NovelToon NovelToon
Menjinakkan Tuan Kaku

Menjinakkan Tuan Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.

Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Lorong Supermarket

Aroma panggangan roti premium dan kesegaran buah impor berpadu di udara. Pencahayaan supermarket di mal pusat kota itu begitu tenang, memantulkan kilau bersih pada lantai marmer. Freya melangkah anggun di antara rak-rak tinggi. Gaun tweed membungkus tubuh proporsionalnya dengan sangat menawan.

Penampilannya yang modis nan berkelas mengundang perhatian beberapa pengunjung . Rambut poninya bergoyang lembut saat dia mendorong troli belanjaan dengan gerakan tangan yang lentik nan anggun.

"Stok saus bumbu premium ditaruh di sebelah mana ya?" gumam Freya sembari menyipitkan mata, menatap barisan produk impor di rak paling atas.

Dia mencoba menjinjitkan kaki. Hak sepatu miliknya sedikit terangkat. Ujung jarinya nyaris menyentuh botol bumbu yang dia cari.

"Butuh bantuan, Frey?" sebuah suara bariton yang ramah dan familier tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

Sesosok pria bertubuh tegap dengan kemeja kasual yang rapi melangkah mendekat. Lengan panjangnya yang kokoh terulur dengan mudah, mengambil botol saus premium tersebut lalu menyerahkannya tepat di depan wajah Freya.

Freya tersentak halus, berbalik instan. "Devan? Oh my God, lo ngapain di sini?"

Devan tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah menatap gadis yang sejak SMA yang selalu dikaguminya itu. "Belanja kebutuhan apartemen biasa. Nggak nyangka malah ketemu lo di sini. Long time no see, ya."

"Iya nih! Thank you ya bantuannya," kekeh Freya renyah, suaranya terdengar manja namun tetap berwibawa. Dia menerima botol itu dan memasukkannya ke dalam troli.

Devan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, menopang tubuh dengan santai. "Gue dengar dari Chloe... Lo udah nikah ya, Frey? Sama CEO Valerick Group itu?"

Freya mengangguk santai, senyum cerianya tidak pudar. "Yup. Sama Mas Adrian. Si Tuan Kaku itu."

"Oh... selamat ya," Devan tersenyum tipis, ada gurat kecewa yang sempat melintas cepat di matanya namun langsung disembunyikan dengan tawa kecil.

"Gue telat banget ya. Padahal gue pengen banget main ke rumah lo lagi kayak zaman sekolah."

"Santai aja kali, Dev! Lo tetap teman baik gue dari SMA kok. Kapan-kapan kalau geng kita kumpul, lo harus ikut nongkrong ya," ajak Freya ramah.

Sementara itu, di area parkir bawah yang luas, sebuah mobil SUV mewah terparkir rapi. Di dalam kabin mobil, Pak Wawan, sang sopir pribadi mansion, duduk tegak dibalik kemudi sembari mengawasi ke arah lift.

Pintu lift kaca berdenting terbuka. Pak Wawan melihat Bi Darmi dan dua pelayan mansion berjalan keluar sembari mendorong beberapa troli penuh berisi bahan makanan yang baru selesai dibeli. Di belakang mereka, Freya berjalan beriringan dengan Devan. Keduanya tampak mengobrol akrab, diselingi tawa renyah Freya yang begitu lepas saat melangkah menuju area penjemputan mobil.

Pak Wawan menelan ludah gugup. Tangannya yang memegang ponsel mendadak dingin. Pak Wawan segera membuka kamera, memotret kedekatan Freya dan pria asing itu, lalu mengirimkan foto tersebut langsung ke nomor pribadi sang tuan muda sebagai laporan darurat harian.

***

Di lantai teratas gedung pencakar langit Valerick Group, atmosfer ruang kerja mendadak turun ke titik beku. Grafik bursa saham global yang bergerak dinamis di layar monitor raksasa seolah kehilangan maknanya dalam satu detik.

Adrian Valerick duduk tegak di balik meja mahoni. Kemeja abu-abu tua miliknya terkancing sempurna tanpa cela. Jemarinya yang kokoh memegang ponsel, membaca pesan dari Pak Wawan yang baru saja masuk. Matanya yang tajam menyipit lurus menghujam foto Devan yang sedang berdiri dekat di samping istrinya.

Bram, sedang berdiri di depan meja memberikan laporan berkas pengembang utama. "untuk tender infrastruktur metro pulse di sektor barat, konsorsium bank internasional sudah menyetujui jangka waktu---"

Tak!

Adrian meletakkan ponselnya di atas meja mahoni dengan ketukan yang keras. Rahang tegasnya mengeras sempurna, menciptakan garis mengerikan pada struktur wajahnya. Urat-urat di tangannya menegang kaku.

Bram langsung menghentikan kalimatnya, menahan napas ngeri. "T-Tuan Adrian? Ada masalah dengan laporan saya?"

"Batalkan jadwal rapat koordinasi jam dua siang ini," perintah Adrian, suara baritonnya menekan rendah, sedingin es freezer.

Bram membelalakkan mata, napasnya memburu kaget. "Tapi Tuan, itu rapat krusial dengan direksi makro bisnis pasar saham global. Jika dibatalkan sekarang, efisiensi waktu kita akan---"

"Saya tidak peduli, Bram. Kosongkan jadwal saya untuk sisa hari ini," potong Adrian mutlak tanpa bantahan.

Dia berdiri tegak dengan postur tubuhnya yang gagah, menyambar jas hitamnya di sandaran kursi dengan satu sentakan taktis. Logika ekstremnya mendadak mendeteksi adanya distorsi besar di dalam sistem domestik hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!