" Ayo kita cerai....!!! " ucap Laras dengan lantang kepada Erlangga
" Ada apa kenapa tiba tiba kamu ingin bercerai..? " tanya Erlangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Aku rasa kamu sudah tau kenapa saya ingin bercerai Mas, aku ini Istri kamu tapi sejak menikah aku belum mendapatkan hak ku sebagai istri mas " jawab Laras dengan suara bergetar
Erlangga bankit dari duduknya dan menghadap Laras.
" Jangan pergi demi Nathan dan Nala Laras " ucap Erlangga
Saat mereka tengah berbicara Nathan masuk dan menghampiri keduanya.
" Bunda.. bunda jangan pergi jangan tinggalin Nathan " ucap Nathan yang mendengar ucapan kedua orangtuanya
" Nathan, ayo ikut bunda kita ke taman belakang " ucap Laras menghibur anaknya
Entah mengapa Laras tak pernah tega untuk meninggalkan Nathan dan Laras, walaupun ia sendiri tau jika kedua anak itu bukan anak kandung Laras dan Erlangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Karena tusukan cukup dalam dan menghabiskan banyak darah, Laras pun kini belum sadar.
Sedangkan Naya, dokter berhasil menghilangkan racun dari dalam tubuh Naya.
Erlangga masuk kedalam ruangan Laras, dan melihat tubuh sang istri yang melemah dan tak sadar.
Ia menarik kursi disebelahnya dan ia duduk, ia meraih tangan Laras yang begitu dingin.
" Sayang, maafin aku yah maaf aku gagal untuk melindungi kamu. Maaf aku gagal jadi suami kamu Ras, mungkin emang kehadiran aku cuma bikin masalah di hidup kamu. Laras, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu Ras. " Erlangga meneteskan airmatanya yang susah payah ia tahan.
Tiba tiba Erlangga merasa tangan Laras sedikit bergerak, dengan segera ia keluar dan memanggil Antoni.
Antoni masuk dan langsung memeriksa Laras, dan akhirnya Laras pun sadar.
" P..Pah " gumam Laras dengan pelan
" Jangan banyak bergerak yah " ucap Antoni memperingati Laras
Antoni segera keluar dan memberitahu kebar Laras, semua keluarga ikut bahagia dengan kabar tersebut.
" Jangan biarkan Laras banyak bergerak dulu yah, dia baru saja sadar " ucap Antoni mengingatkan
" Iyah Pah " jawab Rian dengan bahagia
" Ga, temani Laras sepertinya dia membutuhkan kamu " ucap Fransiska dan diikuti anggukan dari lainnya
Erlangga pun kembali masuk, dan kini ia melihat Laras yang sudah membuka matanya dan menatap dirinya.
" Mas.." panggil Laras dengan pelan
" Sstt kamu istirahat yah " Erlangga duduk dan mengelus kepala Laras
" Kamu dan anak anak baik baik aja kan Mas..? " tanya Laras yang masih mengkhawatirkan anak sambungnya dan juga suaminya
" Iyah sayang, udah kamu istirahat aja yah " ucap Erlangga
" Mas disini yah temani aku " pinta Laras dengan suara yang sangat pelan
" Iyah sayang, Mas disini jagain kamu" ucap Erlangga sembari diikuti anggukan
Erlangga terus mengelus kepala Laras, ia kembali menahan air matanya yang hampir jatuh di hadapan Laras.
Ia menciumi punggung tangan Laras dengan lembut dan hati hati, ia benar benar menyesal telah menyia-nyiakan Laras selama ini.
Laras merasakan tangannya yang basah, perlahan ia kembali membuka matanya dan melihat kearah Erlangga.
" Mas.. Mas kenapa nangis..? " tanya Laras dengan sendu
" Maafin Mas, Laras Mas bener bener ga berguna jadi suami kamu Laras " jawab Erlangga yang tak mampu menahan air matanya
" Kata siapa..?? Mas bikin aku seneng ko, mas bikin aku bahagia " ucap Laras dengan pelan
Laras mencoba menggerakkan tangannya dan menyentuh wajah Erlangga, dengan lembut ia membelai wajah laki laki itu.
" Jangan tinggalin aku ya Ras, aku mohon " ucap Erlangga yang takut jika Laras pergi
" Iyah Mas Iyah, aku ga akan pergi " jawab Laras sembari menganggukkan kepalanya.
***
Pagi hari Rian ditemani oleh Jeri mendatangi kantor polisi, ia mendapatkan kepastian dari kasus Raka.
" Boleh saya bertemu dengan Pak Raka " tanya Jeri dan ia pun diizinkan
Jeri dan Rian pun menunggu Raka diruang tunggu, tak lama Raka datang dengan tangan yang sudah di borgol.
" Rian " ucap Raka yang bahagia melihat Rian
Rian memberikan surat kepada Raka, ia juga menjelaskan maksud dari surat tersebut.
" Pertama Resti meninggal dunia kemarin, sebelum meninggal Resti berencana untuk membunuh Naya, Nathan dan juga Laras, Kedua Resti itu bukan anak kandung Pak Raka, Ketiga Rian dan Laras adalah anak kandung Pak Raka dan Bu Fransiska. " ucap Jeri menjelaskan apa yang seharusnya ia jelaskan
" Jadi aku di tipu " ucap Raka dengan kecewa
" Saya dan Laras tidak Sudi memiliki ayah pembunuh, bukankah kehadiran saya dan Laras juga tidak diinginkan..? Jadi saya pastikan saya dan Laras tidak akan menganggap anda adalah ayah kami, kami sudah menganggap ayah kami meninggal dunia " ucap Rian dengan tegas
" Rian jangan seperti itu Rian " pinta Raka dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan
" Katakan dimana istri mu..? " tanya Jeri dengan tegas
" Dia..dia berada di sebuah rumah biar saya tulis alamatnya " ucap Raka
" Biar saya yang tulis, anda beritahu kepada kami " ucap Jeri
Raka pun langsung memberikan alamat rumah yang menjadi tempat persembunyiannya, ia juga sudah tidak perduli kepada Jeni.
" Ayo Ian kita kesana " ucap Jeri setelah mendapatkan alamat rumah Jeni
" Kalian ingin pergi sekarang..? " tanya Raka yang masih ingin bersama dengan Rian
" Iyah, jadi tolong jangan tahan kami " ucap Rian yang kemudian pergi meninggalkan Raka
Raka kembali dimasukkan kedalam tahanan, sedangkan Jeri memberi alamat tersebut kepada polisi.
Dengan segera mungkin mereka pun langsung mendatangi alamat yang sudah diberikan oleh Raka, namun Fransiska sudah menyiapkan tempat khusus untuk memberikan hukuman kepada Jeni
**
Laras sudah dipindahkan keruang inap, Erlangga memilih kamar terbaik untuk sang istri.
Begitu juga dengan Naya, ia juga memberikan kamar terbaik untuk Naya.
" Makan dulu yah sayang " ucap Siska yang tengah menjaga Laras
" Iyah Mah " jawab Laras mengangguk
Fransiska menyuapi Laras dengan hati hati, ia sangat sedih melihat kondisi anaknya seperti ini.
" Mah.. Rian sama Bang Jeri kemana .? " tanya Laras mencari keduanya
" Lagi ada urusan sayang " jawab Siska
" Naya gimana Mah, dia baik baik aja kan .? Nathan juga kan Mah " ucap Laras yang masih khawatir dengan keduanya
" Iyah Naya ada di kamar sebelah, Nathan lagi sekolah tadi diantar sama Erlangga" jawab Siska
" Kenapa Naya ga satu kamar aja sama Laras sih Mah, kan biar jadi deket "
" Hmm yaudah nanti mamah minta sama Erlangga yah "
Laras mencoba memulai pembicaraan tentang rumah tangganya bersama Erlangga, ia takut jika keluarga nya belum bisa menerima Erlangga sepenuhnya.
" Kenapa..? Kamu mau ngomong sesuatu kayaknya" ucap Siska melihat raut wajah Laras
" Hmm Mah, apa Mamah udah Nerima Erlangga..? " Laras memberikan dirinya
" Kenapa..? Kamu ga ingin bercerai dengan dia..? " Siska berbalik bertanya kepada Laras
" Engga Mah, bagaimana pun aku mencintai Mas Erlangga. Dia cinta pertama aku mah, aku benar benar mencintai Mas Erlangga " ucap Laras dengan yakin
Tanpa keduanya sadari, Erlangga yang hendak membuka pintu tak sengaja mendengar ucapan keduanya.
" Kamu begitu dalam Ras mencintai aku, sedangkan kemarin aku dengan bodohnya nyakitin kamu " gumam Erlangga pelan
Fransiska meletakkan piring yang ia pegang diatas nakas, kemudian membelai pelan rambut Laras
" Mamah udah Nerima Erlangga sebagai suami kamu, tapi jika Erlangga gagal membahagiakan kamu—"
" apa mah..? " tanya Laras penasaran karena Mamah memberikan jeda
" Mamah akan membawa kamu pulang dan ga akan ada lagi kesempatan untuk Erlangga" ucap Siska dengan tegas
" Mah, Mamah harus percaya yah sama Mas Erlangga. Laras yakin, Mas Erlangga udah berubah dan Laras yakin Mas Erlangga ga akan nyakitin Laras Mah " ucap Laras sambil memegang tangan Siska
Erlangga kembali meneteskan air mata, ia benar benar tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini