NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Teras Bukan Tempat Berlindung

Bella duduk di kursi teras seperti orang yang baru sadar malam punya gigi.

Tangannya memegang gelas air dari Nadia, tapi ia belum minum. Airnya bergetar mengikuti jemarinya. Arman berdiri di dekat pagar, wajahnya keras, rambutnya berantakan, dan kemeja batiknya sudah kusut seperti habis ditarik-tarik.

Nadia berdiri di ambang pintu. Raka di sampingnya, memakai jaket tipis, wajah masih pucat karena terbangun mendadak.

Di jalan kecil depan rumah, dua lampu tetangga menyala.

Nadia melihatnya.

Bagus.

Kalau Arman ingin membuat ribut tengah malam, biar ia ingat suara keras selalu punya saksi.

"Sekarang bicara," kata Nadia.

Bella menatapnya, air mata turun.

"Mas Arman bilang dia tidak mau menikah."

Arman langsung menyahut, "Aku bilang kita perlu pikir ulang. Jangan memelintir kata."

Nadia menoleh padanya.

"Mas Arman, kamu mengejar calon istrimu sampai rumah orang tengah malam hanya untuk memperbaiki pilihan kata?"

Arman menggertakkan gigi.

"Ini urusan kami."

"Kalau urusan kalian sudah mengetuk pintu rumahku tengah malam, berarti sebagian menjadi urusan rumah ini."

Raka berkata tenang, "Arman, duduk atau pulang. Berdiri di pagar sambil berteriak membuatmu terlihat makin buruk."

Arman menatap pamannya.

"Om selalu membela dia sekarang."

"Dia istri saya."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Arman diam beberapa detik.

Nadia mengambil kursi lain dan meletakkannya di teras.

"Duduk."

Arman tidak bergerak.

"Atau pulang."

Bella menoleh panik.

"Mas, duduklah."

Arman akhirnya masuk ke teras dan duduk di kursi paling jauh. Ia tidak menatap Bella.

Nadia tetap berdiri.

"Sekarang jelaskan dari awal."

Bella menarik napas tersendat.

"Setelah lamaran tadi, Mas Arman mengantarku pulang. Di jalan dia diam terus. Aku tanya apa dia masih marah karena kerja di bengkel. Dia bilang hidupnya hancur sejak malam itu."

"Memang," gumam Arman.

Bella menatapnya.

"Lalu dia bilang kalau kami menikah, dia akan terjebak. Aku tanya terjebak dengan siapa. Dia diam. Aku takut, jadi aku minta kepastian. Dia marah. Katanya aku dan Ibu terlalu mendesak. Katanya kalau aku tidak menangis-nangis, Pak Hendra tidak akan menghukumnya."

"Itu benar," kata Arman.

Bella tersentak.

Nadia melihat wajah Bella berubah. Bukan kaget karena kalimat itu baru. Kaget karena Arman berani mengulangnya di depan orang lain.

Raka menatap keponakannya.

"Arman, kamu membuat masalah bersama Bella. Tanggung jawabmu bukan hukuman dari Ayahmu."

"Om mudah bicara. Om dapat istri, dapat simpati semua orang. Aku yang harus menanggung gosip."

Nadia tertawa pendek.

Arman menoleh tajam.

"Apa yang lucu?"

"Kamu masuk kamar dengan Bella di malam lamaranku, lalu sekarang mengeluh menanggung gosip."

"Kamu sudah menikah dengan Om Raka. Hidupmu baik-baik saja."

"Karena aku memperbaiki hidupku. Bukan karena kamu tidak merusaknya."

Arman hendak membalas, tapi Raka mengangkat tangan.

"Cukup. Ini bukan tempatmu berdebat dengan Nadia."

Bella memegang gelas lebih erat.

"Mas, aku tidak pernah ingin menghancurkan hidupmu. Aku hanya ingin kita bertanggung jawab bersama."

Arman menatapnya sinis.

"Bersama? Nanti kalau kita tinggal di kontrakan kecil, kamu bisa tahan? Kalau aku pulang bau oli setiap hari, kamu masih bicara cinta?"

Bella membuka mulut, tapi tidak ada suara.

Itulah jawaban yang paling jujur.

Arman tertawa pahit.

"Lihat? Kamu juga tidak siap."

Bella menangis.

"Aku siap kalau kamu tidak terus menyalahkanku."

"Kamu pikir aku siap dimarahi Ayah, ditertawakan orang bengkel, dan dipanggil keponakan oleh perempuan yang harusnya jadi istriku?"

Nadia menatap Arman lama.

Di kehidupan lalu, Arman juga selalu begitu. Semua sakitnya harus ditanggung orang lain. Jika ia gagal, orang lain yang membuatnya gagal. Jika ia marah, orang lain yang memancingnya. Jika ia memukul, perempuan yang katanya tidak tahu menempatkan diri.

Bedanya, malam ini ia belum punya hak atas rumah Bella.

Belum punya kunci untuk mengurungnya.

Nadia menoleh kepada Bella.

"Kamu dengar sendiri."

Bella mengangkat wajah.

"Tante..."

"Jangan menatapku seperti aku bisa membuat Arman menjadi laki-laki yang kamu bayangkan."

Bella menggigit bibir.

Raka berkata, "Kalian berdua punya dua pilihan. Pertama, lanjut menikah dengan kesadaran bahwa hidup kalian tidak akan seperti dongeng. Kedua, batalkan sekarang dan hadapi akibat sosial masing-masing."

Arman langsung berkata, "Aku mau batalkan."

Bella seperti ditusuk.

"Mas!"

Raka menatap Arman.

"Kalau kamu membatalkan, besok pagi kamu sendiri yang bicara pada Pak Darto, Bu Ratna, Eyang Marni, Pak RT, dan Ayahmu. Kamu jelaskan bahwa setelah merusak nama Bella, kamu memilih mundur."

Arman membeku.

Nadia menambahkan, "Dan jangan lupa jelaskan di depan tetangga bahwa kamu bukan korban. Kamu ikut masuk kamar."

Arman menatapnya dengan marah.

"Kamu senang sekali menghancurkanku."

"Aku? Mas Arman, aku bahkan sedang mengantuk."

Raka hampir tersenyum, tapi menahannya.

Bella menangis pelan.

"Mas, kalau kamu membatalkan, aku tidak punya muka lagi."

Arman memejamkan mata.

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Bertanggung jawab," jawab Raka.

"Dengan hidup yang tidak kuinginkan?"

Nadia menatapnya dingin.

"Aneh. Dulu kamu bilang cinta. Sekarang baru sadar cinta punya biaya?"

Arman diam.

Suara pintu rumah sebelah terbuka. Seorang bapak tetangga keluar, pura-pura melihat langit.

Raka menoleh.

"Pak Agus, maaf mengganggu."

Pak Agus kaget ketahuan.

"Oh, tidak apa-apa, Mas Raka. Saya cuma dengar suara..."

"Sebentar lagi selesai."

Pak Agus mengangguk, lalu tetap berdiri di halaman.

Saksi bertambah.

Nadia melihat Arman menyadarinya. Wajahnya langsung berubah. Ia bisa kasar dalam ruang tertutup, tapi di depan tetangga, ia masih ingin terlihat pantas.

Raka berdiri.

"Arman, antar Bella pulang. Besok pagi saya dan kamu menghadap Ayah."

"Om..."

"Tidak ada diskusi."

Nada Raka tidak keras, tapi final.

Arman berdiri dengan wajah gelap.

Bella ikut berdiri, masih gemetar.

Sebelum turun dari teras, Bella menoleh pada Nadia.

"Terima kasih."

Nadia menatapnya.

"Aku tidak menolongmu untuk melupakan apa yang kamu lakukan."

Bella menunduk.

"Aku tahu."

"Bagus kalau tahu. Pulang."

Bella berjalan ke pagar. Arman tidak menggandengnya. Mereka berjalan berdampingan seperti dua orang asing yang terikat oleh tali kusut.

Setelah mereka pergi, Pak Agus masuk rumah lagi. Lampu tetangga satu per satu padam.

Nadia menutup pintu.

Raka batuk pelan.

Nadia langsung menatapnya.

"Mas Raka duduk."

"Saya baik."

"Aku tidak tanya."

Raka menurut.

Nadia mengambil air hangat. Ketika ia kembali, Raka sedang menatap pintu.

"Saya minta maaf. Keluarga saya membawa masalah ke rumah ini."

Nadia menyerahkan gelas.

"Keluargaku juga ahli membawa masalah. Kita impas."

Raka tersenyum lemah.

"Teras kita baru ditempati drama besar."

"Teras bukan tempat berlindung," kata Nadia. "Kalau Bella ingin selamat, dia harus belajar memilih. Bukan hanya lari."

"Kamu pikir dia akan belajar?"

Nadia mematikan lampu ruang tamu.

"Tidak malam ini."

Mereka kembali ke kamar.

Namun sebelum tidur, Nadia duduk lama di tepi ranjang. Ia melihat tangannya sendiri. Dulu, tangan ini berkali-kali gagal mengetuk pintu siapa pun. Malam ini, pintunya sendiri diketuk oleh orang yang pernah merebut hidupnya.

Dunia memang punya cara aneh memutar orang.

Raka berbaring di sampingnya.

"Nadia."

"Ya?"

"Terima kasih karena tetap memberi air."

Nadia diam.

"Aku memberi batas," katanya pelan. "Bukan dendam buta."

"Saya tahu."

Ia mematikan lampu.

Di luar, malam kembali sunyi. Tapi Nadia tahu, pagi akan membawa ribut baru.

Dan kali ini, ribut itu akan mengetuk pintu Pak Hendra.

Sebelum benar-benar tidur, Nadia sempat mendengar Raka batuk sekali lagi. Ia bangun, memastikan selimut menutup dadanya.

"Aku membangunkanmu lagi?" bisik Raka.

"Tidak. Aku belum tidur."

"Kamu masih memikirkan Bella?"

Nadia duduk di tepi ranjang.

"Aku memikirkan diriku yang dulu. Kalau dulu aku datang ke rumah seseorang tengah malam, mungkin aku berharap ada yang membukakan pintu."

"Kamu tadi membuka."

"Tapi tidak membiarkan dia masuk."

"Itu bukan kejam. Itu batas."

Nadia melihat wajah Raka dalam gelap. Ia tidak memaksanya merasa baik. Ia hanya meletakkan kata yang tepat di tempat yang Nadia butuhkan.

"Batas," ulang Nadia pelan.

Kata itu sederhana. Tapi semakin lama, kata itu terasa seperti perabot paling penting di rumah kecil mereka.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!