NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Menolak Perjodohan

Lalu ia menutup layar HP tanpa ekspresi.

Keesokan harinya, Keira tidak menunggu Rayhan di lobby HEALER.

Setelah rapat sore selesai, ia turun bersama beberapa rekan kerja dari divisi fragrance development. Tari berjalan di sampingnya sambil membawa map sampel. Saat Range Rover hitam Rayhan berhenti di depan gedung, Keira hanya menoleh sekali.

Rayhan turun dari mobil. Wajahnya langsung berubah ketika melihat Keira tidak berjalan ke arahnya.

"Kei."

"Aku pulang dengan tim," kata Keira.

"Aku bisa antar."

"Tidak perlu."

Rekan-rekan HEALER di belakang Keira pura-pura sibuk melihat ponsel, tetapi telinga mereka jelas terbuka. Rayhan menahan langkah. Ia masih ingin bertanya apa salahnya kali ini. Namun setelah Bali, ia belajar bahwa kalimat "kenapa lagi" bisa menjadi pisau yang ia lempar sendiri.

"Baik," katanya akhirnya. "Kabari kalau sudah sampai."

Keira tidak menjawab ya. Ia hanya masuk ke mobil kantor bersama Tari.

Rayhan berdiri di depan lobby sampai mobil itu hilang dari tikungan. Di layar ponselnya, Instagram Story semalam masih dipenuhi balasan. Banyak yang memuji. Beberapa bertanya siapa perempuan itu. Satu komentar yang dikirim Steven membuat dadanya sedikit tidak nyaman.

Lo blokir keluarga lo dari Story itu, kan?

Rayhan belum sempat membalas ketika Farel mendekat.

"Pak, Nyonya Lilian meminta Bapak langsung ke kediaman Menteng. Engkong juga sudah di sana."

Rayhan memasukkan ponsel ke saku. "Sekarang?"

"Sekarang, Pak."

Mobil berbelok bukan ke Hartono Estate, melainkan ke rumah keluarga lama di Menteng. Kediaman itu lebih tua daripada Estate, dengan pagar hitam tinggi, halaman luas, dan ruang tamu yang menyimpan bau kayu jati serta teh melati. Di sana, keluarga Hartono sering membicarakan hal-hal yang tidak ingin mereka bawa ke kantor.

Lilian Hartono duduk di sofa utama. Wajahnya tetap rapi, rambutnya disanggul rendah, tetapi matanya merah seperti perempuan yang belum tidur. Engkong Hartono duduk di kursi besar dekat jendela, tongkat kayunya berada di samping tangan.

"Duduk," kata Engkong.

Rayhan tetap berdiri. "Kalau ini soal Vanessa, aku tidak perlu duduk."

Lilian langsung menegang. "Kamu tahu, tapi tetap membuat Mama menunggu?"

"Aku tidak pernah setuju."

"Kamu tidak pernah menolak di depan keluarga Tanujaya."

"Karena Mama tidak pernah meminta pendapatku. Mama hanya menyusun meja makan, lalu berharap aku menjadi kursi yang bisa dipindah."

Wajah Lilian memucat. "Jaga bicaramu."

Engkong mengetukkan tongkat sekali. "Rayhan, ini bukan sekadar urusan perasaan. Tanujaya punya jalur distribusi, tanah, dan pengaruh lama. Keluarga kita dan keluarga mereka sudah bicara sejak lama."

"Tanpa aku."

"Kamu cucu Hartono."

"Aku juga manusia."

Lilian mengambil map tipis dari meja. Di dalamnya ada rancangan kerja sama: perluasan kawasan industri, akses distribusi film dan media, proyek properti yang membutuhkan dukungan Tanujaya di beberapa daerah. Nama Rayhan dan Vanessa tidak ditulis sebagai perasaan, melainkan sebagai bagian dari kolom "stabilitas aliansi keluarga."

"Ini bukan jebakan," kata Lilian, suaranya lebih tertahan. "Ini warisan. Hartono tidak berdiri karena setiap orang mengejar yang dia mau. Keluarga ini berdiri karena setiap generasi tahu kapan harus menahan diri."

Rayhan menatap map itu. Ada tanda sticky note di halaman terakhir, tulisan tangan Lilian: Pengumuman pertunangan setelah kondisi media mereda.

Ia merasa mual.

Lilian tertawa pendek, lebih seperti napas yang patah. "Manusia? Kamu bicara soal manusia setelah mempermalukan Mama di depan lingkaran sosial? Terbang ke Bali untuk perempuan simpanan, lalu memajang fotonya seperti ingin menantang semua orang?"

Kata simpanan membuat mata Rayhan berubah.

"Jangan panggil dia begitu."

"Lalu Mama harus panggil apa? Perempuan yang kamu sembunyikan dari keluarga sendiri?"

Rayhan terdiam satu detik. Itu cukup bagi Lilian untuk menekan lebih jauh.

"Kalau dia memang pantas, kenapa kamu blokir Mama dari Story itu? Kenapa Engkong tidak boleh lihat? Karena kamu sendiri tahu dia tidak bisa berdiri sejajar dengan keluarga ini."

Rayhan merasa sesuatu di dadanya tertarik. Bukan karena ia setuju, melainkan karena kalimat Lilian mengenai titik yang ia sendiri belum berani sentuh. Ia memposting foto Keira, tetapi menyembunyikannya dari keluarga. Ia mengira itu melindungi Keira dari serangan Lilian. Mungkin bagi Keira, itu justru bukti bahwa ia tetap disimpan di sisi gelap.

"Aku menyukai dia," kata Rayhan, suaranya lebih rendah.

Lilian membeku.

Engkong mengangkat mata.

"Aku menyukai Keira Salim. Aku tidak akan menikah dengan Vanessa."

Ruangan itu sunyi.

Lilian berdiri perlahan. "Kamu pikir suka cukup untuk menjalankan keluarga sebesar ini?"

"Tidak. Tapi pernikahan tanpa suka juga bukan alat bisnis yang akan aku tanda tangani."

"Vanessa dibesarkan di keluarga baik. Dia mengerti tata krama, mengerti posisi, mengerti bagaimana menjadi istri seorang Hartono."

"Dia tidak akan menjadi istriku."

"Karena Keira?"

"Karena aku."

Lilian menatapnya seolah baru melihat anaknya memilih menjadi orang asing. "Papa-mu tidak akan bicara seperti ini."

Nama Hendrick jatuh di ruangan seperti benda berat.

Rayhan mengatupkan rahang.

Lilian mengangkat tangan ke pelipis. Sejak awal percakapan, kepalanya sudah berdenyut, tetapi ia menolak duduk lebih dalam di sofa. Di keluarga Hartono, bahkan rasa sakit pun sering dipaksa tampil anggun.

Lilian melanjutkan, suaranya mulai bergetar. "Papa-mu mengorbankan hidupnya untuk keluarga dan negara. Dia tahu tanggung jawab lebih besar daripada keinginan pribadi. Kalau dia masih ada, dia tidak akan membiarkan kamu menghancurkan aliansi hanya karena perempuan yang..."

"Jangan gunakan Papa untuk menekanku."

"Mama menggunakan kebenaran."

"Tidak. Mama menggunakan orang yang sudah meninggal karena orang hidup tidak bisa memaksaku."

Tangan Lilian terangkat, tetapi tidak jadi menampar. Ia hanya menggenggam ujung selendang sutra di bahunya sampai buku jarinya memutih.

Engkong berbicara lebih berat. "Rayhan, perjodohan ini bukan hukuman. Ini jalan paling stabil. Vanessa bisa ditata. Keluarga Tanujaya bisa dikendalikan. Perempuanmu itu, siapa yang bisa menjamin?"

"Aku."

"Itu bukan jaminan bisnis."

"Aku tidak mau hidupku jadi nota kesepahaman."

"Jangan kekanak-kanakan."

Rayhan menatap Engkong. "Jangan jadikan aku alat barter kalian."

Tongkat Engkong berhenti di udara.

Lilian menarik napas tajam. "Alat barter? Kamu bicara pada Engkong seperti itu?"

"Aku bicara sebagai orang yang sejak kecil dipasang jadwal, kamera, pengawal, dokter, dan perjodohan. Semua atas nama melindungi. Semua atas nama keluarga. Aku sudah cukup lama menjadi sesuatu yang diatur."

Wajah Lilian berubah. Kalimat itu menembus tempat yang paling ia takutkan. Setelah Hendrick meninggal, ia memang mengunci dunia Rayhan rapat-rapat. Ia menyebutnya cinta. Ia menyebutnya perlindungan. Namun mendengarnya keluar dari mulut Rayhan dengan suara seperti itu membuat dadanya sesak.

"Mama hanya tidak mau kehilangan kamu," bisiknya.

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu. Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya menerima telepon bahwa suamimu tidak pulang. Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya melihat anakmu tidur dan takut dia hilang kalau kamu berkedip."

Rayhan melembut satu detik. "Mama..."

Namun Lilian sudah terlalu jauh dalam ingatannya sendiri. Napasnya mulai pendek. Tangannya menekan dada. Engkong langsung berdiri.

"Lilian?"

Rayhan melangkah cepat. "Mama."

"Jangan..." Lilian mencoba menepis tangan Rayhan, tetapi tubuhnya goyah. Wajahnya kehilangan warna. "Jangan tinggalkan Mama juga."

Kalimat itu nyaris tidak terdengar.

Lalu Lilian jatuh.

Rayhan menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai. Ruang tamu yang tadi penuh kemarahan mendadak pecah oleh panggilan panik. Pelayan berlari. Engkong berteriak meminta mobil. Farel menghubungi Dr. William dan ambulans pribadi.

"Mama, lihat aku." Suara Rayhan bergetar. "Mama."

Lilian tidak menjawab. Napasnya ada, tetapi lemah. Tekanan darahnya, setelah alat portabel dibawa pelayan lama, melonjak tinggi.

Di mobil menuju rumah sakit, Rayhan duduk di samping ranjang ambulans kecil, menggenggam tangan Lilian. Tangan itu dingin. Terlalu ringan dibandingkan semua tekanan yang pernah ia letakkan di pundak Rayhan.

Engkong duduk di kursi depan, wajahnya tua dalam satu malam.

"Kamu sudah memilih," kata Engkong tanpa menoleh.

Rayhan menatap ibunya.

"Ya."

"Harga pilihan tidak selalu dibayar oleh orang yang kamu inginkan."

Rayhan tidak menjawab.

Di rumah sakit, dokter membawa Lilian masuk ke ruang observasi. Dr. William datang dengan rambut berantakan dan jas putih yang dipakai terburu-buru. Setelah pemeriksaan awal, ia berkata tekanan darah Lilian sangat tinggi karena stres berat dan riwayat kondisi psikis yang harus dijaga.

Perawat memasang infus dan monitor jantung cepat tanpa banyak bicara.

"Dia sadar?"

"Belum stabil. Lo tunggu."

Rayhan duduk di kursi koridor. Ponselnya bergetar.

Pesan dari Keira.

Aku sudah sampai apartemen.

Kalimat itu pendek. Biasa. Tidak tahu apa pun tentang ruang tamu Menteng, perjodohan yang ia tolak, atau ibunya yang terbaring di balik pintu.

Jari Rayhan menggantung di atas layar.

Ia ingin menjawab. Ingin mengatakan bahwa ia memilih Keira. Ingin mengatakan bahwa ia menolak Vanessa di depan Mama dan Engkong. Ingin meminta Keira mengerti mengapa ia tidak bisa pulang malam itu.

Namun dari dalam ruang observasi, alat monitor berbunyi.

Rayhan menutup ponsel.

Malam itu, ia tidak membalas.

Sehari berlalu. Dua hari. Seminggu.

Lilian masih di rumah sakit, sadar tetapi lemah, dan setiap kali Rayhan mengangkat ponsel untuk menghubungi Keira, rasa bersalah duduk di dadanya seperti batu. Ia sudah memilih Keira di ruang tamu. Namun di koridor rumah sakit, ia tetap anak Lilian.

Selama seminggu itu, Rayhan Hartono tidak menghubungi Keira Salim sama sekali.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!