seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 21
Ding!
[Mengaktifkan Profesi Minggu 4: Dokter Spesialis Bedah Jantung Tanpa Pisau.]
[Sinkronisasi Pengetahuan dan Kemampuan Dimulai...]
Pengetahuan Medis Spiritual Dewa (Menguasai anatomi tubuh manusia, ratusan ribu jenis penyakit, kompilasi racun kuno, serta teknik bedah tanpa alat medis konvensional).
Mata Pemindai Sinar-X (Mampu melihat sirkulasi darah, penyumbatan pembuluh jantung, dan organ dalam pasien hanya dengan pandangan mata).
Sentuhan Pemurni Qi (Menggunakan energi murni dari 'Tubuh Baja Dewa' untuk meregenerasi sel mati dan menghancurkan zat beracun langsung dari dalam tubuh).
[Fasilitas yang Diberikan: Satu set ID Card Dokter Spesialis Tamu Kehormatan atas nama Dr. Kevin Wijaya, M.D., Ph.D. di Rumah Sakit Pusat Medika Depok (Telah terdaftar resmi di database Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan rekam jejak fiktif paling jenius di abad ini).]
[Misi Minggu 4: Selamatkan Jenderal (Purn) Wijaya Senior dari kematian dalam waktu 48 jam dan temukan dalang di balik penyebaran racun esktrak kelopak hitam.]
[Hadiah Misi: Kepemilikan Sah 51% Saham Rumah Sakit Pusat Medika Depok dan Kunci Brankas Logam Mulia seberat 10 Kilogram.]
Kevin mengembuskan napas berat.
Pagi itu, dia tidak lagi mengenakan jaket ojol atau celemek nasi goreng, melainkan kemeja necis berlapis jas putih dokter yang sangat pas di tubuh atletisnya.
Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, menambah kesan genius dan dingin khas dokter spesialis papan atas.
Saat melangkah masuk melalui pintu lobi utama Rumah Sakit Pusat Medika Depok, semua perawat dan dokter muda mendadak menoleh.
ID card berkilau di dadanya langsung membuat satpam memberikan hormat tegak.
Namun, ketenangan rumah sakit itu buyar ketika dari arah pintu darurat, sekelompok pria berjas hitam memotong jalur ambulan.
Mereka mengawal sebuah tempat tidur yang didorong tergesa-gesa.
Di atas tempat tidur, seorang pria sepuh dengan sisa-sisa wibawa militer yang kuat tampak kejang-kejang.
Kulitnya membiru ekstrem, dan dari sudut bibirnya keluar busa tipis berwarna hitam pekat.
"Kakek! Kakek bertahan, Kek!" tangis seorang gadis pecah di samping tempat tidur.
Kevin menoleh.
Benar saja, itu Viola.
Di belakangnya, Pak Herman berjalan dengan wajah pucat pasi sembari menelepon seseorang dengan tangan bergetar.
"Dokter! Cepat selamatkan ayah saya! Jantungnya berhenti berdetak!"
teriak Pak Wijaya histeris kepada barisan dokter jaga ICU yang langsung berhamburan.
Direktur Utama RS Medika, Dr. Handoko, yang kebetulan berada di lobi, langsung memeriksa denyut nadi sang Jenderal sepuh.
Wajahnya seketika berubah muram setelah melihat monitor portabel.
"Saturasi oksigen di bawah empat puluh persen."
Terjadi gagal jantung total akibat syok anafilitik yang tidak diketahui.
"Peluang hidup... kurang dari lima persen. Siapkan ruang operasi darurat sekarang!"
"Bukan syok anafilitik, Dok. Itu gagal fungsi organ akibat racun eksktrak kelopak hitam tingkat tiga,"
sebuah suara bariton yang berat dan tenang menginterupsi perdebatan para dokter.
Semua orang menoleh, termasuk Viola yang matanya sembab karena air mata.
Ketika matanya menangkap sosok tinggi tegap berjas dokter di depannya, Viola terperangah sampai lupa cara menangis.
"M-Mas Kevin? Kok... pakai baju dokter?"
Pak Herman pun tak kalah syok.
"Nak Kevin? Kamu... ada di sini?"
Dr. Handoko mengernyitkan dahi dengan sangat dalam, menatap Kevin dengan pandangan tersinggung.
"Siapa Anda?! Berani-beraninya mengacaukan penanganan darurat pasien VVIP!"
"Kelopak hitam apa?
"Jangan mengarang cerita mistis di rumah sakit saya!"
Kevin tidak meladeni debat kusir itu. Dia melangkah maju.
Mata Pemindai Sinar-X miliknya aktif.
Di sudut pandangnya, jantung kakek Viola terlihat jelas dikelilingi oleh cairan hitam pekat seperti tinta yang sedang menggerogoti dinding arteri koroner, menyumbat aliran darah secara paksa menuju otak.
"Saya Dr. Kevin Wijaya, spesialis bedah jantung konsultan dari lembaga pusat,"
Kevin menunjukkan ID card emasnya dengan gerakan cepat yang berwibawa.
"Jantung Jenderal Wijaya akan meledak dalam waktu tiga menit jika Anda membedahnya menggunakan pisau bedah biasa."
"Biarkan saya yang memimpin operasi ini sendirian."
"Hah? Operasi sendirian tanpa asisten? Tidak masuk akal! Ini melanggar protokol medis!" bantah Dr. Handoko keras.
Namun, Pak Herman yang teringat bagaimana Kevin menghajar lima penculik bersenjata di GDC dan melacak posisinya secara magis, langsung mengambil keputusan ekstrem.
Dia mencengkeram kerah baju Dr. Handoko.
"Diam, Handoko! Berikan ruang operasi pada Dr. Kevin sekarang!"
"Jika terjadi sesuatu pada ayah saya, saya yang bertanggung jawab penuh!"
Di bawah tekanan sang konglomerat, Dr. Handoko terpaksa mengalah dengan wajah merah padam karena kesal.
Dua menit kemudian, di dalam Ruang Operasi Nomor 1 yang steril.
Lampu operasi bundar yang besar menyala terang.
Jenderal Wijaya Senior terbaring kaku di atas meja operasi dengan elektroda menempel di dadanya.
Monitor EKG mengeluarkan suara statis berbunyi panjang:
Beeeeeeeeeeep... Garis di layar datar sempurna. Jantung sang Jenderal telah berhenti total.
Dari balik kaca ruang observasi di lantai atas, Dr. Handoko, Pak Wijaya, dan Viola menonton dengan napas tertahan.
Dr. Handoko tersenyum sinis, siap melihat "dokter gadungan" ini mempermalukan dirinya sendiri karena tidak menyentuh peralatan bedah sama sekali.
Kevin berdiri di samping pasien. Dia melepas sarung tangan karetnya, membiarkan tangan telanjangnya terbuka.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi murni dari Tubuh Baja Dewa menuju sepuluh ujung jarinya.
Aura keemasan tipis yang tak kasat mata oleh manusia biasa mulai berpendar hangat.
"Sistem, aktifkan isolasi ruang operasi dari kamera pengawas," batin Kevin.
[Merespons. Rekaman CCTV diacak dalam mode statis selama 10 menit ke depan.]
"Saatnya melakukan bedah dewa," gumam Kevin.
Kevin meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada kiri Jenderal Wijaya tanpa melakukan sayatan sedikit pun.
Menggunakan kemampuan Sentuhan Pemurni Qi, tangan Kevin seolah-olah menembus batas dimensi fisik kulit dan tulang rusuk sang Jenderal.
Di dalam struktur organ, energi murni Kevin melesat langsung mengunci cairan racun hitam yang menyelimuti jantung.
Dengan kendali mikro yang luar biasa halus, Kevin mulai mengikis racun tersebut, mengubah zat kimia mematikan itu menjadi uap tak berbahaya yang perlahan diserap oleh energi murninya.
Di ruang observasi, Dr. Handoko terbelalak hingga kacamatanya hampir merosot.
"A-Apa yang dia lakukan? Dia cuma menempelkan tangan seperti dukun?"
" Kenapa dia tidak melakukan torakotomi (pembedahan dada)?!"
Namun, sebelum kalimat sinis Dr. Handoko selesai, monitor EKG di ruang operasi mendadak berkedip.
Pip... Pip... Pip...
Garis datar itu mulai membentuk bukit dan lembah bergelombang kembali.
Detak jantung yang tadinya mati, mendadak berdenyut dengan ritme yang sangat kuat dan stabil.
Warna kulit Jenderal Wijaya yang tadinya membiru pekat, perlahan kembali memerah segar seiring mengalirnya oksigen bersih ke seluruh tubuh.
"Mukjizat... Detak jantungnya kembali! Saturasi naik ke sembilan puluh delapan persen!"
teriak perawat instrumen di dalam ruangan dengan nada tidak percaya.
Kevin menarik kembali tangannya, menyeka keringat tipis di dahinya.
Dengan Mata Pemindai Sinar-X, dia melihat jantung sang Jenderal kini bersih total, bahkan sel-sel jantungnya yang sempat rusak kini beregenerasi menjadi sepuluh tahun lebih muda.
Namun, tepat ketika Kevin hendak berbalik untuk membuka pintu ruang operasi, Indra Pengecap dan Sensorik Tingkat Dewa miliknya mendadak menangkap aroma aneh dari arah ventilasi udara ruang operasi.
Itu adalah aroma halus dari zat yang sama dengan racun di jantung sang Jenderal ekstrak kelopak hitam.
Seseorang sengaja melepaskan gas racun dosis mikro ke dalam sistem ventilasi ruangan untuk memastikan sang Jenderal tidak akan pernah keluar dari kamar operasi dalam keadaan hidup.
Kevin melirik ke arah kaca ruang observasi atas.
Di sudut ruangan, salah satu dokter senior berwajah pucat tampak sedang memegang sebuah remote kontrol kecil dengan tangan gemetar sembari menatap monitor EKG yang kembali normal dengan pandangan syok.
Kevin menyeringai dingin di balik masker medisnya.
"Ketemu lu, tikus rumah sakit."
#NOTE
Siapakah dokter pengkhianat yang menjadi kaki tangan faksi rahasia Depok untuk menghabisi nyawa sang Jenderal Besar?