Tejo Suseno, seorang pengusaha sukses telah memiliki kehidupan yang sempurna bersama Rania, istrinya yang cantik dan ketiga buah hatinya.
Tapi kemudian Tejo bertemu dengan Karin, gadis muda yang cantik dan membuatnya jatuh cinta lagi
Di belakang Rania, Tejo bertekad menikahi Karin, meski tidak direstui Ibunya.
Nb: 21+(mengandung konten dewasa di beberapa part)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izzati Zah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Karina terbangun dan merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu saat mengingat apa yang telah dilakukannya semalam.
"Sudah bangun sayang?"
Sapa Tejo sambil mengecup lembut kening istrinya. Karin hanya menunduk karena terlalu malu menatap wajah suaminya.
"Mau teh atau kopi? biar kubikinkan.."
"Seharusnya aku yang buat untuk Mas..."
"Nggak papa, santai saja..."
Tejo beranjak untuk menyeduk secangkir teh lalu memberikannya kepada Karin.
"Makasih Mas.."
"Sama-sama, kalau sudah diminum sebaiknya kamu segera mandi...nanti kita turun buat sarapan...atau kamu mau sarapan di kamar saja? Jam sepuluh nanti kita berangkat ke Bali..."
Karin menghisap sedikit tehnya lalu beranjak.
"Aku mandi dulu, nanti kita sarapan di bawah saja..."
Karin keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang tergerai. Pemandangan itu langsung membangkitkan sesuatu pada diri Tejo. Tejo menghampiri istrinya, memeluk, dan menghirup dalam-dalam aroma segar dari leher Karin. Adegan itu lagi-lagi membuat bulu kuduk Karin meremang.
"Mas, apa nggak sebaiknya kita menjenguk Ibu dulu? Aku pengen ketemu Ibu..nggak enak masak kita senang-senang tapi belum mengunjungi Ibu..."
"Besok saja, pasti aku ajak kamu ketemu Ibu. Sekarang waktunya mepet, takutnya nggak keburu..."
Semua tentang keluarga Tejo terasa misterius bagi Karin. Tejo bilang dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak lama, tidak tinggal dengan keluarga seperti dirinya. Ah mungkin latar belakang mereka memang berbeda, begitu pikir Karin mencoba memahami suaminya.
Hari itu Karin mengikuti saja agenda yang sudah dibuat suaminya untuk bulan madu ke pulau Bali.
Tejo sudah menyewa sebuah resort dengan nuansa pedesaan yang asri. Tepat di halaman belakang resort terdapat pantai pribadi yang hanya bisa dikunjungi oleh tamu resort. Sedangkan kolam renang resort terletak di lantai dua dengan pemandangan hamparan samudra luas.
Karin baru pertama kali menginap diresort seindah dan semewah ini. Bahkan hanya dengan menghabiskan waktu di lingkungan resort saja sudah cukup menghilangkan penat. Karin menginginkan liburan yang lebih santai. Menikmati senja di sore hari di pantai pribadi yang sepi adalah favoritnya. Dan di pagi hari Karin amat menikmati floating breakfast sambil berenang dan memandang samudra luas. Waktu seminggu yang akan dihabiskannya menginap disana rasanya takkan cukup.
"Kita sudah sampai di Bali, sayang kalau tidak kemana-mana.."
Maka Karinpun menuruti Mas Tejo untuk mengunjungi berbagai tempat wisata favorit di pulau Bali. Pergi ke pantai kuta, menonton tari kecak di Garuda Wisnu Kencana, hingga dinner romantis di jimbaran menjadi agenda mereka. Selebihnya Karin amat menikmati hari-hari santainya di resort. Dan tentu, hampir di setiap malamnya Karin menikmati malam-malam panjangnya dalam pelukan dan belaian Mas Tejo-nya.
"Puas-puasin disini sayang, mungkin kalau di jakarta kita sudah sibuk masing-masing nggak sempat lagi sering-sering begini..."
Mas Tejo meraih tubuh Karin ke dalam rengkuhannya, lalu tangannya mulai berpetualang di balik pakaian Karin. Tubuh Karin seketika membeku, tak berdaya menolak sengatan gelombang arus yang ditimbulkan sentuhan suaminya. Bagi Karin hal semacam ini benar-benar pengalaman baru. Sedikit saja sentuhan berhasil membuat debaran jantungnya berdetak berkali lipat. Sementara Mas Tejo terlihat amat lihai memainkan peran, menyajikan permainan yang memanjakan setiap jengkal bagian sensitif wanita impiannya.
Benar-benar bulan madu yang terasa semanis madu. Begitu pikir Tejo.
"Minggu depan setelah pulang dari sini kamu langsung mulai kerja ya?"
"Iya Mas, hari pertama masuk kerja, gimana ya rasanya kerja? Aku jadi tegang.."
"Jangan tegang sayang, rileks aja...lebih tegang mana sama waktu kita malam pertama?"
Mas Tejo jadi senang menggoda istrinya yang pemalu.
Karin hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya dari pandangan Mas Tejo. Tapi suaminya malah menerkamnya. Tubuh Karin seolah melunak mengikuti setiap instruksi tak terucap yang diberikan Mas Tejo.
"Kita mulai lagi ya.."
Bisik Mas Tejo tepat di telinga Karin.
Tejo benar-benar terbuai dan terhanyut dalam pesona Karin. Setiap malam yang mereka habiskan bersama rasanya tak pernah cukup untuk memuaskan dahaganya. Tejo selalu ingin lagi dan lagi. Beginikah rasanya jika sedang dimabuk asmara? Sampai-sampai Tejo melupakan keberadaan anak-anak dan istrinya yang ditinggalkannya di Jakarta. Selama bersama Karin ponsel sengaja dia matikan agar tak ada yang menganggunya. Sesekali Tejo mengecek ponselnya. Dilihatnya ada beberapa pesan dari Rania, tapi Tejo memilih mengabaikannya.
Tunggu sebentar, katanya dalam hati untuk mengatasi rasa bersalahnya pada Rania. Setelah ini aku akan kembali dan membagi waktuku dengan adil. Begitu pikir Tejo.
Srmentara dirumah Rania menunggu dengan cemas. Sejak berangkat ke Bali suaminya menghilang bagai di telan bumi. Ponselnya tak pernah aktif dan pesan dari Rania tak pernah sekalipun mendapat balasan. Rania sangat khawatir jika hal buruk menimpa suaminya, lalu bagaimana dengan nasib anak-anaknya? Setiap sholat Rania selalu berdoa untuk suaminya. Berdoa agar suaminya diberikan kesehatan, kebaikan, dan keselamatan di manapun berada.