Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029: Telepon dari Rumah Sakit
Telepon dari Raka masuk saat Sari sedang memeriksa pesanan buah untuk pelanggan baru.
Nama anak sulungnya muncul di layar tiga kali. Panggilan pertama ia biarkan karena sedang menghitung stok. Panggilan kedua membuat Ayu menoleh. Panggilan ketiga membuat Sari menghela napas dan mengangkat.
"Ma, Nenek jatuh."
Tangan Sari berhenti di atas buku stok.
"Di mana?"
"Kamar mandi. Sekarang di RS Bina Medika. Papa minta Mama datang."
Sari menutup mata sebentar. Ibu Sri bukan lagi mertuanya. Hendra bukan lagi suaminya. Namun tubuh Sari masih mengenal kalimat "orang tua jatuh" sebagai panggilan darurat.
"Dokter bilang apa?"
"Belum tahu. Pinggulnya sakit. Tekanan darah naik. Nenek manggil Mama terus."
Sari menatap rak buah. Di sana ada pesanan yang harus dikirim, pegawai yang menunggu instruksi, dan hidup baru yang sedang ia bangun. Di seberang telepon ada rumah lama yang selalu tahu cara memanggilnya pulang.
"Aku datang setelah mengatur kios," katanya.
Raka menghela napas lega. "Cepat ya, Ma."
"Raka."
"Iya?"
"Aku datang melihat kondisi. Bukan kembali menjadi menantu."
Di seberang, Raka diam. "Iya, Ma."
Sari menutup telepon dan memberi instruksi kepada Ayu. Pesanan restoran dikirim dulu. Pelanggan yang masuk daftar tunggu diberi estimasi. Pembayaran baru jangan diterima sebelum stok jelas.
Ayu mengangguk, tetapi matanya cemas. "Bu mau saya ikut?"
"Tidak. Kios lebih butuh kamu."
"Kalau Pak Hendra macam-macam?"
Sari mengambil tas. "Aku sudah tidak datang tanpa ponsel penuh baterai."
Di rumah sakit, Raka menunggu di depan IGD. Wajahnya kusut. Bayu tidak terlihat. Ratna juga tidak. Tentu saja, pikir Sari. Saat keluarga Prasetyo panik, mereka masih menelepon perempuan yang sudah mereka buang.
"Papa di dalam," kata Raka.
"Dokter?"
"Tidak ada patah besar dari pemeriksaan awal, tapi perlu observasi. Nenek terus menangis."
"Obat?"
"Masih diurus."
Sari menatap anak sulungnya. "Biaya rumah sakit kalian yang atur."
Raka memerah. "Aku tahu, Ma."
"Kamu tahu karena aku bilang."
Ia tidak menunggu jawaban. Ia masuk.
Ibu Sri berbaring di ranjang observasi dengan wajah pucat dan selimut sampai dada. Begitu melihat Sari, air matanya keluar.
"Sari..."
Hendra berdiri di sisi ranjang. Kemejanya kusut, rambutnya tidak rapi. Ia terlihat lebih tua daripada saat menikahi Ratna di hari Sari masih dikira mati.
"Kamu datang," katanya.
Sari tidak menjawab nada itu. Ia mendekat ke ranjang. "Bu Sri, bagian mana yang sakit?"
Ibu Sri menggenggam tangan Sari. Cengkeramannya lemah, tetapi penuh maksud.
"Pinggul. Kepala. Hati."
Sari menarik tangannya pelan. "Pinggul dan kepala dokter yang urus."
Ibu Sri menangis lebih keras. "Kamu masih keras."
Hendra menatap Sari. "Ibu jatuh setelah lihat video Nadia. Dia kepikiran keluarga jadi bahan omongan."
"Keluarga kamu."
"Sar, jangan begitu. Bagaimanapun Ibu pernah menyayangimu."
Sari menatap perempuan tua itu. Ia ingat Ibu Sri pernah membuatkan jamu saat ia batuk. Ia juga ingat mulut yang sama menyuruhnya tidak mempermalukan Prasetyo ketika Hendra menikahi Ratna.
"Saya tidak menghapus kebaikan Ibu," kata Sari. "Tapi kebaikan tidak bisa dipakai untuk membeli hidup saya kembali."
Hendra mengusap wajah. "Kita semua kacau sejak kamu pergi."
"Kalian kacau sejak tidak ada orang yang menambal semua lubang."
Raka menunduk di dekat tirai.
Ibu Sri menangis. "Pulanglah, Sar. Bukan untuk Hendra saja. Untuk anak-anak. Untuk Ibu yang sudah tua."
"Saya datang menjenguk. Jangan jadikan ranjang rumah sakit tempat memaksa orang."
Hendra maju setengah langkah. "Aku tahu aku salah. Aku khilaf. Tapi kita puluhan tahun bersama. Kamu tidak bisa buang semua begitu saja."
Sari menatapnya. "Kamu bisa menikah saat aku masih dikafani."
Ruangan membeku.
Raka mengangkat kepala dengan wajah pucat.
Hendra menelan. "Aku pikir kamu meninggal."
"Cepat sekali kamu percaya."
Ibu Sri memukul pelan kasur. "Jangan ungkit itu di sini. Orang sakit tidak kuat."
"Saya juga waktu itu hampir dikubur, Bu. Tapi saya masih kuat mendengar Hendra menikah."
Seorang perawat membuka tirai untuk memeriksa infus. Suasana langsung canggung. Sari mundur sedikit agar perawat bekerja. Ia berharap setelah perawat pergi, pembicaraan selesai.
Ternyata tidak.
Hendra justru memakai jeda itu untuk merendahkan suara. "Sar, aku tidak minta kamu langsung memaafkan. Tapi jangan tutup pintu. Ibu sakit. Anak-anak butuh kita utuh."
"Anak-anak butuh orang tua yang tidak berbohong. Bukan sandiwara utuh."
"Nadia cerai karena kamu."
"Nadia cerai karena Dimas dan keluarganya."
"Kamu mengajari dia melawan."
"Aku mengajari dia menyimpan bukti."
Hendra menghalangi langkah ketika Sari hendak keluar dari sisi ranjang. Tidak menyentuh, tetapi tubuhnya cukup dekat untuk membuat ruang sempit.
"Jangan pergi dulu."
Sari menatapnya. "Minggir."
"Dengar aku."
"Minggir."
Raka panik. "Pa, sudah."
Ibu Sri menangis memanggil nama Sari. Pasien di ranjang sebelah menggeser tirai sedikit. Mata orang mulai berkumpul. Dulu, tatapan seperti itu akan membuat Sari mengalah agar tidak jadi tontonan.
Hari ini ia mengambil ponsel.
Ia menekan nomor Arman.
Arman mengangkat pada dering kedua. "Bu Sari?"
"Pak Arman, saya butuh bantuan."
Suara Arman berubah. "Ibu di mana?"
"RS Bina Medika. Ruang observasi IGD."
"Apa Ibu aman?"
Sari menatap Hendra yang masih berdiri di jalannya.
"Secara fisik, iya."
"Saya datang."
Sari menutup telepon.
Hendra menatapnya curiga. "Siapa?"
"Orang yang mengerti kata minggir."
Wajah Hendra mengeras. "Kamu panggil laki-laki itu?"
"Aku memanggil bantuan."
"Jadi benar kamu punya hubungan dengan dia?"
Sari memasukkan ponsel ke tas. "Kalau iya?"
Ibu Sri berhenti menangis sesaat. Raka tampak ingin menghilang.
"Secepat itu?" suara Hendra naik. "Kamu menuduh aku, tapi kamu sendiri..."
"Aku sudah bercerai."
"Tapi kita puluhan tahun menikah!"
"Kamu ingat puluhan tahun itu setelah aku pergi."
Lima belas menit kemudian, langkah sepatu terdengar di koridor.
Arman muncul di pintu ruang observasi, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Ia tidak membawa rombongan. Namun staf rumah sakit yang mengantarnya terlihat tegang, seperti sadar orang yang datang bukan tamu biasa.
Tatapan Arman menemukan Sari lebih dulu.
"Sari," katanya, tanpa Bu.
Hendra menegang.
Arman masuk dan berdiri di samping Sari. "Maaf, saya terlambat."
Sari tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya merasakan ruangan itu berubah. Untuk pertama kalinya dalam konflik dengan keluarga lamanya, ada seseorang yang berdiri bukan untuk menyuruhnya sabar, melainkan memastikan ia bisa pergi jika ingin pergi.
Hendra menatap Arman dari kepala sampai kaki.
"Anda siapa?"
Arman melihat posisi Hendra yang masih menghalangi sebagian jalan, lalu menjawab tenang.
"Orang yang Sari telepon."
Jawaban itu pendek.
Tapi cukup membuat Hendra kehilangan warna di wajahnya.
Raka yang sejak tadi diam akhirnya bergerak. Ia berdiri di sisi ranjang, melihat Arman, lalu melihat ibunya. Ada pertanyaan di wajahnya, tetapi ia tidak berani mengucapkan. Mungkin untuk pertama kalinya ia sadar bahwa Sari bisa memanggil orang lain ketika keluarga Prasetyo membuatnya tidak nyaman.
Ibu Sri menatap Arman dengan mata basah. "Sari, kamu membawa laki-laki asing ke depan Ibu yang sedang sakit?"
Sari menjawab sebelum Arman. "Saya tidak membawa siapa pun untuk menyakiti Ibu. Saya menelepon karena saya ingin keluar."
"Hendra tidak mengurungmu."
Sari melihat posisi Hendra.
Raka juga melihat.
Hendra akhirnya mundur setengah langkah, terlambat untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Arman tidak menyentuh Sari. Ia hanya membuka ruang di sisi pintu. "Mau pulang?"
Pertanyaan itu sederhana. Tidak ada bujukan, tidak ada perintah, tidak ada drama. Justru karena itu, dada Sari terasa longgar.
"Mau," jawabnya.
Hendra seperti tersentak. "Sar, jangan pergi seperti ini."
"Aku datang melihat Ibu Sri. Sudah. Kalau perlu urusan medis, hubungi anak-anakmu."
"Anak-anak kita."
"Mereka anakku juga. Tapi kamu tidak bisa memakai mereka sebagai tali untuk menarikku pulang."
Ibu Sri menangis lagi. "Kamu tega."
Sari berhenti di dekat pintu. "Saya belajar dari keluarga ini bahwa kata tega sering dipakai saat orang kehilangan orang yang biasa mereka manfaatkan."
Raka menunduk. Kalimat itu mengenai dirinya juga. Sari melihat, tetapi tidak menarik kembali.
Arman menunggu tanpa memotong. Staf rumah sakit di belakangnya pura-pura melihat tablet, padahal jelas mendengar setiap kata.
Sari melangkah keluar.
Di koridor, barulah ia menyadari tangannya dingin. Arman berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat.
"Terima kasih sudah datang," kata Sari.
"Saya datang karena Ibu meminta."
"Saya tidak sempat menjelaskan."
"Kalau seseorang yang biasanya kuat menelepon dan berkata butuh bantuan, penjelasan bisa menyusul."
Sari menatap lurus ke depan. Ia tidak ingin kalimat itu membuat matanya panas di koridor rumah sakit.
Di belakang mereka, suara Hendra terdengar memanggil namanya.
Kali ini Sari tidak berhenti.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??