Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua
Jika biasanya Aruna akan menunggu untuk sarapan bersama, kali ini ia hanya berjalan melewati ruang makan tanpa menoleh sama sekali. Tidak perduli apakah ada sang kepala keluarga atau ketiga saudaranya di sana. Dulu ia begitu menghormati mereka, tapi sekarang Aruna kehilangan rasa hormat itu pada mereka.
Ketika di luar, Aruna bahkan melewati mobil yang nantinya akan di pakai untuk mengantarnya kesekolah. Ia mungkin diabaikan, tapi setidaknya mereka menyediakan fasilitas untuknya. Di antar dengan mobil ke Sekolah takkan merubah apa pun. Apa gunanya ketika yang Aruna butuhkan adalah kehadiran mereka saat ia terluka.
"No-nona tunggu! Nona Aruna!" panggil sang supir yang kebingungan dengan tingkah Aruna.
"Ada apa?" sebuah suara menegur tiba-tiba dan membuat sang supir terkejut. Ia refleks berbalik dan mendapati Alvaro Putra Adijaya—si sulung keluarga Adijaya— berdiri dengan raut wajah datar andalannya.
"Tu-Tuan muda!"
"Aku bertanya, ada apa?"
"A-ah, itu Nona Aruna langsung pergi begitu saja ke Sekolah berjalan kaki," lapornya.
Alvaro berdecak, "Merepotkan. Biarkan saja."
"I-iya, Tuan."
Meski begitu, kening Alvaro berkerut bingung. Tadi ia sempat melihat Aruna berjalan melewati ruang makan begitu saja bahkan tanpa mengucapkan selamat pagi seperti biasanya. Tapi Alvaro tak mau ambil pusing, ia langsung masuk kedalam mobil miliknya dan bergegas menuju perusahaan.
***
Di Sekolah..
Aruna mendapatkan hukuman mengangkat sampah karena terlambat, ia tak masalah karena memang tak ingin menghadiri kelas. Ketika selesai, bukannya kembali ke kelas tapi Aruna malah berjalan menuju belakang sekolah dan terduduk di sana. Tanpa pikir panjang langsung membaringkan tubuhnya di rerumputan hijau begitu saja. Jika saja hari-harinya bisa setenang ini, maka ia takkan menyesali apa pun nantinya.
"Terlambat dan sekarang membolos, Aruna Cheryl Adijaya, kau tidak seperti biasanya," tegur sebuah suara. Aruna membuka mata dan mendapati sosok anak lelaki yang berdiri di dekat kepalanya.
Tak bisakah ia dibiarkan sendirian?
Anak itu bangun dan menoleh ke belakang. Mahesa Gavin Alvarendra, salah satu murid berprestasi kesayangan semua guru juga merupakan putera bungsu dari keluarga Alvarendra. Kening Aruna mengerut karena ini pertama kalinya anak itu berbicara padanya. Seingatnya dulu, bagaimana pun keadaannya, tak pernah sekali pun ia ditegur begini. Justru anak itu bersikap seolah tidak melihatnya sama sekali.
Tapi, kenapa sekarang berbeda?
"Oh, kau tahu nama lengkapku."
Tapi ia tidak merespon.
Tak ingin berlama-lama dengan anak itu, Aruna memutuskan untuk berdiri dan pergi begitu saja. Mungkin anak itu akan melapor pada guru nanti karena melihatnya membolos. Ketika ia sedang berjalan, bel istirahat sudah berbunyi hingga sekolah yang tadinya sepi langsung ramai dengan suara anak-anak.
"Una!"
Langkah kaki Aruna berhenti saat mendengar suara yang begitu ia rindukan. Hanya satu orang yang memanggilnya begitu dan orang itu adalah,
"Ganesha," ucapnya lirih hampir menangis. Melihat keadaan sahabatnya yang baik-baik saja tanpa ada satu pun kekurangan.
Ganesha tersenyum lebar dan menghampirinya dengan cepat. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Aruna langsung memeluk Ganesha erat sekali dan membuat anak itu bingung, tapi ia tertawa pelan.
"Una, kau kenapa? serindu itu, heh?" goda Ganesha.
"Ya, aku rindu padamu. Sangat rindu, Ganes."
Ganesha mengerjap kaget saat mendengar suara Aruna bergetar, "Astaga! kau menangis?"
Dengan cepat Ganesha menarik tangan Aruna dan membawanya pergi ke tempat yang lebih sepi, karena mereka berada di koridor sekolah tadi dan semua anak melihat penasaran.
"Hey, ada apa denganmu? Kau di jahati lagi? Kali ini siapa? Katakan! Marina? atau Paula? Katakan!"
Aruna terisak lalu tersenyum kemudian menggeleng, ia menggenggam kedua tangan Ganesha lembut.
"Aku hanya merindukanmu. Itu saja."
"Una, serius! Kau menakutiku!"
Hal itu membuat Aruna tertawa sembari menghapus airmatanya, kemudian menatap Ganesha lagi, "Aku bermimpi kau pergi meninggalkanku. Jadi, saat melihatmu tadi aku langsung merasa lega."
"Ya, Tuhan anak ini! Kau membuatku Over thingking!" gemas Ganesha.
"Maaf, deh," kekehnya lagi.
Ganesha menghela nafas, "Hari ini tumben tidak mengikuti kelas. Biasanya meski terlambat kau takkan melewati kelas. Kau sakit?"
"Hanya sedang tidak ingin."
"Apa-apaan itu dengan jawabanmu. Mengikuti kelas itu wajib, Una!"
"Tapi aku senang melihatmu hari ini," ujar Aruna tidak nyambung diikuti tawanya yang lembut.
"Kau membuatku malu. Hentikan itu."
"Aku lapar. Ayo makan," ajak Aruna tiba-tiba.
"Di kantin?" tanya Ganesha memastikan.
Aruna mengangguk, "Memang di mana lagi kalau bukan kantin?"
"Habisnya kau selalu menolak saat ku ajak kekantin," kata Ganesha.
Benar. Karena sering mendapat cemo'ohan dan sindiran-sindiran tajam, Aruna tidak menyukai tempat yang di penuhi anak-anak. Ia memilih duduk sendirian di taman belakang sementara Ganesha yang akan kekantin dan membelikannya makanan. Tapi kali ini tak ada alasan bagi Aruna untuk merasa takut. Ia sudah mengalami hal yang lebih buruk dari itu, jadi masalah seperti ini bukan apa-apa baginya.
Saat Aruna dan Ganesha memasuki kantin, beberapa anak langsung melihat ke arah mereka. Ganesha sempat panik karena ia takut Aruna akan merasa minder atau tak nyaman, nyatanya Aruna nampak tidak perduli dan malah fokus memilih cemilan untuk di makan.
Setelah membeli makanan, mereka duduk di salah satu tempat kosong dengan diikuti tatapan mata beberapa anak.
"Hey, kau baik-baik saja?" Ganesha berbisik.
"Ya, kenapa memang?"
"Aku hanya cemas."
Aruna menoleh dan tersenyum, "Jangan cemaskan aku. Aku baik-baik saja, kok."
"Baiklah," balas Ganesha dengan senyuman juga dan mulai memakan makanannya.
Namun, tiba-tiba seseorang seperti melewati pinggir Aruna dan dengan sengaja menumpahkan makanan di pakaiannya. Suara pekikkan kaget terdengar karena aksi itu, bahkan Ganesha sampai melotot syok.
"Aduh, aku tidak sengaja. Maafkan ya Aruna~ tanganku terpeleset tadi," ucapnya dengan kekehan pelan diikuti teman-temannya yang lain.
BRAK!
Ganesha menggebrak meja dan menatap anak itu tajam, "Paula! Kau sengaja melakukannya!"
Anak perempuan berkuncir dua dengan pita merah besar dimasing-masing kunciranya itu hanya menatap remeh.
"Eyy, kenapa menuduh begitu. Coba tanya teman-temanku di sana, mereka tadi melihat kalau aku tak sengaja. Iya, kan teman-teman?"
"Iya, tuh! Jangan menuduh, dong! Paula tidak sengaja, kok!"
"Benar!"
Sahutan demi sahutan terdengar seolah mendukung Paula dan menyalahkan Ganesha yang katanya asal menuduh. Sementara Paula melirik Aruna yang hanya diam seperti biasanya tanpa mengatakan apapun, senyuman miringnya terbit begitu saja.
Seharusnya begitu, sih.
Tapi nyatanya—
BYUR!
Aruna menuangkan minuman dingin miliknya dari atas kepala Paula bahkan menjatuhkan gelas plastik kosong begitu saja.
Suasana menjadi hening seketika karena aksi Aruna yang diluar dugaan. Bahkan Ganesha tak dapat berkata apa pun.
"Astaga, aku tidak sengaja menumpahkannya. Maafkan ya Paula~ tanganku terpeleset," balas Aruna dengan senyuman lebar.
"Aruna! Kau—"
"Ppffttt! Hahahahahahaha!" suara tawa terdengar tiba-tiba dan membuat jeritan Paula berhenti. Ia melihat ke arah suara tersebut begitu pun anak-anak lainnya di kantin.
"Ah, Maaf..abaikan saja aku," ucap anak lelaki itu dengan senyuman lebar.
Sementara Aruna hanya mendengus saja, ia membersihkan sisa-sisa makanan dari seragamnya lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Menyadari hal itu membuat Paula langsung memekik kesal dan menangis karena merasa di permalukan.
Bukankah mereka baru berusia 10 tahun? Kenapa senang sekali bersikap seperti penjahat di Drama-drama?
Ternyata anak-anak sultan sifatnya mengerikan semua.