Hanya karena menikah dengan pria miskin, Vilia harus mendapatkan perlakuan tak adil dari ibunya yang hanya menyayangi kakaknya karena menikah dengan orang kaya. Tak hanya itu, dia juga mendapatkan perlakuan tak enak dari para tetangganya.
Sakit, namun Vilia tetap bersabar hingga akhirnya dia dapat menunjukkan pada semua orang bahwa dia tak salah pilih suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah lagi?
"Mbak Maira gimana, sih, suami selingkuh malah jangan kasih tau Ibuk!" Vilia menggerutu sambil meletakkan ponselnya dengan kesal.
"Hah? Jadi Maira tahu kalau suaminya selingkuh? Tapi, Vil, bukannya mereka itu pasangan paling harmonis, ya?" Siska terkejut mendengar ucapan Vilia.
"Yang terlihat belum tentu benar, Sis. Sebenarnya udah lama aku melihat keanehan di rumah tangga mereka. Aku kasihan sama Mbak Maira, tapi dia sendiri yang memilih bertahan sama suaminya. Aku tahu, alasannya karena dia malu sama orang-orang yang mengenal mereka. Apalagi Ibuk pasti marah kalau dia dan Mas Arvan sampai bercerai." Vilia menghembuskan nafas panjang.
"Mas, aku mau makan ini, aku ngidam," ucap wanita yang terus menempel pada Arvan.
"Hamil? Wanita itu hamil? Jangan-jangan mereka...."
"Iya, Sayang. Kamu boleh makan apapun yang kamu mau."
"Makasih, suamiku sayang."
Mendengar kata suami, mata Siska dan Vilia pun membola sempurna. Tak hanya selingkuh, ternyata Arvan sudah menikahi wanita itu.
"Astaghfirullah, Mas Arvan tega banget," ucap Vilia dengan mata berkaca-kaca.
Dia pun menelpon sang suami untuk meminta izin.
"Halo, Mas, aku boleh ngereog, nggak?"
[Hah? Kenapa, Sayang? Kamu marah sama siapa?]
"Mas Arvan ternyata udah menikah lagi, Mas! Aku nggak terima kakak aku disakitin!"
[Sabar, Sayang, jangan gegabah. Yang ada nanti keluarga kita yang malu jadi tontonan publik.]
"Terus aku harus gimana dong, Mas? Aku nggak mau kakakku disakitin kayak gini." Vilia mulai menangis hingga membuat Vira dan anak Siska melongo.
[Istighfar, Vil. Ingat Bapak dan Ibu. Ingat Mbak Maira dan anak-anaknya. Kita selesaikan aja masalah ini secara kekeluargaan.]
"Ya udah, Mas, nanti kita ngobrol lagi di rumah."
Vilia segera mematikan ponselnya dan menghela nafas panjang.
"Nggak dibolehin, Sis. Mas Fahri bener juga, kalau sampai aku melakukan itu, sama saja aku membongkar aib keluarga kami, Astaghfirullah." Mengusap wajahnya pelan.
"Sabar, Vil, sebaiknya kalian berundingkan saja secara kekeluargaan tentang masalah ini. Kamu foto mereka dan katakan sama orang tua kamu."
"Iya, Sis, meskipun nantinya ini akan menyakiti hati Mbak Maira, tapi ini semua demi kebaikannya. Untuk apa dia berlama-lama dalam perasaan sakit ini? Aku nggak peduli jika Akhirnya Mbak Maira membenci aku. Yang terpenting aku bisa menyelamatkan hidupnya dari kesengsaraan ini."
Mereka tidak sekalipun menegur Arvan dan istri sirinya itu. Bahkan, mereka sengaja menunggu pasangan itu pulang, lalu setelahnya mereka ikut pulang.
"Vira, Ibuk mohon agar kamu jangan mengatakan hal tadi sama siapapun. Kamu ngerti, kan, Sayang?"
"Ngerti, Buk. Vira nggak boleh ngomong kalau tadi Om Arvan sama temennya, kan?"
"Iya, Sayang. Soalnya temen Om Arvan suka nyuntik, nanti Vira disuntik lagi."
"Ih, takut ah, Buk. Iya Vira nggak bakalan bilang sama siapa-siapa."
"Untung saja Vira nurun ayahnya jadi bisa jaga rahasia. Kalau nurun kamu, pasti udah tersebar kemana-mana tuh."
"Apa sih, fitnah banget."
"Memang bener."
"Hisss.."
Sesampainya di rumah, mereka langsung berpisah. Fahri yang baru pulang langsung diajak filia berbicara di dalam kamar mengenai hal yang tadi dilihatnya. Juga tentang kekerasan yang dilakukan oleh Arvan tempo hari.
"Eh, Tapi waktu tadi ditelepon kok kayaknya kamu nggak kaget, Mas?" tanya Vilia heran.
"Aku udah tahu dari lama. Bahkan sebelum kamu menaruh curiga pad hubungan mereka."
"Apa?"