"Kak tunggu! Aku mau bilang sesuatu sama kakak. Aku udah lama nunggu waktu itu hanya buat bilang ... kak Adrian ... aku suka sama kakak," kata seorang gadis.
"Tapi aku di sini," kata seseorang yang duduk dipojokan taman.
Gadis itu ternyata salah mengucapkan nama. Ia ingin mengutarakan perasaannya pada cowok tampan yang bernama Adrian. Tapi ia malah bilang cinta pada Adnan, kembarannya Adrian.
Mereka memang sama persis, hingga tidak ada celah untuk membedakannya. Mereka sering salah dikenali oleh para gadis yang selalu berebut untuk mencari perhatian mereka. Sikembar memang sering membuat jebakan pada para gadis.
Bagaimana kisah sikembar selanjutnya? selalu bersama jebakan cinta sikembar ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
+23
Zia tersenyum mendengarkan kata-kata pasrah yang Adrian ucapkan. Dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang lain selain kata nyaman dan bahagia saat bersama dengan Adrian.
Adrian memesan dua gelas pop ice yang biasanya ia pesan bersama Adnan.
"Zia, nih minumannya udah jadi," kata Adrian sambil membawa dua gelas pop ice berjalan mendekati Zia.
Zia yang duduk di salah satu kursi yang berjejer di luar kantin, hanya tersenyum manis saat melihat Adrian datang bersama dua gelas minuman di tangannya.
"Nih, minumannya aku samakan aja sama punya aku. Soalnya, kamu gak bilang mau minum apa," kata Adrian sambil meletakkan pop ice itu keatas meja.
"Makasih banyak kak Adrian. Aku gak keberatan kok kalo minum pop ice. Karena aku juga sering pesan ini," kata Zia sambil mengambil pop icenya, lalu mencicipi rasa dari pop ice tersebut.
"Apa iya kamu suka minum pop ice juga, Zia?"
"Iya kak. Apalagi kalo saat haus tuh, aku paling suka pesan ini."
"Kok sama kayak Adnan ya," kata Adrian bicara pada dirinya sendiri tanpa sadar kalau perkataannya bisa didengar oleh Zia.
"Sama ... sama kayak kak Adnan?" tanya Zia sambil menyipitkan matanya.
"Oh, gak, gak ada apa-apa kok. Lanjut minumnya," kata Adrian tidak ingin membahas apa yang ia katakan barusan.
Adrian dan Zia menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin itu sambil minum pop ice dan berbicara santai. Sedangkan Adnan, ia lebih tertarik untuk kembali ke kelas setelah ia melihat Adrian dan Zia ada di kantin.
Adnan membatalkan niatnya untuk ke kantin ketika melihat Zia dan Adrian duduk di sana. Ia berpikir, kalau ia akan jadi pengganggu saja jika ia datang ke sana.
Zia dan Adrian kembali ke kelas mereka masing-masing saat bel tanda masuk berbunyi.
Selama itu mereka menghabiskan waktu di kantin sekolah. Adrian masih merasakan, kalau waktu yang ia habiskan bersama Zia terasa singkat. Ia merasa masih belum cukup untuknya bersama Zia.
Mungkin kali ini, Adrian benar-benar merasakan kalau ia telah jatuh cinta. Karena, pada dasarnya, Adrian tidak pernah merasakan hal itu ketika ia bersama dengan gadis lain.
"Ian, kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanya Adnan saat mereka berdua berada di dalam mobil untuk pulang.
"Tidak ada. Aku hanya ingin senyum-senyum saja. Emangnya ada yang salah ya?" kata Adrian balik bertanya pada kembarannya.
"Ya jelas salah dong Adrian. Kamu gak tahu apa, yang di rumah sakit jiwa itu kebanyakan senyum-senyum sendiri kerjaan mereka," kata Adnan kesal.
"Kamu samakan aku dengan yang ada di rumah sakit jiwa?"
"Bukan aku yang nyamain. Kamu memang mirip dengan mereka."
"Ah, bilang aja kamu syirik sama aku. Aku bahagia saat ini, sedangkan kamu gak."
"Enak aja bilang aku syirik sama kamu. Aku itu gak pernah syirik sama diri aku sendiri," kata Adnan tidak terima dengan apa yang Adrian katakan.
"Kalau gak syirik, apa dong?"
"Aku itu hanya prihatin sama diri aku sendiri. Soalnya, kamu dan aku itu sama aja tahu gak. Jika kamu bikin malu, yang malu itu aku juga. Karena kita ini sama ...."
"Ya udah Adnan, gak usah ngomel lagi yah. Sebaiknya, kamu jalankan mobil ini, lalu kita berangkat menuju sekolah Camelia. Apa kamu mau bikin Camelia nunggu kelamaan di sekolahnya?"
Adnan tidak punya jawaban lagi untuk menyanggah perkataan Adrian. Ia langsung menjalankan mobil mereka, meninggalkan sekolah mereka.
Tanpa sepatah katapun, mereka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Sebenarnya, Adnan masih sangat kesal ketika ia melihat Adrian dan Zia berada di kantin. Ntah apa yang ia pikirkan, tiba-tiba saja, hatinya terasa kesal saat melihat kedekatan Zia dan Adrian.
Tapi hal itu ia sembunyikan dari Adrian. Ia tidak ingin Adrian tahu kalau ia sedang kesal memikirkan Adrian dan Zia.
oh iya itu dia! terima kasih Kak Author! aku bisa menemukan judul dan cerita yang nanti aku buat!
mksih
Zia lebih cocok sama adrian yang lebih supel karna keliatannya zia pendiam, sedangkan adnan cocok sama cewek kaya ganisa karna punya hobi yang sama 😊