Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Tak Direncanakan
Masih di dalam rumah sakit, Amanda berbincang dengan Raisa yang dulu pernah menjadi anak didiknya. Semua nampak biasa dan tak ada yang spesial, obrolan keduanya pun banyak menanyakan soal kabar masing-masing yang sudah dua hari ini tak bertemu. Sampai, Raisa membahas soal sekolah yang sedang gaduh akibat di adakannya rapat komite disiplin. Amanda tentu tak menyangka akhirnya rapat itu bisa di adakan juga, karena hal itulah yang sedang ia perjuangkan sejak kemarin.
"Siapa yang mengajukan rapat itu?" tanyanya kemudian.
"Direktur yayasan sekolah sendiri, bu yang memimpin rapatnya." jawab Raisa.
"Tunggu! Bagaimana beliau bisa tahu soal masalah ini? Padahal pasti pihak sekolah tidak melaporkan hal ini pada beliau, kan?" Amanda menatap Raisa bingung.
"Em, soal itu.. " Raisa pun juga jadi bingung harus menjawab apa, karena dialah yang melaporkannya pada mamanya.
"Padahal, sudah dua hari ini mencoba bertemu direktur yayasan dirumahnya, bu guru tidak pernah bisa karena terus tertahan di gerbang masuk. Jadi, penasaran juga siapa yang memberi tahu beliau tentang masalah ini, ya?" Amanda masih penasaran tapi disatu sisi ia juga merasa lega, karena akhirnya berita ini sampai juga di telinga direktur yayasan.
"Eh, bu Amanda sempat datang kerumahku?" ucap Raisa begitu mendengar Amanda pernah mendatangi rumahnya. Yang hal itu sontak membuat keduanya terdiam saling menatap satu sama lain.
Raisa dan Amanda saling tatap dengan ekspresi bingung. Raisa yang kebingungan karena tidak sadar telah salah bicara yang seolah membenarkan bahwa direktur yayasan sekolah adalah mamanya, Amanda sendiri juga bingung maksud dari ucapan Raisa.
"Rumah kamu? Apa mungkin..." Amanda sudah mau menebak.
"Hai, Raisa... " Namun, panggilan dari seseorang menghentikan kalimatnya. Suara itu berasal dari seorang perempuan yang kini berjalan kearah mereka dengan penampilan yang sangat feminim.
Amanda terdiam melihat kehadirannya, dan tanpa sadar ia jadi menatapnya terlalu dalam karena terpesona dengan kecantikannya. Membandingkan dengan dirinya sendiri yang berpenampilan sangat sederhana dan biasa, membuatnya sedikit insecure dihadapannya yang penuh dandanan yang mewah dan mempesona.
"Apa kamu mau ketemu sama kakakmu?" tanya perempuan itu yang terlihat cukup akrab dengan Raisa.
"Iya, aku ada janji makan sama kakak. Tapi, kak Aqila ngapain datang kerumah sakit?" Raisa memperlihatkan wajah tak suka dengan kehadiran perempuan yang bernama Aqila itu.
"Aku juga mau ketemu sama kakak kamu, buat makan bareng." jawab perempuan itu dengan senyum lembutnya.
"Oh, gitu. Aku tidak tahu kalau kak Aqila juga ikutan gabung sama kita." ujar Raisa terlihat tak menyukai Aqila bergabung dengannya dan sang kakak yang hendak makan bersama.
Ekspresinya itu terlihat jelas oleh Amanda, dan tanpa sadar membuatnya tersenyum karena lucu.
"Tapi, kamu sedang mengobrol dengan siapa?" Aqila menoleh ke arah Amanda.
"Aku sedang ngobrol sama guru disekolahanku, kenalkan namanya bu Amanda." jawab Raisa mengenalkan Amanda pada Aqila.
"Kenalkan juga bu, ini kak Aqila, temannya kakak saya." kali ini, giliran Raisa mengenalkan Aqila pada Amanda.
Keduanya pun saling berjabatan tangan dengan sambil memberitahukan nama masing-masing, disertai senyuman tipis disudut bibir mereka sebagai bentuk kesopanan.
"Salam kenal, ya. Saya Aqila, teman dekatnya kakak dari Raisa." ucap Aqila memperkenalkan dirinya pada Amanda.
"Nama saya Amanda, salam kenal juga." Amanda tersenyum membalas sapaannya.
"Saya baru pertama kali ini lho bertemu dengan gurunya Raisa, ternyata anda masih cukup muda, ya?" Aqila mencoba untuk berbasa-basi.
Amanda tersenyum sedikit canggung. "Terimakasih." balasnya cukup malu-malu.
Setelah itu, tak ada lagi obrolan dari keduanya. Suasana di antara mereka bertiga juga mendadak sunyi dan canggung.
"Kalian sedang mengobrol apa sampai seserius itu?" Reihan datang, memecah keheningan.
"Hai, Reihan!" melihat Reihan, Aqila langsung berjalan menghampirinya dan kemudian memeluknya di depan Raisa dan Amanda tanpa merasa canggung.
Ekspresi Raisa terlihat cemberut, tak suka dengan kedekatan mereka. Sedangkan Amanda sendiri jadi merasa canggung karena berada di antara mereka bertiga.
"Sepertinya bu guru harus pulang duluan." merasa sudah tak ada urusan, Amanda pun hendak pamit untuk pulang pada Raisa.
"Bu Amanda sudah makan, belum?" tiba-tiba saja Raisa menanyakan apa dia sudah makan.
"Belum sih, kenapa?" bingung Amanda menatap wajah Raisa yang terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Bagus banget bu." Raisa terlihat sangat antusias mendengar Amanda belum makan, sampai memegang kedua tangannya.
Ia pun langsung menghampiri sang kakak sembari menggandeng tangan Amanda.
"Kak, aku boleh mengajak bu Amanda gabung sama kita, ya?" tanyanya pada sang kakak.
"Eh, nggak usah." Amanda menolak dengan cepat, ekspresinya juga cukup kaget saat mendengar Raisa yang ingin mengajaknya makan bersama kakaknya.
"Nggak apa-apa, bu Amanda. Lagi pula kan ibu juga belum makan? Jadi, kita bisa makan bareng saja." Raisa tersenyum mencoba meyakinkan Amanda.
"Ibu bisa makan dirumah saja, jadi tidak usah ya.. " Amanda terlihat canggung di depan kakak Raisa dan juga Aqila, mengingat mereka tak dekat satu sama lain.
Dari sini Amanda jadi tahu bahwa kakak Raisa adalah dokter yang pernah ia temui sebelumnya.
"Boleh ya, kak?" rengek Raisa pada sang kakak agar Amanda di izinkan ikut makan bersama mereka.
"Tidak perlu, Raisa. Kalian saja yang makan, ibu tidak mau mengganggu acara kamu dan kakakmu." ucap Amanda langsung memotong.
"Saya tidak masalah kalau anda ikut bergabung bersama kami." Reihan tetak merasa keberatan jika Amanda ikut bergabung bersama mereka.
"Yes!" Raisa bersorak gembira saat kakaknya memberikan izin. Tanpa menunggu jawaban Amanda, Raisa langsung menggandengnya untuk jalan lebih dulu dengan senyum ceria. Membuat Amanda terpaksa ikut bergabung bersama mereka.
Aqila yang sedari tadi hanya diam, memasang ekspresi keberatan Amanda bergabung bersama mereka.
"Kenapa kamu malah mengizinkan guru Raisa ikut bergabung sama kita?" protesnya kemudian.
"Masa aku menolak di depan orangnya langsung? Kan, nggak enak juga." Reihan mengangkat kedua bahunya tanda pasrah dengan keinginan sang adik.
"Yasudah lah.." Aqila pun ikut mode pasrah.