Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 23
+
+
“Kay.” Lily memainkan jari telunjuknya di atas dada Kay yang tidak terbalut apapun membentuk pola abstrak, tidak menyadari bahwa Kay mati-matian menahan gejolak di dalam tubuhnya.
“Hm.” Lily mendongak lalu melihat Kay ternyata menunduk dan memperhatikannya membuat Lily menahan senyuman diwajahnya.
Posisi mereka saat ini berada di kamar Kay dengan keduanya yang berbaring dengan saling berpelukan atas kemauan laki-laki itu, Lily hanya bisa menuruti apa yang Kay mau kalau tidak dia akan mendapat hukuman. Dan sudah satu jam berlalu Kay belum berniat untuk beranjak.
“Kau tidak kerja?” Tanya Lily seraya menatap langsung mata asli Kay yang masih saja dia kagumi. Saat berada di rumah Kay memang tidak memakai lensa kontak atas kemauan Lily yang senang melihat warna asli bola matanya. Warna hijau yang pertama kali dia lihat.
“Tidak.” Kay menumpukan dagunya diatas kepala Lily.
“Kenapa?”
“Malas.” Mendengar jawaban Kay membuat Lily menganggukkan kepalanya.
Tangan Lily berhenti ketika dia baru sadar ada sebuah tato di bawah dada kiri Kay bertuliskan namanya, sejak kapan tato ini ada di tempat itu.
“Kapan kau membuatnya.” Lily melepaskan pelukannya lalu duduk dan meneliti tato itu dengan seksama.
“Belum lama.” Jawab Kay membuat Lily mengerti.
“Aku menyukainya.” Ujar Lily dengan jujur membuat Kay tersenyum.
“Kau ingin membuatnya?”
“Em, nanti kupikirkan.” Sebenarnya Lily tertarik tapi tidak untuk saat ini.
“Tapi, apakah sakit?” Lily kembali mendongak.
“Tidak sesakit apa yang ada di pahamu.” Mengingat hal itu membuat Lily merapatkan kakinya.
“Iyakah, kalau begitu aku mau membuatnya.” Lily menatap Kay dengan polosnya.
“Sial!” Umpat Kay membuat Lily kaget lalu menjauhkan badannya.
“Apakah ada yang salah.” Lirih Lily takut dirinya melakukan kesalahan, menundukkan kepalanya tidak berani menatap Kay.
“Jangan memasang wajah seperti itu kalau kau tidak mau menerima akibatnya.” Kay kembali menarik Lily kedalam pelukannya.
“Maksudnya.” Kay harus extra sabar menghadapi tingkah Lily yang satu ini.
“Kau ingin keluar?” Kay mengalihkan pembicaraan.
“Keluar? Maksudmu jalan-jalan? Bukan berlatih?” Tanya Lily dengan antusias.
“Wow tenang Lily.” Kay terkekeh mendengar pertanyaan Lily yang menurutnya lucu. Lalu dengan mudah mengangkat tubuh gadis itu hingga berada di atasnya.
Lily mengerjapkan matanya lalu menatap Kay dengan bingung. Lily lebih memajukan lagi badannya agar tidak menduduki sesuatu yang ada di bawah perut Kay.
Saat kay akan memundurkan kembali tubuh Lily, gadis itu langsung menolaknya.
“Tidak mau, tidak nyaman.” Lily menggelengkan kepalanya lalu memohon pada Kay agar posisinya tetap seperti ini.
“Bukannya kau suka?” Kay menaikkan sebelah alisnya dan memberikan tatapan menggoda.
“Tidak.” Jawab Lily sedikit panik.
“Kau berbohong.”
“Tidak.” Tanpa sadar Lily merengek membuat Kay menahan nafasnya. Lagi-lagi tingkah menggemaskan gadis itu membuat Kay rasanya ingin memakannya.
Mendengar Kay lagi-lagi mengumpat membuat Lily bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Apalagi ketika melihat kedua telinga laki-laki itu menjadi merah. Tangannya terulur untuk menyentuh telinga itu.
“Kenapa jadi seperti ini.” Lily bisa merasakan telinga Kay yang panas.
“Jauhkan tanganmu kalau kau tidak mau aku serang sekarang juga.” Otomatis Lily melepaskan tangannya mendengar perkataan Kay yang syarat akan ancaman.
Lily menutup wajahnya malu karena perutnya tiba-tiba saja berbunyi dengan keras minta diisi. Kay yang mendengarnya terkekeh membuat Lily merenggut.
“Rupanya ada yang lapar.” Kay menurunkan Lily dari atasnya lalu mengambil kemeja yang sebelumnya dia simpan di atas kursi kemudian memakainya. Tatapan Lily tidak bisa lepas dari Kay.
“Ayo kebawah.” Kay mengulurkan tangannya membuat Lily segera menyambutnya.
Keduanya turun kelantai bawah dengan tangan Kay yang tidak sedikitpun terlepas dari pinggang Lily. Sedangkan Lily merasa tidak nyaman bertemu dengan orang-orang karena pakaian yang digunakannya berpotongan dada rendah. Beberapa kali tangannya menarik bajunya berharap naik meskipun hal itu percuma.
Kay menunduk lalu melihat apa yang sedang di lakukan Lily lalu mengumpat baru sadar dengan apa yang dikenakan oleh gadisnya. Dengan cepat Kay menarik tangan Lily untuk kembali ke kamarnya. Untung saja mereka masih di pertengahan tangga jadi tidak terlalu repot.
Kay menarik asal kemejanya lalu memasangkannya ke tubuh kecil Lily. Badan Lily tenggelam membuatnya ingin melayangkan protes tapi tidak jadi karena Kay kembali menarik tangannya.
Tiba dimeja makan, segala jenis makanan sudah tersaji di depannya membuat perut Lily meronta ingin segera diisi.
“Kay apakah aku boleh memakan itu.” Lily menunjuk meja makan.
“Tentu saja, kalau bisa habiskan.”
Lily tidak menjawab perkataan Kay. Menarik kursi yang ada di depannya lalu segera memulai acara makannya. Kay duduk di samping Lily dan ikut makan.
Lily duduk manis di samping Kay sambil melihat pemandangan yang berlalu di sampingnya dari balik kaca mobil. Sesuai perkataan Kay tadi pagi, saat ini dia dibawa Kay yang berkata akan mengunjungi sebuah tempat.
Lily tidak bisa berhenti kagum dengan keindahan yang ada di sekitarnya. Karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin jadi suasananya sangat sejuk.
Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar. Diluar sana banyak orang yang terlihat mengantri di depan sebuah stand? Entahlah Lily tidak melihatnya dengan jelas, tidak sadar bahwa pintu disampingnya terbuka.
“Keluar.” Perintah Kay pada Lily yang fokus ke depan, “Jillian.” Panggilnya kembali.
“A-ah ya.” Lily segera keluar dan Kay langsung menggandeng tangannya lalu berjalan memasuki bangunan yang ada didepannya.
“Kay kita tidak kesana dulu.” Lily bertanya tanpa menghentikan langkahnya.
“Tidak perlu.” Jawab Kay.
Keduanya masuk melalui pintu khusus yang tidak sembarang orang bisa melaluinya. Mereka berjalan melewati lorong lalu ada seseorang yang berjaga di depan sebuah tirai dan membungkukkan badannya ketika Kay datang. Lily ikut membungkukkan badannya sebelum masuk dan Kay yang melihatnya segera menarik tangannya.
Lily seketika menganga ketika melihat hal yang ada di depannya. Sebuah panggung megah dan sangat indah terpampang didepannya. Beberapa orang yang ada di panggung serentak membungkukkan badannya pada semua orang yang hadir di tempat ini.
Kay membawa Lily duduk di sebuah kursi yang terlihat berbeda dan hanya mereka berdua yang menempatinya meskipun bisa Lily lihat ada beberapa kursi lagi tapi tidak seorang pun yang duduk di atasnya.
“Kay apakah mereka akan melakukan sebuah pertunjukkan?” Tanya Lily penasaran seraya merapatkan kedua kakinya.
“Iya.” Kay membenarkan rambut Lily yang sedikit berantakan lalu menyelipkan kebelakang telinganya.
Senyum Lily merekah, selama ini dia hanya bisa bermimpi akan melihat sebuah pertunjukkan teater secara langsung seperti ini. Sepanjang pertunjukkan Lily tidak bisa diam, tidak bisa dihitung berapa kali gadis itu berkata 'wah' dan juga menepuk tangannya ketika orang-orang di panggung menunjukkan sesuatu yang menakjubkan.
Tidak terasa pertunjukkan sudah selesai. Para pemain teater itu kembali membungkukkan badannya lalu panggung seketika gelap.
Lily menghembuskan nafasnya, merasa tidak puas dengan durasi yang terasa sebentar padahal sudah satu jam berlalu.
Dan saat ini mereka berdua berada di privat room yang berada di sebuah restoran. Keduanya menikmati makanan yang sebelumnya sudah Kay pesan.
Ketika makanannya sudah habis, mata Lily mencuri-curi pandang pada sebuah botol dengan air berwarna merah. Dia ingin sekali merasakannya karena ketika Kay meminumnya laki-laki itu terlihat sangat menikmati.
“Tunggu sebentar aku ke toilet dulu.” Kay berdiri lalu keluar.
Melihat ada kesempatan Lily segera mengambil gelas Kay lalu menuangkan isi botol itu kedalam gelas hingga terisi penuh. Meskipun tadi dia melihat Kay yang mengisinya tidak sampai setengahnya.
Dengan sekali tegukan Lily menghabiskannya, dia terbatuk dan merasakan tenggorokannya seperti terbakar. Lily memegang lehernya sendiri ketika rasa panas itu menjalar.
Sumpah demi apapun dia menyesal telah meminum jus itu, kalau tau rasanya seperti ini dia tidak akan berani untuk meminumnya. Tapi kenapa bisa Kay terlihat baik-baik saja ketika meminumnya. Wajah Lily berubah merah dan dia merasakan badannya tiba-tiba panas. Untung saja batuknya sudah reda setelah dia minum air putih.
Kay kembali dan duduk di hadapan Lily yang menundukkan kepalanya, membuat Kay bingung apa yang telah terjadi. Melihat botol yang ada dihadapannya berkurang membuat Kay membulatkan matanya lalu segera beranjak menghampiri gadis itu.
Kay merangkum wajah Lily membuatnya mendongak. Wajah gadis itu berubah merah dan juga terlihat sedikit kehilangan fokus membuat Kay mengumpat.
“Kenapa kau meminumnya bodoh!” Ujar Kay dengan tajam.
“Memangnya apa yang ku minum?”
“Itu minuman yang mengandung alkohol cukup tinggi Jillian.” Kay menekan kata terakhirnya.
“Ahh pantas saja tenggorokanku rasanya seperti terbakar.” Lily menganggukkan kepalanya tanda mengerti membuat Kay ingin sekali menjitak kepalanya.
“Ayo kita pulang.” Kay mengambil blazer yang sebelumnya Lily lepaskan lalu memasangkannya kembali.
“Tidak mau pakai, panas.” Kay menahan tangan ketika Lily ingin membukanya kembali.
“Diam!” Kay merangkul bahu Lily dan membawanya keluar dari restoran ini.
Lily terus mengoceh sepanjang perjalanan ke mobilnya. Kay sampai dibuat pusing oleh tingkahnya. Dia tidak menyangkan Lily yang mabuk akan membuatnya kelimpungan seperti ini.
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."everything is starting to show"...
sukses otor, dan semangat 💪😘