Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Yang Kacau
Kinara sedikit tak menyangka makan malam di rumahnya kali ini dibuat begitu mewah. Berbagai hidangan tertata rapi di atas meja panjang yang dihiasi taplak putih bersih.
Lilin-lilin ramping diletakkan di beberapa sudut meja, menambah kesan elegan—sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ditemui di rumahnya sendiri.
Bagi Kinara, pemandangan itu terasa asing. Selama tinggal di rumah itu, ia hampir tidak pernah ikut dalam jamuan resmi. Saat Arbian mengundang koleganya, Rani selalu menyuruhnya untuk tetap berada di kamar hingga acara selesai.
Bahkan ketika makan malam keluarga pun, biasanya ia makan sendirian, di pojok ruang dapur atau di kamar, dengan lauk seadanya yang sudah dingin.
Sekali waktu ia mencoba menghangatkan makanan, tapi karena sering pulang dengan perut keroncongan setelah kegiatannya di luar, ia sudah terlalu lelah untuk melakukan itu.
Belum lagi sikap ART di rumah yang memandang rendah dirinya, ikut-ikutan karena melihat bagaimana keluarganya sendiri memperlakukannya seperti apa. Jadi wajar, malam ini terasa sangat aneh baginya. Duduk bersama mereka, seolah-olah ia adalah bagian penting dari keluarga.
Suasana meja makan pun berlangsung. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Hingga akhirnya, suara Rani kembali memecah keheningan.
“Em, Nak Renald,” Rani menoleh sambil tersenyum manis, “sudah berapa lama kamu kenal Kinara?”
Renald yang sedang sibuk memotong steak hanya melirik singkat ke arah Rani. Ia mendesah pelan, lalu memutar bola matanya ke arah Kinara, seolah malas menanggapi pertanyaan itu. “Hmm…” gumamnya pendek. Ia tidak berminat menjawab, membuat suasana kembali canggung.
Rani menyadari dirinya diabaikan, lalu cepat-cepat melirik suaminya. “Duh… Diana ke mana ya, Pa? Kok belum turun juga?”
“Bi, tolong panggilkan Diana,” perintahnya kepada salah satu ART.
Tak lama kemudian, Diana muncul menuruni tangga dengan langkah pelan. Ia langsung menuju meja makan dan duduk tepat berseberangan dengan Renald. Senyumnya merekah, penuh percaya diri seolah pria itu juga punya perasaan yang sama dengannya.
“Hai, Renald. Aku Diana… adiknya Kak Kinara,” ujarnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.
Namun Renald kembali tak menggubris, bahkan tidak berniat menyambut perkenalan itu. Ia hanya menunduk kembali ke piringnya.
Diana mengangkat alis, merasa tertantang. "It's okay Diana. Kamu pasti bisa menaklukkan pria ini… sama seperti dulu kamu bisa menaklukkan Bayu dengan mudahnya." Batinnya sambil tersenyum tipis. "Awas aja kamu ya Renald, aku pasti bisa dapatin kamu dan buat kamu tergila-gila sama aku." Batinnya kembali.
“Kamu sudah hubungi Bayu, Sayang?” tanya Rani dengan nada lembut, langsung menyadarkan Diana yang masih berkutat dengan pikirannya.
“Sudah, Ma. Mungkin Bayu lagi di jalan,” jawab Diana santai.
Seakan menepati ucapan itu, tak lama kemudian salah satu ART datang menghampiri. “Nyonya, Tuan… calon Non Diana sudah datang.”
Tak lama, Bayu masuk dengan wajah sedikit tersenyum sopan. “Selamat malam, Om, Tante. Maaf telat, tadi jalanan macet.”
“Iya, nggak apa-apa Bayu. Silakan duduk,” ujar Arbian ramah.
Bayu duduk di sebelah Diana, membuat wanita itu melirik sekilas ke arahnya. Saat itu juga ia mulai membandingkan antara Bayu dan Renald yang duduk di depannya.
Diana mulai merasa menyesal dengan pilihannya yang pernah mencoba mendekati Bayu. Semakin ia memperhatikan Renald, semakin ia yakin Bayu tak ada apa-apanya. Bahkan saat Bayu datang, Diana hanya menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangan, seolah keberadaan Bayu tak berarti disana.
Makan malam pun terus berlanjut. Arbian berusaha mencairkan suasana dengan obrolan ringan, namun Renald hanya menjawab sekenanya saja. Hal itu membuat Arbian geram karena merasa tak dihargai sebagai tuan rumah.
Tapi ia juga tahu, menunjukkan kekesalannya sama saja bunuh diri. Jika Renald tersinggung, kerjasama bisnis yang ia idam-idamkan bisa saja gagal.
Bayu yang duduk di antara mereka pun merasa tersisih. Semua perhatian keluarga Diana, seolah hanya tertuju pada Renald. Ia merasa kehadirannya disana hanyalah sebagai pelengkap. Hatinya panas, namun ia menahannya.
Hingga akhirnya, ia tak bisa lagi mengendalikan diri. Dengan senyum menyeringai, ia membuka suara. “Kinara… pantas saja kamu betah kerja di sana ya. Ternyata kamu sudah berhasil menggoda pimpinan perusahaan yang sangat terkemuka ini.”
Ucapan itu membuat semua orang terdiam. Kinara membelalakkan mata, tak percaya Bayu berani bicara seperti itu di saat ini. “Apa maksudmu?!”
Bayu menyandarkan tubuhnya santai, menatap Kinara penuh hinaan. “Jangan sok polos, Kinara. Aku nggak akan tertipu lagi dengan wajahmu yang pura-pura mengiba.”
Diana tersenyum puas mendengar ucapan Bayu. Justru ia ingin Bayu terus melanjutkan, agar Kinara semakin jatuh di mata Renald.
Kinara mengepalkan tangannya. Kesabarannya benar-benar habis. Bayu sudah terlalu jauh. Ia hampir bangkit dari kursinya untuk membalas, namun tiba-tiba ia merasakan sentuhan hangat di jemarinya.
“Jangan kotori tanganmu untuk menanggapi manusia bodoh kayak dia.”
Suara berat Renald terdengar jelas di telinganya. Kinara sontak menoleh, mendapati Renald menatapnya dengan mata tajam namun penuh ketenangan. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membelanya.
Bayu tercekat. Ia tidak menyangka Renald akan turun tangan membela Kinara. Wajahnya memerah menahan malu.
Renald berdiri dari kursinya. “Saya rasa makan malam ini cukup sampai di sini." Ia mengulurkan tangannya, membantu Kinara berdiri.
Kinara tertegun sejenak, lalu menyambut tangan itu. Rasanya seperti mendapat kekuatan baru. Ia berjalan berdampingan dengan Renald, meninggalkan meja makan yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Diana menggertakkan giginya. Rasa iri menyelimuti dadanya. Tidak ada yang boleh memberi perhatian pada Kinara. Semua harus jadi miliknya, batinnya penuh amarah.
Arbian menghela napas berat. Dalam hati ia mengutuk kebodohan Bayu. Karena anak itu, makan malam ini berakhir menjadi kacau. Padahal ia berharap banyak dari pertemuan antara ia dan juga Renald.
Rani buru-buru mencoba menahan. “Aduh, Kinara sayang, kenapa buru-buru pergi sih? Mama masih kangen banget sama kamu. Diana juga, kan?”
Ucapan itu membuat bibir Kinara berkedut sinis. Tapi ia memilih diam, hanya tersenyum tipis yang lebih terasa seperti ejekan.
Renald dan Kinara akhirnya benar-benar pergi, meninggalkan ruang makan dengan aura kaku yang tak bisa dipulihkan.
Arbian pun berdiri, meninggalkan meja tanpa sepatah kata. Hatinya masih panas. Rani menyusulnya tak lama kemudian.
Dan kini yang tersisa hanyalah Diana dan Bayu. Diana menatapnya tajam. “Kenapa kamu melihatku?”
“Kamu berani menatapku seperti itu?” Bayu merasa diremehkan.
“Ah udahlah, mending kamu pulang aja Bayu. Makan malam ini juga udah hancur gara-gara kamu,” ujar Diana dingin, lalu bangkit meninggalkan pria itu sendiri
Bayu mengepalkan tangan. “Sial! Semua ini gara-gara Kinara. Lihat aja, Kinara! Aku nggak akan biarin hidup kamu tenang nanti.”
Wajahnya dipenuhi amarah. Kini kebenciannya terhadap Kinara semakin dalam, membakar setiap logikanya.