Karya ini menceritakan tentang kehidupan seorang manusia yang sulit bahkan hampir tidak mau berbaur dengan sesama. Bahkan selama hidupnya, hanya ia habiskan untuk keluarganya saja. Kehidupan dengan tetangga dan sekitar tak ia pedulikan. Bahkan untuk menyapa pun sangat enggan dilakukan. Hingga akhirnya ia di temukan telah mati membusuk dirumahnya. Tak ada seorang pun yang mengetahui akhir hayatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Di Temani Bu Nuri
Pagi-pagi sekali, Mira sudah duduk di meja makan. Bahkan sudah rapi memakai seragam sekolahnya. Padahal jam dinding masih menunjukkan pukul lima pagi. Aku saja baru bangun untuk menunaikan shalat subuh.
"Kok tumben, biasanya paling susah di bangunkan." ejekku pada Mira. Mira hanya menoleh sekilas, lalu kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
"Bu, tungguin, ya."
Ku lihat Ibu yang sedang memanaskan air untuk menyeduh kopi milik Bapak di dapur.
"Tungguin apa toh, Nduk. Sudah pagi, lo." jawab Ibu.
"Aaaahh... pokoknya tungguin. Ayu takut, Bu." bisikku perlahan, takut terdengar Mira yang akan menjadi bahan ledekan olehnya.
"Iya, iya. Sudah sana buruan."
Bergegas aku mandi dengan terburu-buru. Kali ini aku tak berani memejamkan mata. Menyabun dan berkeramas pun aku dengan mata terbuka. Biarlah pedih, yang pasti aku tidak akan melihat Bu Nuri lagi di kamar mandi. Apalagi kakinya yang panjang menjuntai tepat di depan mataku.
"Loh, sudah selesai? Apa bersih mandimu, Nduk?" ujar Ibu. Aku hanya nyengir menanggapi pertanyaan Ibu.
Ku tengok Mira yang masih dalam posisi yang sama. Meletakkan kepala di meja sambil tangannya memainkan sendok di meja. Tak ku hiraukan dia, aku bergegas berganti pakaian dan menunaikan kewajiban pagi.
"Bapak mana, Bu?" tanyaku setelah selesai shalat dan ikut duduk bersama Mira di meja makan.
"Masih di masjid, Nduk." jawab Ibu.
"Kok lama? Biasanya jam segini sudah pulang." ungkapku.
"Ndak tahu, Nduk. Tumben ini lama." Ibu juga tampak sedikit gelisah, sesekali menengok ke ruang tamu barangkali sudah terlihat Bapak berjalan dari kejauhan.
"Kamu kenapa, Mir?" akhirnya aku bertanya pada adikku karena penasaran. Biasanya dia yang paling ramai di rumah. Namun kali ini dia tampak diam saja.
"Ndak bisa tidur aku, Mbak." jawabnya singkat.
"Kenapa?" aku semakin penasaran.
"Di tungguin sama Bu Nuri aku semalaman." jawabnya enteng membuatku menyemburkan teh hangat yang baru Ibu siapkan untukku.
"Ih, Mbak Ayu jorok. Kena Mira kan." sungutnya.
"Di tungguin dimana, Mir?" tanyaku penasaran.
"Ih, mau tahu saja, Mbak Ayu, nih."
Rupanya dia masih kesal perihal teh yang muncrat ke bajunya. Lagian, siapa suruh pagi-pagi membuat huru hara dengan bercerita kalau di tunggui oleh hantu Bu Nuri semalaman.
"Mbak tanya serius, Mir. Kamu di tunggui dimana?" kali ini aku mulai kesal.
"Di pojokan kamar. Dia berdiri kaya patung, tapi mukanya Mira nggak lihat. Seperti biasa, rambutnya sebagian menutupi wajahnya. Tapi Mira yakin kalau itu Bu Nuri." jawabnya antusias.
"Lalu, kamu kok nggak teriak?" tanyaku heran.
"Teriak untuk apa, sih, Mbak. Dia nggak ganggu Mira, dia hanya menunggui Mira saja di pojokan." jawabnya.
"Kamu ndak takut?"
Mira mengangkat bahu.
"Ya, sedikit." jawabnya enteng.
"Kalau ndak takut kenapa nggak bisa tidur?" tanyaku.
"Bau bangkai, Mbak. Mira nggak bisa tidur karena bau bangkai di kamar Mira. Pusing kepalaku, sampai sekarang juga masih mual dan pusing." jawabnya sambil kembali meletakkan kepalanya di meja dengan bertumpuan pada lengan tangannya.
Heran aku di buatnya, bisa-bisanya semalaman di tunggui hantu Bu Nuri tetapi Mira sama sekali tidak berteriak. Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah pingsan di buatnya. Hanya saja, setiap kali aku bertemu hantu Bu Nuri, aku susah sekali untuk pingsan. Bahkan untuk berpura-pura pingsan pun aku tak bisa.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam dari depan. Pintu ruang tamu pun di buka dari luar.
"Bapak. Tumben sekali lama dari Mushalanya.?" tanya Mira penuh selidik. Ibu bangkit dan meraih sajadah dari tangan Bapak.
"Tadi di jalan Bapak ketemu Pak Sugeng." jawab Bapak singkat. Bapak meneguk habis kopi yang sudah mulai dingin karena Ibu sudah membuatnya sekitar setengah jam yang lalu.
"Memangnya apa yang membuat Bapak lama?" tanya Ibu.
"Bapak di minta untuk membantu mengurug makam Bu Nuri. Makamnya njeblos." jawab Bapak.
"Hah, lagi?" aku dan Mira hampir bersamaan. Bapak mengangguk.
"Pantesan aja kuburannya njeblos berkali-kali, orang yang punya aja keluyuran terus tiap hari." ucap Mira seolah tak takut dengan apa yang terjadi.
"Hush, ndak baik bicara seperti itu." potong Ibu.
"Memang kenyataannya seperti itu, Bu. Lagi pula semalam hantu Bu Nuri berada di kamarku sampai menjelang pagi. Jadi, kuburan yang bolong itu sebagai sarana dia untuk keluar masuk dari liang lahat." ucap Mira tanpa penghalang.
"Memangnya sejak kapan kamu di tunggui oleh Bu Nuri, Mir?" tanya Bapak.
"Semalaman, Pak. Sampai Mira tidak bisa tidur." sungutnya kesal.
"Kenapa tidak tidur? Kamu takut?" tanya Bapak. Mira menggeleng.
"Bau, Pak. Bau busuk sekali kamar Mira semalam. Mira sampai mual sampai sekarang, makanya nih, sarapan Mira tidak Mira makan. Masih jijik dan mual rasanya." jelasnya panjang lebar. Bapak dan Ibu hanya geleng-geleng kepala keheranan dengan tingkah putri bungsunya.
"Memangnya separah apa, Pak?" kali ini giliran Ibu yang bertanya. Bapak mengehela nafas panjang. Sepertinya agak berat untuk bercerita.
"Seperti kemarin, Bu. Seperti meledak dari dalam. Bahkan patok kayunya pun ikut terlempar jauh." ucap Bapak.
"Astaghfirullah." Ibu mengelus dada, tampak sekali keprihatinan dalam dirinya.
"Lebih parah lagi, Bu. Aroma makamnya berbau gosong. Bapak sampai pusing di buatnya." ujar Bapak sambil memegangi perutnya.
"Gosong?" aku, Ibu dan Mira hampir bersamaan. Bapak mengangguk.
"Sama seperti bau daging yang terbakar. Kira-kira seperti itu." jawab Bapak.
Ya Allah, adzab seperti apa yang sedang di terima oleh Bu Nuri saat ini. Tanpa sadar aku menangis. Memegang dada karena menahan sesak mendengar kisah setelah mati seseorang yang begitu kita kenal.
"Memangnya seberapa jahatnya Bu Nuri terhadap tetangga, Bu?" tanyaku penasaran.
Ibu menerawang jauh, membayangkan masa dimana pertama kali Bu Nuri datang ke desa kami.
"Dari jaman dahulu, beliau memang tidak suka bersosialisasi. Beliau tidak mau mengenal para tetangga. Bahkan untuk sekedar menyapa ia enggan. Sama, suaminya pun juga." ujar Ibu.
"Lalu, apakah suami Bu Nuri juga gentayangan setelah mati?" tanya Mira mewakili pertanyaanku.
"Kejadiannya hampir sama. Hanya saja, tidak ada yang berani membicarakan hantu Pak Darsi, suami Bu Nuri saat itu. Karena dia pasti akan marah besar dan melaporkan siapa saja yang berani menyebut nama suaminya ke polisi." ujar Ibu.
"Lalu, apakah semua di proses oleh polisi?" tanya Mira.
"Awalnya, iya. Tapi lama kelamaan tidak. Entah bagaimana akhirnya, hingga teror Pak Darsi menghilang dengan sendirinya setelah sekian lama." ujar Ibu. Aku tak mengingat dengan pasti soal hantu gentayangan almarhum suami Bu Nuri. Yang ku tahu, mereka berdua tak pernah menyukai anak-anak.
Kata Bapak, duli pernah Toro dan Toni, umurnya jauh beberapa tahun di atasku, melempari rambutan milik Bu Nuri yang memang menjuntai ke luar pagar rumah Bu Nuri. Dengan wajah garangnya, Pak Darsi dan Bu Nuri tega mengusir mereka dengan kasar. Bahkan tega melempari anak-anak itu dengan bebatuan dari halaman rumah mereka. Tak hanya itu, mereka berdua menyiramkan air kotor bekas cucian mobil ke arah anak-anak yang memang pada saat itu gemar sekali melakukan hal-hal seperti itu.
by the way ,cerita ini tamat kah krn kampung nya sudh jadi kampung mati.Mira dan Ayu pun sudah dewasa dan berkeluarga...😗
maghrib maghrib udh keluyuran 👻👻👻