️

Kalau suka jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komentar, vote, gift atau apapun itu, ya.

Karena dukunganmu sangat berarti bagiku. ❤️

1
Dini
udah aja smpe d sini??
ˢ⍣⃟ₛ StiNGraY⚓
super syekali pernyataan Arsen ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya langsung samperin suamimu Nad😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Apa nanti bertemu Nadira 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Mereka belum dikasih anak lg ya 😌
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
awas...ibu hamil cepat sensitif loh /Facepalm/
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
secangkir /Coffee/ meluncurr
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
hamil 😲😲
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
but money can't buy time 😭🤧
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
mau dong 5 M...🤣🤣
Essy Kehi🦋
baru awal baca belum mengerti alurnya....
😈 Menghilang 👿
hahaha Miss Author kamu cerdas 👍🌹😊
😈 Menghilang 👿
oh Nadira kamu istri yang bijak for you 💐😊
😈 Menghilang 👿
Ouh.. makin irii genesn men hati ini,

Semoga saja kalian bertahan sampai tua
😈 Menghilang 👿
🤧🤧 jomblo mah bisa apa hanya berharap semoga aye terlahir menjadi anak mereka, papa mama im coming
😈 Menghilang 👿
Wow Arsen peka, semoga kepekaan mu tak menimbulkan salah paham ke depannya 😁
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
Kisah yang indah, ringan. Penyampaian pesan dalam kisah Nadira dan Arsen pas menurutku. Good Job Author👍👍 selalu semangat.
😈 Menghilang 👿
Mengerti rasa Nadira hanya bisa bermonolog sendiri daripada bertanya tapi tak ada jawaban 😓

semoga bisa menemukan jawaban dari rasa sesak itu Nadira 🌹🌹
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
Kehadiran anak akan selalu dinantikan dan didambah, terlebih untuk pasangan yang lama menikah. Tak ayal cibiran, gunjingan, bahkan hinaan secara terang-terangan akan menjadi sebuah titik prustasi khususnya seorang istri. Sikap sabar dan saling menerima adalah kunci yang tepat. Semoga Nadira dan Arsen berhasil sepulang dari Paris.
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
suka-suka kau lah kak yg penting aku baca dan puas dengan karyamu🤭🤭🤭semangat menelusup ke cela biar tambah dramatis💃💃💃💃👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!