Alina gadis remaja berusia 19 tahun. Ayahnya yang mempunyai banyak hutang menjadikan dirinya sebagai tebusan disalah satu lembah nista paling hitam yang juga ibunya rasakan.
Alina berjanji akan melakukan apapun untuk orang yang menolongnya dari kejaran Anak buah pemilik tempat hitam tersebut.
Tanpa disangka, takdir membawanya bertemu Arka. Laki-laki berusia 37 tahun yang sedang mencari Rahim ketiga untuk melahirkan Calon pewarisnya setelah 12 tahun menikah, sekaligus membuktikan kepada kedua Istrinya bahwa tuduhan Mereka mengenai dirinya yang tidak subur tidaklah benar.
Apa Rahim Alina lah, yang berhasil menghasilkan keturunan untuk Arkana dan membuktikan kepada kedua Istri Arka, bahwa Arka Subur?
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RYKT ll Part 21.
Arka sampai didepan Apartemen yang istri mudanya huni. Ia menempelkan kartu lalu membuka pintu dan masuk.
Samar-samar Arka mendengar suara televisi dari ruang tengah. Ia mengerutkan keningnya bingung, "Sudah tengah malam begini, anak itu belum tidur?" Arka berjalan mendekat.
Nampak televisi yang menyala, Arka melihat ke sofa panjang dimana Alina tidur dengan nyenyak memakai selimut.
"Dasar anak kecil! Dia tidur, Tv yang nonton dia!" Arka mendekatinya, ia mematikan siaran televisi lalu berniat memindahkan Alina ke kamar. Supaya Alina tidurnya lebih nyaman.
Alina merasa tubuhnya melayang, ia belum lama memejamkan matanya. Perlahan kelopak matanya terbuka saat mencium aroma parfum seorang pria.
"Mas, Arka!" Alina terkejut melihatnya. Meskipun matanya masih samar melihat, namun Alina ingat hanya Arka yang memiliki akses bebas ke apartemennya.
Arka menurunkan tubuh Alina di ranjang dengan hati-hati. Alina langsung duduk dan mundur. "Mas, kok bisa ada disini?"
Arka mundur, ia melepas jaketnya. Bahkan celana jeans-nya dan menyisakan celana boxer.
"Kamu lupa? Apartemen ini milikku! Terserah aku mau disini atau tidak!"
Melihat penampilan Arka sekarang, Alina menelan ludahnya. Ia sedikit merinding kalau membayangkan malam panas yang mereka lalui di Paris saat Honeymoon.
Arka menatap Alina yang nampak meremas selimut dengan erat. "Kamu kenapa? Nggak tahan lihat tubuh saya?"
Alina langsung nervous mendengar pertanyaan frontal dari suaminya. "Mas Arka mau saya buatkan kopi?" Tanya Alina mengalihkan perhatiannya.
Arka tersenyum tipis. Sudah tengah malam begini, Alina mau membuatkannya kopi. Seumur hidup menikah dengan Aninda, tidak pernah wanita itu berniat membuatkannya kopi. "Tidak perlu! Tidurlah, sudah malam! Lain kali jangan dibiasakan tidur didepan Tv seperti itu! Kasihan TV nya harus ngelihatin orang tidur!"
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak gitu, mas!"
Arka menggelengkan kepalanya. Alina itu paling bisa membantah ucapannya.
"Yasudah, sekarang tidurlah!"
"Mas Arka akan pergi?"
"Kamu maunya gimana?" Arka menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
Alina merasa gerah, ia gugup menghadapi sikap Arka yang seperti itu. Biasanya suaminya akan berwajah kulkas datar, kata-katanya juga pedas dan tajam.
"Maksudnya, kalau mas Arka disini gimana dengan istri mas Arka? Mas Arka juga pasti nggak mungkin mau disini bersama saya!"
Alina bicara seperti itu karena kemarin juga saat di bandara Arka langsung meninggalkannya begitu saja.
"Kamu juga istri saya Alina!" Arka menegaskan. ia tidak suka Alina mengatakan istri yang lain padahal Alina juga istrinya, kenapa Arka tiba-tiba marah dan tidak suka?
"Tidurlah, saya akan disini!" Arka membuka selimut lalu merebahkan tubuhnya.
Entah kenapa Alina merasa tenang karena Arka ada disampingnya. Apa Alina mulai nyaman menjadi istri dari pria yang lebih tua darinya?
Alina ikut merebahkan diri. Ia menarik selimut sampai menutupi lehernya, lalu membelakangi suaminya. Jujur, Alina merasa gugup dan gusar, ia tidak bisa memejamkan mata karena rasa kantuk tiba-tiba hilang.
Arka memiringkan tubuhnya ia mengamati punggung istri kecilnya yang terbungkus selimut.
"Apa kamu nggak gerah?" Tanya Arka.
"Nggak!" Jawab Alina tanpa menoleh kebelakang.
Arka menarik selimut dengan tiba-tiba sampai Alina terkesiap dan melepaskan cengkraman selimutnya. Arka menurunkannya sampai batas dada.
"Tidak usah gugup! Saya ini suami kamu, Alina! Asal kamu tau, dosa kalau tidur membelakangi suami!"
Alina menelan salivanya susah payah. Ia tidak mau dosa, ia sudah berdosa karena menjalani pernikahan seperti ini seolah mempermainkan pernikahan.
Alina membalik badannya, dan seketika tatapannya langsung bertemu dengan Arka.
"Mas, kenapa belum tidur?"
"Saya belum ngantuk!" Arka tersenyum tipis karena Alina termakan kata-katanya.
Alina berusaha membuat dirinya senyaman mungkin dan membuatnya terbiasa. Meyakinkan hatinya kalau sekarang, ia ini seorang istri dan Arka adalah suaminya.
"Mas, Arka. Apa saya boleh bertanya?"
Arka mengubah posisinya menjadi terlentang, melihat wajah polos Alina yang cantik natural, Arka merasa gusar. "Apa?" Arka menatap langit-langit kamar. Ia berusaha menahan sesuatu yang mendesak secara tiba-tiba dibawah sana.
"Berapa lama pernikahan ini berlangsung?"
"Sampai kamu melahirkan!"
"Kalau begitu, kapan saya hamil?"
"Mana saya tau!"
Arka semakin gusar. Alina memejamkan matanya saat merasa ia mulai mengantuk lagi.
Arka menatap kesamping, ia mulai mendekati istri kecilnya. Melihat wajah Alina dari dekat, hingga hembusan nafas keduanya saling bertabrakan.
Alina merasa hangat menerpa wajahnya, perlahan matanya terbuka, Alina kaget karena tiba-tiba suaminya ada dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Perasaan Alina tidak enak, ia merasa gerah dan panas dingin.
"Mas, Arka. Mau apa?" Alina sangat gugup.
"Kamu mau cepat hamil kan? Kita harus sering melakukannya!"
Alina menelan ludahnya susah payah. Arka terlalu frontal mengatakan kata-kata seperti itu.
Arka mulai mengeksekusi istri kecilnya, sampai Alina kewalahan dan tidak berdaya terkapar diatas ranjang yang sudah berantakan. Mereka mandi keringat semalaman, entah karena sudah dua minggu berpuasa, atau karena memang Alina yang sungguh memabukkan hingga membuat Arka lupa diri dan tidak bisa menahan dirinya.
"Terimakasih! Saya berharap kamu segera hamil! Tidurlah!" Arka mendekap tubuh kecil Alina yang lemas kedalam pelukannya.
Pagi hari, Alina sudah tidak melihat Arka disampingnya. Bahkan saat Alina melihat jam, rupanya sudah jam setengah sepuluh pagi.
"Yaampun! Aku kesiangan!" Pekik gadis yang bukan lagi gadis itu. Alina menyingkap selimy, dan ternyata dirinya tidak mengenakan sehelai benangpun.
Alina fikir semalam ia bermimpi didatangi Arka, lalu mereka menghabiskan malam bersama. Ternyata semuanya nyata, tidak mimpi.
Melihat ke sekeliling dan tidak ada siapapun, dan pintu kamar mandi terbuka menandakan tidak ada penghuni didalamnya.
Alina beranjak bangun sambil membawa selimut ditubuhnya. ia melihat sesuatu diatas nakas dibawah gelas, lalu mengambil secarik kertas dibawahnya.
'Dasar pemalas, kalau bangun jangan lupa sarapan dimeja makan sudah ada makanan! Jangan lupa vitamin promil nya diminum, ada disamping makanan. Saya berharap kamu segera mengandung!'
Meskipun Arka sudah pergi, tapi Alina merasa dihargai. Meski kalau didepannya langsung, pria itu teramat dingin dan menjengkelkan, namun berbeda saat sedang ada maunya, terlebih ketika membuatnya terlena diatas ranjang dengan gerakan yang teratur.
"Astaga, apa yang kupikirkan? otak suciku ternodai!" Gumam Alina. Ia segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Alina sangat bosan, tentu saja. Di apartemen besar itu tidak ada siapapun selain dirinya.
Sepertinya Alina akan kembali bekerja saja separuh waktu, lagian Arka juga tidak tau kan.
Semangat berkarya terus Authornya😍😍