NovelToon NovelToon
I'M Not A Sugar Baby

I'M Not A Sugar Baby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:179.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Isthiizty

Marah dan kecewa pada sang ayah yang tak menganggapnya anak membuat Anesha memilih kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.

Anesha pikir dia akan mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Namun ternyata dia salah, dua hari di kota tanpa uang dan arah tujuan justru membuatnya terlunta-lunta bahkan nyaris mati kelaparan.

Hingga akhirnya sosok bak dewa penyelamat itu datang di saat yang tepat.

"It's ok baby girl, Daddy's here." Sebuah kalimat penenang yang akhirnya membuat Anesha tanpa sadar jatuh cinta pada pria dewasa yang sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.

Akankah Alesha memperjuangkan perasaannya atau justru memilih mundur saat mengetahui sang Daddy bukanlah seorang pria single?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daddy's Here

Mendengar tangisan Anesha membuat hati Daniel berdenyut nyeri. Pria berusia tiga puluhan itu mulai bertanya-tanya, hal apa yang menyebabkan Anesha menangis sepilu ini. Bukankah seharian ini gadis itu nampak baik-baik saja?

Walau begitu penasaran, Daniel memilih untuk tak langsung menanyakan penyebab gadis itu menangis. Ya, setidaknya sekarang bukan saatnya dirinya bertanya. Karena nanti pasti akan ada waktunya.

"It's okay baby girl. Daddy's here." Sembari mengusap puncak kepala Anesha, hanya itu kalimat penengang yang Daniel ucapkan berulang kali. Dan Anesha harus tau jika sekarang Daniel ada di sini untuk gadis itu.

Mendengar ucapan Daniel membuat Anesha semakin menengelamkan kepalanya di perut pria itu sembari mengeratkan pelukannya.

Rasanya sangat nyaman, Anesha juga merasa terlindungi saat berada di dekat Daniel. Pria itu seolah mempunyai magnet yang mampu menariknya menjauh dari kesedihan.

Lama kelamaan suara tangisan pilu itu mulai mereda dan berganti dengan isakan lirih.

Daniel menghentikan usapannya, pria itu melepaskan pelukannya dan dengan gerak cepat membopong tubuh mungil Anesha dan membawanya ke arah ranjang.

Daniel melirik sekilas pada sebuah ponsel berwarna hitam yang tergeletak di atas lantai. Layar pecah, bahkan back cover dan baterainya sudah terlepas dan berserakan. Hal itu menandakan jika benda pipih itu terjatuh dengan cukup keras, atau mungkin memang karena kualitas ponselnya yang buruk. Entahlah, Daniel tak peduli. Karena fokusnya kini hanya pada gadis di gendongannya.

Dengan perlahan Daniel menurunkan tubuh Anesha di atas ranjang, lalu menyelimuti gadis itu hingga batas dada. Ia berbalik, namun tangan lembut gadis itu menahannya.

"Jangan pergi," ucapnya lirih namun penuh permohonan.

"Daddy hanya ingin mengambil hair dryer sebentar. Rambut kamu masih basah dan harus dikeringkan."

Anesha menggelengkan kepalanya. Lalu menggeser tubuhnya sedikit ke tengah. "Disini aja."

"Sebentar aja ya, nanti kepala kamu pusing kalau rambutnya enggak segera di keringkan," bujuk Daniel dengan lembut. Namun lagi-lagi Anesha menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan.

"Baiklah, Daddy akan tetap disini." Daniel mengalah, dia menurui keinginan Anesha dengan naik ke atas ranjang yang kosong.

Melihat Daniel sudah duduk dan bersandar di headboard ranjang, Anesha pun beringsut mendekat. Gadis itu kembali memeluk Daniel dengan posesif. Seakan takut jika dia melepaskannya, maka Daniel akan pergi meninggalkannya.

"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Anesha terlihat sudah lebih tenang, hingga pertanyaan yang sejak tadi berusaha untuk pria itu tahan, akhirnya terucap juga.

Anesha menggelengkan kepalanya. Dia belum mau bercerita, karena mengingat setiap kalimat yang sang ayah lontarkan padanya sangat lah menyakitkan.

Selain itu, Anesha juga malu. Malu pada Daniel, karena memiliki ayah yang sama sekali tak mempercayainya.

Daniel memang pernah mendengar alasan dirinya kabur dari rumah. Namun kali ini Anesha memilih bungkam. Gadis itu tak ingin Daniel semakin mengasihaninya. Ya, walaupun Anesha sadar jika sejak pertama Daniel memang sudah mengasihaninya. Buktinya saja Daniel mau menampungnya di apartemen ini.

"Kalau belum mau bercerita gak pa-pa. Daddy gak akan memaksa." Daniel mengeratkan pelukannya. Walau kecewa karena Anesha belum mau berbagi cerita, namun Daniel berusaha untuk tak mempermasalahkannya. Mungkin Anesha belum siap untuk berbagi kesedihan dengannya.

Daniel masih terus mengusa puncak kepala Anesha dengan lembut, hingga lambat laun gadis itu mulai bergelung dengan mimpi.

"Apapun yang terjadi, Daddy akan selalu ada disini bersamamu. Karena sekarang, kesedihanmu adalah kesedihan Daddy. Dan bahagiamu adalah kebahagiaan Daddy."

Daniel menghela nafas panjang. Setidaknya keputusan Daniel untuk menginap di aoartemen sudah benar. Daniel tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis dipelukannya ini jika mengalami kesedihan seorang diri.

Dan untuk putrinya Danisa, Daniel tak terlalu mengkhawatirnya, karena setidaknya sudah ada Tara yang akan menemaninya.

...***...

Daniel terbangun dengan Anesha yang masih berada di pulaknnya. Recananya semalam Daniel akan kembali kekamarnya setelah memastikan Anesha tertidur pulas. Namun siapa sangka, tanpa dia sadari, dirinya justru ikut menyusul Anesha ke alam mimpi.

Daniel terus mengulas senyum melihat gadis di dalam pelukannya. Semalam, tanpa bisa di cegah, Daniel kembali mencuri satu ciuman gadis itu. Ya, kali ini bukan sekedar kecupan, melainkan ciuman panjang.

Bukan Daniel ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, hanya saja otak dan hati Daniel tak bisa di ajak kompromi. Karena pada kenyataannya bibir Anesha kini justru menjadi candu untuknya.

"Wake up girl, it's already morning," ucap Daniel sembari mengusap pipi Anesha dengan sangat lembut.

Bukannya bangun, Anesha justru mengeratkan pelukannya. Dan itu membuat Daniel semakin tersenyum senang. Senyaman itukah Anesha di pelukannya?

"Hi baby, ayo bangun. Bukankah ini hari pertamamu masuk sekolah?" Daniel membisikan kalimat itu tepat di telinga Anesha. Berharap kali ini usahanya untuk membangunkan Anesha bisa berhasil.

Benar saja, beberapa saat kemudian kelopak mata Anesha bergerak tak beraturan sebelum akhirnya terbuka dengan perlahan.

"Good morning girl."

Anesha mengerjapkan kedua matanya berulang kali, sebelum akhirnya kesadaran itu terkumpul dengan sepenuhnya."Daddy!" Kaget, Anesha langsung menjauhkan tubuhnya dari Daniel.

Bagaimana bisa dia tidur di dalam pelukan pria itu. Memang semalam apa yang terjadi?

Anesha mengabsen setiap pakaiannya. Memastikan tidak ada bagian yang terbuka ataupun terlepas. Dan hal itu membuat Daniel tersenyum geli, apalagi saat Anesha menghela nafas lega.

Aku memang tak mencuri keperawananmu. Hanya sebuah ciuman saja. Dan itupun hanya sekali, walaupun pada kenyataannya aku masih menginginkannya.

"Sudah cek atributnya?" tanya Daniel dan di balas anggukan polos oleh Anesha. "Kalau gitu cepat mandi. Kalau tidak kamu akan dapat hukuman di hari pertaman masuk sekolah."

Mendengar kata sekolah membuat Anesha bergegas turun dari ranjang dan tanpa permisi langsung berlari menuju kamar mandi. Dia tak mau terlambat apalagi sampai dihukum.

Mereka sudah hampir terlambat, hingga mau tak mau Anesha harus sarapan di dalam mobil. Untung saja Daniel memang sempat membuatkan roti isi coklat untuk gadis itu.

"Daddy antar sampai sini ya. Setelah ini kamu langsung ke ruang kepala sekolah dulu. Untuk letaknya kamu bisa menanyakan pada siapapun yang ada di dalam sana," ujar Daniel setelah menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah.

Anesha menganggukan kepalanya. Lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Daniel.

Daniel yang melihat itu langsung mengambil dua lembar uang berwarna merah di dashboard mobilnya. "Daddy lupa, ini uang sakunya."

"Ish, Anesha bukan meminta uang saku," tolak Anesha dengan wajah yang sudah di tekuk kesal.

"Lalu?" Daniel tak mengerti. Dia pikir Anesha meminta uang saku. Seperti yang biasa Danisa lakukan setiap akan berangkat sekolah.

"Uang dari Daddy waktu itu aja masih banyak. Anesha ngulurin tangan buat salim. Kan mau sekolah." Dan tanpa menunggu jawaban Daniel, Anesha langsung menarik tangan pria itu dan menciumnya takzim.

1
Diah Anggraini
ka.. aku masih nungguin kelanjutan nya tau
Lilinaon
ini udah 2024 ko ga up lagi thor???
Diah Anggraini
ka.. ga di lanjut lagi ya
GiZaNyA
akhirnya selesai marathonin ini cerita... astagaaa... ay miss yuuuu Thoorrr... terakhir cerita Ayura, Alex, dan Edelweis.. yaampun.. ternyata cerita Mike dah ada.. abis ini lanjut yang Fano dan ditunggu cerita Hiro yaa... miss yuuu pake banget 😍😍
Diah Anggraini
ka blm di lanjut lagi ya
Diah Anggraini
penasaran nih ka
Diah Anggraini
ka ko blm di lanjut ya
Diah Anggraini
ka
ko blm di up sate lagi
Sheila 2 89
kpn up LG ni kak...penasaran dgn cerita selanjutnya....
Diah Anggraini
lanjutin donk ka
penasaran nih
MEYFA ASSFATU MAURA BILQIZ
top
mmh nengmuti
bagus
mmh nengmuti
akhirnya up jg
Suyanti
mantep thor novelmu tapi sayang gantung
Diah Anggraini
ko begini penghabisan nya
kenapa ga di lanjut
penasaran nih sama
kisah nya anesha dan daniel
mamanick
lanjut
Allyssa Nurunnasywa
ditunggu ending-nya
Mariana Riana
semangatt up nya kak💪💪
Bunga
lanjutkan donk
Bunga
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!