NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Kartu Nama Kedua

Kevin tidak bergerak mendekati mobil.

Dia hanya menatap pintu tengah Alphard yang masih terbuka, wajahnya dingin sampai udara panas di parkiran terasa turun beberapa derajat.

"Kalau Pak Raymond ingin bicara," kata Kevin, "suruh dia turun."

Pria berjas abu-abu itu tampak ragu. Dari dalam mobil, tawa pelan terdengar lagi.

"Masih sama," kata suara itu. "Selalu membuat orang lain menyesuaikan posisi."

Sepatu kulit hitam turun lebih dulu, lalu seorang pria keluar dari mobil. Raymond Halim lebih muda daripada yang Meilin bayangkan, mungkin awal tiga puluhan, dengan rambut rapi, kemeja putih tanpa kerutan, dan jam tangan yang sengaja cukup terlihat. Senyumnya halus, tapi matanya menghitung.

Dia memandang Kevin dari atas ke bawah.

"Chengyu."

"Kevin," koreksi Kevin.

"Di luar, mungkin." Raymond menoleh ke Meilin. "Dan ini Bu Direktur YunMei Tech?"

Nada "Bu Direktur" itu sopan di permukaan, tapi di bawahnya ada pisau kecil.

Meilin menahan dorongan untuk mundur. "Meilin Tan."

"Saya tahu." Senyum Raymond melebar sedikit. "Surabaya, ISI Yogyakarta, Instagram commission, Jakarta Art Emerging Showcase. Lumayan cepat naiknya."

Jari Kevin bergerak.

Meilin melihatnya, lalu selangkah maju sebelum Kevin bisa menutupinya lagi.

"Kalau Pak Raymond sudah membaca profil saya, berarti kita tidak perlu berkenalan terlalu lama."

Hendry yang berdiri di samping mereka menatap Meilin sekilas. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas waspada.

Raymond tertawa pendek. "Menarik. Biasanya orang baru di sekitar keluarga kami butuh waktu lebih lama untuk belajar bicara."

"Saya bukan di sekitar keluarga Anda," jawab Meilin. "Saya di perusahaan saya."

Senyum Raymond tidak hilang, namun matanya menajam.

Kevin akhirnya bicara. "Urusanmu apa?"

"Langsung ke inti. Bagus." Raymond menyentuh ujung lengan jasnya. "Aku dengar kalian sedang membuat mainan kecil. Dashboard untuk gudang, stok, order. Bagus untuk anak baru. Tapi sayang kalau mainan itu rusak karena salah masuk pasar."

"Kamu yang kirim orang ke klien kami."

"Aku? Tidak." Raymond mengangkat alis. "Aku hanya mendengar ada pihak yang menawarkan sistem gratis. Pasar bebas, Kevin."

"Jangan panggil aku seperti kita teman."

"Kalau kupanggil Chengyu, kamu marah."

Kevin menatapnya tanpa berkedip. "Aku tidak marah. Aku hanya sedang menghitung berapa banyak kesalahan yang bisa kamu buat sebelum aku berhenti sopan."

Udara di antara mereka menegang.

Raymond melirik Hendry. "Partner operasional juga ada. Rapi sekali. Jadi begini, daripada kalian repot bertahan dari rumor legal, aku bisa bantu. Aku beli prototype-nya. Anggap saja akuisisi kecil. Bu Meilin tetap bisa disebut pendiri, Kevin bisa kembali ke pekerjaan yang lebih pantas, dan semua orang tidak perlu membuat Opa tidak sabar."

Meilin hampir tertawa karena terlalu tidak percaya.

"Pak Raymond menawarkan membeli sesuatu yang bahkan belum Bapak lihat demonya?"

"Aku membeli potensi masalah," jawab Raymond. "Kadang itu lebih murah kalau dibeli di awal."

Kevin maju setengah langkah. "YunMei tidak dijual."

"Perusahaan siapa?" Raymond menatap Meilin. "Di akta, namanya dia. Romantis. Juga berbahaya."

"Justru karena nama saya di akta, jawabannya tetap sama," kata Meilin. "Tidak dijual."

Untuk pertama kalinya, senyum Raymond benar-benar berhenti.

Dia menatap Meilin lebih lama, seperti baru saja menyadari benda yang dia kira dekorasi ternyata punya suara sendiri.

"Kamu tahu keluarga apa yang sedang kamu lawan?"

"Belum semuanya."

"Tapi tetap bicara?"

"Kalau saya harus diam sampai tahu semuanya, orang seperti Anda akan memakai ketidaktahuan saya sebagai tali."

Hendry menunduk sedikit, menyembunyikan sesuatu yang hampir seperti senyum.

Raymond melihat itu.

"Tim kecil kalian cukup kompak." Dia kembali ke Kevin. "Sayang sekali. Opa biasanya lebih tertarik menghancurkan sesuatu kalau terlihat hangat."

Nama Opa membuat napas Meilin berhenti sesaat.

Kevin menjawab pelan, "Katakan pada Opa, kalau dia ingin bicara denganku, dia datang tanpa menyentuh Meilin dan tanpa menyentuh YunMei."

"Kamu masih berpikir bisa memberi syarat?"

"Aku tidak memberi syarat." Mata Kevin gelap. "Aku memberi peringatan."

Raymond tersenyum lagi, tapi kali ini ada iri yang tidak tertutup sempurna.

"Kamu pikir Opa belum tentu memilihku, ya?"

"Aku tidak memikirkanmu sebanyak itu."

Kalimat itu menghantam lebih telak daripada bentakan.

Wajah Raymond mengeras sepersekian detik, lalu dia memperbaiki jasnya.

"Baiklah. Simpan dulu mainan kalian. Aku ingin lihat seberapa lama Bu Direktur bisa berdiri ketika semua orang mulai bertanya siapa dia sebelum bertemu kamu."

Kevin bergerak, tapi Meilin menahan lengannya.

Bukan untuk melindungi Raymond. Untuk mengingatkan Kevin bahwa mereka masih di parkiran kantor klien, di depan Hendry, di depan jendela ruko yang mungkin dilihat orang.

"Kalau ada pertanyaan tentang saya," kata Meilin, "kirim resmi ke email perusahaan. Jangan lewat gosip parkiran."

Raymond tertawa pelan.

"Email perusahaan. Manis sekali."

Dia kembali masuk ke Alphard. Pintu tertutup, lalu mobil itu bergerak keluar dari parkiran seolah tidak baru saja meninggalkan ancaman di udara panas.

Hendry menghela napas untuk pertama kalinya.

"Saya akan catat kejadian ini."

"Catat semua," kata Kevin. Suaranya masih rendah.

Meilin baru menyadari tangannya gemetar saat menggenggam map.

Kevin melihatnya.

"Meilin."

"Aku baik-baik saja."

"Tanganmu tidak."

"Nanti." Dia menelan napas. "Jangan di sini."

Mereka baru masuk ke mobil Hendry ketika ponsel Meilin bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Tidak ada teks panjang. Hanya satu file PDF.

Nama file itu membuat darah Meilin terasa turun ke kaki.

Profil Awal Meilin Tan.

Dia tidak ingin membuka file itu.

Tapi jarinya bergerak lebih cepat daripada rasa takutnya.

Halaman pertama muncul di layar. Nama lengkap. Tempat asal Surabaya. Riwayat pendidikan seni. Akun Instagram yang selama ini dia pakai untuk commission. Foto dari pembukaan Jakarta Art, diambil dari sudut yang tidak dia sadari. Lalu bagian yang membuat perutnya mencelup.

Catatan perawatan IGD Tangerang.

Alamat apartemen Kemang.

Nama YunMei Tech.

Bahkan ada baris pendek tentang orang tua pemilik tubuh ini, usaha keluarga, dan kebiasaan mereka lebih sering berada di luar negeri. Tidak semua datanya lengkap, beberapa jelas masih dugaan. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Mereka sedang mengisi bagian kosong hidup Meilin seperti orang menyusun barang bukti di meja interogasi.

Meilin merasa telapak tangannya basah.

"Mereka masuk sampai rumah sakit," bisiknya.

Hendry yang duduk di depan langsung menoleh. "Bu Meilin?"

Kevin tidak menjawab. Dia hanya melihat layar itu, rahangnya terkunci.

Pesan kedua muncul setelahnya.

Nomor tidak dikenal: Anggap saja ini kartu nama kedua.

Kevin mengambil ponsel itu dari tangan Meilin dengan sangat pelan, tapi wajahnya sudah berubah menjadi sesuatu yang bahkan lebih dingin daripada marah.

Mereka tidak lagi hanya menyerang YunMei.

Mereka mulai membuka hidup Meilin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!