NovelToon NovelToon
Bukan Istri Pilihan

Bukan Istri Pilihan

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:103.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: jasmine murni

Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.

Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.


"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.


Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Apakah Maya hamil?

Pagi-pagi sekali, Maya sudah rapi. Wanita itu juga sudah memasak makanan kesukaan suaminya. Setelah selesai sarapan, mereka kembali ke kamar. Maya membantu suaminya menyiapkan tasnya untuk mengajar.

"Mas hari ini mengajar sampai pukul berapa?" tanya Maya lembut.

"Mas hanya sampai pukul sebelas. Kamu?" Aldo balik bertanya.

"Aku hanya sampai pukul sepuluh, mas."

"Hhmm, nanti mas sholat dhuhur di masjid Ponpes saja, ya."

Maya menganggukkan kepalanya, "Iya, mas. Tapi makan di rumah, kan?"

Aldo mengangguk, "Iya, makan di rumah, kok."

"Aku akan masakin mas makanan yang enak," ucap Maya dengan tersenyum malu.

"Terimakasih, ya. Yuk, kita berangkat sekarang,"

Maya pun berangkat ke Ponpes bersama suaminya dengan wajah yang ceria.

Begini ya rasanya benar-benar memiliki suami. Pantas saja yang lain selalu terlihat ceria setiap kali datang bersama suami mereka. Maya membatin. Senyum tak lepas dari bibirnya yang berlipstik tipis.

"Itu ada teman-teman kamu. Mas mau langsung ke kantor, ya," pamit Aldo pada istrinya saat mereka sudah sampai di Pondok Pesantren.

Maya menganggukkan kepala lalu mencium punggung tangan suaminya takjim.

"Assalamualaikum, " sapa Maya pada teman-temannya.

"Wa'alaikumsalam, "sahut teman-temannya.

"Wah Ustadzah Maya hari ini ceria banget, wajahnya berseri-seri. Pasti lagi bahagia, ya," goda Zahra.

Maya tersenyum malu.

"Yuk teman-teman, kita ke kelas," ajak Maya tanpa menjawab ucapan dari Ustadzah Zahra.

Mereka pun lalu menuju ke kelas di mana mereka akan memberikan pelajaran pada santri dan santriwati.

Wah Ustaz sama ayah setelah menyiapkan keperluan suaminya Sarah pun segera bersiap pergi ke pondok pesantren yang berada di sebelah rumah mertuanya Mas berangkat dulu," pamit Farel.

"Assalammu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," sahut Sarah sembari mencium tangan suaminya takjim.

Farel pun pergi lebih dahulu. Sarah lalu merapikan sedikit kamarnya baru setelah itu menyusul suaminya ke pondok pesantren.

Saat waktunya istirahat siang, Sarah hendak pulang membantu menyiapkan makan siang. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

"Astagfirullah," sontak Sarah kaget dan hendak melepaskan orang yang memeluknya.

"Assalammu'alaikum, ustadzah Sarah."

"Wa'alaikumsalam. Ustadzah Maya? Kamu bikin aku kaget saja," ucap Sarah sedikit kesal. Jantungnya bahkan berdebar-debar.

"Maaf," ucap Maya penuh penyesalan seraya menakupkan kedua tangannya di depan dada.

"Aku pikir siapa, May. Peluk-peluk. Aku kaget dan takut."

"Maaf banget, ya. Hari ini aku bahagia banget, Sar," jelas Maya dengan wajah merona.

"Alhamdulillah. Tapi bahagianya jangan hari ini saja. Setiap hari kita harus bahagia!" ucap Sarah.

Maya mengangguk pelan, "Iya. In Sya Allah, aku akan bahagia setiap hari "

"Aku turut bahagia, May," ucap Sarah tulus.

"Terimakasih, Sarah. Akhirnya aku bisa merasakan jadi istri yang seutuhnya. Sama seperti kamu dan yang lain."

Sarah tersenyum, "Kita hanya perlu sabar dan selalu berdo'a."

"Iya, kamu benar, Sarah. Dan semoga aku bisa menyusul Fanny. Aku ingin lekas hamil untuk memperkuat ikatan antara aku dan mas Aldo."

"Aamiin. Allah akan selalu bersama hambanya yang bersabar."

***

Beberapa minggu kemudian.

Maya terlihat memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dan tiba-tiba perutnya juga terasa mual. Maya buru-buru pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.

"Maaf, aku mau ke kamar mandi dulu," pamit Maya.

Di dalam kamar mandi, Maya memuntahkan isi perutnya yang sempat dia isi beberapa sendok nasi goreng. Sarapan yang dia masak sendiri. Menutupi mulutnya supaya suaranya tidak terdengar oleh anggota keluarga lain yang sedang sarapan.

Aldo mengetuk pintu kamar mandi lalu buru-buru menghampiri istrinya itu. Mengusap lembut leher belakang Maya.

"Kamu kenapa? Kita ke dokter, ya?" tanya Aldo khawatir.

Maya menggeleng lemah, "Aku mau istirahat saja, mas. Tidak apa-apa kan hari ini aku libur mengajar?"

"Kamu yakin tidak mau ke dokter?"

Maya mengangguk yakin.

"Baiklah. Mas akan minta ijin kamu libur hari ini. Ayo mas antar ke kamar," ucap Aldo lembut.

Maya menganggukkan kepalanya. Mereka pun pergi ke kamar.

"Maya kenapa, Al?" tanya Alya. Mama Aldo saat mereka melewati ruang makan.

"Mungkin kecapekan saja, ma," jawab Aldo.

"Hhmm, apa jangan-jangan Maya hamil? Ah mana mungkin ya. Paling karena maghnya yang kambuh. Makanya makan teratur jangan malas makan," ucap mama Aldo ketus.

"Mama, kok bilangnya begitu? Al, ajak istri kamu ke kamar!" titah papa Aldo.

"Ya sudah istirahat saja sana. Kalau perlu, Maya tidak usah mengajar lagi. Fokus saja jadi istri. Kalian sudah menikah berapa bulan kok Maya belum hamil juga. Mama dengar teman-teman kalian yang menikah bareng sudah hamil," ucap mama Aldo masih ketus.

Maya menundukkan kepalanya sedih. Bagaimana mau lekas hamil kalau suaminya saja baru satu bulan ini baru mau menyentuhnya.

Sampai di kamar mereka, Aldo membaringkan istrinya di atas tempat tidur. Istrinya itu terlihat sedih.

"Maafin mama, ya. Tidak usah kamu pikirkan ucapan mama. In Sya Allah, kamu bisa segera hamil," hibur Aldo.

Maya tersenyum getir lalu tidur miring membelakangi suaminya itu.

"Hhmm, maafin mas, ya. Ini karena mas yang. . ."

"Sudah siang, mas. Mas sebaiknya ke Ponpes sekarang saja supaya bisa bilang sama Ustadzah Fanny kalau aku tidak bisa datang," ucap Maya memotong ucapan suaminya.

"May, mas benar-benar minta maaf, ya. Kita lebih berusaha lagi ya, supaya kamu bisa segera hami," ucap Aldo.

Maya tersenyum getir. Selain dia baru satu bulan mendapatkan nafkah batin, suaminya itu juga jarang memenuhi kebutuhan batinnya itu. Maya sering merasa sedih. Kadang sudah berusaha untuk menggoda suaminya dengan mencoba bersikap manja tapi suaminya masih tetap sibuk dengan pekerjaannya yang memang sedang banyak tugas dari Ponpes tempat mereka mendidik santri dan santriwati belajar ilmu agama.

Kalaupun sedang tidak sibuk, maka Aldo akan langsung tidur setelah mereka selesai sholat isya. Terbangun tengah malam pun hanya untuk sholat tidak pernah berpikir untuk meminta hak dan memenuhi kewajibannya.

Maya berusaha memakluminya jika saja mama mertuanya tidak menuntutnya untuk cepat hamil.

"May, jangan diam saja."

"A-aku tidak apa-apa, mas. Mas jangan khawatir," ucap Maya lirih.

"Hhhmm. Nanti malam siap-siap, ya."

Maya mengernyitkan dahinya, "Aku tidak apa-apa, mas. Jadi tidak perlu ke dokter. Atau mas mau periksa kesuburanku ke dokter?" tanya Maya.

Aldo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, "Hhmm, maksud mas. Nanti malam, kita. . ." Aldo lalu membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.

Seketika wajah Maya menghangat. Pipinya merona merah.

"Kamu mau, kan?" tanya Aldo lembut dan mesra.

Maya mengangguk lalu menundukkan kepalanya karena malu.

"Sudah jangan sedih lagi. Kalau perlu kita akan setiap hari, hmm? Kamu mau, kan?"

Maya hanya menunduk saja. Wajahnya makin merona.

"Hhmm, ya sudah mas pergi dulu. Kalau butuh apa-apa, kamu telepon mas, ya."

"Hhmm, iya, mas."

"Assalammu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," sahut Maya lalu mencium punggung tangan suaminya takjim.

1
Eliani Elly
👍
Rodiyah Rosyal
bagus.
lovely
mau baca tapi sepertinya gantung🤔
Nunung
Kapan mau up nya thor dh lama nih belum up juga kangen keromantisan dan kemersraan farrel ma sarah
Hayati Nupus
ini novel gimna sih g jelas bgt..g ada klanjutannya bikinnya nanggung gini
Authophille09
adohh farel kok PLIN plan sekali, kalo mmg blm bis kepastian Yo jangan mulai baperin anak orang toh le🤦
Authophille09
Ayo Aldi, kamu pasti bisa move on💪💪
Authophille09
sabar Sarah, orang sabar di sayang Tuhan. urusan jodoh udh ada yg ngatur, tinggal gmn kita jalaninnya aja.
Authophille09
holla kak, dua episode udah aku lewatin nih. kuy mampir di "Janji Aksara" kita kenalan sama bang Arka dkk.
Authophille09
holla kak Sarah👋 babang Arka mampir nih, bawa paket lengkap juga🤭 fav,vote, like dan koment lengkap.
Hayati Nupus
ka kpan lanjutannya..apakah sudah tamat
bunda Akram/Aqilah
sehat slalu buat author...
tetap semangat up'nya
Farida Wahyuni
itu amalia kapan pulang ke asalnya? mengganggu bgt sih. bete kalau ada bibit2 pelakor.
bunda Akram/Aqilah
smoga bener2 hamil si sarah
Riyanti Riri
sarah hamil ...
semangat thor...biar crazy up ya
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
Hamil sarah
Siti Nurlaela
udah lama nunggu pas ada dikit amat
Mama Garnis
dikit bbgt up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Berharap jadi awal yang baik untuk Sarah dan Farel...semoga...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Sakitnya hati jika ada di posisi Sarah...😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!