NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Persahabatan / Disfungsi Ereksi / Tamat
Popularitas:916.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Auraliv

Disha dan Defan sama-sama dituntut oleh keluarganya masing-masing untuk menikah. Saat itulah mereka sepakat melakukan pernikahan kontrak.

Disha merupakan wanita karir yang selalu mengutamakan pekerjaan. Sementara Defan, tidak berminat menikah karena tak pernah memiliki hasrat jatuh cinta. Lelaki itu bahkan sengaja melakukan suntik impoten agar miliknya tidak berfungsi lagi. Disha dan Defan sendiri sudah bersahabat semenjak SMP.

Namun siapa yang menduga? 'Junior' Defan jadi tak terkendali saat melihat Disha melepas pakaian. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah pernikahan kontrak mereka dapat berjalan lancar?

*Note
Novel ini bergenre komedi romantis. Hanya sekedar hiburan. Yang baca pakai logika, sebaiknya baca novel detektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Drunk In Amsterdam

...༻✡༺...

Untung saja kali ini alat vital Defan sama sekali tak bereaksi. Dia sangat lega setelah mengetahuinya.

"Kau lihat apa?" tanya Disha yang heran menyaksikan Defan terdiam dan terpaku melihat ke bawah.

"Sepatuku kotor." Defan berkilah. Dia segera menyeret Disha untuk pergi dari hadapan Jerry. Lelaki itu tampak cemberut dalam keadaan mata mendelik.

"Kau benar. Ada yang aneh dengan Jerry," ucap Disha. Saat sudah berjalan jauh dari Jerry.

"Kau baru sadar sekarang?" tanggap Defan.

"Dia terus mengirim pesan kepadaku. Dan hari ini, dia tiba-tiba ada di sini. Aku harap dia juga tidak ikut kita ke Amsterdam setelah ini," ujar Disha.

"Kita harus bersiap. Kroco belum ada kabar?"

"Belum ada tuh." Disha mengangkat bahunya. Dia dan Defan kembali ke hotel. Ketika sore tiba, mereka berangkat ke Amsterdam.

Sesampainya di Amsterdam, Disha dan Defan lagi-lagi harus satu kamar. Sekarang keduanya berdiri di depan meja resepsionis.

"Kau mau pesan kamar lain?" tanya Disha. Menatap Defan dengan sudut matanya.

"Ya," jawab Defan singkat. Dia segera memesan kamar lain kepada resepsionis.

"Maaf, Tuan. Kamar kami sudah penuh. Kau beruntung sudah memesan kamar jauh-jauh hari," jawab sang resepsionis wanita. Dia menggunakan bahasa Inggris.

Defan dan Disha terdiam. Perlahan keduanya saling melirik. Mengingat kejadian terakhir kali, membuat mereka merasa tiba-tiba canggung.

"Aku akan cari hotel lain." Defan menatap ke arah pintu.

"Sekarang? Nggak capek?" tanya Disha. Defan lantas menoleh. Gadis itu melanjutkan, "Nanti saja kalau capek. Lagian hari sudah malam."

Defan memutar bola mata jengah. Dia merasa Disha ada benarnya. Dirinya memang agak capek sekarang. Alhasil Defan memilih beristirahat di kamar Disha dahulu. Lelaki tersebut langsung telentang ke sofa. Lalu memejamkan mata rapat-rapat.

"Toy, aku keluar sebentar ya. Aku mau beli kue. Aku lihat ada toko kue di dekat sini." Disha memperlihatkan lokasi toko kue yang dia cari di internet.

"Iya, aku nggak temanin ya..." sahut Defan.

"Siapa juga yang minta ditemanin." Disha segera beranjak pergi.

Disha berjalan menuju toko kue. Dalam perjalanan, dia merasa ada yang mengikuti. Gadis itu sontak menoleh ke belakang. Tetapi Disha tidak melihat siapapun. Hanya ada beberapa orang asing yang lewat.

Dahi Disha berkerut. Dia mencoba membuang rasa curiga. Kemudian lanjut melangkah. Sampai dirinya tiba di toko kue.

Setelah membeli kue, Disha beranjak dari meja kasir. Saat itulah dia memergoki seseorang tidak asing. Dia merasa kalau orang itu adalah Jerry. Lelaki tersebut langsung bersembunyi ketika melihat Disha menoleh.

'Sial! Apa dia Jerry?' batin Disha. Ia bergegas mendekati tempat persembunyian orang yang dirinya kira Jerry. Namun sosok tersebut telah menghilang.

"Aku pasti salah lihat." Disha menepuk pipinya satu kali. Dia segera kembali ke hotel. Disha memeluk tubuhnya karena kebetulan cuaca saat itu sedang dingin.

Disha memasuki area hotel dan segera menuju kamarnya. Gadis itu tidak lupa mengunci pintu.

"Kau kenapa?" tanya Defan. Dia bangun karena keributan yang dibuat Disha.

"Di luar dingin sekali," jawab Disha. Ia tidur sebentar. Disha dan Defan berniat akan makan jam 12 siang nanti.

Defan yang sedang terjaga, sibuk menonton televisi. Saat melihat ke dinding kaca, Defan menyaksikan di luar sedang turun salju.

Tanpa pikir panjang, Defan berjalan ke depan dinding kaca. Sebagai orang Indonesia, salju tentu bukanlah hal yang sering dilihatnya.

Defan selalu suka dengan keindahan alam. Itulah alasan dia sering mengajak Dimas dan Disha mendaki gunung. Karena sibuk, mereka sudah lama tidak melakukannya.

"Aku jadi rindu pemandangan di atas gunung," gumam Defan. Dia merasa tenang saat melihat butir-butir salju jatuh. Lelaki itu tidak lupa mengabadikannya dengan kamera.

"Wah... Turun salju. Kenapa kau nggak kasih tahu?" seru Disha yang entah sejak kapan terbangun. Dia ikut-ikutan mengambil foto pemandangan kota Amsterdam yang diselimuti salju.

"Kau kan tadi tidur," balas Defan.

"Ya dibangunin dong." Disha menyenggol Defan dengan siku. Keduanya terkekeh.

"Main kartu remi yuk," ajak Disha.

"Emang kartunya ada?"

"Ada dong. Aku selalu bawa kalau pergi sama kau dan Kroco." Disha bergegas mengambil kartu yang dirinya maksud. Dia dan Defan duduk berhadapan di atas ranjang.

"Siapa yang kalah dia akan kena coretan lipstik merah di wajah. Setuju?" ucap Disha.

"Setuju." Defan menarik sudut bibirnya ke atas. Merasa yakin akan menang.

"Jangan sok deh. Biasanya yang sok selalu kalah. Kalau kau kalah, aku akan kasih bibirmu itu lipstik," kata Disha.

Defan mengedikkan bahu. Dia dan Disha segera bermain kartu.

Permainan pertama dimenangkan oleh Disha. Gadis itu langsung memoles lipstik ke bibir Defan. Lalu tertawa geli.

"Awas kau!" geram Defan. Tanpa sadar, dia dan Disha mulai menikmati permainan. Satu hal yang mereka tidak tahu. Di luar salju turun semakin lebat.

Setengah jam berlalu. Wajah Defan dan Disha sudah dipenuhi dengan coretan lipstik merah. Keduanya tidak berhenti saling mentertawakan satu sama lain. Sampai akhirnya terdengar suara ketukan dari pintu.

"Biar aku yang buka." Defan beranjak dari ranjang.

"Kau yakin?" Disha tidak bisa menahan tawa. Bagaimana tidak? Tampilan wajah Defan masih dipenuhi dengan coretan lipstik. Lelaki itu pasti lupa kalau wajahnya penuh coretan.

Disha memilih diam. Membiarkan Defan membuka pintu.

Ternyata yang datang adalah seorang pelayan. Dia langsung kaget saat menyaksikan penampilan Defan.

"Ada apa?" tanya Defan.

Pelayan yang bertugas mengabaikan penampilan Defan. Dia berusaha bersikap profesional. Pelayan itu berdehem dan berkata, "Hotel kami kebetulan selalu memberikan sampanye berkualitas kepada tamu VIP di saat badai salju terjadi."

"A-apa? Badai?" Mata Defan membulat. Dia langsung menoleh ke arah jendela. Benar saja, salju turun sangat lebat.

"Iya. Selamat menikmati." Pelayan itu membungkuk hormat.

"Tunggu! Sampanye ini tidak mengandung obat perangsang kan?" Defan memastikan. Takut akan kejadian kemarin terulang lagi.

"Tentu tidak, Tuan. Ini hanya minuman beralkohol biasa yang sangat berguna untuk menghangatkan badan." Pelayan tersebut berlalu.

Defan lantas menutup pintu. Tanpa sepengetahuannya, di kamar sebelah ada seseorang yang sejak tadi mengintip dari balik pintu. Dia adalah Jerry.

...***...

"Sha! Katanya sedang ada badai salju!" seru Defan seraya berjalan mendekat.

Disha justru tertawa. Dia memberitahu mengenai wajah Defan yang dipenuhi coretan.

Gigi Defan mengerat sebal. Dia menarik Disha yang tertawa sambil rebahan. Defan tak peduli dengan tampilannya yang memalukan.

"Aku bilang, sekarang sedang badai salju." Defan menggerakkan kepala Disha ke arah dinding kaca.

Pupil mata Disha membesar. "Kau sepertinya tidak bisa mencari kamar di hotel lain," ujarnya.

"Tidak apa-apa. Aku mulai membaik sekarang," tanggap Defan. Dia membicarakan perihal organ intimnya.

"Maksudnya?" Disha tak mengerti.

"Bukan apa-apa." Defan tak acuh. Dia sedikit panik karena hampir keceplosan.

Defan membuka sampanye. Lalu menuangnya ke dalam dua gelas secara bergantian.

"Wah! Pelayan tadi yang ngasih?" Mata Disha selalu berbinar saat menyaksikan minuman beralkohol.

"Iya. Katanya bagus untuk menghangatkan badan." Defan menyodorkan Disha segelas sampanye.

"Ini nggak mengandung..." Disha membicarakan perihal wine tempo hari.

"Kagak!" ucap Defan yang dapat menduga pertanyaan Disha. Gadis tersebut tersenyum dan segera meminum sampanye.

Disha dan Defan duduk berdampingan di sofa. Keduanya menonton televisi. Mereka masih belum membersihkan lipstik yang ada di wajah masing-masing.

Disha terus menuang sampanye ke dalam gelas. Seperti biasa, dia selalu tidak bisa mengontrol diri jika terlanjur meminum alkohol.

"Sudah! Jangan banyak-banyak!" tegur Defan dengan dahi berkerut dalam. Dia mencoba merebut gelas Disha. Namun gadis itu menjauhkan gelasnya dari jangkauan Defan.

Disha menatap Defan. Dia tersenyum. Tanpa diduga, tangannya menyentuh bibir bawah Defan.

Mata Defan terbelalak. Darah disekujur badannya berdesir hebat. Defan langsung melihat alat vitalnya. Benda itu lagi-lagi menegak.

Defan buru-buru mengambil bantal sofa dan meletakkannya di atas pangkuan. Dengan tujuan agar Disha tidak bisa melihat.

Meskipun begitu, Defan tidak menjauhkan tangan Disha dari bibirnya. Gadis itu tergelak.

"Kau lucu sekali, Toy..." ujar Disha yang mulai diserang perasaan mabuk. Kini dia merebahkan diri ke bantal yang ada di pangkuan Defan. Saat itulah atensi Defan tertuju ke arah belahan dada Disha yang sedikit terlihat.

Defan menenggak salivanya sendiri. Perkataan Ferdi mendadak terlintas dalam benaknya.

'Kau tahu bagaimana tersiksanya dirimu jika menahan kencing. Itu juga berlaku dengan apa yang kau rasakan.' Kalimat itu beberapa kali terngiang di telinga Defan.

'Haruskah aku mencoba?' batin Defan. Dia memegangi dagu Disha. Kemudian menyumpal mulut Disha dengan ciuman.

"Eumph!" Disha yang sudah mabuk, membalas ciuman Defan.

1
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
🔥🔥🔥🔥
Yundari Gayosa
Luar biasa
Marine Gulo
Biasa
Marine Gulo
Kecewa
Nindy Liani
Luar biasa
Ayachi
👍
Ayachi
novelnya up di apk baca novel Mana yahhh, thorr?!
Auraliv: sudah aku hapus kak
total 1 replies
Ayachi
Jangankan pil Kontrepsesi ataupun pengaman, Suntik IMPOTEN aja masih ga mempan smaa gagaknya Defan😭😭🤣
Ayachi
ga habis thinking gw, sesubur apa sebenarnya defan ini😭😭😭🤣
Ayachi
Aisshhh, Lebih bejad dari bapaknya si Zidan ini mah, parah deh
Ayachi
Sumpah nih anak satu, Gak gentle banget sihh, bapaknya Bejad anaknya Gak gentle jdi cowo hisss
Ayachi
Mau bohongin Zidan? Dia aja ngatur strategi utk ngelawan Wira demi bisa enak²an sama Zerin, bahkan masih banyak kebohongan lgi🤣 Udah Suhu si Zidan soal bohong² gini🤣🤣
Ayachi
Trjebak frendzone yah
Kamiem sag
habislah kau Def
Kamiem sag
bingung Disha? bayangin aja gak merasa diperawanin tau2 bunting🤣🤣
Kamiem sag
benar benar bejad si Def mau menggauli istri dlm keadaan tdk sadar
Kamiem sag
moga Jerry menemukan gadis yg lebih baik
Kamiem sag
nyamukpun kena sasaran😀😃
Kamiem sag
bejat banget Defan gak tanggung jawab gak mau ngakuin perbuatannya
Kamiem sag
nah mulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!