Aira Khoirunnisa merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini. Memiliki suami yang begitu menyayangi dan memanjakannya bahkan juga peduli dengan keluarganya. Akan tetapi, semua berubah saat ia menemukan kenyataan bahwa sang suami ternyata terlibat affair dengan atasannya.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku mas? Dimana janji setia yang kau ucapkan waktu itu? Aku benar-benar kecewa sama kamu!"
"Aku melakukan semua ini juga demi kamu Aira! Apa kau tau semua perhiasan, barang-barang branded, biaya pengobatan Bapak serta biaya kuliah adikmu itu asalnya dari mana? Kamu juga menikmatinya bukan?" Arya berdalih.
Akankah Aira tetap bertahan ataukah dia memilih meninggalkan suami yang telah mengangkat harkat, derajat serta martabat keluarganya? Ikuti kisahnya ya..Selamat membaca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHATAN AMMAR
Ammar nampak bersemangat sekali pagi ini, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Aira. Biasanya di pagi begini wanita itu sudah selesai membereskan ruangannya dan menyiapkan secangkir kopi untuknya.
Meskipun tak banyak berinteraksi, tetapi pria itu sudah cukup senang hanya dengan menatap wajah sang pujaan hati. Dirinya sendiri tak menyangka jika perasaannya terhadap Aira sama sekali tak berubah dari dulu hingga sekarang.
Pria itu memasuki ruang kerjanya. Benar sekali dugaannya, sepertinya Aira telah selesai mengepel dan membersihkan ruangan. Namun, Aira tidak ada disana, kemungkinan besar sedang membuatkan kopi untuknya.
Ammar berdiri di depan sebuah kaca, ia menyunggar rambut serta membenarkan jasnya agar penampilannya terlihat lebih maksimal.
"Heran. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali dengan penampilanku, biasanya para wanita akan kagum sekaligus terpesona bila berpapasan denganku." gerutunya seorang diri kemudian duduk di kursi kebesarannya.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Dari suaranya saja Ammar sudah tahu siapa orang itu. Senyumnya merekah seketika, tetapi beberapa saat segera memasang wajah jaim.
"Masuk."
"Permisi, Pak. Ini kopi anda." ucap Aira sembari menyerahkan secangkir kopi dihadapan Ammar.
"Terima kasih." ucap lelaki itu singkat, tetapi sepintas ia mencoba mencuri pandang. Melihat wajah Aira sudah seperti mood booster baginya untuk bekerja. Namun, ia terkejut saat melihat wajah Aira yang sembab. Kentara sekali jika wanita itu baru saja habis menangis.
"Kau kenapa?" pria itu memberanikan diri untuk bertanya. Ammar rasanya ingin sekali memeluk dan menenangkan wanita itu.
Aira terkesiap mendengarnya, ia tak menyangka sang atasan ternyata memperhatikannya.
"Bu..bukan apa-apa, Pak. Ini saya hanya kelilipan." kilahnya mencari-cari alasan. Memang semenjak pergi dari rumah Arya tadi, hati Aira kembali tergores luka. Kesal, benci dan kecewa berkecamuk dalam pikirannya saat melihat sang suami bermesra-mesraan dengan wanita lain dihadapannya.
Ammar menghela nafas panjang, ia yakin ini pasti gara-gara Arya. Betapa bodoh pria itu menyia-nyiakan istri seperti Aira. Ia bertekad untuk membuat Arya menyesali pilihannya.
Saat Aira hendak pergi dari ruangannya, Ammar memanggil wanita itu kembali.
"Tunggu. Apa kau mengenal Anita? Maksudku wanita yang bersama suamimu di restoran waktu itu." ia memasang wajah mengintimidasi.
Aira seketika membalik badannya, mendengar nama wanita itu membuat dadanya kembali bergemuruh.
"Dia..atasan suami saya Pak." jawab Aira apa adanya. Ingin sekali ia mengatakan wanita itu pelakor, ****** suaminya, perusak rumah tangga orang, tapi itu hanya dalam hati.
"Pak Ammar mengenalnya?" Aira balas bertanya. Namun, ia kaget melihat wajah Ammar yang memerah dengan buku-buku tangannya terkepal erat.
"Apa jangan-jangan Pak Ammar pernah menjalin hubungan dengan ****** itu?" batin Aira menyesali pertanyaanya.
"Maaf atas kelancangan saya." ucapnya menyesal, ia takut mood atasannya memburuk dan berimbas pada pekerjaannya.
"Dia istri muda almarhum ayahku. Dan dia juga yang telah menghancurkan keluargaku."
Netra Aira membulat seketika mendengar pengakuan Ammar?
"Istri muda? Berarti dia rela menikah dengan pria tua?" batin Aira penasaran.
"Duduklah." pinta Ammar diikuti anggukan dari Aira. Demi apa, Aira sudah seperti ibu-ibu julid yang sedang ingin mendengar gosip.
"Dulu dia sekertaris Papa di kantor. Dia menggoda Papaku hingga mereka akhirnya mereka menjalin hubungan gelap dengan dibelakang ibuku. Sebenarnya ibu sudah mulai curiga sebab Papa jadi sering tidak pulang dengan alasan lembur atau ada pekerjaan diluar kota. Namun, suatu ketika Papa justru membawa wanita ****** itu pulang dan mengatakan bahwa wanita itu adalah istri mudanya." Memori Ammar kembali ke masa lalu.
"Ibuku begitu terkejut, beliau bahkan sampai terkena serangan jantung. Semakin lama kesehatannya semakin menurun, apalagi wanita itu suka semena-mena pada ibuku. Dia sering memutar balikkan fakta bahwa ibukulah yang suka menyiksanya. Dan bodohnya, papa lebih percaya gundiknya itu dibanding ibuku." seringai kekecewaan terpancar di wajah Ammar, Aira masih mematung mencoba meresapi curhatan sang atasan.
"Puncaknya, Anita menjebak ibuku bersama pria asing dan memfitnah ibuku telah berselingkuh. Papa percaya saja kemudian mengusir kami dengan mengirim kami keluar negeri. "
"Ibuku semakin terpuruk saat itu, kesehatannya semakin menurun. Dia sangat berharap Papa kembali dan sadar akan kekeliruannya. Akan tetapi, kabar buruk justru menghampiri kami. Beberapa bulan setelah kami diluar negeri, kami mendapatkan kabar bahwa Papa meninggal dunia akibat serangan jantung."
"Kondisi ibu semakin memburuk, beberapa bulan setelahnya ibu justru mengalami stroke hingga seluruh tubuhnya tak mampu digerakkan, beliau sudah seperti mayat hidup."
"Akupun sangat terluka waktu itu, apalagi setelah kematian Papa. Pengiriman uang untuk kami tiba-tiba dihentikan, sementara aku masih kuliah dan butuh uang untuk pengobatan ibu."
"Namun, karena hal itu aku jadi terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Aku kuliah sambil bekerja dan sebagian waktuku untuk mengurus ibu. Aku bersyukur, Tuhan masih memberiku akal yang cerdas hingga aku bisa menjadi seperti sekarang."
"Aku terkejut saat mantan asisten Papa datang dan memberikan surat wasiat yang berisi bahwa akulah pewaris perusahaan Papa setelah umurku genap 24tahun. Akupun memutuskan kembali ke Indonesia dan mengambil kantor pusat ini dibawah kendaliku. Dan ibuku, beliau sudah sehat setahun belakangan ini. Tapi, dia masih belum siap kembali ke Indonesia." pungkas Ammar.
Tanpa terasa airmata Aira jatuh berguguran, ia tak menyangka dibalik seorang bos besar seperti Ammar tenyata tersembunyi cerita pilu yang mungkin saja dia sendiri mampu menghadapinya jika berada diposisi itu.
"Eh.."
Aira terkejut saat Ammar menyodorkan sapu tangannya. Tiba-tiba angannya kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu.
Sapu tangan itu mirip sekali dengan sapu tangan Udin, sahabat yang kini entah dimana rimbanya. Sama seperti sekarang, Udin selalu memberikan sapu tangannya jika Aira tiba-tiba menangis karena suatu hal.
Tiba-tiba saja ia merindukan sahabatnya itu, Udin selalu ada saat dia mengalami kesusahan begitu pula sebaliknya. Dan cerita Ammar sekilas mirip dengan cerita Udin waktu itu.
"Kenapa melamun? Cepat ambillah, jangan sampai ingusmu keluar dan menetesi mejaku." ejek Ammar mengulum senyumnya. Manis sekali, Aira tak menyangka pria dingin dan kaku itu terlihat berkali lipat tampan dan manisnya jika tersenyum seperti sekarang.
"Astaga. Apa yang baru saja aku pikirkan!" batinnya merutuki sikapnya barusan.
"Terima kasih, Pak. Cerita anda sangat mirip dengan sahabat saya. Tapi, sayangnya entah dimana dia sekarang aku tidak tahu." ucapnya sembari menghembuskan nafas kasar.
"Apa dia sangat berarti untukmu?" tanya Ammar penasaran. Entah mengapa ia merasa jika yang dimaksud Aira saat ini adalah dirinya.
"Tentu saja. Dia sahabat laki-laki terbaikku. Dia selalu ada disaat aku kesusahan. Tapi, semenjak lulus SMA dia menghilang tanpa kabar." tutur Aira sendu.
Hati Ammar seakan ingin lompat dari sarangnya. Ingin sekali ia memeluk dan mengatakan pada Aira bahwa dialah Udin, sahabat terbaiknya. Namun, Ammar harus mengendalikan diri terlebih dahulu. Ia menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan segalanya pada Aira.
Bersambung..
Anita jadi gila / kena HIV Aids
halo kak yuk saling dukung #Sweet Love Level 999