NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 perasaan buruk

Keesokan paginya Nadia datang ke firma hukum dengan perasaan yang jauh dari kata baik.

Sudah cukup berat baginya untuk kembali menginjakkan kaki di gedung itu setelah semua yang terjadi. Setiap sudut seolah mengingatkannya pada masa-masa ketika ia masih percaya bahwa pernikahannya baik-baik saja. Beberapa karyawan yang melihat kedatangannya langsung menoleh, sebagian berpura-pura sibuk, sebagian lagi menundukkan kepala karena merasa canggung.

Nadia mengabaikan semua tatapan itu dan langsung menuju lantai tempat ruang direktur berada.

Ia tidak datang untuk bekerja.

Ia datang untuk menyelesaikan masalah terakhir sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.

Begitu memasuki ruangan direktur, Nadia langsung duduk tanpa banyak basa-basi.

Wajahnya terlihat dingin.

"Apa sebenarnya yang begitu penting sampai Bapak menahan pengunduran diri saya?"

tanyanya.

Nada suaranya tidak kasar, tetapi jelas menunjukkan bahwa kesabarannya sudah menipis.

Direktur yang duduk di belakang meja kerja memperhatikannya cukup lama sebelum membuka sebuah map tebal.

"Nadia, saya mengerti keadaan Anda."

ucapnya.

"Tapi kali ini posisi firma juga dirugikan."

Kalimat itu langsung membuat Nadia mengernyit.

Dirugikan?

Menurutnya justru dirinya yang paling dirugikan oleh semua keadaan ini.

Direktur lalu memutar map tersebut ke arah Nadia.

Di dalamnya terdapat dokumen perjanjian penanganan perkara yang sudah sangat dikenalnya.

Nadia menatap beberapa lembar dokumen itu dengan bingung sebelum akhirnya matanya berhenti pada tanda tangan miliknya sendiri.

Perlahan ekspresinya berubah.

"Kasus ini..."

gumam Nadia pelan.

Ia mengenali nama perusahaan dan nomor registrasi perkara tersebut.

Sebuah kasus besar yang masuk beberapa minggu lalu.

Kasus yang nilainya sangat tinggi dan melibatkan beberapa pihak penting.

Direktur mengangguk.

"Benar."

"Dan Anda yang menerima penunjukan itu."

Nadia langsung terdiam.

Ingatannya mulai kembali.

Beberapa minggu lalu, tepat sebelum semua kekacauan dalam hidupnya mencapai puncak, ia memang sempat menerima berkas perkara tersebut.

Saat itu kasus tersebut datang hampir bersamaan dengan perkara besar terakhir yang sedang ditanganinya.

Sebagai partner senior, namanya langsung diajukan kepada klien.

Namun setelah itu hidupnya berubah menjadi kacau.

Ia mulai mencurigai Adrian.

Menemukan berbagai petunjuk perselingkuhan.

Lalu pergi ke toko Dior untuk mencari jawaban atas kecurigaannya.

Dan sejak saat itu semuanya seperti runtuh satu per satu.

"Aku bahkan belum bertemu kliennya."

ucap Nadia lirih.

Direktur mengangguk lagi.

"Itulah masalahnya."

"Anda sudah menerima penugasan."

"Kontrak sudah berjalan."

"Klien sudah diberitahu bahwa Anda yang akan menangani perkara tersebut."

Semakin lama Nadia membaca dokumen itu, semakin berat perasaannya.

Karena apa yang dikatakan direktur memang benar.

Secara profesional, kasus tersebut memang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Bahkan terdapat klausul yang menyebutkan bahwa pengunduran diri tanpa penyelesaian atau pengalihan resmi dapat menimbulkan konsekuensi hukum dan finansial bagi pihak yang membatalkan secara sepihak.

Nadia menutup matanya perlahan.

Rasa frustrasi mulai muncul.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dirinya sendiri yang melupakan perkara itu.

Bukan karena lalai.

Bukan karena tidak bertanggung jawab.

Melainkan karena saat itu pikirannya sepenuhnya dipenuhi persoalan rumah tangga yang akhirnya menghancurkan hidupnya.

Direktur memperhatikan wajah Nadia yang semakin pucat.

Nada suaranya kali ini jauh lebih lunak.

"Saya tidak menahan Anda karena ingin mempersulit."

katanya.

"Kalau hanya soal kehilangan satu pengacara, firma masih bisa mencari pengganti."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi perkara ini berbeda."

Nadia membuka matanya perlahan.

Direktur melanjutkan.

"Klien meminta Anda secara langsung."

"Dan sebelum semuanya terjadi, Anda sendiri yang menyetujui penugasan tersebut."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Nadia menatap berkas di depannya cukup lama.

Di dalam hatinya masih ada keinginan untuk meninggalkan semuanya saat itu juga.

Meninggalkan firma.

Meninggalkan kota.

Meninggalkan semua kenangan yang berkaitan dengan Adrian.

Namun bagian profesional dalam dirinya tahu bahwa kali ini direktur tidak sepenuhnya salah.

Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Rasa lelah yang selama ini menghantuinya kembali terasa.

Seolah hidup belum selesai mengujinya.

Saat ia berpikir sudah berada di garis akhir, ternyata masih ada satu urusan lagi yang harus diselesaikan.

Dan kali ini, ia tidak bisa lari darinya.

Karena tanda tangan yang tertera di atas dokumen itu adalah miliknya sendiri.

Nadia kembali membaca dokumen yang berada di hadapannya untuk terakhir kali. Jemarinya menekan pelipis yang terasa berdenyut sejak pagi. Dalam beberapa minggu terakhir hidupnya berubah begitu cepat hingga terkadang ia sendiri merasa kesulitan mengejar semua yang terjadi.

Perceraian.

Pengunduran diri.

Kehamilan yang tidak pernah ia duga.

Dan kini sebuah kasus besar yang seolah menahannya untuk tetap berada di firma lebih lama.

Semua datang bertubi-tubi tanpa memberinya waktu untuk bernapas.

Direktur tetap duduk dengan tenang menunggu keputusan Nadia.

Ia mengenal wanita itu cukup lama untuk mengetahui bahwa ketika Nadia sedang mempertimbangkan sesuatu, tidak ada gunanya mendesak atau membujuk lebih jauh.

Pada akhirnya, Nadia selalu mengambil keputusan berdasarkan logika dan tanggung jawabnya sendiri.

Beberapa menit kemudian Nadia menutup map tersebut perlahan.

Tatapannya beralih kepada direktur.

"Baik."

Suara itu terdengar tenang meskipun kelelahan masih jelas terlihat di wajahnya.

"Saya akan menangani kasus ini."

Direktur menghela napas lega.

Namun sebelum ia sempat berbicara, Nadia kembali melanjutkan.

"Tapi hanya kasus ini."

Tatapannya tegas.

"Setelah selesai, saya tidak akan menerima klien baru, tidak akan mengambil perkara tambahan, dan saya tidak ingin ada alasan lain untuk menahan saya di firma."

Direktur menganggukkan kepala.

Kali ini tanpa ragu.

"Saya berjanji."

jawabnya.

"Begitu kasus ini selesai dan proses transisi berkas dilakukan, surat pengunduran diri Anda akan saya keluarkan."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan Anda bebas pergi kapan pun Anda mau."

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, Nadia merasa sedikit lebih tenang.

Meski tidak sepenuhnya puas, setidaknya kini ada batas yang jelas.

Ia tidak perlu terus terjebak dalam ketidakpastian.

Hanya satu perkara.

Satu tanggung jawab terakhir.

Lalu semuanya selesai.

Direktur kemudian mendorong sebuah berkas lain ke arahnya.

Di bagian atas dokumen itu tertulis nama klien yang akan ditanganinya.

Revano Ravendra.

Pewaris utama Grup Ravendra.

Salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.

Nama yang cukup sering muncul dalam berita bisnis beberapa tahun terakhir.

Nadia pernah mendengarnya, tetapi tidak pernah memiliki hubungan profesional secara langsung dengan pria tersebut.

"Klien sudah berada di ruang VIP sejak pagi."

kata direktur.

"Dia datang sendiri untuk memastikan Anda yang menangani kasus ini."

Nadia sedikit mengernyit.

Biasanya klien sebesar itu akan mengirim perwakilan atau tim hukum internal terlebih dahulu.

Namun pria ini justru datang langsung.

Direktur tersenyum tipis.

"Saya sarankan jangan membuatnya menunggu terlalu lama."

Nadia mengambil berkas itu dan berdiri dari kursinya.

Meski hatinya masih dipenuhi berbagai masalah pribadi, naluri profesional yang selama bertahun-tahun ia bangun perlahan kembali muncul.

Untuk beberapa jam ke depan, ia bukan mantan istri Adrian.

Bukan wanita yang baru mengetahui dirinya hamil.

Dan bukan korban perselingkuhan.

Ia adalah Nadia Ardiansyah.

Pengacara terbaik firma tersebut.

Dengan langkah tenang, Nadia berjalan keluar dari ruang direktur menuju ruang VIP tempat kliennya menunggu.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuan yang akan terjadi beberapa menit lagi bukan hanya akan menjadi awal dari kasus terakhirnya di firma.

Melainkan juga awal dari babak baru dalam hidupnya yang selama ini ia kira sudah berakhir.

Sementara itu, di apartemen Adrian, suasana masih terasa canggung meskipun beberapa minggu telah berlalu sejak semua masalah itu terbongkar. Rumah yang dulu terasa hangat kini lebih sering dipenuhi keheningan yang tidak nyaman.

Pagi itu Bianca sejak awal sudah berada di dapur. Ia menghabiskan waktu cukup lama menyiapkan berbagai makanan yang pernah didengarnya menjadi favorit keluarga Adrian. Sup hangat, lauk sederhana, hingga beberapa camilan yang biasa disukai ibu Adrian tersusun rapi di atas meja makan.

Di dalam hatinya masih tersimpan harapan kecil.

Harapan bahwa suatu hari keluarga Adrian akan mau menerimanya.

Meskipun harapan itu terasa semakin sulit diwujudkan.

Bianca menatap hasil masakannya dengan perasaan campur aduk.

Belakangan ini ia sering memikirkan kondisi ayah Adrian yang masih menjalani perawatan dan hubungan Adrian dengan keluarganya yang semakin memburuk.

Ditambah lagi rahasia yang masih ia simpan sendiri.

Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh perutnya.

Gerakan yang sangat kecil.

Namun cukup menunjukkan apa yang sedang memenuhi pikirannya.

Saat Adrian keluar dari kamar dan melihat meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan, langkahnya langsung terhenti.

Wajahnya yang sejak beberapa hari terakhir selalu terlihat muram berubah semakin serius.

"Apa ini?"

tanyanya pelan.

Bianca berusaha tersenyum.

"Aku berpikir mungkin kita bisa menjenguk ayahmu hari ini."

ucapnya hati-hati.

"Aku juga membuat beberapa makanan untuk ibumu."

Namun semakin ia berbicara, semakin jelas perubahan ekspresi Adrian.

Bukan senang.

Bukan terharu.

Melainkan kegelisahan.

"Bianca."

Suara Adrian terdengar berat.

"Kita tidak bisa ke sana."

Kalimat itu membuat senyum di wajah Bianca perlahan menghilang.

"Kenapa?"

Adrian menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Ia terlihat jauh lebih lelah dibandingkan beberapa bulan lalu.

Bahkan lingkaran hitam di bawah matanya kini semakin jelas.

"Karena ayahku bahkan tidak mau melihat wajahku."

ucapnya jujur.

"Aku datang ke rumah sakit dan beliau menyuruhku pergi."

Bianca langsung terdiam.

Meski ia sudah menduga keadaan keluarga Adrian sangat buruk, mendengar kenyataannya secara langsung tetap membuat dadanya terasa sesak.

"Ayah dan ibu masih sangat marah."

lanjut Adrian.

"Mereka bahkan belum mau berbicara denganku."

Tatapannya kemudian jatuh ke arah meja makan.

"Aku tidak bisa membawa kamu menemui mereka sekarang."

Bianca menundukkan kepala perlahan.

Hatinya terasa berat.

Karena meskipun Adrian tidak mengatakannya secara langsung, ia memahami maksud dari kalimat tersebut.

Keluarga Adrian belum menerima dirinya.

Mungkin bahkan belum siap mendengar namanya disebut.

Keheningan memenuhi ruangan beberapa saat.

Sampai akhirnya Bianca berbicara dengan suara pelan.

"Kalau mereka tahu..."

Kalimat itu terputus di tengah jalan.

Namun Adrian langsung memahami apa yang ingin dikatakannya.

Wajah pria itu langsung menegang.

Pandangan mereka bertemu.

Dan untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Karena keduanya memikirkan hal yang sama.

Kehamilan yang masih mereka rahasiakan.

"Aku justru lebih khawatir kalau mereka tahu sekarang."

ucap Adrian akhirnya.

Suara yang keluar terdengar lelah.

"Saat ini mereka bahkan belum mau menerimaku."

Ia menundukkan kepala.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka jika mengetahui semuanya sekaligus."

Bianca menggigit bibir bawahnya pelan.

Tangannya kembali bergerak menyentuh perutnya tanpa sadar.

Ada rasa takut yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Karena semakin hari, ia mulai menyadari bahwa kehidupan yang dulu dibayangkannya bersama Adrian ternyata tidak semudah yang ia pikirkan.

Tidak ada kebahagiaan seperti yang diimpikannya.

Tidak ada penerimaan.

Tidak ada restu.

Yang ada hanyalah luka yang terus membesar di berbagai sisi.

Sementara Adrian duduk diam menatap meja makan yang telah disiapkan Bianca dengan penuh perhatian.

Namun pikirannya justru melayang jauh.

Entah mengapa, saat melihat hidangan hangat di hadapannya, ia kembali teringat pada Nadia.

Pada pagi-pagi ketika wanita itu diam-diam menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja.

Pada perhatian-perhatian kecil yang dulu selalu ada dan kini telah hilang.

Dan untuk pertama kalinya, Adrian mulai menyadari bahwa beberapa kehilangan mungkin tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!