NovelToon NovelToon
Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara
Popularitas:216.1k
Nilai: 5
Nama Author: NaraY

Skip tanpa alasan apapun bagi yang tidak tahan dengan konflik. Biasakan beri dukungan like, comment dan vote bagi author.

Berawal dari patah hati yang teramat dalam, tidak sengaja Lettu Sadewa Pulanggeni harus menikahi seorang gadis cantik adik dari seniornya.

Tidak ada rasa cinta di antara mereka. Pertengkaran demi pertengkaran selalu terjadi karena perbedaan sifat yang bertentangan apalagi bayang mantan kekasih masih menyelimuti hati Lettu Sadewa apalagi sang mantan kekasih masih ada di sekitar kehidupannya.

Hingga suatu ketika, terjadilah pertengkaran paling hebat di antara mereka. Untuk kedua kalinya Lettu Sadewa patah hati saat pria lain memberi perhatian lebih pada istrinya. Hanya ada dua pilihan.. bertahan dalam pernikahan atau mengakhiri semua.

Bagaimana mereka menghadapi biduk pernikahan yang sedang di uji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Tak mampu mengungkapkan.

"Terima kasih banyak ya Om..!!" Gita melambaikan tangan pada orang yang mengantarnya pulang.

Bang Dewa yang belum bisa tidur sengaja menunggu Gita yang hingga lewat tengah malam baru saja pulang.

Ekor mata elang Bang Dewa melirik kelakuan istri kecilnya yang terlihat begitu akrab dengan pria lain.

"Cepat masuk..!!!!" Perintah Bang Dewa.

Gita tak menggubris ucapan Bang Dewa dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

"Darimana saja kamu?? Kuliah atau kerja tidak mungkin sampai pulang selarut ini..!!" Tegur Bang Dewa.

"Kuliah sambil kerja." Jawab jujur Gita.

"Kerja apa?? Masih melayani om-om?" Tanya Bang Dewa. Tiba-tiba pikirannya semrawut dan tidak tenang.

"Besok saja kita bicara..!! Gita capek Mas." Tolak Gita lalu segera menuju ke kamar mandi dan langsung masuk ke kamar.

"B******n, awas kamu Gita..!!"

***

"Kerjakan semua..!!" Bang Dewa melempar banyaknya pakaian di depan Gita agar istri kecilnya itu segera mencucinya padahal Gita baru saja selesai membersihkan rumah hingga halaman dan memasak.

"Nanti Bian yang kerjakan Mas, Gita sudah lelah mengerjakan semua." Pinta Bian.

"Kamu dikamar saja..!! Gita yang kerja..!!" Bentak Bang Dewa.

Bian meneteskan air mata kemudian berlari masuk ke dalam kamar.

Gita tak banyak menjawab dan langsung mengerjakan apa yang ditugaskan Bang Dewa untuknya.

"Hari ini nggak ada keluar rumah, kerjakan semua..!!!!" Perintah Bang Dewa untuk Gita sambil menyendok nasi dari magic com yang baru saja terbuka.

"Hhkkk.." Gita merasa mual mencium aroma nasi yang baru saja matang.

Kening Bang Dewa berkerut melihat Gita berlari masuk ke dalam kamar mandi.

"Hhhkkkk"

"Ada apa sih? Kenapa sampai mual begitu?" Gumam Bang Dewa kemudian melanjutkan mengambil lauk untuk sarapannya.

bruuugghhh..

Terdengar suara dari kamar mandi, Bang Dewa pun segera menghampiri Gita.

"Lhoo dek.. Astagfirullah..!!" Bang Dewa terkejut melihat Gita sudah tergeletak di depan pintu kamar mandi. "Masa kerja begitu saja sampai pingsan begini??" Bang Dewa pun membawa Gita ke dalam kamar.

"Deeekk.. Bian.. tolong Gita donk..!!" Teriak Bang Dewa tapi Bian tidak menjawabnya.

Bian ingin memberi pelajaran pada Bang Dewa agar bisa lebih mawas dan perhatian pada Gita istri keduanya.

Tak mendengar jawaban dari Bian, Bang Dewa segera merawat Gita. Tiba-tiba rasa penasarannya muncul, ia sedikit menurunkan kerah pakaian Gita dan mengintip apakah benar ada bekas luka tembak di bahunya.

Setelah membuka kerah pakaian Gita, Bang Dewa menunduk pilu merasakan sakit yang teramat sangat. "Ternyata ini benar-benar kamu. Saya tau pekerjaanmu, tapi hati saya tidak bisa menerimanya." Bang Dewa mengecup kening Gita kemudian sekilas pada bibirnya. "Selamat datang black rose ku. Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku." Bang Dewa menghapus air matanya.

Tak lama Gita membuka matanya, rasa pening masih berputar di kepala.

"Kenapa lihat Gita seperti itu?? Nanti Gita kerjakan semua." Kata Gita.

Bang Dewa memasang wajah garangnya. "Nggak usah, semua jadi berantakan. Masa hanya pekerjaan ringan saja tidak mampu."

"Nanti Gita kerjakan, kenapa ada manusia yang rajin menggerutu sepertimu." Balas Gita.

Bang Dewa tidak membalasnya lagi, ia keluar dari kamar Gita dan melanjutkan acara makannya yang tertunda. Jam sudah semakin siang dan dirinya harus segera berangkat bekerja meskipun di hari Sabtu seperti ini.

-_-_-_-_-

Sore hari Bang Dewa sudah lepas dinas. Ia pun segera memarkirkan motornya di garasi, ekor matanya melirik Bian yang sedang menyapu halaman.

"Assalamu'alaikum.." sapanya kemudian segera masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Gita lirih.

"Wa'alaikumsalam Mas." Bian meletakan pakaian yang baru saja di setrikanya lalu menyambut suaminya.

"Sudah sore begini kenapa masih belum istirahat?" Tanya Bang Dewa.

"Ini sudah selesai Mas." Jawab Bian kemudian mengangkat pakaian tersebut masuk ke dalam kamar.

"Hhhhkkkk..!!" Gita berlari melewati ruang tamu menuju kamar mandi.

"Seharian ini Gita terus saja muntah Mas, ajaklah Gita ke rumah sakit."

"Mas capek. Besok saja." Jawab Bang Dewa tapi matanya sekilas melihat Gita yang terlihat begitu tersiksa. "Kamu temani Gita..!!"

"Iya Mas." Bian segera menyusul Gita ke kamar mandi.

:

Sudah setengah jam berlalu tapi Gita masih saja muntah.

"Ya ampun Gitaaa, kamu sampai tidak bisa muntah lagi. Ini sudah berdarah Gitaaa... kita ke rumah sakit saja ya?"

Bang Dewa sampai tidak bisa konsentrasi mendengar kepanikan Bian. Ia memantau group. Beberapa kali 'pergerakan' di batalkan dan malam nanti mereka baru akan bergerak.

"Nggak mau Mbak." Tolak Gita.

bruuugghhh..

"Gitaaaa..!!!! Maas bantu Gita donk..!!!!!" Pekik Bian.

Bang Dewa melompat cepat menuju kamar mandi.

"Astagfirullah.. kenapa ini dek???"

Plaaakk..

"Apa-apaan pertanyaan Mas itu???? Gita mual dan muntah sepanjang hari. Sekarang Gita mual sampai berdarah dari lambungnya Maas..!!" Bian sampai menepak bahu Bang Dewa.

Bang Dewa memercing ngeri. Ia segera mengangkat Gita untuk masuk ke dalam kamar.

"Menurutmu Gita kenapa dek??"

"Kalau asam lambung tidak mungkin seperti ini Mas."

"Terus kenapa ini. Masa jurusan pendidikanmu tidak bisa menebak sakitnya Gita??" Tanya Bang Dewa.

"Masa seorang perawat harus tau segalanya??" Jawab Bian.

'Mana mungkin Gita bisa bergerak kalau keadaannya seperti ini. Sangat berbahaya melakukan misi saat keadaan tidak fit.'

"Mbaakk.. Gita harus berangkat kerjakan tugas." Gumamnya lirih.

"Kalau kamu berani merepotkan saya, saya yang akan menghajarmu..!!" Ancam Bang Dewa.

Gita hanya terdiam mendengarnya. Tenaganya sudah habis dan tak sanggup lagi untuk berdebat.

"Maaass.. bisa-bisanya Mas bicara begitu sama istri sendiri..!!" Tegur Bian ikut jengkel.

Bang Dewa melepas seragamnya. Lalu masuk ke kamar mandi, dirinya juga tidak ingin banyak berdebat dengan Gita.

"Mbak Bian.. Bisakah Mbak tolong saya ambilkan buah mangga di belakang rumah?" Pinta Gita.

"Okee.. sebentar ya..!!"

~

"Maaaass.. Gita pergi." Bian mengetuk pintu kamar mandi untuk memanggil Bang Dewa saat melihat Gita tak ada di kamarnya.

Bang Dewa setengah membuka pintu kamar mandi, rambutnya masih penuh dengan bisa shampo. "Tadi kamu dimana? Kenapa sampai kecolongan???"

"Gita minta Bian cari mangga. Mana Bian tau kalau ternyata Gita mau pergi." Jawab Bian.

"Alaaahh.. ono-ono wae sih" Bang Dewa pun mempercepat acara mandinya.

...

Dalam waktu sepuluh menit saja Bang Dewa sudah berada di jalan untuk menjemput Gita. Setelah tiba di lokasi, Bang Dewa segera memarkirkan mobilnya dan berlari menuju gedung club malam.

Terlihat Bang Jazwan sudah sibuk mengontak kesana kemari.

"Lady Nera sedang bersiap. Kalian jaga di sekitar..!! Perintahnya.

Bang Dewa berlari masuk ruang milik Lady Nera.

braaaakkk..

Bang Dewa membuka paksa ruang tersebut saat Gita sedang berganti pakaian.

"Aaaaaaaa..!!!!!!!!" Pekik Gita saking kagetnya. "Mas Dewo?????"

Bang Dewa segera menutup pintu agar tidak ada lagi yang melihat tubuh Gita selain dirinya.

"Siapa yang memberimu ijin keluar dari rumah???" Bentak Bang Dewa.

"Gita ada tugas Mas..!!" Secepatnya Gita membenahi pakaiannya.

"Nggak ada.. ayo pulang..!!!!!" Bang Dewa menyambar tas kecil milik Gita tapi tanpa sengaja isi tas tersebut berhamburan keluar dari tempatnya.

Tak sengaja Bang Dewa melihat benda kecil di antara tumpukan isi tas. Bang Dewa segera memungut benda kecil tersebut. Terhias garis dua mewarnai benda yang sudah sangat lama tak pernah lagi di sentuhnya.

"Testpack ini punya siapa?" Tanya Bang Dewa lalu berdiri di hadapan Gita.

"Punya Gita Mas." Jawab Gita.

"Kenapa tidak beritahu Mas Dewo kalau kamu hamil?" Bang Dewa mengangkat dagu Gita agar menatapnya.

"Karena Mbak Bian sangat menunggunya tapi Gita masih terikat kontrak pekerjaan." Jawab Gita.

Mata Bang Dewa berkaca-kaca. Ia mengecup kening Gita lalu berlutut di hadapan istri keduanya itu. Perlahan tangan itu bergerak ingin sekali mengusap perut Gita tapi ia mengurungkan niatnya.

"Tidak masalah kalau Mas Dewo tidak menginginkannya. Gita tau, anak ini tidak pernah di harapkan Papanya. Gita akan bilang sama Mbak Bian agar bisa membawanya dan membesarkannya." Kata Gita.

Mendengar jawab Gita, rasa sakit sungguh menghantam telak ke ulu hati.

braaaakkk..

Tiba-tiba pintu terbuka.

Seorang pria mengacungkan senjata di hadapan Gita. "Ternyata kau disini Lady Nera..!!"

Dengan sigap Bang Dewa pun menarik pistol di pinggangnya lalu menarik pelatuk pistol tersebut. Ia bergerak melindungi Gita di belakang punggungnya.

"Ini masalah Gita Mas." Gita begitu panik, ia takut Bang Dewa akan terluka seperti dulu.

"Setiap hal yang menyenggol kamu dan anak kita adalah masalah saya..!!" Ucap tegas Bang Dewa.

.

.

.

.

1
Lita Pujiastuti
sebaik apa pun istri kedua, ttp sakit di hati. apa lagi ini terpaksa...maaf thor, saya tidak ingin lanjut baca. tujuan saya baca novel sebagai refresing, pengen baca novel yg tdk menyakitkan bgt². jadi maaf saya stop baca novel ini...🙏
NaraY_Kamanatha: Tidak usah di sebutkan ya kak. Sudah ada peringatan. mengandung KONFLIK dan silakan SKIP bagi yang tidak sanggup🙏
total 1 replies
Lita Pujiastuti
ini Bang Seba keluarga serdadu semua?
Mira Lusia
gita nih..dikit2 gak enak sama bian..kayak yg si bian nih ngekang bang dewo aja..
Mira Lusia
piye to om dewo iki
Mira Lusia
aku hargai pilihan bian..mundur akan lebih baik..gak ada kata ikhlas utk berbagi hati meskopun itu keinginan istri pertama..semoga bahagia ya bian..dgn pilihanmu
Mira Lusia
bian juga lebih sakit lo
Mira Lusia
selalu ada hati yg tersakiti😔😔
Mira Lusia
le mboco nganggo ilmu teteg ati..sebenere wegah baper..tapi yo piye meneh..😊😊
Mira Lusia
lama fokus di trahnya bang rama sakti jadi blm kenal sama trah lainnya..mana namanya byk yg aamaan to
Mira Lusia
hadir mbak nara..aku tuh kalau buka profilnya mbak nara jadi bingung mau baca yg mana dulu..pengennya sih yg nyambung sama karya mbak nara yg sebelumnya aku baca gitu..semangat berkarya ya mbaakkk..🥰
S
thor boleh kan saya ungkap unek2 saya,,mohon izin ya thor

apa mungkin gita itu cover nya aja buruk, tpi aslinya mah baik.. 🤔
Al Fatih
mas Dewo bingung yaaa,, bojo loro
Al Fatih
kenapa sih Kaka,,ceritamu itu slalu bikin baper aq ☺️
Al Fatih
aq mampir lagi ka Nara,, d karyamu yg slalu bikin aq tidur ga nyenyak,, jangan bosan yaaa
Fitriyanti Siregar
Luar biasa
Mutyanti Ummu Al Ghozi
iya ini sebelum cerita ini
cerita lain judulnya apa?
Sunarti Mantingan: nyawa di senapan
total 1 replies
Rahma 18
di tunggu dengan sanggggaaaattttt......kelanjutan ceritanya🤩
Iis Cah Solo
😍😍😍😍
Iis Cah Solo
waaahhh siwi pelakor janda....untung ketahuan...😀😀😀
Iis Cah Solo
bian mulai esmosi..😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!