Side Story dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Juna Attala yang baru saja kehilangan istrinya karena sebuah kecelakaan, sedang mencari seorang pengasuh untuk putrinya yang baru berusia dua tahun.
Lalu suatu malam, Juna yang pulang dalam kondisi setengah mabuk tak sengaja menabrak seorang wanita bernama Lilyana.
Juna menolong Lilyana dan membawanya pulang ke rumah.
Lilyana yang mengaku sebatang kara, akhirnya dipekerjakan Juna sebagai pengasuh untuk putrinya, Alsya Attala karena keduanya langsung akrab di pertemuan pertama.
Tahun berganti, kedekatan Lily dan Alsya rupanya juga menumbuhkan sebuah perasaan di hati seorang Juna hingga akhirnya Juna memutuskan untuk mempersunting Lily menjadi istrinya sekaligus ibu sambung untuk Alsya.
Namun beberapa bulan setelah pernikahan Juna dan Lily, sebuah fakta tentang kematian Emma yang merupakan mendiang istri Juna sekaligus mama kandung Alsya terungkap.
Kecelakaan yang menimpa Emma bukanlah sebuah kecelakaan biasa, melainkan sebuah pembunuhan berencana dengan Lily sebagai aktor utama pelaku pembunuhan.
Lantas bagaimana selanjutnya nasib pernikahan Lily dan Juna?
Lalu, apa sebenarnya alasan Lily membunuh Emma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JUJUR?
"Aku bermimpi kau mencekikku saat kita sedang bercinta," jawab Lily tanpa menatap pada Juna.
Suami Lily itu diam sejenak, sebelum kemudian ia tertawa terbahak-bahak seolah cerita Lily adalah sebuah hal yang lucu.
Padahal itu sama sekali tidak lucu untuk Lily.
"Kenapa aku mencekikmu? Kau istriku!" Ucap Juna di antara gelak tawanya. Pria itu juga kembali merengkuh kedua pundak Lily.
"Aku rasa, kau terlalu grogi membayangkan malam pertama kita yang tertunda hingga bermimpi aneh seperti itu!" Juna masih belum berhenti tertawa.
Lily memaksa untuk ikut tertawa meskipun kaku.
"Jadi, tadi kau mendorongku karena kau berpikir kalau aku akan mencekikmu?" Tanya Juna yang akhirnya mampu mengendalikan tawanya.
"Maaf," ucap Lily lirih, merasa bersalah pada Juna.
Bukan hanya merasa bersalah karena tadi ia sudah mendorong Juna. Tapi juga merasa bersalah karena sudah membunuh Emma, istri Juna dan membuat Alsya kehilangan sosok seorang ibu.
Namun Lily masih tak berani mengatakannya secara jujur pada Juna.
Dasar pengecut!
"Jangan terlalu dipikirkan!" Juna meraih dagu Lily dan mengangkat wajah yang tertunduk itu dengan lembut.
"Aku tidak akan menyakiti apalagi mencekikmu, Ly!"
Juna menyibak rambut Lily sedikit, lalu mencium leher istrinya tersebut. Menghirup aroma tubuh Lily yang menguar dari sana.
Lily sedikit berjenggit dengan apa yang dilakukan oleh Juna, sebelum kemudian wanita itu juga menggeliat karena bibir Juna yang sudah mulai menjamah bagian tubuh Lily yang lain.
"Juna!" Lily buru-buru menghentikan dan menahan Juna sebelum pria itu kebablasan.
"Aku masih belum selesai," lanjut Lily saat Juna sudah menarik ujung baju yang ia kenakan, dan bersiap untuk menanggalkannya.
Juna langsung terkekeh mendengar pernyataan Lily. Pria itu tetap lanjut membuka baju Lily, lalu bajunya sendiri.
Lily langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, karena ia masih saja merasa malu pada Juna.
"Kenapa ditutup?" Tanya Juna seraya tersenyum nakal dan menyingkirkan lengan Likh dari dadanya.
"Malu," cicit Lily seraya menunduk.
"Ini masih ketutupan. Kenapa sudah malu?" Juna menunjuk ke bra warna krem yang masih membungkus dua gundukan mungil nan imut milik Lily
Bahkan ukurannya lebih kecil dari telapak tangan Juna.
"Nanti kamu kebablasan bagaimana, Jun?" Tanya Lily khawatir.
"Kan ada kamu," jawab Juna santai.
"Aku masih belum selesai!" Lily kembali mengingatkan Juna.
"Hmmmm," Juna tersenyum aneh pada Lily.
"Ada ini." Juna mengarahkan telunjuknya ke bibir Lily.
"Dan ini." Sekarang Juna ganti meraih tangan Lily dan mengecupnya sekilas.
"Untuk membantuku menuntaskannya," lanjut Juna yang kini sudah mengarahkan tangan Lily yang tadi ia kecup ke bagian pangkal pahanya yang masih tertutupi oleh celana jeans warna hitam.
Lily bisa merasakan sesuatu yang mengeras di sana. Meskipun sebenarnya, Lily sudah melihatnya kemarin saat mandi bersama Juna, tapi Lily benar-benar tak berani menatapnya dengan lama, dan berusaha mengabaikannya saja. Milik Juna yang tidak bisa dibilang kecil itu, benar-benar terlihat mengerikan bagi Lily.
"Buka!" Juna menyibak dari bawah bra warna krem yang dikenakan oleh Lily, lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Masih imut!" Gumam Juna seraya memainkan ujung dada Lily yang berwarna coklat kemerahan. Lily langsung menggelinjang dan merasakan sensasi geli, saat Juna mulai memainkan bagian sensitifnya itu dengan jari.
"Juna, sudah!" Lily semakin menggeliat dengan tak terkendali, dan nafas wanita itu juga sudah mulai terengah-engah karena gairahnya yang mulai membuncah.
"Kenapa? Aku suka memainkannya," jawab Juna yang hanya menatap singkat pada wajah Lily, sebelum mulutnya melahap gundukan mungil Lily secara bergantian. Kiri dan kanan.
Lily hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menjambak rambut Juna yang masih asyik bermain-main di dadanya. Setelah puas bermain di dada Lily, Juna ganti merebahkan tubuh Lily dengan lembut ke atas tempat tidur.
"Juna, kita belum bisa melakukannya," Lily mengingatkan Juna sekali lagi.
"Aku tahu!" Jawab Juna yang hanya bergumam. Juna kembali mencciumi dagu, leher, lalu turun ke dada Lily. Terus turun hingga ke perut istrinya tersebut.
Oh, ya ampun!
"Juna!" Lily mencegah kepala Juna yang akan turun semakin jauh.
Juna berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu tak jadi menjamah bagian bawah tubuh Lily dan kembali naik ke atas. Juna mengecup bibir Lily sekilas.
"Kau mau disini atau ke kamar mandi?" Tanya Juna seraya membuka kancing celananya.
Lily mengernyit mendengar pertanyaan Juna.
"Aku bisa sekalian mandi, jika kau ingin di kamar mandi saja," ucap Juna lagi mengerling nakal pada Lily.
Baru saja Juna hendak memelorotkan celananya, tiba-tiba terdengar teguran dari Alsya dari ambang pintu kamar yang masih setengah terbuka. Juna dan Lily kaget bersamaan dan serempak menoleh ke arah gadis kecil itu.
"Papi sudah pulang?" Tanya Alsya seraya mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
APA GK JERIT2 TU LIDYA DIGILIR...
RASAKN, JDI WANITA, TRLALU JAHAT DN PNGIRI SAMA SAUDARI SENDIRI..