Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Aroma itu bukan bau karbol yang menyengat atau anyir darah yang menghantui mimpinya. Wangi ini adalah perpaduan antara kayu cendana, lavender, dan kesunyian yang amat dalam. Mata itu mengerjap lambat, menyapa langit-langit berwarna putih bersih tanpa noda. Tidak ada debu, tidak ada sarang laba-laba, dan tidak ada rasa takut yang mencekik leher.
Bella merasa seolah dirinya baru saja ditarik dari dasar samudera yang paling gelap menuju permukaan yang tenang. Namun, saat kesadarannya pulih, rasa nyeri di hatinya kembali berdenyut, jauh lebih tajam daripada luka di lututnya yang kini sudah terbalut kain kasa bersih.
Klek.
Pintu kayu bercat putih itu terbuka pelan. Seorang perempuan melangkah masuk. Ia mengenakan gamis longgar berwarna putih tulang dengan cadar senada yang hanya memperlihatkan sepasang mata yang teduh—seperti oase di tengah padang pasir.
"Assalamu’alaikum... Kamu sudah siuman, Mbak?" sapa perempuan itu. Suaranya lembut, bergetar dengan nada ketenangan yang seolah mampu membasuh luka. "Istirahatlah. Sepertinya kamu sudah sangat lelah dengan kehidupanmu yang kemarin."
Bella menatapnya dengan bingung. Bibirnya kering dan pecah-pecah saat ia mencoba menjawab, "Wa’alaikumussalam... Anda siapa? Dan saya ada di mana?"
Perempuan itu mendekat, membawa sebuah nampan berisi air hangat dan bubur. "Perkenalkan, namaku Hasna. Kamu berada di sebuah tempat perlindungan. Saya adalah pemimpin komunitas **Muslimah Till Jannah**. Ini adalah komunitas hijrah khusus perempuan, tempat di mana kami menampung jiwa-jiwa yang terzalimi oleh aturan dunia yang terkadang sangat kejam dan tidak adil."
Mendengar kata "terzalimi", jantung Bella seolah diremas. Ingatan itu kembali berputar bagai kaset rusak. Wajah Fatih—suami yang menjadi muara dari segala doanya selama sepuluh tahun—yang berdiri dengan wajah keras, melemparkan foto-foto fitnah, dan mengusirnya di tengah hujan badai.
"Cinta..." Bella berbisik sangat lirih, hampir tak terdengar.
Di dalam batinnya yang hancur, Bella meratap perih. “Kang Abbas... ternyata kamu benar-benar berbeda dengan yang dulu. Bukan hanya wajahmu yang kini tertutup janggut tipis dan sorban yang berwibawa, tapi hatimu pun telah membatu. Cinta sejati yang aku nantikan... perlindungan yang kamu janjikan di bawah pohon sawo dulu... semuanya hanyalah debu. Kamu tidak hanya membiarkan mereka menyakitiku, tapi kamu sendiri yang menikamku tepat di ulu hati dengan ketidakpercayaanmu.”
Bella tidak tahu bahwa saat itu Fatih sedang bertarung dengan dilema dan manipulasi yang sangat rapi. Ia tidak tahu bahwa pria itu sedang sekarat dalam penyesalan. Namun bagi seorang perempuan yang sudah mempertaruhkan nyawa dan kehormatan, ketidaktahuan pasangan adalah sebuah pengkhianatan terhadap komitmen. Cinta yang selama ini ia anggap sebagai pengabdian suci, kini terasa seperti hukuman yang salah alamat.
"Siapa namamu, Ukhti?" tanya Hasna lembut, jemarinya mengusap punggung tangan Bella.
Bella terdiam sejenak. Nama "Bella" adalah nama yang diberikan dunia kepadanya saat ia dalam pelarian. Nama itu adalah nama yang dipanggil Fatih dengan penuh emosi saat mengusirnya. Ia ingin membuang semua itu.
"Namaku... Wulan," jawabnya datar. Air mata menetes di sudut matanya, jatuh ke bantal putih itu. "Terima kasih telah menolongku, Mbak Hasna."
Hasna tersenyum di balik cadarnya, terlihat dari binar matanya yang menyipit ramah. "Tidak apa-apa, Wulan. Istirahatlah. Sembuhkan dulu fisikmu. Nanti, setelah kamu siap, kamu boleh bercerita. Di sini, tidak ada yang akan menghakimimu. Kami semua adalah perempuan yang sedang mencoba berjalan menuju-Nya dengan sisa-sisa hati yang remuk."
Wulan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak perlu menjadi "istri" yang selalu dituntut sempurna, atau "korban" yang selalu dikejar bayangan. Di tempat ini, ia hanya ingin menjadi Wulan—perempuan yang ingin menghapus jejak pria bernama Fatih dari ingatannya.
### **Luka yang Dibawa Sowan**
Di kediaman Abi Ahmad, suasana mendung seolah tak mau beranjak meski matahari sudah tinggi. Abi Ahmad duduk di ruang tamu, sorot matanya kosong menatap ke arah pintu gerbang. Tragedi hilangnya menantu dan fakta bahwa ia sempat dibohongi oleh polisi gadungan meninggalkan trauma yang mendalam.
Setiap kali ia mendengar deru mesin mobil atau melihat seragam aparat, jantungnya berdegup kencang karena rasa was-was.
Tok, tok, tok.
"Assalamu’alaikum, Abi..."
Abi Ahmad tersentak. Di depan pintu, berdiri seorang pria tegap dengan seragam polisi yang rapi. Pangkat AKBP berkilau di pundaknya. Abi Ahmad mendadak tegang, pegangannya pada tasbih mengencang.
"Wa’alaikumussalam... Bapak siapa ya?" tanya Abi dengan suara yang sedikit bergetar.
Pria itu tersenyum sopan, lalu perlahan melepas pet kepolisiannya. Ia membungkuk dalam, sebuah gestur yang tak biasa bagi seorang pejabat tinggi kepolisian. "Saya Ridwan, Abi... Apa Abi masih ingat saya?"
Abi Ahmad menyipitkan mata, mencoba menggali memori di balik kacamata tuanya yang sudah retak sedikit di bagian sudut. "Ridwan...? Ridwan siapa ya?"
"Ridwan... anak dari Bapak Iptu Hanan. Murid kecil Abi yang dulu paling nakal, yang paling susah kalau disuruh belajar ngaji karena lebih suka main bola di pematang sawah," ujar Ridwan dengan nada penuh nostalgia dan hormat.
Seketika, mendung di wajah Abi Ahmad sedikit tersingkap. "Masya Allah... Ridwan? Putranya Pak Hanan yang rumahnya di dekat jembatan itu?"
"Benar, Abi."
"Masya Allah, mari masuk nak... mari," suara Abi Ahmad melembut. Ridwan segera maju dan mencium tangan gurunya dengan takzim, sebuah tindakan yang melunturkan sekat antara pejabat dan warga sipil.
Di dalam rumah, Zahra muncul membawa nampan berisi teh hangat atas perintah Abinya. Ia mencuri pandang ke arah Ridwan, merasa kagum sekaligus segan melihat betapa murid ayahnya kini telah menjadi orang penting.
"Ada apa Nak Ridwan? Kamu sekarang sudah jadi polisi toh... pangkatnya sudah tinggi sekali. Syukurlah, Pak Hanan pasti bangga di sana," ujar Abi Ahmad setelah mereka duduk.
Ridwan menunduk, wajahnya yang tegas kini tampak melankolis. "Pertama, saya ingin silaturahmi, Abi. Sudah belasan tahun saya tidak sowan ke sini sejak tugas di luar pulau. Kedua..." Ridwan menarik napas panjang, suaranya berubah menjadi sangat formal namun penuh penyesalan. "Saya atas nama institusi kepolisian, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Abi dan keluarga atas kelalaian kami. Salah satu anggota kami, Deni, telah terlibat dalam kejahatan ini. Ini adalah aib bagi kami, dan saya pribadi merasa sangat berdosa karena hal ini terjadi di wilayah hukum saya, dan korbannya adalah keluarga guru saya sendiri."
Abi Ahmad menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. "Terima kasih silaturahminya, Nak. Soal itu... Fatih sudah bicara. Mungkin ini sudah jalannya takdir. Abi hanya berharap menantu Abi baik-baik saja... Dia sedang dalam perlindungan Allah."
"Aamiin, Abi. Tim kami terus bergerak. Deni sudah kami amankan dan sedang dalam pemeriksaan intensif untuk mencari tahu di mana keberadaan Mbak Bella," ujar Ridwan sungguh-sungguh. "Gimana kabar Abi? Sehat?"
"Alhamdulillah... begitulah, Nak. Di hari tua ini, ujiannya memang tentang kesabaran hati," jawab Abi. Ia kemudian melirik Ridwan. "Eh, kenapa tidak sama istrinya? Bukankah Nak Ridwan sudah menikah?"
Suasana mendadak hening. Ridwan menatap cangkir tehnya, matanya berkaca-kaca sesaat sebelum ia kembali menguasai diri. "Itulah, Abi... Kita tidak pernah tahu takdir Allah seperti apa. Istri saya meninggal dunia bersama calon anak kami saat proses melahirkan setahun yang lalu."
Deg.
Zahra yang sedang berdiri di dekat pintu dapur tertegun. Ia melihat bahu tegap polisi itu sedikit bergetar.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..." ucap Abi Ahmad penuh empati. Beliau berpindah tempat duduk ke samping Ridwan dan menepuk bahu muridnya itu. "Nak Ridwan, yang sabar ya. Allah pasti akan berikan yang terbaik jika kita sabar. Kita sama-sama sedang diuji oleh kehilangan, Nak. Hanya bentuknya saja yang berbeda."
Dua pria itu terdiam dalam duka masing-masing. Ruang tamu itu menjadi saksi bagaimana pangkat dan jabatan tidak ada artinya di hadapan takdir yang merenggut orang-orang terkasih.
### **Penyesalan yang Menikam Jiwa**
Di sudut lain rumah besar itu, di dalam kamar Umi yang remang-remang, Fatih bersimpuh di samping ranjang. Umi terbaring lemas dengan kompres di dahinya. Sejak kepergian Bella, kondisi kesehatan Umi menurun drastis. Ia menolak makan dan hanya sering melamun menatap pintu kamar Fatih yang kini selalu tertutup.
"Umi... maafkan Fatih, Umi. Fatih salah. Fatih terlalu emosional," bisik Fatih dengan suara parau. Ia mencium tangan ibunya yang terasa dingin.
Umi membuka mata perlahan, menatap putra kebanggaannya dengan sorot mata yang penuh kekecewaan. "Nak... Umi harap kamu belajar dari kesalahan ini. Jangan arogan, Fatih. Jangan pernah merasa paling benar hanya karena kamu merasa memiliki ilmu agama yang lebih tinggi. Itu sifat sombong."
Umi terbatuk kecil, air matanya mulai mengalir membasahi bantal. "Bukankah sombong itu sifat iblis yang membuatnya terusir dari surga? Kamu merasa suci, lalu dengan mudahnya menghakimi istrimu yang malang itu sebagai perempuan nista hanya karena selembar foto?"
"Fatih menyesal, Umi... Fatih sangat menyesal. Dunianya Fatih rasanya runtuh," isak Fatih. Ia menyembunyikan wajahnya di lipatan selimut Umi.
"Bella itu bukan sekadar menantu, Fatih... Umi sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri. Kamu tahu hidupnya sudah susah sejak kecil. Dia yatim piatu, dia berjuang sendiri, dan saat dia menemukan 'rumah' pada dirimu, kamu justru membakar rumah itu dan mengusirnya ke tengah badai. Kamu tega sekali..." Umi menarik tangannya dari genggaman Fatih. "Sekarang dia pergi entah ke mana. Apa di sana dia aman? Sudah makan atau belum? Apa dia kedinginan? Kita tidak tahu, Fatih!"
Fatih meremas rambutnya sendiri. Setiap kata Umi adalah sembilu yang menyayat jantungnya. Ia membayangkan Bella yang ringkih, berlari di bawah todongan senjata, sendirian tanpa perlindungan siapa pun—termasuk dirinya yang seharusnya menjadi garda terdepan.
"Kalau kamu benar-benar minta maaf pada Umi dan menyesali perbuatanmu..." Umi menatap tajam ke arah Fatih, suaranya melemah namun penuh penekanan. "Cari dia sampai dapat. Jangan pulang ke rumah ini sebelum kamu membawa menantu Umi kembali dalam keadaan selamat. Jika tidak, Umi tidak akan pernah rida padamu, Fatih."
Fatih mendongak, matanya yang sembab kini memancarkan tekad yang lahir dari keputusasaan.
"Baik, Umi... Fatih akan cari dia ke mana pun. Meski ke ujung dunia sekalipun, Fatih akan menjemputnya. Fatih akan menebus setiap tetes air mata yang jatuh karena kesalahan Fatih."
Fatih berdiri, melangkah keluar kamar dengan beban yang sangat berat di pundaknya. Ia tidak menyadari bahwa saat ini, istrinya bukan lagi "Bella" yang lemah dan penurut. Istrinya telah terlahir kembali sebagai "Wulan", seorang wanita yang telah mengunci pintu hatinya rapat-rapat, dan membuang kuncinya ke dalam jurang kekecewaan yang terdalam.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan bertempur melawan Barja atau Deni, melainkan bertempur melawan waktu dan kebencian dari wanita yang paling dicintainya.