Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Yang Tak Dipilih
Alya melangkah menuju kamarnya dengan hati yang penuh kesadaran perempuan itu mulai mengambil koper lalu memasukkan bajunya satu-persatu.
Ternyata selama tiga tahun ini sikap dingin suaminya, tatapan datarnya saat mereka berhubungan, semuanya terjawab sudah dan anehnya ia baru menyadari sekarang, jika tidak ada tempat di hati suaminya untuk menerimanya bahkan setelah tiga tahun pernikahan.
Air mata perlahan menetes, entah karena hancur atau menertawakan kebodohannya. Alya berdiri lalu menatap foto pernikahan yang terpajang di dinding kamarnya.
Di dalam foto itu suaminya terlihat gagah dengan senyum terbaiknya, dan yang paling menyakitkan ternyata senyum itu palsu.
"Hari ini aku akan pergi Mas, mungkin esok atau lusa kita tidak akan pernah bertemu dan semoga saja Tuhan tidak menemukan kita kembali dalam pertemuan apapun," gumamnya lirih lalu menggeret kopernya penuh dengan luka.
Sebelum keluar dari rumah ini Alya menyempatkan diri masuk ke kamar Nek Ratih, dan hatinya kembali hancur saat dirinya memegang foto wanita paruh baya itu.
"Nek, maafin Alya. Alya gak bisa jaga amanah Nenek. Hari ini Alya pergi dari rumah Nenek," ucapnya entah kenapa masuk di dalam kamar almarhumah neneknya air mata Alya justru tidak bisa terbendung lagi.
Perempuan itu tidak mengambil apa-apa. Ia hanya membawa foto kecil Nek Ratih jika sewaktu-waktu rindu terhadap wanita yang sudah pergi mendahuluinya itu.
"Maaf ya aku ambil foto Nenek," ucap Alya sambil mengusap air mata yang bercucuran.
Dengan cepat Alya memasukkan foto itu di dalam kopernya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh kebelakang karena sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan. Namun saat sampai di ruang tamu tiba-tiba langkahnya terhenti.
Karena ia mendengar suara yang begitu jelas di telinganya.
"Akhirnya anakku sekarang bebas," ucap Erika.
"Bener sekali, mulai saat ini Arlan sudah bisa menentukan mimpinya yang sejak dulu tertahan," sahut Lasmini.
Lalu Erika menatap bangga pada sang anak yang menurutnya sudah berani mengambil keputusan yang tepat.
"Makasih ya Nak, aku tahu selama tiga tahun ini kamu tidak bahagia, dan waktu itu Mans tidak bisa berbuat apa-apa karena masih ada nenekmu," ujar Erika.
"Gak masalah. Dan kali ini Arlan merasa keputusan Arlan sudah tepat."
Deg!
Dunia Alya seakan hancur mendengar semua ucapan yang ia telan mentah-mentah. tubuhnya bergetar hebat, seharusnya perkataan menyakitkan ini tidak harus ia dengar. Seorang suami yang harusnya menjaga dan melindungi tapi justru memojokkan istrinya di hadapan keluarganya.
Dengan rasa kecewa yang teramat dalam Alya memberanikan diri untuk melewati mereka yang masih duduk di ruang tamu.
"Baiklah," ucapnya dengan suara bergetar dan menahan tangis. "Aku akan pergi sesuai permintaan kalian."
Seketika suasana menjadi sunyi, semua mata menoleh dengan keterkejutan yang tidak pernah direncanakan, apalagi wajah Arlan entah kenapa diantara kedua orang itu justru wajahnya yang terlihat panik.
"Aku akan pergi dari hadapan kalian untuk selama-lamanya," ujarnya mencoba untuk kuat. "Dan semoga saja di kehidupan mendatang perempuan yang kau sebut sebagai penghambat ini tidak akan menampakkan dirinya kembali."
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Arlan jelas merasakan bagaimana hancurnya hati Alya, bahkan perempuan itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap dirinya dan keluarganya.
Arlan memejamkan mata sejenak, betapa bodoh dan cerobohnya dirinya. Bisa-bisanya dalam situasi genting seperti ini ia masih saja memojokkan istrinya.
"Alya maafkan aku," ucapnya pelan.
Sementara Alya tidak menggubris, perempuan itu sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan mantan suaminya itu.
"Aku memang bukan wanita yang kau idamkan, tapi aku juga punya hak dan harga diri, untuk membela diriku," ucapnya sambil menatap tajam wajah Arlan. "Dan asal kau tahu, mungkin di mata dunia aku tidak sempurna, tapi aku punya cinta yang tulus yang tidak bisa kau temukan di wanita manapun," tandas Alya.
Suasana hening sejenak, dan setelah berucap seperti itu, tanpa banyak basa-basi Alya langsung menggeret kopernya keluar, tidak ada dari salah satu mereka yang mencegahnya bahkan mereka cenderung menginginkan semua ini terjadi.
Dan setelah sampai di depan gerbang Alya membalikan tubuhnya, bukan untuk masuk kembali, melainkan untuk menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
Tiga tahun yang lalu mungkin ia datang dengan harapan dan ketulusan, namun sekarang ia pergi membawa luka, kehampaan dan hati yang telah patah.
"Tuhan sekarang tugasku menjadi istrinya sudah selesai, semoga luka ini menjadi saksi betapa sakitnya hati istri yang tak diinginkan," gumam Alya sambil menekan dadanya.
Di bawah terik matahari perempuan itu menyeret kopernya, kaki kirinya mulai terasa nyeri, karena sudah berjalan sejauh itu dari rumahnya, Alya berhenti sejenak sambil duduk di depan ruko kosong.
Hari ini ia masih belum tahu harus membawa dirinya kemana, karena memang di dunia ini ia tidak punya siapa-siapa. Ia hanya seorang anak yatim piatu yang dulu dititipkan ke panti.
Karena keuletannya ia bisa bekerja di toko kerajinan tangan pada waktu itu, dan awal mula pertemuannya dengan Nek Ratih.
Alya tersenyum tipis, menertawakan kehidupan yang mulai mengombang-ambingkan hatinya tapi di tengah-tengah lelah itu ia teringat akan nasihat mendiang Nek Ratih.
"Tetaplah menjadi kuat Neng, meskipun
badai menerpa. Ingat berlian akan tetap menjadi berlian sekalipun ia terpendam puluhan tahun di dalam lumpur yang dalam."
Seketika Alya mulai bangkit dari duduknya, perempuan itu seolah tidak mau berlarut dengan kesedihannya saat ini. Mungkin cintanya boleh tidak terbalas dan rumah tangganya boleh gagal. Akan tetapi sebagai manusia di dalam kehidupan selanjutnya Alya tidak boleh gagal.
"Aku tidak akan menyerah Nek, aku yakin bisa menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri." tutur Alya sambil menyusuri jalanan kota yang terlihat ramai dengan hilir mudik kendaraan.
Bersambung ....