Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 24 : Jalan Bercabang
Zhen Wu dan kedua hantunya saat ini telah berada di luar penginapan. Mereka tengah berjalan menunju pandai besi sambil melihat berbagai orang yang sedang melakukan aktivitas.
Karena saat ini akan sedang diselenggarakannya turnamen kota Tenrou, membuat banyak para pedagang dan masyarakat luar yang berkunjung kemari. Mereka pastinya tidak ingin ketinggalan tentang turnamen ini.
Zi Li sering kali memperhatikan pada pedagang yang berjualan, dia merasa senang ketika melihat mereka yang saat ini tengah berdagang dengan perasaan riang dan bahagia.
Sedangkan Zi Rin lebih terfokus pada sebuah pertarungan kecil yang cukup jauh dari arahnya. Semua orang di bagian sana banyak yang sedang menonton sebuah pertandingan kecil antara beberapa orang yang mengikuti.
"Apa kalian ingin melihat pertandingan itu?" tanya Zhen Wu pada Zi Rin dan Zi Li.
Mata Zi Rin tidak bisa berbohong untuk tidak berkata iya. Namun dirinya seperti ingin menahan dan tak berani mengungkapkan, karena Zhen Wu saat ini lebih berfokus untuk pergi ke pandai besi terlebih dahulu.
"Tidak tuan. Lebih baik kita pergi ke pandai besi saja. Nanti saja kita pergi melihatnya, karena kurasa pertandingan itu akan berlangsung beberapa kali," jawab Zi Li cepat. Dia tidak ingin Zhen Wu menunda untuk pergi ke tempat tujuannya.
"Yaa, tuan. Kurasa yang dikatakan Zi Li benar. Pertandingan itu mungkin akan berlangsung lebih lama." Zi Rin setuju dengan perkataan Zi Li, walaupun dalam hati kecilnya ada sedikit keinginan untuk bisa menonton pertarungan tersebut.
Zhen Wu tersenyum atas respon dari mereka berdua. Tak lama terdengar sebuah suara yang sangat keras dari seorang yang kemungkinan menjadi pembawa acara, dari pertarungan kecil tersebut.
"Pengumuman semuanya! Hari ini adalah terakhir kita melakukan pertandingan. Namun kalian jangan khawatir, kami akan tetap kembali lagi sehari sebelum Turnamen Festival Tenrou dimulai. Jadi jangan lewatkan kesempatan kalian untuk menyaksikan pertarungan saat ini. Ingat, hanya hari ini!" ucap Pembawa acara dengan suara yang bergema.
Banyak dari para penonton yang bersorak atas pengumuman yang disampaikan. Mereka berteriak heboh karena merasa mini turnamen ini sangatlah layak untuk ditonton.
"Kalian berdua dengar kan, pertarungan itu akan berakhir hari ini. Apa kalian yakin tidak ingin menontonnya?" Zhen Wu lalu melihat kearah Zi Rin. "Terutama kau, Zi Rin. Kulihat kaulah yang paling tertarik disini," tanya Zhen Wu tersenyum.
"Aaa... Sebenarnya aku hanya penasaran, tuan. Apalagi selama beberapa hari ini kita selalu berpergian jadi kurasa kita bisa untuk menikmati sedikit. Namun sepertinya itu tidak perlu, karena tujuan kita sebenarnya adalah pergi ke pandai besi," balas Zi Rin sedikit mengelak.
"Hey, tidak apa apa, jika memang ingin, lebih baik kalian pergi saja menonton, hitung-hitung ini bisa melepaskan sedikit rasa lelah kalian selama beberapa hari ini. Jika pun kalian pergi ke pandai besi denganku, akan butuh waktu lama untuk selesai dan pastinya kalian berdua akan merasa bosan disana."
"Tapi tuan...," ucap Zi Li terpotong. Zi Li sebenarnya bimbang untuk memilih, menurutnya kedua-duanya merupakan pilihan yang bagus.
"Tenanglah, Zi Li. Kau tidak usah khawatir tentangku, kalian pergilah menonton. Ohh iya, ini bawalah 1 koin emas, siapa tahu kalian berdua ingin membeli sesuatu juga disana."
"Baik tuan!" jawab keduanya serentak.
Zhen Wu kini pergi meninggalkan mereka berdua dan saat ini tengah menuju ke tempat pandai besi untuk menempa beberapa senjata.
Selang beberapa menit mereka berpisah, Zhen Wu saat ini tiba di titik jalan yang bercabang. Dia kemudian melihat kearah kiri dan mendapati bangunan bertuliskan pandai besi dari arah kejauhan.
Namun begitu Zhen Wu melirik kearah kanan. Nampak dua sosok yang tak asing lagi baginya, mereka adalah Mong Lin Si dan pengawalnya Son Jian.
Zhen Wu tersenyum tipis, sambil terus menatap Son Jian. Namun tak disangka Son Jian juga melihat kearah Zhen Wu, hingga sorot mata mereka kini saling bertemu.
Melihat wajah terkejut dari Son Jian, Zhen Wu perlahan pergi dari sana dan memilih jalan kearah kiri.
"Kita akan bertemu lagi nanti, akan tetapi bukan disini, melainkan di turnamen. Tunggu saja, aku akan melawan mu, Mong Lin Si. Kuharap kau tidak gugur di awal, agar aku bisa dengan mudah menghancurkan kesombongan mu itu," ucapnya serius tanpa senyuman, sambil terus berjalan melewati kerumunan yang cukup padat.
Sedangkan disisi lain, Son Jian masih tetap terdiam, dikarenakan melihat Zhen Wu yang saat ini tengah mengganggu pikirannya. Hingga akhirnya dia pun tersadarkan oleh Lin Si dan kembali menemaninya ke dalam serikat dagang.
Zhen Wu kini telah berdiri di depan bangunan pandai besi. Dia melihat bangunan itu dari atas sampai ke bawah. Dari luar bangunan itu tidak nampak bagus untuk dipandang, sebab tempat ini memang hanya sebuah tempat untuk menempa senjata. Apalagi di dunia bawah ini, seorang pandai besi termasuk sebuah pekerjaan yang paling sedikit dan sudah banyak berkurang.
"Ini tempatnya ya? Baiklah, saatnya masuk." Zhen Wu mulai melangkahkan kakinya masuk.
Pemandangan yang menyambutnya adalah bau dari alat penempaan yang saat ini tengah menyala dengan api yang sangat panas. Sedangkan ruangannya terlihat cukup luas dan terdapat banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk untuk menempa senjata. Zhen Wu memutuskan untuk masuk lebih dalam lagi, berharap ada seseorang yang bisa dia tanyai.
"Banyak sekali tempat penempaan yang terisi. Apakah ada satu tempat yang kosong?" gumam Zhen Wu sambil terus melihat.
Seorang pria dewasa bertubuh sedang, melihat Zhen Wu yang tengah kebingungan, mencoba datang untuk menghampirinya. Orang tersebut terus memperhatikan pemuda di depannya ini, hingga Zhen Wu pun sadar dan beralih menatap orang itu juga.
"Ada yang bisa aku bantu, anak muda?" tanya orang tersebut dengan ramah.
"Aku ingin menempa sebuah senjata. Apakah masih ada tempat kosong yang bisa aku gunakan?" balas Zhen Wu bertanya.
"Ohh, kebetulan aku adalah seorang pandai besi. Di tempatku saat ini sedang kosong, jadi aku bisa mengerjakan senjata yang kau minta."
"Maaf... Namun, bisakah aku sendiri yang menempa senjataku?"
Pria yang tengah berbicara dengan Zhen Wu ini, bernama Mu Hao. Saat ini tatapan dari Mu Hao kepada Zhen Wu mulai sedikit berubah. Dia tidak merasa senang dengan Zhen Wu yang meminta untuk menempa sendiri, jadinya dia mulai memarahi Zhen Wu.
"Apa! Anak muda sepertimu tau apa soal menempa senjata? Disini kamilah yang menempa, dan orang sepertimu yang menjadi pelanggannya," tegas Mu Hao.
Zhen Wu mengerutkan kening, pasalnya dia tidak mengerti kenapa orang di depannya ini tiba tiba memarahinya.
Akibat dari perkataan keras Mu Hao, banyak pasang mata mulai melirik ke arah mereka. Zhen Wu mulai teringat dengan dirinya di alam atas, dia selalu menempa senjata sendiri, namun tidak pernah mengalami penolakan seperti ini.
"Haa? Kenapa anda tiba-tiba memarahiku? Apakah salah jika mau menempa senjata sendiri," tanya Zhen Wu lagi.
"Hey, dengar ya! Pekerjaan menjadi seorang pandai besi itu hanya sedikit menguntungkan. Jika kami yang mengerjakannya, hal itu bisa menambah penghasilan kami. Jadi jangan kau seenaknya mengambil kerjaan ku dan seolah tidak tahu tentang hal ini. Padahal ini sudah menjadi hal yang umum di masyarakat." Mu Hao terlihat sedikit emosi dalam menjawab pertanyaan Zhen Wu.
"Lalu apa salahnya? Aku juga akan menempa sendiri dan membayar harga yang sesuai ketetapannya. Dimana letak aku merugikan anda? Malahan ini akan menguntungkan dan tidak membuat anda keluar tenaga sedikitpun." Balas membalas terus dilakukan Zhen Wu terhadap Mu Hao.
Bukannya menerima jawaban dari Zhen Wu, Mu Hao malah semakin membuat suasananya menjadi keruh. Dia dengan enteng menarik pakaian Zhen Wu hingga tertarik ke depan.
"Apa ini?" Zhen Wu menatap dingin Mu Hao yang mencoba menarik pakaiannya. "Aku sedari tadi bersikap sopan, namun kau sungguh melakukan ini?"
Mu Hao sedikit bergetar dengan Zhen Wu yang mengeluarkan aura misterius. Dia yang berada di ranah Pembentukan Tubuh tahap akhir merasa rendah di hadapan ranah pembentukan tubuh tahap awal.
"Jika kau masih menginginkan senjata, maka ikuti aturan milikku. Jika tidak, keluarlah dari sini," kata Mu Hao sedikit gugup.
Zhen Wu menatap tajam Mu Hao yang saat ini menarik paksa bagian atas pakaiannya. Dengan tegas dia mengatakan, "Lepaskan tangan mu dariku." Tatapan yang diberikan Zhen Wu pada Mu Hao membuat Mu Hao tanpa sadar melepaskan Zhen Wu secara perlahan dari genggamannya.
Selanjutnya>>>
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.