Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi
Enam Bulan Sebelumnya
Restoran berkelas di lantai 27 sebuah hotel berbintang lima memandang kota dari ketinggian. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di bawah sana seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi.
Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang menghiasi setiap meja, sementara alunan musik klasik dari piano grand di sudut ruangan mengalun lembut menciptakan suasana romantis yang sempurna.
Gita duduk dengan punggung tegak di kursi velvet berwarna burgundy. Gaun hitam polos dengan potongan simpel namun elegan membalut tubuhnya—tanpa aksesori berlebihan, tanpa riasan mencolok.
Cukup lipstik merah marun yang menjadi ciri khasnya, dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai natural. Ia tahu penampilannya sudah sempurna. Ia selalu tahu.
Di seberangnya, Reza duduk dengan setelan jas hitam yang membuatnya tampak seperti pria keluar dari sampul majalah. Rambutnya yang rapi, rahang tegasnya, dan matanya yang teduh—semuanya terlihat sempurna malam itu.
Tapi ada yang berbeda. Ada getaran di jari-jarinya saat ia memegang gelas wine, ada degup tak beraturan di dadanya yang berusaha ia sembunyikan.
Karena malam ini, Reza akan melamar Gita.
Sudah setahun mereka berpacaran. Setahun Reza membagi waktunya antara perusahaan kontraktor yang ia dirikan dan usaha meyakinkan hati wanita di hadapannya ini.
Setahun ia menjadi pria yang sabar, pengertian, dan—jujur saja—sangat bucin. Ia membelikan Gita apa pun yang ia inginkan. Ia selalu ada saat Gita butuh. Ia bahkan rela mengubah jadwal bisnisnya hanya demi menemani Gita makan malam.
Karena Reza mencintai Gita. Bukan cinta biasa, tapi cinta yang membuatnya buta terhadap segala kekurangan wanita itu.
"Apa kau menikmati makan malamnya, Git?" tanya Reza lembut, mencairkan kebekuan yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Gita mengangguk kecil sambil menyentuh bibirnya dengan serbet. "Enak. Tapi agak asin untuk seleraku."
"Baik, akan kukomunikasikan dengan koki lain kali." Reza tersenyum, selalu berusaha menyenangkan.
Lalu datanglah momen yang telah ia rencanakan berbulan-bulan. Seorang pelayan mendekat dengan nampan berisi penutup makanan berwarna perak. Reza berdiri, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka penutup itu.
Di dalamnya bukan makanan penutup, tapi sebuah kotak beludru merah terbuka yang memperlihatkan cincin berlian dua karat dengan potongan princess cut yang berkilauan di bawah lampu kristal restoran.
Beberapa pengunjung lain mulai memperhatikan. Ada desisan kagum dari meja di samping mereka.
Reza mengambil kotak itu, lalu berlutut di depan Gita. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar oleh perasaan yang begitu dalam.
"Gita, aku sudah mengenalmu selama setahun. Setahun yang membuatku sadar bahwa hidupku tidak lengkap tanpamu. Aku tahu kau wanita mandiri, wanita kuat yang tidak butuh siapa pun. Tapi aku ingin menjadi orang yang kau butuhkan. Aku ingin menjagamu, melindungimu, membuatmu bahagia setiap hari. Gita, maukah kau menjadi istriku?"
Hening.
Seluruh restoran seolah berhenti bernapas. Kamera ponsel beberapa pengunjung diam-diam merekam momen itu.
Gita menatap cincin itu, lalu menatap Reza. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan—karena ia sudah menduga ini akan terjadi.
Ia wanita cerdas, ia tahu tanda-tandanya. Tapi di matanya ada sesuatu yang sulit dibaca. Bukan kebahagiaan. Bukan haru. Melainkan... perhitungan.
Reza menunggu. Senyumnya perlahan memudar saat detik demi detik berlalu tanpa jawaban.
"Git?" panggilnya lirih.
Gita menghela napas panjang. Ia menutup kotak cincin itu dengan gerakan lembut, lalu menatap Reza dengan tatapan yang terlalu tenang untuk sebuah momen yang seharusnya membahagiakan.
"Bangun dulu, Reza," katanya datar.
Reza tidak bergerak. "Apa maksudmu?"
"Bangun. Kita bicara baik-baik." Gita menekan kata baik-baik dengan nada yang tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.
Perlahan, dengan hati yang mulai terasa berat, Reza berdiri. Ia kembali duduk di kursinya, namun kali ini tubuhnya terasa kaku. Pria yang biasanya penuh percaya diri itu kini terlihat seperti anak kecil yang baru saja dimarahi.
Gita menyilangkan kaki, jari-jarinya merapat di atas meja. Ia berbicara dengan suara yang tenang, terukur, seperti sedang negosiasi kontrak bisnis.
"Reza, aku harus jujur padamu. Aku belum siap menikah."
"Kita sudah bersama setahun—"
"Setahun," potong Gita, "bukan waktu yang lama untuk memutuskan sesuatu sebesar pernikahan. Aku masih punya karir. Aku masih ingin bebas tanpa ikatan."
Reza terdiam. Kata-katanya seperti tertahan di tenggorokan. "Tapi... aku mencintaimu, Git. Aku ingin menjagamu selamanya."
Gita tersenyum. Bukan senyum hangat, tapi senyum yang membuat Reza tiba-tiba merasa dirinya kecil.
"Kau tahu kenapa aku menjalin hubungan denganmu setahun ini?" tanya Gita tiba-tiba.
Reza mengerjap. "Karena kita saling mencintai?"
Gita tertawa kecil. Tawa yang singkat, tanpa makna. "Reza, jangan naif. Aku bersamamu karena kau pria yang tepat. Tampan, kaya, baik, dan... sangat patuh padaku. Hubungan kita ini mutualisme. Kau mendapatkan pacar cantik bergengsi yang bisa kau banggakan, aku mendapatkan fasilitas dan kenyamanan dari seorang pria mapan."
Dunia Reza runtuh.
Ia menatap wanita di hadapannya, wanita yang selama ini ia kira mencintainya, kini berbicara tentang hubungan mereka seperti sebuah transaksi dagang. Ada sesuatu yang pecah di dadanya, tapi di saat yang sama—anehnya—ia tidak marah. Karena cintanya pada Gita sudah terlalu dalam, sudah menjadi buta, sudah menjadi kebutuhan.
"Tapi aku mencintaimu, Git," bisiknya, suaranya yang nyaris hancur.
Gita menghela napas, sedikit terganggu dengan air mata yang mulai menggenang di mata Reza. Bukan karena ia terharu, tapi karena ini mulai rumit. Ia tidak suka yang rumit.
"Reza, dengarkan aku baik-baik," Gita mencondongkan tubuh ke depan, suaranya menjadi lebih lembut—lembut yang dibuat-buat.
"Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau pria yang baik. Tapi aku benar-benar belum siap menikah. Aku tidak mau terikat. Aku tidak mau kehilangan kebebasanku."
"Lalu bagaimana dengan kita?"
Gita diam sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela, ke lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ada sesuatu yang berputar di kepalanya—sebuah ide yang bahkan bagi dirinya sendiri terdengar kejam, namun brilian.
"Ada satu cara agar kita tetap terhubung," ucapnya perlahan.
Reza menatapnya penuh harap. "Apa?"
Gita menghela napas, lalu menatap Reza dengan tatapan yang terlalu tenang. "Kau tahu kan aku punya adik perempuan? Alya."
Reza mengernyit. "Alya? Yang masih SMA itu?"
"Iya. Baru akan lulus tahun ini." Gita menyandarkan punggungnya, jari-jarinya mulai bermain dengan ujung rambutnya—gestur yang ia lakukan saat sedang merumuskan rencana. "Bagaimana kalau kau menikah dengan Alya?"
Udara di restoran itu terasa membeku.
Reza menatap Gita seolah wanita itu baru saja berbicara dalam bahasa asing. "Apa?"
"Menikahlah dengan Alya," ulang Gita dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Dia masih polos, lugu, mudah diatur. Dengan kau menikah dengannya, kau tetap bisa dekat denganku. Kita bisa bertemu kapan saja, dan tidak ada yang curiga karena kau sudah jadi bagian dari keluarga."
"Gita, apa kau sadar apa yang kau katakan?" suara Reza meninggi sedikit, tapi masih terkendali. "Kau menyuruhku menikahi adikmu sendiri hanya agar kita bisa... berselingkuh?"
Gita mengangkat bahu. "Bukan selingkuh. Ini solusi."
"Solusi?" Reza hampir tertawa, tapi tawanya pahit. "Kau bilang kau belum siap menikah, tapi kau menjodohkan adikmu yang masih polos dengan pria yang tidak dicintainya?"
"Reza," Gita mencondongkan tubuh, suaranya berubah menjadi lebih serius, lebih tajam. "Kau bilang kau mencintaiku, kan? Kau bilang kau rela melakukan apa pun demi aku, kan? Nah, ini waktunya buktikan."
Reza terdiam. Ia menatap wanita di depannya, wanita yang ia cintai dengan segenap hatinya, dan untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang selama ini mungkin ia pilih untuk tidak lihat. Ada kekejaman di balik kecantikan Gita. Ada perhitungan di balik setiap senyumannya.
"Tapi Alya... dia punya mimpi, Git. Dia mau kuliah—"
"Kuliah?" Gita memotong dengan nada sinis. "Apa untungnya wanita kuliah? Percuma. Mending menikah dengan pria kayak kau, hidup enak tanpa perlu pusing mikirin masa depan. Aku malah ngasih dia hidup yang lebih baik."
"Apa kau tidak merasa bersalah pada adikmu sendiri?"
Gita tertawa. Kali ini tawa yang benar-benar keluar, tapi terdengar hampa.
"Bersalah? Aku yang membiayai hidupnya selama ini. Sekolahnya, makannya, bajunya—semua dari aku. Dia berutang nyawa padaku, Reza. Sudah saatnya dia membayar."
Reza menggeleng pelan. Wajahnya menunjukkan pergulatan batin yang luar biasa. "Aku tidak bisa, Git. Ini terlalu kejam. Aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak kucintai hanya untuk... untuk ini."
"Kalau begitu, kita selesai." Gita berdiri, meraih tas kecilnya dengan gerakan tegas. "Aku akan pergi. Dan mulai hari ini, jangan pernah menghubungiku lagi."
"Git, tunggu—"
Reza meraih pergelangan tangannya. Gita menoleh, wajahnya dingin, matanya tajam. Ia bukan lagi wanita yang menerima hadiah mahal dan perhatian penuh cinta.
Ia adalah negosiator yang sedang mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan meja perundingan jika tawarannya tidak diterima.
"Lepaskan," ucapnya datar.
Reza tidak melepaskan. Ia menatap Gita dengan mata yang basah, dengan hati yang hancur, dengan cinta yang buta. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini kejam. Tapi rasa takut kehilangan Gita lebih besar dari segalanya.
"Kau yakin ini satu-satunya cara?" bisiknya.
Gita tersenyum. Senyum kemenangan yang samar. "Ini satu-satunya cara agar kita tetap bersama. Kau dapat istri muda yang polos dan bisa kau atur, aku tetap bebas, dan kita tetap bisa bertemu kapan pun kita mau. Win-win solution, Reza."
"Tapi pernikahan itu sakral—"
"Pernikahan itu hanya formalitas," potong Gita dingin. "Yang penting adalah apa yang kita rasakan. Dan kau mencintaiku, kan? Cukup untuk melakukan apa pun?"
Reza terdiam lama.
Lampu-lampu kota di bawah sana terus berkelap-kelip tanpa peduli pada drama yang terjadi di atas sana. Musik piano terus mengalun lembut, tidak tahu bahwa di salah satu mejanya, seorang pria sedang mempertaruhkan integritasnya demi cinta yang buta.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang panjang.
Akhirnya, dengan napas yang berat dan hati yang terasa seperti diinjak-injak, Reza mengangguk pelan.
"Baik. Aku akan lakukan."
Gita tersenyum lebar. Ia duduk kembali, meraih tangan Reza dengan lembut, dan menggenggamnya erat. "Aku tahu kau pasti mengerti. Kau pria yang baik, Reza. Pria yang sangat baik."
Di saat yang sama, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, seorang gadis berusia delapan belas tahun sedang tertawa riang bersama teman-temannya, merencanakan masa depan yang penuh mimpi. Ia tidak tahu bahwa di sebuah restoran mewah di lantai 27, dua orang dewasa sedang menggambar ulang peta hidupnya tanpa izinnya.
Ia tidak tahu bahwa enam bulan kemudian, ia akan berdiri di pelaminan bersama pria yang tidak mencintainya, atas nama kakak yang seharusnya melindunginya.
Dan ia tidak tahu bahwa malam itu, di atas segalanya, kakak kandungnya sendiri baru saja menjualnya dengan harga sebuah kenyamanan.
---
Gita melepaskan genggamannya, meraih gelas wine, dan menyesapnya dengan nikmat. "Minum, Reza. Kita rayakan keputusanmu."
Reza hanya bisa menatap gelas di depannya. Di dalamnya, bayangan dirinya terpantul—pria yang baru saja kehilangan dirinya sendiri demi cinta yang tidak pernah benar-benar ada.
Tapi ia sudah terlanjur tenggelam terlalu dalam.
jangan lupa mampir yaa🤭