Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Air mata pertama jatuh di Bandara Juanda. Yang kedua tidak.
Erlyn menahannya sepanjang jalan pulang, dengan wajah menghadap jendela mobil. Ia tidak ingin Mama melihat. Ia juga tidak ingin Om Changli merasa harus mengatakan sesuatu. Di kursi sebelah, Mama memegang tisu yang sudah kusut, tetapi ia tidak menangis keras. Di depan, Yu Changli beberapa kali membuka ponsel, memeriksa layar kosong, lalu menguncinya lagi.
Tidak ada yang banyak bicara.
Sopir menyalakan radio pelan. Lagu lama berputar, suara penyanyi terdengar jauh, tertutup bunyi jalan dan AC mobil. Erlyn menempelkan ujung jarinya ke kaca jendela. Di luar, Surabaya tetap panas. Lampu merah tetap lama. Motor tetap saling mendahului. Dunia tidak ikut menahan napas hanya karena Chisen baru saja melewati pintu keberangkatan.
Ponselnya bergetar.
Angie: Sudah?
Erlyn menatap pesan itu lama.
Ia mengetik, Sudah masuk.
Angie membalas: Kamu?
Erlyn tidak tahu harus menjawab apa. Ia hampir mengetik, Aku juga sudah masuk. Masuk ke bagian rumah yang kosong. Tetapi kalimat itu terlalu dramatis, bahkan untuk Angie.
Jadi ia hanya menulis: Aman.
Angie mengirim stiker wajah curiga, lalu satu pesan lagi.
Jangan pura-pura kuat terus. Nanti sakit kepala.
Erlyn mengunci ponsel sebelum matanya panas lagi.
Sesampainya di Jalan Kenanga, halaman rumah terasa terlalu terang. Bunga melati di dekat pagar tetap mekar kecil-kecil. Sepatu Chisen yang biasanya ada di dekat rak depan sudah tidak ada. Troli yang tadi dibawa sopir dari bagasi kosong begitu saja, seperti benda yang kehilangan fungsi.
Mama turun lebih dulu. Ia berdiri sebentar di depan pintu, menghela napas pelan, lalu berkata, "Mama panaskan sup, ya."
"Ma, aku belum lapar."
"Tidak harus makan sekarang. Nanti kalau lapar."
Yu Changli menutup pintu mobil, memegang map dokumen yang sudah tidak setebal tadi. "Chisen akan kabari begitu sampai transit. Sinyal di pesawat mati. Jangan tunggu terus."
Kalimat itu jelas ditujukan pada semua orang, tetapi matanya berhenti sedikit pada Erlyn.
Erlyn mengangguk. "Iya, Om."
Ia ingin bertanya apakah Om juga merasa rumah ini tiba-tiba terlalu luas. Tetapi Yu Changli sudah masuk ke ruang kerja, mungkin karena di sana ia bisa berpura-pura membaca email. Mama masuk dapur, mungkin karena di sana ia bisa membuat suara panci dan air mengisi bagian rumah yang terlalu sunyi.
Erlyn berdiri di foyer seorang diri.
Biasanya pada jam seperti ini, jika Chisen ada di rumah, suara langkahnya bisa terdengar dari tangga. Kadang ia lewat tanpa menyapa. Kadang ia berhenti sebentar hanya untuk berkata, "Buku fisika." Kadang pintu loteng tertutup dari atas dengan bunyi pelan yang selalu membuat Erlyn menoleh.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Ia melepas sepatu, menggantinya dengan sandal rumah, lalu berjalan pelan melewati ruang tamu. Di meja masih ada gelas kopi Chisen dari pagi. Sudah kosong, hanya meninggalkan lingkaran tipis di dasar gelas. Kotak roti yang Mama siapkan tidak ada di meja, karena sudah ikut masuk tas kabin. Detail kecil itu membuat tenggorokan Erlyn sakit.
Ia naik ke lantai dua tanpa benar-benar sadar.
Di ujung koridor, pintu kamar Chisen tidak tertutup.
Selama ini pintu itu hampir selalu rapat. Tidak seperti loteng yang punya larangan tidak tertulis, kamar Chisen tidak pernah benar-benar dilarang. Namun pintu yang tertutup membuat siapa pun mengerti batas. Hari ini pintu itu terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang membuat Erlyn berhenti.
Ia tidak langsung masuk.
"Koh?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia sendiri merasa bodoh setelah memanggil. Chisen sedang di udara atau menunggu penerbangan lanjutan, bukan di balik pintu kamar. Namun panggilan itu keluar begitu saja, seperti kebiasaan yang belum diberi tahu bahwa pemiliknya sudah pergi jauh.
Erlyn mendorong pintu dengan ujung jari.
Kamar itu rapi.
Terlalu rapi.
Ranjang sudah ditata. Selimut abu-abu ditarik lurus sampai hampir tidak ada lipatan. Bantal diletakkan di tengah, bukan miring seperti biasanya. Meja belajar bersih dari tumpukan kertas. Rak buku punya beberapa ruang kosong. Gantungan di dalam lemari yang belum tertutup benar terlihat menggantung tanpa jaket hitam yang biasa dipakai Chisen. Kursi dekat jendela menghadap meja, seolah menunggu orang yang sebentar lagi akan kembali duduk di sana, membuka sketchbook, dan berkata dengan suara datar bahwa Erlyn salah mengerjakan soal nomor tiga.
Tetapi udara kamar itu berbeda.
Tidak mati. Hanya kosong.
Erlyn masuk satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Di meja, kamus Inggris biru tua yang semalam ditinggalkan Chisen masih ada. Sekarang posisinya sedikit berubah. Tidak lagi di sudut, melainkan di tengah meja, seperti sengaja diletakkan agar terlihat. Di atasnya ada selembar sticky note kecil berwarna kuning.
Untuk Erlyn.
Tulisan Chisen.
Erlyn berdiri diam cukup lama sampai huruf-huruf itu seperti bergerak. Dadanya kembali penuh, tetapi bukan penuh yang hangat seperti saat ia menyimpan daftar bunga mawar rambat. Ini penuh yang membuat napas pendek.
Ia menarik kursi dan duduk.
Kursi itu masih terasa seperti kursi Chisen. Posisi tingginya berbeda dari kursi ruang belajar. Meja itu lebih rapi, lebih dingin, lebih asing. Erlyn meletakkan telapak tangan di atas sampul kamus, lalu membuka sticky note itu pelan-pelan.
Tidak ada kalimat panjang.
Hanya satu panah kecil mengarah ke halaman pertama.
Erlyn membuka sampul.
Di halaman kosong bagian depan, tepat di bawah nama penerbit yang mulai pudar, ada tulisan tangan Chisen yang tegas dan rapi.
Belajar yang rajin.
Empat kata.
Tidak ada jangan sedih. Tidak ada aku akan pulang cepat. Tidak ada aku juga akan rindu.
Chisen memang bukan orang seperti itu.
Ia meninggalkan kamus, benda berat yang membuat tangan pegal. Ia meninggalkan perintah belajar, seolah Erlyn hanya murid yang harus mengejar nilai. Ia bahkan tidak menulis namanya sendiri di bawah kalimat itu. Namun Erlyn mengenali setiap garis hurufnya. Mengenali tekanan pena di akhir kata rajin. Mengenali cara Chisen memberi sesuatu tanpa mengakui bahwa itu hadiah.
Air mata yang ia tahan di mobil akhirnya jatuh ke halaman kosong.
Erlyn cepat mengusapnya dengan punggung tangan, takut tinta itu luntur. Ternyata tidak. Tulisan Chisen tetap di sana, tegas, hitam, tidak bergerak.
Ia tertawa kecil di antara napas yang patah.
"Nyebelin," bisiknya.
Kamar itu tidak menjawab.
Dari bawah, terdengar suara Mama menyalakan kompor. Lalu suara ponsel Yu Changli berdering di ruang kerja. Rumah kembali berbunyi, tetapi bunyinya seperti datang dari tempat yang jauh. Di depan Erlyn, kamus biru tua terbuka, berat, diam, dan lebih jujur daripada kata perpisahan mana pun yang tidak sempat mereka ucapkan.
Ia menarik buku fisika dari tasnya, mengeluarkan kertas daftar London dan bunga mawar rambat yang kemarin dilipat. Kertas itu ia selipkan ke halaman pertama kamus, tepat di bawah tulisan Chisen.
Kalau Chisen meninggalkan satu kalimat, Erlyn juga ingin meninggalkan satu pegangan untuk dirinya sendiri.
Belajar yang rajin.
Supaya suatu hari, ia bisa menyusul jarak yang hari ini terasa mustahil.