Aira Azzahra, wanita berparas cantik dan pemilik hati yang sabar. Aira menikah dengan lelaki yang bernama Ilham Nugraha. Lelaki tampan yang mampu menjerat perasaannya. Pernikahan mereka sudah terjalin tiga tahun lamanya. Namun, Aira tak kunjung mengandung setelah berbagai usaha yang telah dilakukannya bersama Ilham. Aira kalut dan sangat takut, akan tetapi Ilham tidak mempermasalahkan hal itu.
Aira merasakan sebuah kejanggalan saat mendapati suaminya selalu pulang larut malam. Perlahan berbagai permasalahan berdatangan menghantam kerasnya tembok pernikahan mereka. Aira menjerit dalam hati saat dirinya mendapatkan kebahagiaan dan kesialan di waktu yang bersamaan.
Mampukah Aira dan Ilham bertahan dalam pernikahan yang suci itu? Yuk ikuti kisah mereka yang penuh dengan lika-liku.
follow ig author : @nisanrps06
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nnrpsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu
Happy reading.
“Hati-hati nak, disananya.” Pesan Mama Lina kepada putranya.
Ilham tersenyum simpul. Lelaki itu mengambil alih tubuh Irzan yang ada di gendongan Mama Lina. Ilham menatap wajah Irzan dengan lekat. Ah, rasanya Ilham akan merindukan putra kecilnya ini. Sudah berapa lama ia mengabaikan keberadaan putranya?
“Irzan ngga-papa ‘kan Ayah tinggal?” tanya Ilham.
Kedua mata bulat Irzan mengercap lucu. Kepalanya mengangguk kecil tanda mengiyakan.
“Berapa lama disana Ham?” tanya Papa Satria.
“Sekitar satu minggu-an Pa,” jawab Ilham.
Perusahaan Nughara ialah perusahaan industri yang sudah didirikan oleh Satria Nugraha sejak ia masih muda. Kini, Perusahaan industri sudah berkembang sangat pesat. Banyak dari investor-investor dan perusahaan lain yang bekerja sama dengan Perusahaan Nugraha.
Hari ini, Ilham bersama sekertarisnya akan menuju Bali. Mereka akan melaksanakan kerja sama dengan salah satu perusahaan yang ada di Bali.
Papa Satria hanya manggut-manggut.
Ilham menyerahkan kembali tubuh putranya ke dalam gendongan Mama Lina. Lelaki dewasa itu mengecup kening putranya cukup lama. Ilham mulai berpamitan kepada kedua orang tuanya.
“Hati-hati ya nak, jaga kesehatan.” Ujar Mama Lina.
“Iya Ma, Ilham titip Irzan ya Ma,” tutur Ilham.
Mama Lina menganggukkan kepalanya singkat. Mereka mengantar Ilham keluar rumah. Ilham langsung memasuki mobil dengan membawa satu buah koper.
Ilham mendudukkan pantatnya di kursi penumpang bersama Devan-sekertarisnya.
Tak lama kemudian, mobil itu melenggang pergi meninggalkan kawasan rumahnya. Mama Lina melambaikan tangannya.
“Semoga Aira bisa cepat-cepat ketemu,” ujar Mama Lina dengan lirih.
Papa Satria menoleh pada istrinya itu. Diusapnya bahu sang istri dengan pelan, berusaha menguatkannya.
“Zan angen Nda,” celetuk Irzan yang membuat Mama Lina serta Papa Satria saling berpandangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini, Ilham dan Devan sudah berada di dalam pesawat. Pesawat akan take off sekitar lima menit lagi. Ilham dan Devan menggunakan kelas ekonomi. Ilham duduk di dekat kaca, lelaki itu memandang pemandangan yang menampilkan langit cerah.
Perjalanan dari Kota Jakarta-Bali kurang lebih memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Setelah memakan waktu kurang dari dua jam. Kini pesawat yang Ilham dan Devan tumpangi sudah landing. Kedua lelaki itu pun menyeret koper mereka masing-masing dan keluar dari pesawat itu setelah mendapat aba-aba dari Announcement pramugari.
Ilham dan Devan menaiki sebuah mobil yang akan mengantarkannya menuju sebuah hotel. Setelah 20 menit diperjalanan, mobil yang mereka tumpangi pun telah sampai di depan hotel tersebut. Ilham dan Devan pun keluar dari mobil itu dengan tangan yang membawa koper. Ilham dan Devan mulai memasuki hotel dan menuju meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya seorang wanita resepsionis itu.
“Maaf Mbak, saya yang kemarin membooking dua kamar.” Jawab Devan.
“Ah, iya Pak.” Sahut wanita itu.
“Ini Pak dua kunci kamar yang sudah Bapak booking kemarin. Kamarnya berada di lantai tiga.” Ujar wanita itu seraya menyerahkan dua buah kunci kepada Devan.
“Terima kasih Mbak.” ucap Devan.
“Sama-sama.”
Kedua lelaki itu pun berjalan memasuki lift menuju lantai tiga. Beruntung tidak terlalu banyak orang yang menaiki lift itu. Setelah berada di lantai tiga, kedua lelaki itu pun keluar dari lift.
Ilham berjalan menyusuri setiap kamar diikuti oleh Devan di belakangnya. Lelaki itu menghentikan langkahnya di depan pintu kamar yang bernomor 34. Ilham membalikkan tubuhnya menatap Devan yang berdiri di belakangnya.
“Kamar kamu disana.” ujar Ilham seraya menunjuk kamar yang ada di seberang kamarnya.
“Baik Pak.” Sahut Devan.
“Kamu boleh istirahat sekarang. Kita akan memulai proyek besok pagi pukul delapan.” Ucap Ilham.
Devan menganggukkan kepalanya singkat. Ilham pun mulai membuka pintu kamarnya dengan kunci yang ada di tangannya. Lelaki itu memasuki kamar hotel setelah mengunci kembali pintu kamarnya. Ilham menyimpan kopernya di dekat kasur. Lelaki itu merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur.
Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Makan malam sudah diantarkan oleh seorang pelayan hotel ke kamarnya. Ilham mulai memakan makanannya dengan lahap. Lelaki itu meneguk gelas yang berisi kopi macchiato kesukaannya.
Ilham bersendewa cukup keras. Lelaki itu mengusap perutnya yang terasa kenyang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini, Reno dan Maminya sedang berada di Kota Surabaya. Setelah dua hari yang lalu ia mendapatkan informasi dari bodyguardnya yang mengatakan jika sepupunya pernah hidup dipanti asuhan selama 20 tahun.
Reno menatap bangunan yang sudah terlihat usang namun terawat itu dengan perasaan berdebar. Mereka pun mulai mengetuk pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Reno mengetuk pintu itu dengan sedikit kencang. Tak lama kemudian, pintu tersebut dibuka oleh seorang wanita yang terlihat masih muda. Wanita itu menatap kedua orang di depannya dengan bingung. Pasalnya, hari ini tidak ada yang akan bertamu ke panti asuhan. Terlebih, ini sudah jam tujuh malam.
“Maaf Bu, Pak, kalian siapa ya?” tanya wanita itu setelah beberapa saat terdiam.
Reno terpana melihat wanita di depannya. Wanita itu memakai pakaian sederhana dan memakai jilbab. Wajahnya sangat cantik meskipun tidak memakai polesan make up sedikit pun. Reno mengerjapkan matanya pelan.
“Anu, saya dan Ma-eh Ibu saya mau bertemu dengan pemilik panti asuhan.” Jawab Reno dengan terbata-bata.
“Silahkan masuk Pak, Bu.” Ajak wanita itu membawa kedua tamunya duduk di ruang tamu.
Reno dan Mami Dita pun mengikuti langkah kaki wanita di depannya. Mereka berdua duduk di sofa yang sudah terlihat kusam.
“Sebentar, saya panggilkan dulu Ibu Sumi.” Wanita muda itu melenggang pergi untuk memanggil Ibu Sumi-pemilik panti.
“Mi, dia cantik ya,” gumam Reno dengan tatapan memuja.
“Iya, Mami mau deh kalau dia yang jadi istrimu.” Ujar Maminya.
“Terus nanti Elin gimana Mi?” tanya Reno mengeryitkan dahinya.
“Ya kamu putuskan saja, mudah ‘kan?” ucap Maminya yang membuat Rian menggelengkan kepalanya.
“Kejam banget Mami,” sambar Reno terkekeh kecil.
Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita paruh baya dan lelaki paruh baya diikuti oleh wanita yang masih muda tadi.
“Selamat malam Bu, maaf kami mengganggu waktunya malam-malam begini.” Ucap Mami Dita dengan tak enak.
“Selamat malam. Ah, tidak menganggu kok.” ujar Ibu Sumi dengan ramah.
Ibu Sumi dan Pak Iman pun duduk berdampingan di depan Reno dan Mami Dita. Wanita yang tadi menyambut kedatangan Rian beserta Mami Dita melenggang ke dapur untuk membuatkan jamuan kepada tamunya itu.
“Maaf, ada apa ya Bu datang ke panti?” tanya Pak Iman memulai pembicaraan.
“Saya dan putra saya datang kesini, untuk menanyakan sesuatu Pak, Bu.” Jawab Mami Dita.
“Tentang hal apa ya Bu?” kening Ibu Sumi berkerut. Wanita paruh baya itu menatap kedua tamunya dengan tatapan penasaran.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Dita, dan laki-laki di sebelah saya ialah putra saya yang bernama Reno. Saya mempunyai seorang kakak laki-laki. Dua puluh empat tahun yang lalu, Kakak laki-laki saya bersama istri dan satu putrinya yang masih bayi mengalami kecelakaan saat berada di Surabaya.” Ujar Mami Dita.
“Kakak saya dan istrinya dinyatakan meninggal ditempat oleh salah satu warga yang menghubungi saya saat itu. Dan, kedatangan kami kesini untuk mencari keponakan saya yang hilang sejak terjadi kecelakaan itu.” Lanjut Mami Dita.
Tenggorokannya seakan tercekat saat menceritakan kejadian kelam dua puluh empat tahun yang lalu. Mami Dita masih tidak percaya jika ia harus kehilangan kakak satu-satunya yang ia sayangi.
“Kalau boleh tahu, siapa nama keponakan Ibu Dita yang hilang?” tanya Pak Iman.
“Aira, nama keponakan saya Aira.” Jawab Mami Dita.
“A-aira?” beo Ibu Sumi yang terkejut.
“Iya, Bu. Apakah dipanti asuhan ini, ada yang memiliki nama Aira?” tanya Reno.
“A-ada, saat itu saya menemukannya di depan pintu panti asuhan.” jawab Ibu Sumi yang membuat Reno dan Mami Dita saling pandang.
“Bi-bisa tolong panggilkan?” pinta Mami Dita dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Ibu Sumi dan Pak Iman saling bertatapan. Keduanya seolah sedang membicarakan sesuatu melewati tatapan mata itu. Seorang wanita datang dari arah dapur dengan tangan yang membawa sebuah nampan. Ia meletakkan dua gelas yang berisikan teh di atas meja.
“Silahkan Pak, Bu, diminum dulu.” Ujar wanita itu.
Suara wanita itu menyadarkan ke empat orang yang tadi terdiam. Reno mulai meneguk setengah gelas teh yang dibuatkan wanita tadi.
“Bagaimana Bu? Bisakan panggilkan Aira?” tanya Mami Dita.
“Ekhem, sebelumnya saya mau memastikan dulu jika Aira keponakan Ibu merupakan Aira yang kami maksud.” Pak Iman merogoh ponselnya. Lelaki paruh baya itu menampilkan foto seseorang yang membuat Rian membelalakan matanya.
“I-ini ‘kan Aira yang kemarin kita temuin di Bali?” ujar Rian membuat Ibu Sumi menatap ke arahnya.
“Bali?” tanya Ibu Sumi.
“Iya, kemarin saya dan Mami saya bertemu dengan Aira di Bali.” tutur Reno.
“Sebentar, jadi … keponakan saya itu, Aira yang ada dalam foto ini?” beo Mama Dita tidak percaya.
Kepala Ibu Sumi dan Pak Iman mengangguk bersamaan.
“Hanya ada satu yang memiliki nama Aira disini.” Ujar Pak Iman.
Mami Dita menangis haru setelah mengetahui keponakannya. Reno mengusap bahu sang Mami berusaha untuk menenangkan.
“Te-terima kasih sudah menjaga d-dan merawat A-aira Pak, Bu.” Ucap Mami Dita disela tangisannya.
“Sama-sama Bu,” balas Ibu Sumi tersenyum haru.
“Tapi, kenapa Aira di Bali sendirian?” celetuk Reno membuat tangisan Maminya terhenti.
Ibu Sumi menghela napasnya yang terasa berat. Mau bagaimanapun juga, ia harus menceritakan masalah yang dihadapi oleh Aira.
Wanita paruh baya itu pun mulai bercerita tentang masalah yang menghampiri rumah tangga Aira. Mami Dita yang mendengar cerita tentang keponakannya pun menangis pilu. Ia tidak menyangka jika keponakannya harus melewati ujian seberat ini.
Sementara itu Reno mengepalkan kedua tangannya. Lelaki itu mengumpati temannya yang tak lain ialah suami sepupunya-Aira. Reno berjanji, ia akan memberikan balasan yang setimpal kepada Ilham.
Reno tidak akan membiarkan Ilham menemui Aira begitu saja. Terlebih, saat Reno mengingat Aira yang sedang hamil. Rasa bencinya kepada Ilham kian bertambah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mau bilang apa sama Reno?...
Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🤗