NovelToon NovelToon
Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi

Status: tamat
Genre:Patahhati / Romansa / Tamat
Popularitas:621k
Nilai: 5
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

📖Harap sediakan tissue karena cerita mengandung bawang. 📖


"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?"

"Pe, kamu lagi hamil! Kalau jatuh bagaimana?"

"Kalau minta suap, mau nggak?"

"Jangan manja ya, Pe. Kakak sedang buru buru!"

"Oh...ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rapat-rapat ya. Takutnya, Pe pergi dan hanya ada badai yang menggantikan kepulanganku."

Galaksi Miller Al Malik, kerap disapa Dibi, tidak tahu kalau istrinya--Pelangi Sagara sedang sakit keras seraya mengandung. Permintaan sederhana terakhir istrinya itu tidak terpenuhi olehnya sampai sang istri meninggal.

Selama pernikahan terpaksa itu, Dibi hanya mempedulikan seorang mantan kekasihnya yang sama halnya sedang sakit dan minta perhatian seorang Dibi.

Sampai saatnya, Istrinya meninggal baru ia menyadari kalau cinta besarnya itu hanya pada sang istri.

Penyesalan tak terkira dan tiada henti menggerogoti hari Dibi setelah kepergian Pelangi.

Benarkah Pelangi meninggal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan Kecil Tak Terpenuhi

Bumantara berselimut awan gelap di atas sana, hujan rintik rintik pun baru usai turun di pagi hari yang sangat dingin, padahal musim sebenarnya sedang masuk musim panas. Tapi entah kenapa, sinar matahari nampak kalah oleh awan yang gelap nan tenang itu.

"Apakah akan ada pelangi setelah hujan?" monolog Pe yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya.

Kursi putih besi panjang yang basah itu, tak di hiraukan oleh Pe, yang penting ia bisa duduk dan menunggu pelangi indah di atas sana. Tapi nyatanya, awan abu abu itu, begitu badung tidak mau beranjak di depan sang surya.

Hem... Merasa percuma, Pe hanya bernafas gusar seraya mengeluarkan banyak helai rambutnya yang rontok saat menyisir di kamar tadi. Pe sengaja mengantongi rambutnya itu agar Dibi tidak mengetahui tubuhnya yang sedang tidak baik baik saja.

"Bahkan, rambut ku pun sudah mulai mengkhianati kepalaku. Apa aku akan melihat wajah ku tanpa ada rambut? Pasti sangat jelek sekali! " Miris, tatapannya sangat naas memperhatikan rambut rambutnya yang ada di telapaknya.

"Ibu Pe, sarapan sudah siap. Pak Dibi juga sudah ada di meja makan menunggu Anda." Asisten rumah itu datang melapor takzim, membuat Pe terkesiap sampai sampai rambut yang tadi nya di pegangnya itu jatuh dan tak sengaja di injaknya sendiri.

"Mbak Nunik, tolong Pak Dibi suruh ke mari ya," pintah Pe yang tumben sekali mempunyai hasrat ingin di gendong. Ia ingin mencium aroma Dibi dalam gendongan. Dulu ia memang sering di gendong manja oleh Dibi, tapi itu lain. Saat ini, ia ingin merasakan gendongan itu sebagai suaminya, bukan sebagai Kakak tanpa darah itu.

"Baik, Bu, tunggu ya!" ART yang masih muda dari kampung itu, segera menurut patuh.

Setelah kepergiannya, Pe kembali mendongak ke langit yang masih saja abu abu mendung, semendung hati Pe yang kelabu tanpa warna cerah itu. Ia kadang merutuki namanya yang menggambarkan keceriaan, tapi tak sesuai dengan takdirnya.

"Pe, ada apa? Ayo kita sarapan." Dibi yang masih jauh lima langkah di belakang sana, langsung bertutur ajak, terlihat buru buru seraya melirik sejenak jam tangan di pergelangannya.

"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?" pinta Pelangi dengan nada lemah nan seperti memohon yang di dengar oleh Dibi.

Sejenak, Dibi berjongkok yang sudah di depan kursi taman ya Pe duduki.

"Pe, kamu lagi hamil, kalau jatuh bagaimana?" tolak Dibi seraya menunjuk lantai taman yang basah setelah diguyur gerimis itu.

"Sini, aku tuntun aja."

Pe meraih tangan Dibi yang mengulur ke hadapannya dengan hati kecewa karena hasratnya yang begitu menggebu gebu mau di gendong, tidak terlaksana.

"Pe, hari ini adalah hari terakhir Kiara dalam operasi yang kesekian kalinya. Tak apa ya, Kakak pulangnya sedikit malam?" izin Dibi seraya berjalan dalam pegangan tangan itu bersama Pe.

Wanita yang sedang kecewa hati itu, hanya diam. Tidak menolak tidak pula mengizinkan, terserah suaminya mau apa juga, Pe sudah merasa lemah hanya mau bertutur dengan nada lembut apalagi marah marah yang butuh tenaga pita suara sempurna.

"Pe, kamu ijinin tidak?"

"Nggak di izinin pun, Kak Dibi tetap akan pergi kan? Jadi, terserah kakak aja," cuek Pe dengan nada tenang.

Garis bibir Dibi berbentuk lurus rapat rapat seraya menatap wajah istrinya yang teduh tak ada mimik, sangat datar. Pasti Pe marah, batinnya bersalah. Tapi kembali lagi pada prinsip awalnya yaitu Kiara yang lebih membutuhkan sport dari nya.

Sampai di meja makan, Pe dan Dibi duduk dalam diamnya.

Wanita yang harusnya melengkapi gizi tubuh nya dalam kehamilan itu, malah tidak nafs* melihat sarapan yang sudah tertata rapi di table tersebut.

"Ayo di makan, Pe!" Dibi berucap seraya mengunyah buru buru, karena sudah kesiangan pergi ke kantor pusat yang akan ada acara meeting sesama petinggi Polres.

"Kalau minta suap, mau nggak?"

Tidak dapat gendongan, tak apa Pe ingin merasakan suapan tangan dari suaminya itu. Pe berharap, Dibi mau kali ini meski hanya sesuap saja.

Tapi... Ia kecewa lagi dengan tolakan lembut suaminya.

"Pe, jangan manja ya, Kakak sedang buru-buru."

Dibi tidak melihat wajah sedih Pe karena mau meneguk jus alpukat alami tanpa gula, susu, apalagi es itu. Setelahnya berdiri seraya menghela bibirnya menggunakan tissue.

"Oh, ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rumah rapat-rapat ya! Takutnya, Pe pergi dan hanya akan ada badai yang menggantikan kepulanganku!"

Deg... Jantung Dibi tersentak kaget. Ia tertegun membatu yang hampir berbalik, saat mendengar untaian Pe yang sangat terdengar ambigu itu.

Pe sendiri tidak tahu apa yang ia bicarakan, untaian itu main spontan mencuat dari bibir pucatnya yang sudah lama menahan beban sakit nan nyeri itu.

"Apa maksud mu, Pe?"

"Apanya? Kenapa wajah Kakak sampai seserius itu? Aku hanya mau pergi ke kantor Topan, itu maksudku." Pelangi tersenyum paksa. Lalu berdiri dan main kecup pipi Dibi yang masih menatapnya aneh.

"Katanya buru buru, pergilah!" seru Pelangi mengingatkan dan kembali duduk lagi.

Dibi pun tersadar dan mengangguk kecil. Kakinya hari ini sangat merasakan beban berat untuk pergi ke aktivitas biasanya. Entah kenapa? Tapi hati Dibi sedang tidak tenang. Namun, mengingat tangguh jawabnya sebagai pemimpin, Dibi memaksa kaki itu pergi bekerja, apalagi kemarin Kiara katanya butuh di temani sebelum operasi.

"Hiks... Hiks...." Pelangi yang sudah duduk sendiri di meja makan itu, sudah tidak kuat menahan beban laranya, sehingga melampiaskan ke matanya. Buliran demi buliran itu jatuh bebas dan kian beranak ke pipi nya.

Ia menangis seraya memaksa nasi yang ada di mulutnya tertelan masuk demi gizi anaknya.

"Aku makan nasi, tapi rasanya pasir yang aku telan." gumamnya seraya tersenyum kecut dalam buliran kepedihannya sendiri.

Tidak mau di lihat oleh ART-nya bersedih, yang sedang berjalan ke arahnya, Pe gegas berdiri dan pergi tanpa permisi.

"Tumben Ibu Pe nggak minum obat. Duh... Mau negur tapi takut dibilang lancang." ART itu bergumam seraya menatap obat vitamin Pelangi yang masih utuh. Mereka tidak tau aja, botol pil itu sudah di ganti isinya oleh Pe dengan obat anti nyeri sakit kerasnya.

***

1
umi istilatun
👍
Nur Aini
ya Alloh sakit nya💔💔💔😭😭😭😭😭😭
Rosdiana Dian
sumpah nyesek,,🥲yah semoga aja ada keajaiban
Tri Wulandari
Luar biasa
guntur 1609
dibi kau tu bukan cinta lagi sm pelangi tapi obsesi mu dengan rasa bersalah mu. kau harus bnyak belajar dari guntur
guntur 1609
sudah tahu salah. tapi omonganmu itu loh dibi. gak enak di dengar
guntur 1609
apa mngkn badai yg menyelamatkan pelangi ya
guntur 1609
oh brti biru sm bintang yg sepupuan
guntur 1609
rasakan kau dibi. seorang perwira kok gak pakai otak. masih sj berkhianat dengan mudahnya. waktu hamil. istrimu kau abaikan sekarang kau dikasih pelajaran sm pelangikan
guntur 1609
aku rasa pelangi belum mati
guntur 1609
sedih kata2 terakhir pelangi
guntur 1609
dasar bodat kau dibi. sanggup istrimu hamil kau gitukan. pantaslah kau dipukuli sm si kembar
guntur 1609
kau ja yg gak punya otak. ketika istrimu periksa. di alihat kau sm oelakormu
guntur 1609
mampus kau dibi, nyesal kau kn
guntur 1609
sekarang kau bru nyesal
Shifa Burhan
pelukan teman, ujung ditebut juga

pelakor dan pebinor sama laknat

jika ada yang membela pelakor dia sama laknat nya begitu juga kalau ada yang membels pebinor sama laknat nya juga

dan lagi thor apakah jika suami berpelukan dengan wanita lain dengan alasan pelukan teman, apakah kau Terima begitu saja dan anggap itu hal benar

thor jadi lah wanita bijak
Sri Watigustami
kecewa aq thor,emg didi bersalah to masa gk ada kesempatan kdua,maunya cinta didi dan pelangi bersatu,to malah gini endingnya🤦
Sri Watigustami
ya Allah thor knp aq 😭😭 terus.
3sna
ini suraat
Ran Aulia
huwaaa kejer. 😥😥😥😥😥😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!