MOHON UNTUK TIDAK LONCAT-LONCAT KETIKA MEMBACA KARENA BERPENGARUH TERHADAP RETENSI!
Demi membiayai pengobatan sang mama, Eleanor (23 tahun) rela menjual keperawanannya pada seorang pria kaya raya bernama Andrew Kingston (30 tahun). Akan tetapi, pengorbanannya sia-sia, mama tercinta meninggal usai menjalani operasi transplantasi jantung.
Hidup sebatang kara membuat Eleanor pergi meninggalkan tanah kelahirannya dengan harapan dapat membuka lembaran hidup baru. Namun, siapa sangka dia dipertemukan kembali dengan Andrew yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
Akibat sering bertemu, tumbuh benih cinta di antara keduanya. Namun, akankah cinta itu berlanjut ke pelaminan sedangkan status sosial antara mereka terbentang luas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihadang Pria Asing
Kepulan asap putih menguar ke udara, terbang dan hinggap di hidung Eleanor. Dia dimanjakan oleh aroma harum dari makanan yang dipesannya. Wanita muda itu sedang berdiri di seberang penjual sate yang tengah memanggang squid tentacles pesanannya.
"Aromanya menggoda sekali. Pokoknya, setibanya aku di hotel harus segera menghabiskan semua makanan itu. Jangan sampai saat aku menyantap mereka, tiba-tiba saja Tuan Andrew datang dan memarahiku habis-habisan karena ketauan makan makanan sembarangan. Dia orang kaya, jadi pasti alergi dengan makanan rakyat jelata macam begini."
Menepuk keningnya pelan dan berkata, "Tolol! Kenapa di saat seperti ini aku malah memikirkan Tuan Andrew. Seharusnya aku bersenang-senang bukan terus memikirkannya."
"Come on, El, lupakan sebentar lelaki kaya itu. Kamu harus fokus pada dirimu sendiri, jangan memikirkan majikan yang telah memberimu banyak uang. Mengerti?" Eleanor menegur dirinya sendiri untuk tidak mengingat nama Andrew di saat dirinya sedang bersenang-senang.
Eleanor mengeluarkan lembaran uang dan memberikannya kepada pedagang di depan sana kemudian menerima bungkusan plastik berisi lima tu5uk squid tentacles di dalamnya.
"Ah, sial! Aku harus buru-buru tiba di hotel. Tuan Andrew pasti ngomel, tau jam 9 malam belum tiba di penginapan."
Eleanor mempercepat langkahnya, meninggalkan Chatucak Weekend Market, tapi tiba-tiba dia dihadang empat orang pria asing tepat di saat dirinya berada di tempat sepi.
"Halo, Nona Manis. Kenapa buru-buru sekali. Mau ke mana, hem? Tidakkah kamu mau berada di sini sebentar lagi? Kami ... bisa menemanimu berkeliling, membeli aksesoris ataupun buah tangan untuk teman-temanmu secara gratis. Kami jamin kamu akan merasa puas." Ketua gerombolan berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Dia tahu jika Eleanor adalah turis asing yang sedang berlibur di negeranya, terlihat dari penampilan dan cara berbicaranya saat sedang memesan makanan, semua tak luput dari gerak geriknya.
"Itu benar sekali. Kami tau tempat hits mana saja yang bisa kamu datangi," timpal pria berkaos hijau. Sedari tadi pria itu terus menandangi Eleanor sambil memasang ekspresi wajah menjijikkan.
"Maaf, aku tidak kenal kalian jadi sebaiknya menyingkirlah dari hadapanku sekarang! Aku harus segera pulang," sahut Eleanor menggunakan Bahasa Inggris. Wanita itu mencengkeram erat sling bad yang tersampir di antara ketiak dan pundak, takut jika para pria asing itu menarik paksa tasnya lalu semua barang berharga yang disimpannya di dalam tas ludes dicuri mereka.
"Hooo ... kenapa buru-buru sekali, Nona. Bersantailah sebentar." Pria asing lain menghadangi jalan Eleanor. Kedua tangan pria itu terbentang ke samping kanan dan kiri.
"Aku harus pulang sekarang! Permisi." Eleanor masih berucap lembut walau hatinya tengah memompa sangat kencang. Wajahnya berubah pucat dan keringat dingin mulai bermunculan ke permukaan. Berada di negera orang dan hanya seorang diri membuatnya jadi ketakutan.
Akan tetapi, pria tersebut tak mau mengindahkan perkataan Eleanor. Dia justru menggeser tubuhnya ke kanan ketika wanita itu berjalan ke kanan. Pun demikian saat Eleanor menggeser ke kiri maka lelaki itu mengikutinya ke kiri.
"Tuan, tolong biarkan saya pergi! Saya harus cepat pulang."
Lelaki yang berdiri di seberangnya tersenyum smirk. "Kalau tidak mau, bagaimana? Memangnya kamu mau melakukan apa jika kami menghalangimu?" Kedua alis pria itu turun dan naik. Jangan tanyakan bagaimana tatapan menjijikan yang ditujukan kepada Eleanor.
Eleanor benar-benar jengah, terus menerus dihalangi sana sini. "Maka saya akan berteriak!"
Sontak keempat pria asing itu menyemburkan tawa, mereka tertawa terbahak mendengar perkataan Eleanor.
"Berteriak? Silakan saja, tapi sebelum itu terjadi kami sudah membawamu pergi dari sini. Kamu akan menemani kami, bermain sebentar di tempat sepi yang tak ada seorang pun tau keberadaanmu di mana."
Lalu, ketua gerombolan melirik pada dua anak buahnya yang berdiri di belakang Eleanor, memberi kode ke mereka untuk segera meringkus sang mangsa.
Mata Eleanor melotot saat dua orang pria menangkap tubuhnya. "Lepaskan! Apa yang kalian mau? Uang? Saya punya banyak uang dan akan memberikannya asalkan kalian melepaskan saya sekarang juga."
Wanita cantik bermata indah memberontak dalam cekalan dua pria asing. Kaki menjejak ke tanah, berusaha melepaskan diri dari para lelaki yang berniat buruk kepadanya.
Salah satu dari pria yang mencekal tangan Eleanor berbisik di telinga sang wanita. "Kamu tidak membutuhkan uangmu, Nona. Kami cuma butuh kamu untuk menemani kami di ... ranjang." Sedikit mendesah di telinga Eleanor.
Aroma pekat alkohol menguar di penciuman sang wanita, refleks dia memalingkan wajah demi menghindari lelaki tersebut.
'Ya Tuhan, kumohon, jangan jadikan aku budak napsu mereka juga. Sudah cukup bagiku menjadi budak napsu Tuan Andrew, dan jangan sampai aku menjadi budak keempat lelaki menyeramkan ini,' batin Eleanor.
"Bawa dia sekarang!" titah Sang Ketua Gerombolan.
Dengan patuh mereka menuruti perintah bosnya, menarik paksa tubuh Eleanor yang dicekal erat oleh teman satu gengnya.
"Tidak, kalian tidak boleh membawaku. Tolong, lepaskan saya. Saya mau pulang sekarang." Eleanor terus memberontak dan meminta tolong, tapi cekalan tangan kedua pria itu begitu erat hingga dia tak dapat berkutik sedikit pun.
"Diam! Berisik sekali kamu!" bentak satu dari empat pria yang berjalan di sebelah ketua gerombolan.
"Terus bawa dia. Jangan sampai kabur!"
"Kumohon, lepaskan saya! Kalian boleh mengambil barang berharga saya, tapi tolong biarkan saya pergi." Eleanor menatap mereka dengan penuh pengharapan.
Akan tetapi, mereka tak menggubrisnya. Keempat lelaki itu terus menyeret tubuh Eleanor menuju sebuah tempat yang dijadikan markas mereka.
"Tolong! Seseorang tolong selamatkan aku. Aku-"
"Berisik!" Pria yang berjalan di sebelah ketua gerombolan menampar keras wajah Eleanor hingga menyisakan jejak kemerahan di sana. Mata indah Eleanor terbelalak, tak menduga jika dirinya ditampar seseorang.
Air mata seketika luruh. Rasa nyeri menjalar di pipi dan area sekitarnya.
"Nah, begini jauh lebih tenang. Tidak berisik seperti tadi." Tak ada sedikit pun rasa menyesal dalam diri pria itu, dia justru tersenyum puas melihat Eleanoe bungkam seketika.
'Tuhan, mungkinkah diriku memang ditakdirkan untuk terus menjadi napsu bejat mereka? Aku memang bersalah, tapi haruskan diriku diperlakukan senista ini oleh mereka?'
Lama kelamaan air mata Eleanor semakin deras lalu sekelebat bayangan wajah sang mommy muncul di benak, bergantian dengan wajah tampan Andrew Kingston, lelaki yang menjadi tuannya selama beberapa bulan ke depan.
'Mom, maafkan aku. Tuan Andrew, maaf sudah melanggar perjanjian antara kita. Semoga kamu tak marah saat tau tubuhku tak hanya dijamah olehmu.'
Mata Eleanor terpejam. Sekarang dia benar-benar pasrah jika memang harus dinodai keempat pria asing yang ada di dekatnya ini.
Ketika seseorang ikhlas akan takdir sang Maha Pencipta maka mukjizat datang menghampiri. Di saat Eleanor benar-benar berserah diri kepada Tuhan, Dia justru mengulurkan tangan, mengutus hamba-Nya untuk datang menolong hamba-Nya yang lain.
Sebuah pukulan keras menghantam satu bokong pria yang menyeret paksa tubuh Eleanor hingga dia terhuyung dan tersungkur ke depan dengan posisi dada menyentuh jalanan terlebih dulu kemudian barulah ujung dagunya terantuk kencang membuatnya berteriak kencang. Refleks, semua orang menghentikan langkah. Semua mata melotot sempurna dengan rahang sedikit terbuka lebar. Pun demikian dengan Eleanor, dia ikut membelalakkan mata saat melihat tubuh di sebelahnya terpelanting cukup jauh ke depan.
"Sialan! Siapa yang berani-beraninya mengacaukan rencanaku. Apa dia mau mati konyol melawanku, hah?" Ketua gerombolan berteriak kencang saat ada orang menghalanginya. Dengan segera menoleh ke belakang demi melihat orang tersebut.
Eleanor ikut memutar kepalanya ke belakang dan seketika dunia terasa berhenti berputar kala sepasang matanya beradu pandang dengan dewa penolongnya.
...***...