"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.Rutinitas.
Hari-hari di vila itu berjalan dengan alunan yang tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk serta intrik yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Ivy. Setiap pagi, ia bangun dengan perasaan ringan, tanpa rasa was-was apakah hari ini akan ada tuduhan baru atau perkataan menyakitkan yang harus ia dengar. Bu Sari selalu menyiapkan sarapan sehat dan hangat, lalu membereskan segala kebutuhannya tanpa banyak bertanya, membuat Ivy merasa nyaman dan dihargai sepenuhnya.
Di ruang belajar yang luas dan diterangi cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar, Ivy bisa berkonsentrasi sepenuhnya. Buku-buku pelajaran, catatan, dan alat tulis tersusun rapi di atas meja kayu yang lebar. Ia memanfaatkan setiap detiknya untuk mempelajari materi kedokteran, memahami setiap istilah dan teori dengan penuh semangat, seolah menyadari bahwa setiap detik yang ia miliki sekarang adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Angka 80 yang melayang di atas kepalanya tetap terlihat stabil dan terang, menjadi pengingat lembut bahwa hidupnya kini berada di jalur yang lebih baik.
Sore hari adalah waktu yang paling ditunggu Ivy. Begitu matahari mulai condong ke barat dan udara terasa lebih sejuk, suara mobil yang masuk ke halaman vila selalu terdengar jelas. Dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya, Ivy segera berlari kecil menyambut di depan pintu. Begitu Rama turun dari kendaraan, ia langsung menyambutnya dengan tatapan penuh kehangatan dan mengulurkan tangannya dengan lantang.
“Selamat datang, Tuan Rama! Hari ini sudah waktunya untuk… isi ulang energi,” ucapnya dengan nada ceria, membuat wajah dingin pria itu seketika terlihat sedikit berubah, meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Kau pikir aku charger mu?. "
"Tentu saja. "
Rama hanya mendengus pelan, lalu meraih tangan gadis itu dengan genggaman yang kuat namun lembut. Begitu kulit mereka bersentuhan, cahaya keemasan samar kembali menyebar, dan angka di atas kepala Ivy terasa semakin bertambah tiap menit. Membuat Ivy bahagia,sambil duduk santai di teras yang teduh, Ivy tak henti-hentinya bercerita. Ia menceritakan apa saja yang ia pelajari hari itu, bagaimana rasanya berjalan-jalan di taman belakang, hingga kelezatan masakan yang dibuat Bu Sari.
“Lalu bagaimana denganmu, Tuan Rama? Apa saja yang kau kerjakan hari ini? Apakah banyak pekerjaan yang membuatmu lelah?” tanyanya berulang kali dengan rasa ingin tahu yang tulus, seolah ingin tahu setiap detail kecil dari hari yang dijalani pria itu.
Rama biasanya menjawab singkat dan datar, namun tidak pernah menutup pembicaraan. Sesekali ia akan melirik gadis itu, dan di dalam hatinya ia mengakui bahwa suara riang Ivy menjadi satu-satunya hal yang membuat harinya terasa lebih ringan dari biasanya. Rutinitas ini berulang setiap hari, membentuk kebiasaan baru yang terasa hangat dan menenangkan bagi keduanya, tanpa mereka sadari bahwa ikatan di antara mereka semakin erat.
Rama mulai nyaman dengan Ivy disampingnya, awalnya dia menganggap Ivy sebagai penganguh tapi sekarang perasaan terhadap Ivy berbeda.
Beberapa hari tanpa terasa berlalu, rutinitas hari ini akan berubah karena nyonya Lusi dan bibi Nora telah kembali dari luar negeri memberikan kabar gembira untuk Ivy.
Dimana siang itu saat Ivy sedang beristirahat sejenak setelah belajar dari pagi di ruang tengah. Ponselnya berdering, menampilkan nama “Mama” di layar. Dengan hati berdebar, ia segera mengangkatnya.
“Halo, Mama? Sudah pulang?” tanya Ivy lembut, berusaha menyembunyikan sedikit kegelisahan.
Suara Nyonya Lusi terdengar jelas dari seberang sana, hangat namun juga terdengar tegas. “Ivy, sayang. Kita sudah sampai di bandara. Tapi Mama pulang ada hal penting yang mau mama sampai kan. Di mana kau sekarang? Kenapa suaramu terdengar sedikit berbeda? Apakah kau di rumah?”
Ivy terdiam sejenak, memilih kata-kata yang aman agar ibunya tidak merasa khawatir. “Aku… aku sedang tidak di rumah, Ma. Aku menginap di rumah teman dekat, tempatnya cukup tenang dan kondusif untuk belajar. Jangan khawatir, aku aman dan baik-baik saja.” Ia sengaja tidak menceritakan peristiwa buruk dengan Oliv maupun keberadaannya di vila milik Rama, tak ingin menambah beban pikiran ibunya yang tidak mau menambah masalah untuk ibunya.
Nyonya Lusi menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Baiklah, selama kau baik-baik saja Mama tenang. Tapi dengarkan, sayang. Mama dan Bibi Nora akan segera pulang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan secara langsung, juga mengenai kesehatanmu. Jadi, tolong pulanglah ke rumah hari ini juga. Kita akan bertemu malam nanti.”
Mendengar itu, hati Ivy terasa berdebar kencang. “Baiklah, Ma. Aku mengerti, aku akan segera pulang hari ini juga,” jawabnya setuju, lalu mengakhiri percakapan itu dengan rasa campur aduk.
Tanpa membuang waktu, Ivy segera membuka aplikasi pesan dan mengetik pesan untuk Rama: “Tuan Rama, maaf mengganggu waktumu. Mama baru saja menelepon dan memintaku segera pulang ke rumah hari ini. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih banyak atas tempat dan perhatiannya selama ini. Sampai jumpa lagi.”
Di tempat lain, di ruang kantor megah milik keluarga Cahya, suasana terasa berbeda dari biasanya. Rama sudah membereskan semua dokumen penting, mengenakan jas rapi, dan wajahnya terlihat lebih santai serta bersemangat—sesuatu yang jarang dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan Larry, asisten setianya, sudah menyiapkan kendaraan dan berdiri siap menunggu untuk mengantar tuannya pergi ke vila.
“Semua sudah siap, Tuan. Kita bisa berangkat kapan saja kau perintahkan,” lapor Larry dengan sopan.
Namun, tepat saat itu ponsel di meja kerja Rama bergetar. Ia meraihnya dengan tangan yang masih rileks, namun seketika raut wajahnya berubah saat membaca pesan dari Ivy. Cahaya yang tadinya terlihat di matanya perlahan meredup, dan ekspresi dingin yang biasanya muncul kembali terlukis jelas. Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan gerakan yang sedikit keras, lalu duduk kembali di kursi kerjanya sambil menyandarkan punggungnya.
Larry yang melihat perubahan mendadak itu menjadi bingung. Ia sudah bekerja bertahun-tahun bersama Rama, dan baru beberapa hari terakhir ini ia melihat tuannya pulang lebih awal dan tersenyum sesekali. Namun sekarang, semuanya berubah kembali dalam sekejap.
“Maaf, Tuan. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah ada rencana yang berubah?” tanya Larry hati-hati, tak ingin salah bicara.
Rama mengangkat kepalanya, menatap Larry dengan tatapan tajam dan nada bicara yang kembali tegas tanpa rasa terbawa perasaan.
“Rencana berubah. Hari ini kita tidak pergi ke mana pun. Kita lembur. Bawa semua berkas dan dokumen yang menumpuk di ruang arsip ke sini. Mulai sekarang, kita selesaikan semuanya sampai malam nanti,” perintahnya dengan nada datar dan tak terbantahkan.
Larry tertegun sesaat, menahan rasa terkejutnya. Sudah hampir seminggu ia merasakan kelegaan karena Rama tidak lagi memaksakan diri bekerja hingga larut malam seperti biasanya. Namun hari ini, seolah tombol saklar ditekan kembali, pola hidup gila kerja itu kembali berjalan seperti sedia kala.
“Baik, Tuan. Segera saya kerjakan,” jawab Larry pasrah, sadar bahwa ia tidak punya hak untuk mengeluh atau membantah perintah tuannya. Ia berjalan keluar dengan langkah tergesa, sementara di dalam ruangan itu, Rama hanya duduk diam menatap jendela besar, membiarkan rasa kecewa yang tersembunyi mendorongnya kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaan, seolah itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikirannya dari gadis yang baru saja membuat harinya terasa lebih berwarna.
Mobil taksi mengantarkan Ivy pulang ke rumah keluarga dermawan, dengan koper di tangannya dirinya masuk kedalam rumahnya.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉