seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sementara itu, di rumah Athur yang baru, suasana tampak sangat kontras. Pintu depan terbuka tanpa diketuk. Evan melangkah masuk dengan gaya casual-nya yang santai, memperlakukan rumah mewah Athur seperti miliknya sendiri.
Di ruang tamu, ternyata Athur sudah duduk tenang menantinya setelah kembali dari kediaman Tuan Ganesha. Di sana, Fino juga sedang duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar, asyik mengunyah camilan keripik dengan sudut bibir yang masih diperban akibat perkelahian tadi pagi.
Evan mengembuskan napas panjang, lalu langsung duduk di sofa mewah dan menyodorkan map putih berisi surat perjanjian baru dari pihak sekolah ke atas meja. Ia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa dengan lelah.
"Kamu yang berkelahi, gue yang repot, No," ledek Evan sambil melirik Fino dengan senyum miringnya.
"Lain kali kalau mau hajar orang itu jangan tanggung-tanggung, harus lebih berani lagi. Jangan lembek!"
Fino yang tidak terima dikatai lembek langsung menghentikan kunyahan keripiknya. Ia menegakkan punggungnya dengan gaya tengil andalannya. "Eh, Bang! Lu kan nggak lihat muka dia bonyoknya kayak apa tadi pagi! Bisa-bisa lu nggak percaya kalau gue ini kuat, Bang. Kalau guru-guru nggak datang memisahkan, udah gue bikin dia masuk rumah sakit!" sesumbar Fino berapi-api.
Athur yang mendengar perdebatan garing dan saling ledek antara sahabat dan adik iparnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan pandangan malas.
Tiba-tiba, Evan mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Wajah santainya mendadak berubah menjadi sangat serius. Ia menatap lurus ke arah sepasang mata elang Athur, lalu menunjuk Fino dengan dagunya. "Tapi Thur, bagaimana perasaan lu? Apa benar-benar tidak marah dengan jagoan kecil ini?" tanya Evan dengan nada menyelidik yang sarat akan teka-teki tersembunyi.
Karena hanya Athur dan Evan saja yang tahu fakta besar bahwa Alden—pria kelas 3 yang dihajar habis-habis oleh Fino tadi pagi—adalah adik kandung Athur sendiri.
Athur menatap Evan dengan pandangan datarnya yang sedingin es. "Dia sudah melakukan hal yang benar untuk membela kehormatan keluarganya. Kenapa harus marah?" jawab Athur dengan suara berat yang tenang.
Evan mengernyitkan dahi, merasa tidak puas dengan jawaban santai sahabatnya. "Tapi... dia itu adik kandung lu loh. Beneran lu nggak apa-apa? Selama beberapa tahun ini, bukankah lu sangat menjaga dan melindungi dia dari balik layar agar tidak tersentuh dunia hitam kita?" desak Evan, mencoba memicu respons dari sahanatnya.
Fino yang sejak tadi menyimak perbincangan aneh kedua pria dewasa itu langsung menghentikan tangannya yang hendak mencomot keripik kembali. Kening Fino berkerut dalam. Kepalanya bergerak menatap Evan dan Athur bergantian dengan pandangan bingung sekaligus curiga.
"Bentar, bentar... adik?" potong Fino dengan suara meninggi, menatap tajam ke arah Evan. "Adik siapa yang kalian maksud? Adik siapa yang dihajar?!"
Athur menatap Fino lekat-lekat dari balik meja. Ketegasan, nyali besar, dan kedewasaan yang ditunjukkan olehnya itu dalam membela harga diri keluarganya hari ini membuat Athur mengambil keputusan besar. Athur sadar, Fino sudah bisa melindungi saudaranya. Suatu hari nanti, cowok tengil ini harus menjadi benteng utama untuk melindungi Rara dan Nina saat dirinya tidak berada di samping mereka.
"Fino," suara berat Athur mengalun rendah, memutus ketegangan.
"Aku akan memberitahukan fakta yang mungkin akan membuatmu sedikit terkejut. Cowok kelas tiga yang kamu hajar habis-habisan di koridor mading tadi pagi... dia adalah Alden Louise Kaelan . Adik kandung gua."
Deg.
Fino seketika membeku di atas tikar. Tangannya yang memegang keripik melorot begitu saja ke lantai. Sepasang matanya melebar sempurna dengan rahang yang nyaris jatuh. Kamar yang tadinya dipenuhi canda tawa langsung berubah sunyi senyap.
Ingatan Fino mundur kebelakang saat ijab kabul Kakaknya Rara dan kakak ipar. Nama belakang mereka sama, kenapa sampai tidak menyadari dan mempertanyakan dari awal.
"M-maksud... maksud Abang gimana?" tanya Fino terbata-bata, menatap Athur dengan pandangan tidak percaya.
"Alden? Si anak orang kaya yang sok pahlawan itu adik kandung lu, Bang? Gila... dunia ini beneran sempit banget!"
Evan yang duduk di sofa hanya bisa menghela napas panjang, sementara Athur tetap memasang wajah datarnya tanpa riak penyesalan sedikit pun.
Kembali ke Rara dan Jesika
Sementara itu, di dalam gudang tua yang pengap, Rara masih terus meronta di bawah cengkeraman dua pria bayaran Jesika. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang memerah akibat tamparan keras. Rambut panjang kesayangannya kini sudah terpotong acak-acakan di lantai, menyisakan trauma mendalam di benak remajanya.
Namun, di tengah isak tangis dan rasa takut yang luar biasa, akal sehat Rara tidak mati. Ia teringat akan hadiah gawai baru dari Athur yang tersimpan di dalam saku rok abu-abu kusamnya. Beruntung, kedua tangan Rara tidak diikat.
Saat Jesika sedang asyik memeriksa ketajaman ujung gunting, Akhirnya dia meletakan gunting itu dan menerima pisau yang di sodorkan oleh Tasya. Perhatian Tasya serta Nisa teralih oleh tawa licik mereka, Rara menggerakkan jari-jarinya dengan sangat hati-hati ke dalam saku rok. Tanpa melihat layar, ingatan Rara bergerak cepat menekan tombol pintas panggilan darurat yang sudah disetting khusus ke nomor suaminya.
Di ruang tamu rumah baru, ponsel di dalam saku jaket kulit Athur mendadak bergetar hebat dengan nada dering khusus berkode merah—sinyal bahaya darurat.
Athur langsung menyambar ponselnya. Begitu tombol hijau digeser, tidak ada suara sapaan dari seberang sana. Kamar mewah itu seketika berubah suhu oleh suara statis yang mengerikan, disusul oleh suara yang membuat darah Athur langsung bergolak mendidih ke ubun-ubun.
"Lepasin gue! Jangan sentuh wajah gue, Kak Jesika!!" terdengar suara jeritan Rara yang sangat histeris dari balik pengeras suara gawai.
Plak!
Suara tamparan keras kedua kalinya menggema nyaring, disusul rintihan kesakitan Rara.
"Berisik lu, anak kontrakan sialan! Berani-beraninya lu sebut nama gue! Nisa, liat tuh tangan kotornya megang apa di dalam saku!" bentak suara melengking Jesika dari seberang telepon.
"Eh, dia megang HP baru, Kak! Kurang ajar, dia nelpon seseorang!" teriak Nisa dari dalam rekaman suara.
Brak! Klantang!
Suara Ponsel Rara yang dilempar kasar oleh Nisa terdengar nyaring sebelum sambungan telepon itu mendadak terputus.
Detik itu juga, atmosfer di dalam rumah baru Athur drop ke titik paling mematikan. Fino yang tadi masih syok soal fakta Alden langsung berdiri tegak saat mendengar suara jeritan kakaknya dari ponsel Athur. Cengirannya lenyap total, berganti urat-urat leher yang menegang sempurna.Athur bangkit berdiri dari kursinya.
Aura mafianya keluar sepenuhnya, memancarkan hawa membunuh yang sangat pekat hingga membuat Evan dan Bagas yang baru masuk langsung memasang mode waspada tertinggi."Bagas! Evan! Lacak titik koordinat terakhir dari sinyal gawai Rara sekarang juga!!" bentak Athur dengan suara menggelegar penuh amarah yang menahan ledakan.
"Siap, Bos! Jaringan satelit kita sedang melacaknya!" sahut Bagas cepat, jemarinya bergerak secepat kilat di atas layar laptop enkripsinya. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik hingga sebuah titik merah berkedip di peta digital.
"Ketemu, Bos! Titiknya berada di area gudang tua terbengkalai, tepat di bagian belakang kompleks SMA Garuda!"
Athur menyambar kunci motor sport milik Evan tanpa permisi lagi. Ia menatap Fino dengan pandangan dingin yang sarat akan perintah mutlak.
"Fino, kamu tetap di sini jaga Nina. Urusan bajingan-bajingan di sekolah itu... biar saya yang selesaikan sampai ke akarnya."
Tanpa menunggu jawaban, Athur melesat keluar pintu bersama Evan dan Bagas yang langsung berlari menuju mobil MPV hitam mereka. Raungan mesin motor sport ber-cc besar milik Athur membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh, melaju kencang laksana singa kelaparan yang siap merobek siapa saja yang telah berani menyentuh bidadari pelindungnya.
"Tapi Bang....!" Teriak Fino yang ingin sekali ikut bersama mereka. Tapi logikanya berfikir tidak ada yang menjaga adiknya.
"No, kenapa Bang Athur dan Bang Evan buru-buru banget perginya. Ada apa?" tanya Nina polos yang baru saja turun dari lantai atas.