Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Emily begitu terkejut mendengar Belinda mengatakan jika Papa Antonio ditahan Leon padahal ia sudah bersedia menggantikan Belinda sebagai istrinya.
"Akhirnya kau muncul juga!"
Suara bariton Leon mengalihkan pandangan kedua wanita itu dan lainnya.
"Emily, tolong keluarkan papa dari penjara!" pinta Belinda.
"Tak ada yang bisa mengeluarkan pria tua itu dari penjara milikku!" kata Leon dengan suara tinggi.
"Hei, Emily sudah menyerahkan dirinya. Kenapa kau tetap menahan papaku?" tanya Belinda begitu marah.
"Apa benar Tuan memenjarakan Papa Antonio?" Emily mendekati suaminya sebelum Leon menjawab pertanyaan Belinda.
"Ya. Dia sudah berani menipuku," kata Leon menatap istrinya.
"Sesuai kesepakatan utang kami lunas jika kau menikah dengan salah satu putri Antonio Cassano!" ucap Belinda.
Leon malah tertawa sinis.
"Leon, kau sudah melanggar kesepakatan!" kata Belinda dengan lantang.
"Kau bilang aku yang melanggar kesepakatan? Bukankah kau sendiri yang kabur menjelang hari pernikahan kita dan kedua orang tuamu yang menyerahkan Emily menggantikanmu. Harusnya aku yang merasa dirugikan!" ucap Leon.
Belinda terdiam.
"Karena dia sudah di sini. Tangkap dia. Berikan hukuman sesuai kesalahannya!" Leon memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Lepaskan aku!" Belinda memberontak.
"Nikmati waktu berdua dengan ayahmu!" Leon tersenyum seringai.
"Emily, tolong lepaskan aku!" teriak Belinda mengarahkan tatapan kepada adiknya.
"Tuan, aku mohon tolong lepaskan Kak Belinda!" Emily mendekati suaminya yang berada di kursi roda.
"Apa kau juga mau dihukum?" Pandangan Leon berpindah ke arah istrinya.
"Tuan, apa salah mereka? Bukankah aku sudah menjadi pengganti Kak Belinda?" tanya Emily.
"Kau akan tau alasan aku melakukannya!" jawab Leon.
Belinda pun dibawa secara paksa, "Emily, tolong bantu lepaskan kami dari suami kejammu itu!" teriaknya.
"Tuan, aku mohon. Jangan hukum papa dan Kak Belinda!" Emily mengiba.
Leon tak menghiraukan permintaan istrinya, ia memilih kembali ke kamar dibantu Charles.
Emily menyusul suaminya dan terus memohon agar ayah dan kakaknya dibebaskan.
"Emily, cukup!!" sentak Leon yang kesal istrinya terus mendesak.
Emily terdiam. Ia sebenarnya takut pada suaminya, namun sebagai seorang anak dan adik ia tak mau melihat ayah dan kakaknya tersiksa.
"Harusnya kau berterima kasih kepadaku!! Karena aku, kau terbebas dari orang-orang jahat seperti mereka!"
"Kau yang jahat, Leon. Kau sudah membohongi kami!" Emily meninggikan suaranya.
Leon berdiri dari kursi rodanya dan mencengkram lengan istrinya. "Kau sudah beruntung aku selamatkan!"
"Aku tidak memintanya!" kata Emily dengan mata berkaca-kaca menahan rasa marah.
Leon mengeraskan rahangnya dan mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh.
"Memang lebih baik kau bersama mereka!" Leon menunjuk wajah istrinya.
Emily diam, tubuhnya gemetar.
"Charles, kurung dia juga bersama ayah dan kakaknya!" perintah Leon kepada asistennya.
"Tuan, bagaimana jika Nyonya Rachel dan Tuan Frans mengetahuinya?" tanya Charles tak segera melaksanakan perintah atasannya.
"Mereka tidak mungkin ke sini!" jawab Leon.
Setelah mendapatkan jawaban Leon, pria itu mendekati Emily yang masih terduduk di lantai. "Nona, mari ikut saya!"
Air mata Emily pun menetes, ia menatap suaminya penuh kebencian. Ia lalu berdiri dan berjalan keluar begitu juga Charles yang berada dibelakangnya.
Leon yang kesal Emily malah menuruti permintaannya mengepalkan kedua tangannya.
Emily kini berdiri di depan sebuah ruangan berjeruji. Ia tak melihat keberadaan ayah dan kakaknya. "Di mana mereka?" ia membalikkan badannya berhadapan dengan asisten suaminya.
"Maaf, Nona. Saya tidak akan memasukkan anda di ruangan sama dengan lainnya!" ucap Charles yang sebenarnya merasa iba.
"Aku mau satu sel dengan mereka!" kata Emily.
"Saya tidak bisa, Nona. Hukuman yang anda terima sangat ringan. Tuan Leon tak seserius itu memberikan hukuman kepada istrinya!" ujar Charles.
"Kenapa begitu?"
"Nona Emily bukan targetnya!"
Emily mengernyitkan dahinya, ia belum paham dengan penjelasan asistennya Leon itu.
Charles membuka grendel dan berkata, "Silahkan masuk, Nona!"
Tanpa membantah, Emily berbalik badan dan melangkah masuk ke ruangan dengan lantai semen. Sebuah karpet tebal ukuran sedang terbentang, diatasnya ada satu buah bantal dan selimut.
"Nona, saya hanya memberikan saran. Jangan pernah mencoba membuat Tuan Leon marah, dia tak sekejam seperti pikiran anda!"
"Kalau dia memang bukan pria kejam, dia takkan mungkin mengingkari janjinya!" singgung Emily.
"Tuan Leon bilang kalau dia memiliki alasannya. Semua juga demi kebaikan Nona Emily!" tutur Leon.
Emily tersenyum getir.
"Karin akan mengantarkan makanan dan minuman. Saya mohon, minta maaf segera kepada Tuan Leon!" kata Charles.
"Terima kasih atas sarannya!" ucap Emily sinis.
Setelah dari ruang bawah tanah, Charles kembali menemui Leon yang sudah berada di ruang kerjanya.
"Apa dia merengek memohon dilepaskan?" tanya Leon.
"Tidak, Tuan. Nona Emily malah dengan senang hati masuk ke dalam," jawab Emily.
Leon mengepalkan tangannya, istrinya ternyata benar-benar menantang keputusannya.
"Apa sebaiknya Tuan beritahu saja?"
"Belum saatnya, aku ingin tau seberapa kuat dan hebatnya dia membela keluarga angkatnya yang penipu itu!"
-
Malam harinya, setelah menikmati makan malamnya sendirian. Leon menemui istrinya di ruangan bawah tanah.
Emily yang duduk bersandar di dinding, menatap lurus suaminya dengan tatapan dingin.
"Bagaimana? Apa kau senang dengan hukuman yang aku berikan?" Leon menampilkan senyum seringai.
"Ini belum seberapa, kau bisa memasukkan aku ke dalam penjara yang penuh dengan buaya!" kata Emily padahal dia pun juga takut jika benar dimasukkan ke tempat itu. Ia ingin terlihat berani dan kuat.
"Nyalimu sungguh besar juga!" Leon kembali tersenyum.
"Kau sudah berani membohongiku, jangan harap aku pasrah saja dengan sikapmu itu!" kata Emily.
"Charles, sepertinya besok kita akan melihat pertunjukan yang sangat mengasyikkan!" ucap Leon sejenak mendongakkan wajahnya menatap asistennya.
"Jika itu membuatmu puas, maka aku siap menjadi santapan para buaya!" kata Emily berusaha tegas.
Leon tak berkata apa-apa lagi, ia kemudian meninggalkan tempat bersama asistennya.
Selepas suaminya berlalu, Emily berdiri. Ia mondar-mandir memikirkan nasibnya keesokan harinya. Ia berharap Leon tak serius memberikan hukumannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
Ditengah keresahan hatinya lepas dari jerat hukum suaminya. Karin datang mengantarkan makan malam.
Pintu jeruji terbuka, Karin meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di lantai. "Nona, silakan makan!" ucap Karin dengan sopan.
"Karin, apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Ya, silakan!"
"Apa benar Tuan Leon memelihara hewan buaya?" tanya Emily penasaran sebab dia belum sepenuhnya yakin dengan ucapan suaminya.
"Ya, hewan itu dipelihara untuk membuat mereka yang berani menantang Tuan Leon!" jawab Karin.
Glek..
Emily menelan salivanya, ia semakin panik.
"Tuan, tidak sekejam itu jika kita tak melakukan kesalahan berat," kata Karin tersenyum.
"Oh, begitu!" Emily berpura-pura tegar dan tenang.
"Jika Nona mau terlepas dari hukuman Tuan Leon, minta maaf dan ikuti semua perintahnya!" ucap Karin.
Emily terdiam.
"Saya permisi, Nona. Silakan nikmati makan malamnya dan bersiaplah karena hukuman yang diberikan tidak main-main!" kata Karin tersenyum misteri membuat Emily semakin takut.