"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 — Kepala IGD
Surya baru tidur tiga jam ketika Pak Hendra menelepon.
"Datang ke kantor direktur. Pakai kemeja. Jangan pakai jas operasi yang ada bekas betadine-nya."
"Ada pasien?"
"Ada kursi kosong. Lebih berbahaya daripada pasien."
Anindya mendengar percakapan itu dari dapur. Dia meletakkan sepiring nasi goreng di depan Surya, lalu menunjuk jam dinding.
"Makan sepuluh menit. Mandi tujuh menit. Saya antar."
"Aku bisa menyetir."
"Stamina enam, tidur tiga jam, dan keras kepala sepuluh. Tidak lulus uji kelayakan."
Surya tidak membantah diagnosis itu.
Ruang rapat direktur sudah penuh ketika mereka tiba. dr. Hasan duduk dengan wajah kaku. dr. Herman membawa map tebal berisi keberatan. Pak Hendra justru bersandar santai di dekat jendela, seolah rapat itu tidak akan mengubah hidup siapa pun.
Pak Bambang membuka hasil pemungutan suara.
"Usulan mempertahankan dr. Hasan dalam struktur pimpinan IGD tidak memperoleh dukungan mayoritas. Mulai hari ini, beliau tidak lagi memegang kewenangan operasional di IGD."
dr. Hasan berdiri. "Ini permainan politik. Surya belum cukup lama bekerja untuk memimpin dokter senior."
"Masa kerja adalah salah satu ukuran," jawab Pak Bambang. "Keselamatan pasien, kemampuan koordinasi, integritas, dan evaluasi komite medik adalah ukuran lain. Semua sudah diperiksa."
dr. Herman mendorong mapnya ke tengah meja. Dia mempersoalkan umur, jalur pendidikan, bahkan kecepatan kenaikan Surya.
Pak Bambang tidak membuka map itu.
"Kalau ada pelanggaran, sebutkan bukti dan pasalnya. Kalau isinya hanya ketidaksukaan, simpan untuk buku harian."
Ruangan hening.
Pak Hendra menahan senyum. Surya tetap tegak, tetapi telapak tangannya terasa hangat.
"Sampai proses administrasi selesai," lanjut Pak Bambang, "dr. Surya Pratama ditunjuk sebagai pelaksana tugas Kepala IGD. dr. Hendra akan menjalankan tanggung jawab baru di tingkat direksi dan mengawasi masa transisi."
Kontrak baru diletakkan di depan Surya. Nilainya Rp1.500.000.000 per tahun, di luar jasa tindakan, dengan evaluasi berkala dan kewenangan tetap tunduk pada kredensial.
Rizki yang menunggu di luar hampir tersedak ketika mendengar angkanya.
"Satu setengah miliar? Kalau traktirannya cuma ayam geprek, gue lapor KPK."
"Laporkan juga utang kopi lo," kata Bayu.
Pengumuman dilakukan di depan seluruh staf IGD siang itu. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian menatap Surya dengan keraguan yang tidak mereka sembunyikan.
Seorang pria yang datang bersama rombongan dr. Herman mendadak maju. Dia dikenal beberapa staf sebagai mantan pasangan Sinta, tetapi tidak memiliki urusan klinis di sana.
"Orang yang dulu cuma dokter muda sekarang jadi kepala? Rumah sakit ini sudah kehabisan orang waras?"
Surya belum sempat menjawab.
Pak Bambang menghantam meja informasi dengan telapak tangan. Suaranya membuat seluruh lobi terdiam.
"Dia mendapat jabatan setelah audit, pemungutan suara, dan penilaian kompetensi. Anda masuk dengan kartu tamu lalu menghina tenaga kami. Minta maaf atau keluar."
Pria itu malah meludah ke lantai di dekat sepatu Surya.
Pak Bambang mencengkeram kerahnya ketika dia mencoba mendorong Sinta. Petugas keamanan segera mengambil alih, memborgol tangan pria itu dengan pengikat sementara, lalu menyerahkannya kepada polisi rumah sakit untuk proses laporan.
"Saya tidak memukul pasien," kata Pak Bambang dingin. "Anda bukan pasien, dan Anda baru menyerang staf saya."
Anindya berdiri di sisi Surya. Tatapannya lebih tajam daripada seluruh kamera ponsel yang terangkat.
Panel merah muncul.
『Kebencian tulus terdeteksi. Nilai Pahala dikurangi sepuluh persen.』
Surya membeku.
Nilainya semula nol. Angka di panel berubah menjadi minus sepuluh.
"Jadi orang membenciku bisa membuatku lebih lemah?"
『Pahala menghitung hasil tindakan dan dampak moral Inang pada manusia lain. Sistem tidak menilai kritik berbasis fakta sebagai kebencian.』
Aturan itu terasa tidak adil, tetapi nyata.
Anindya menyentuh sikunya. "Kamu pucat."
"Cuma baru sadar jabatan ini datang dengan pajak emosional."
Sirene memotong percakapan mereka.
Sebelas kendaraan bertabrakan beruntun di Jalan Ahmad Yani. Bus kota menghantam pembatas, dua mobil terjepit, dan satu truk terguling. PSC 119 mengirim peringatan korban massal: tiga puluh satu korban, sembilan merah, dua belas kuning.
Surya tidak lagi memikirkan rapat.
"Aktifkan rencana korban massal. Bayu pegang triase pintu. Rizki buka zona resusitasi kedua. Anindya, pilih dua pasien bedah saraf paling mendesak. Bu Ratna, kosongkan enam tempat observasi. Semua identitas pakai nomor sampai terverifikasi."
Tidak ada yang bertanya apakah pelaksana tugas boleh memberi perintah.
Mereka bergerak.
Korban pertama datang dengan dada tidak simetris dan saturasi jatuh. Surya melakukan dekompresi toraks setelah penilaian cepat, lalu memasang selang dada bersama residen bedah. Udara menyembur. Saturasi naik dari enam puluh delapan ke delapan puluh sembilan.
Korban kedua, sopir bus, tampak sadar tetapi kulitnya dingin. FAST menunjukkan cairan bebas. Surya memerintahkan protokol transfusi masif dan membawa pasien ke kamar operasi sebelum tekanan darahnya runtuh.
Di ranjang sebelah, seorang anak terus memanggil ibunya. Nomor triase mereka berbeda. Rizki menemukan sang ibu di zona kuning, lalu memastikan keduanya bisa saling melihat tanpa mengganggu tindakan.
Selama empat jam, IGD berbau darah, plastik oksigen, dan pakaian basah oleh hujan. Surya tidak melakukan semua prosedur. Dia menentukan urutan, mengoreksi satu dosis, memindahkan satu tim, dan memastikan dokter yang paling tepat berada di depan pasien yang paling membutuhkan.
Itulah pekerjaan seorang kepala.
Menjelang malam, delapan pasien merah masuk kamar operasi. Satu dipindahkan ke pusat luka bakar setelah stabil. Tidak ada korban meninggal di IGD.
Keluarga memenuhi lorong dengan tangis dan ucapan terima kasih.
Angka minus sepuluh lenyap lebih dulu.
Lalu panel melonjak sampai seratus.
『Undian selesai. Poin Atribut +25. Penyadap Pikiran ×3. Detektor Medis ×5. Penghitung Mundur Kehidupan +5 penggunaan. Botol Energi Besar ×1. Token Misi Pemicu ×1.』
Dalam tiga minggu berikutnya, rasa terima kasih dari pasien kecelakaan, operasi gratis, dan program triase baru kembali memenuhi Nilai Pahala. Undian kedua memberinya sepuluh Poin Atribut, lima Super Dopamin, dan satu Permen Keberuntungan.
Saat angka itu penuh untuk ketiga kalinya, panel tidak membuka roda undian.
Warna emas membungkus tulisan Level Empat.
『Ambang evolusi bertahap tercapai. Level Lima dibuka.』
Surya menunggu hadiah. Yang muncul justru suara sistem, lebih pelan daripada biasanya.
『Dua Inang sebelum kamu berhenti pada tahap ini. Sistem memiliki hak memberikan satu Pahala Super kepada satu Inang, satu kali, selama seluruh masa keberadaan.』
Cahaya emas jatuh seperti hujan di dalam pandangannya.
『Hak itu digunakan sekarang.』
Tulisan Level Lima retak.
Di baliknya, angka enam menyala.
『Selamat. Sistem Dokter Ilahi Super mencapai Level Enam. Hadiah tahap keenam akan dibuka setelah pengangkatan resmi Kepala IGD.』
Surya menatap pintu IGD yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Untuk pertama kalinya, sumber pahala itu berasal dari sistem sendiri.
Sistem memilihnya.