Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 - Nadia
Nadia bukan tipe orang yang bertanya dua kali.
Kalau dia bertanya dan orang itu tidak menjawab, dia biasanya mengangkat bahu, lalu pergi seolah jawabannya tidak terlalu penting. Karena itu, ketika Nadia berhenti di samping meja Keiko setelah pelajaran olahraga dan berkata, "Ikut gue ke koperasi," Keiko sempat mengira Nadia benar-benar hanya ingin membeli sesuatu.
Ternyata tidak.
Begitu mereka keluar dari lapangan, Nadia mengambil botol air dari tangan Keiko, membuka tutupnya, lalu mengembalikannya.
"Minum."
Keiko berkedip. "Aku baru minum."
"Bohong."
"Nadia."
"Wajah lu putih. Bibir lu juga. Kalau lu pingsan di koridor, kelas kita bakal ribut lagi." Nadia berjalan pelan agar Keiko bisa mengikuti. "Gue malas ribut."
Cara Nadia mengatakan `malas ribut` terdengar seperti alasan egois. Namun dia memilih rute yang teduh, bukan jalan tengah lapangan. Dia juga berjalan di sisi luar, membuat Keiko tidak perlu berdesakan dengan murid lain yang baru selesai olahraga.
Keiko meminum air itu sedikit.
"Terima kasih."
"Jangan lebay. Gue cuma nggak mau lihat orang jatuh."
Di koperasi, Nadia membeli dua teh kotak. Satu dingin untuk dirinya sendiri, satu teh tawar hangat dari dispenser kecil untuk Keiko. Dia bahkan mengetuk gelas kertas itu dengan jari sebelum menyerahkan.
"Hangat. Aman buat lambung nenek."
Keiko menatap gelas itu.
"Aku belum setua itu."
"Lambung lu yang tua."
Keiko tertawa kecil.
Mereka duduk di bangku samping koperasi, agak jauh dari keramaian. Dari sana, lapangan masih terlihat. Anisa dan Putri sedang menertawakan Fajar yang tampaknya kalah lomba lari dari murid kelas X. Bagas berdiri dekat pinggir lapangan, berdebat dengan Dimas tentang apakah keringat bisa dihitung sebagai bukti usaha belajar.
Kelvin tidak ikut olahraga penuh karena luka di bahunya belum benar-benar pulih. Dia duduk di bawah pohon, membuka buku, tetapi sesekali menoleh ke arah Keiko. Ketika melihat Nadia duduk bersamanya, Kelvin tidak mendekat.
"Dia lihat terus," kata Nadia.
Keiko hampir tersedak teh. "Siapa?"
"Lu tahu siapa."
Keiko memegang gelas dengan dua tangan. "Dia cuma khawatir."
"Iya."
Nadia menyeruput teh dinginnya. Tidak ada nada mengejek. Justru karena itu, Keiko tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa siswi lewat di depan koperasi. Salah satu dari mereka berbisik, tetapi sengaja cukup keras.
"Itu Keiko, kan? Yang ditaksir anak sekolah sebelah sama dekat sama Kelvin?"
"Enak banget ya, cowok-cowok ganteng semua."
Nadia menoleh.
Tatapannya datar, tetapi cukup membuat dua siswi itu berhenti tertawa.
"Keiko bukan papan pengumuman buat kalian nilai," katanya.
Siswi itu kaget. "Kita cuma bercanda."
"Bercanda yang lucu aja. Itu nggak lucu."
Mereka pergi dengan wajah tidak enak.
Keiko menatap Nadia.
"Apa?" tanya Nadia.
"Biasanya kamu tidak peduli gosip."
"Gosip tentang gue, iya. Gosip tentang orang yang lagi pucat sambil pegang teh hangat, beda."
Keiko menunduk. Gelas kertas terasa hangat di telapak tangannya.
"Mereka cuma penasaran."
"Penasaran bukan izin buat ngacak-ngacak hidup orang."
Kalimat itu sederhana, tetapi Keiko menyimpannya.
Untuk beberapa saat, mereka duduk tanpa bicara. Nadia menghabiskan teh dinginnya, meremas kotak kosong, lalu melemparkannya ke tempat sampah. Masuk. Dia tidak terlihat bangga, seolah akurasi itu memang hak lahirnya.
"Kamu pernah suka seseorang?" tanya Keiko tiba-tiba.
Nadia menoleh. "Kenapa nanya gue?"
"Karena kamu selalu terlihat tidak terganggu."
"Gue terganggu kok. Cuma mukanya hemat."
Keiko tertawa.
Nadia menyandarkan punggung ke dinding koperasi. "Pernah suka. Beberapa kali. Biasanya seru kalau orangnya jauh, atau nggak tahu, atau nggak mungkin. Begitu orangnya suka balik, gue langsung... hilang rasa."
Keiko terdiam. "Hilang?"
"Iya. Kayak lampu dimatiin." Nadia mengangkat bahu. "Ada istilahnya, tapi gue males jelasin panjang. Intinya, gue bukan rusak. Cuma cara gue kerja begitu."
"Aku tidak berpikir kamu rusak."
"Bagus. Kalau lu berpikir begitu, gue bakal kecewa."
Keiko memegang gelas lebih erat. "Itu berat?"
Nadia berpikir sebentar. "Kadang. Orang suka maksa semua perasaan harus selesai dengan pacaran. Kalau nggak mau, dibilang takut komitmen. Padahal mungkin gue cuma nggak mau. Titik."
Keiko menatap lapangan. Di bawah pohon, Kelvin masih pura-pura membaca. Kali ini, Keiko sadar dia juga sedang pura-pura tidak melihat.
"Kalau suka seseorang tapi tidak bisa memberi apa-apa, itu gimana?" tanyanya pelan.
Nadia tidak langsung menjawab.
Angin lewat membawa bau rumput basah dan minyak gorengan dari kantin. Suara Fajar berteriak protes terdengar jauh, disusul tawa Anisa.
"Kalau lu nanya teori, gue payah," kata Nadia akhirnya. "Tapi kalau lu nanya sebagai teman, gue jawab begini. Jangan memutuskan sendiri apa yang orang lain sanggup terima."
Keiko menoleh.
Nadia menatap lurus ke lapangan. "Lu boleh punya rahasia. Lu boleh butuh waktu. Tapi jangan pakai alasan `aku melindungi dia` kalau sebenarnya lu juga takut ditinggalkan."
Kalimat itu mengenai tempat yang terlalu tepat.
Keiko menunduk. "Kamu tajam sekali."
"Gue kan nggak punya hobi menyenangkan orang."
"Tapi kamu baik."
Nadia terlihat tidak nyaman. "Jangan fitnah."
Keiko tersenyum.
Nadia berdiri, lalu mengambil gelas kosong dari tangan Keiko. "Ayo balik. Kalau kelamaan, cowok di bawah pohon itu bakal bangun dan pura-pura lewat."
"Kelvin tidak seperti itu."
Saat mereka berdiri, Kelvin memang menutup buku dan berjalan ke arah koperasi.
Nadia menatap Keiko tanpa ekspresi.
Keiko tidak bisa membela lagi.
Ketika Kelvin sampai, dia melihat gelas kertas di tangan Nadia, lalu wajah Keiko.
"Pusing?"
"Sedikit," jawab Keiko jujur kali ini.
Kelvin mengambil tas Keiko dari bangku tanpa bertanya. "Ke kelas."
Nadia menyerahkan gelas kosong ke tempat sampah, lalu berjalan di sisi Keiko yang lain.
"Gue juga ke kelas."
Kelvin meliriknya.
Nadia membalas tatapan itu datar. "Apa? Lu pikir cuma lu yang bisa jagain orang?"
Untuk pertama kalinya, Kelvin tidak punya jawaban.
Keiko berjalan di antara mereka, satu membawa tasnya, satu berjalan dengan wajah seolah tidak peduli. Di koridor yang mulai ramai, Keiko tiba-tiba merasa tidak semua perlindungan harus datang dengan suara keras.
Ada juga yang bentuknya teh hangat, kalimat tajam, dan seseorang yang berjalan di sisi lain tanpa banyak bertanya.