Saat membaca novel 'Istri Untuk Pangeran', aku merasakan rasa kantuk yang teramat sangat. Aku terbangun tapi berada dalam tubuh seorang Antagonis wanita yang berusaha merebut perhatian Male Lead dan menyiksa Female Lead untuk memisahkan mereka, ingatan pemilik tubuh ini sama persis dengan jalan cerita novel itu, Antagonis akan mati pada akhirnya. Aku hanya ingin kembali, maka kuputuskan untuk tetap menjalankan peran Antagonis dan kembali ke duniaku.
---
"Akhirnya aku akan kembali. . ." gumam Vera.
"Aku tidak mengizinkanmu mati, Vera!" Putra Mahkota memangku tubuh lemah Vera.
Vera melihat tatap khawatir dan sedih dari kedua netra emas putra mahkota, membuat dadanya bergemuruh. Bukankah pria itu sangat membencinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhicielff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Louise menjelaskan tentang rencananya dalam mengatasi masalah di perbatasan utara. Louise juga melibatkan Vera dalam tim penelitiannya membuat Kaisar Abigail lebih memperhatikan Vera. Sebaliknya Vera yang diperhatikan Kaisar Abigail pun menjadi lebih gugup dari sebelumnya.
Kaisar Abigail tidak menyangka jika gadis yang mengejar putranya itu ternyata seorang ahli racun dan penelitian yang dihasilkannya juga selangkah lebih maju dari pada ahli yang dimiliki Kekaisaran, termasuk tim yang dipimpin langsung oleh Grand Duke Utara. Kini gadis itu juga akan berjuang demi kehidupan banyak orang bersama dengan orang pilihan kekaisaran yang kemampuannya tidak bisa dianggap remeh.
Sebelumnya ia memang berniat menjodohkan putri Duke Verita dan Alexander, namun karena ia harus hati-hati dalam memilihkan pasangan putra mahkota yang nantinya akan menjadi kaisar suatu negara, Kaisar pun mendukung pilihan sang putra untuk memilih putri Viscount Reanne yang lebih baik dan bijaksana.
Kaisar Abigail kini sedikit menyesal karena sempat menentang sikap Vera yang mengejar anaknya, karena pada awalnya ia mengenal Vera yang memiliki sifat egois dan semena-mena dan menurutnya sikap tersebut tidak pantas menyandang gelar Ratu kekaisaran nantinya. Bagaimana jika ibu negara tidak memperdulikan negaranya namun hanya memperdulikan diri sendiri? Kaisar Abigail tidak akan pernah menyerahkan posisi ratu pada orang yang seperti itu.
"Itu benar untuk langkah awal harus diketahui penyebab dari wabah, jika sumber sudah diketahui maka akan lebih mudah dalam penanganan dan pencegahannya. Mengenai pemeriksaan darah yang nona Verita ajukan, itu merupakan hal yang sangat bermanfaat jika kalian berhasil menyempurnakan penelitiannya. Kekaisaran sangat berharap pada usaha kalian." kata Kaisar setelah mendengar penjelasan dari Louise.
"Kami akan berusaha, yang mulia." jawab Vera dan Louise serempak.
"Sepertinya pemikiran kalian sudah sangat terkoneksi, apakah kalian sudah dekat dari awal tanpa sepengetahuanku?" tanya Kaisar Abigail pada Louise dan Vera.
Vera dan Louise pun saling bertatapan, "Kami tidak memiliki hubungan yang seperti itu yang mulia." kata Louise menjelaskan, jika Vera dan Louise mengatakan bahwa mereka memang dekat, takutnya Kaisar akan menganugerahi mereka dengan pernikahan saat ini juga.
"Kalau rencana sudah dibuat berarti untuk masalah keamanan dan kelancaran dalam perjalanan aku serahkan padamu, Alex." kata Kaisar Abigail, ia menunjuk Alex sebagai ketua tim rombongan.
"Baik yang mulia Kaisar." kata Alexander dengan hormat. Namun semua orang merasa kedinginan karena perkataannya.
Setelah urusan mereka selesai, Kaisar mempersilakan ketiganya pergi. Vera meminta Louise untuk menunggunya karena Vera ingin pergi ke kamar kecil. Karena gugup, ia merasakan perutnya menjadi sedikit kram.
Allen menatap wajah putra mahkota yang menegang, lelaki yang menjabat sebagai asisten putra mahkota itu tidak berani untuk memulai pembicaraan karena sang atasan tidak dalam keadaan yang baik.
Allen melihat putri Duke Verita itu pergi ke arah dalam istana tanpa ditemani Grand Duke Louise. Ia mengira gadis itu akan menemui putra mahkota dan mengganggunya. Namun perkiraannya salah, setelah memberi salam, gadis itu pergi begitu saja menuju ke arah toilet.
"Allen, ada hal yang aku lupakan, kamu kembalilah dulu ke kantor." kata Alex kemudian meninggalkan Allen dengan wajah penuh tanya.
Putra Mahkota mengikuti langkah Vera dan menunggu gadis itu keluar dari toilet, ia menunggu di sebuah pilar yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk toilet.
Setelah Vera merasa lebih baik, ia pun bergegas keluar dari toilet. Tetapi Vera terkejut saat sebuah suara berat memanggil namanya.
Vera menatap putra mahkota dengan heran, karena seingatnya pria itu sangat menghindarinya.
"Yang mulia, apakah anda menunggu saya disini?" tanya Vera masih tidak percaya dengan pengelihatannya.
"Ya, aku ingin memperingatkan kamu, jangan pernah kamu menggoda Grand Duke Utara." kata Alexander dengan nada dinginnya.
"Saya tidak pernah menggoda Grand Duke Utara." bantah Vera.
"Kalau kamu menggodanya, saya tidak akan tinggal diam." kata Alexander.
"Kenapa anda melarang saya? Apa hak anda pada diri saya? Lagi pula saya dan Grand Duke Utara tidak memiliki tunangan dan kami bebas dalam memilih pasangan kami." kata Vera dingin.
"Grand Duke Utara sudah seperti saudara bagiku, tak akan ku biarkan wanita beracun seperti kamu memanfaatkannya sebagai pelindung keluarga Verita." kata Alexander dengan amarah tertahan.
"Apa maksud anda? Siapa yang akan mencelakai keluarga saya sehingga saya memerlukan perlindungan Grand Duke? Asal yang mulia tahu, jika ada keluarga saya yang terluka sedikit saja, saya akan membalasnya dengan luka sepuluh kali lipat." balas Vera tak kalah tajamnya. Vera kemudian pergi dari hadapan Alexander yang masih menatapnya marah.
Putra Mahkota Alexander Abigail telah mengetahui jika Vera yang selama ini memujanya sudah tidak ada lagi, dimata gadis itu terdapat kebencian dan juga tekad yang kuat ketika berhadapan dengan dirinya.
Putra Mahkota sebenarnya sudah menahan amarahnya saat pertama kali Vera dan Louise datang bersama, ditambah lagi baju yang dikenakan Louise beraroma sama dengan sapu tangan yang diberikan Vera padanya membuat Alexander tidak bisa berfikir dengan jernih. Ketakutannya akan berkembangnya hubungan antara Grand Duke Utara dan Vera Verita makin bertambah.
Alexander tidak ingin melibatkan Louise yang merupakan penyelamat hidupnya dalam skenario berdarahnya nanti. Kebenciannya pada keluarga Verita sudah sangat dalam, putra mahkota kini sadar ia harus bergerak cepat untuk meruntuhkan keluarga itu sebelum Vera memberikan kontribusi besar pada kekaisaran yang nanti akan membuat nama Verita memiliki reputasi yang baik dan lebih kuat lagi.
Louise melihat Vera yang kembali dengan wajah yang tidak terlihat baik.
"Ada apa?" tanya Louise pada Vera.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kram perut tapi sekarang lebih baik." kata Vera singkat dan Louise pun membantu Vera naik kereta kuda.
"Apakah lebih baik kita tunda dulu pergi ke toko? Wajahmu memang sedikit pucat." kata Louise dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, mari kita pergi ke toko." kata Vera kemudian kereta mereka pergi meninggalkan istana kekaisaran.
Persiapan toko sudah hampir selesai dan Freya memberikan laporan hasil kerjanya. Semua berjalan dengan lancar dan Vera sangat senang. Ia melihat Isabela dan Viona sedang mendesain buku menu di sebuah papan berwarna hitam dan mereka menulis dengan beberapa kapur berwarna, sangat cantik dan menarik perhatian.
"Kalian bekerja dengan baik, oh iya, Freya tolong tuliskan undangan untuk anak-anak, pengurus dan pengasuh di yayasan agar mereka bisa ikut merayakan acara pembukaan toko."
"Nanti untuk tagihannya, pakai nama pribadiku karena aku ingin berbagi dengan mereka." kata Vera.
Freya tersenyum dengan lebar mendengar hal tersebut, "Baiklah akan saya lakukan, nona Verita. Apakah ada hal lain?" tanya Freya.
"Hm, aku rasa sudah semuanya. Karena pembukaan toko tinggal beberapa hari lagi, aku harus bergegas menuju toko percetakan, bukankah Nana harusnya berada disini?" tanya Vera pada Freya.
"Iya, Nana dan George menunggu nona di samping dengan kereta kuda." kata Freya.
Vera menatap Louise yang sedang melihat-lihat toko Vera yang terlihat unik di matanya.
"Louise, kamu mau ikut ke toko percetakan atau menungguku disini?" tanya Vera.
"Aku akan ikut denganmu. Tinta itu harus sampai ke tujuan dengan selamat." jawab Louise, Vera pun merespon dengan anggukan.
Karena kereta keluarga Verita penuh dengan bungkus kemasan makanan yang dibeli Nana hari ini sebagai tambahan, kereta pun menjadi penuh. Vera dan Louise akhirnya pergi dengan naik kereta kuda milik Louise menuju toko percetakan untuk mengantar tinta beserta bungkus kemasan yang baru dibeli hari ini.
**TBC**
Oya mgkn ada baiknya bertanya pd ayah vera kebenaran ttg ibu kandung pangeran mahkota agar tdk terjadi kesalahpahaman yg berakibat fatal kembali
lanjut yah thor